
DM2 – Udah sembuh?
“Eeeggghhh...”tangisan Kaori terdengar. Gadis
bangun dari tidurannya. Ia mengambar botol susu di atas nakas dan tengkurap
diatas tempat tidur memberikan susu pada Kaori. Rio duduk di karpet, ia melihat
posisi Gadis diatas ranjang.
Mata Gadis terbelalak saat merasakan
hentakan dari Rio menghujam tubuhnya. Ia menutup mulutnya agar tidak bersuara
atau mendesah. Susah payah Gadis mendorong Rio agar berhenti menghentak
tubuhnya. Gerakan mereka malah membangunkan Kaori.
“Rio, ambilin bajuku. Itu... bawa sini.”tunjuk
Gadis pada pakaiannya yang berserakan. Rio malah berdiri masih polos, duduk di
pinggir ranjang. “Rio, ntar dilihat Kaori...”Gadis terdiam menyadari bayi Kaori
yang buta.
Gadis membuka bedcover yang menutup
tubuhnya. Ia mengambil pakaian mereka dan mulai berpakaian lagi. Rio masih diam
mematung, Gadis memakaikan pakaian lagi pada Rio. Dilihatnya Kaori masih asyik
bermain sendiri dengan jarinya dan ludahnya. Ia memilih keluar dari kamar lalu
masuk ke kamar mandi.
Sekembalinya dari kamar mandi, Gadis melihat
Rio makan sendiri. Meskipun dengan cara perlahan tapi Rio sudah bisa menyendok
makanan dan memasukkannya ke mulutnya. Gadis duduk di samping Rio, ia mengambil
tisu, mengusap sudut bibir Rio yang belepotan makanan.
Air mata bahagia menetes di pipi Gadis, ia
sangat bahagia melihat kemajuan kesembuhan Rio. Matanya teralih ke bayi Kaori
yang sudah tengkurap, sibuk menggerakkan tangan dan kakinya seperti sedang
terbang. Tanpa sadar Gadis mengelus perutnya sendiri.
*****
Keesokan paginya, Alex sudah siap berangkat
ke kantor. Ia sempat menggoda Mia sebelum berangkat. Tapi Mia buru-buru mendorong
Alex ke dekat mobilnya agar segera berangkat. Sudah cukup sehari semalam
kemarin Mia menerima gempuran Alex. Ia masih ingin tidur setelah Alex
berangkat.
Suara tangisan Kaori terdengar dari lantai
2, Mia yang ingin masuk ke kamarnya, memilih naik ke lantai 2. Apalagi dari
tadi Gadis belum turun untuk mengambil sarapan. Mia membuka pintu kamar Rio, ia
melihat Rio masih berbaring di ranjangnya dan bayi Kaori berteriak kesal di
sampingnya.
Mia cepat-cepat menggendong bayi itu. “Kenapa,
Kaori? Kamu lapar ya? Mau susu?”tanya Mia sambil membawa Kaori keluar dari
kamar. Ia berhenti sebentar di depan kamar mandi lalu menggedor pintu itu.
“Gadis, kamu didalem? Mama bawa Kaori turun
ya.”
“Iya, mah. Gadis masih sakit perut.”saut
Gadis dari dalam.
Mia geleng-geleng kepala, ia membawa Kaori
turun dan meminta mb Roh membuatkan susu. “Mb, mulai besok habis si kembar
berangkat sekolah, mb Roh ambil Kaori diatas ya. Bawa turun dulu sampai Gadis
selesai mandi.”
“Baik, mb.”
Mia menimang bayi di pelukannya, ia
berbicara terus menarik perhatian Kaori. Sesekali bayi itu tergelak karena
merasa geli dengan sentuhan Mia. “Bisa-bisanya dia ninggalin kamu ya. Bayi
selucu ini. Walaupun tidak sempurna, tetap saja lucu.”
Kaori sedang minum susu dibantu Mia saat
Gadis turun, ia tampak segar dengan rambut basah tergerai di pundaknya. “Tumben
kamu keramas pagi-pagi gini.”kata Mia.
“Iya, mah. Semalam... hehe.”Gadis menyibak
rambutnya, Mia bisa melihat tanda merah di lehernya.
“Rio yang lakuin itu? Kalian gituan? Rio
udah sembuh?”tanya Mia bertubi-tubi.
“Aku juga gak tau, mah. Awalnya aku yang
mulai, Rio ngikutin semua yang aku lakuin.”jawab Gadis dengan pipi merona.
“Hais, kamu udah seperti pengantin baru
aja. Pake malu-malu segala. Padahal tadi mama keatas loh, tapi Rio gak noleh
tuch.”
Gadis terdiam, apa mungkin Rio hanya
“Ya, mending gitu aja. Semoga Rio cepat
sembuh ya. Kamu mau mandiin Kaori?”
Gadis mengangguk, ia mengambil bayi Kaori
dari Mia lalu membawanya ke lantai 2 lagi.
*****
Di kantor Alex,
Alex baru saja sampai, ia sedang menunggu lift
terbuka saat seorang wanita cantik menyapanya. “Selamat pagi, pak Alex.”
Kening Alex mengkerut menerima uluran
tangan wanita itu. “Saya Melda, pak. Sekretaris bapak yang baru.”
“Oh, kamu baru datang?”tanya Alex.
“Saya sudah datang sejak tadi, pak. Tapi
saya ke depan lagi beli sarapan. Bapak sudah sarapan?”tanya Melda.
“Sudah.”jawab Alex dingin.
Itulah salah satu daya tarik Alex, ia bisa
bersikap dingin pada setiap orang yang baru dikenalnya. Tapi tidak ada yang
tersinggung dengan sikapnya. Mereka berdua masuk ke lift yang sudah terbuka. Pintu
lift tertutup, mereka hanya berdua di dalam lift itu.
Ketika baru sampai di pertengahan, lift
tiba-tiba berhenti. “Waduh!”pekik Melda kaget. Ia berpegangan pada pinggiran
lift, wajahnya terlihat pucat. Alex yang saat lift macet sedang memegang
ponselnya, tidak sengaja menghubungi Mia.
Mia mengangkat telpon dari Alex, ia
mendengar suara Alex dan suara seorang wanita. “Mass!! Halo?! Mass!!”panggil Mia
yang tidak ditanggapi Alex karena tidak tahu ponselnya terhubung.
Alex sedang membantu Melda yang terkejut
karena lift berhenti. “Kamu kenapa? Melda, hei, tarik nafas!”kata Alex keras.
Alex menekan tombol darurat terus-menerus. “Melda!
Sadar, kamu kenapa? Lihat aku, Melda!”jerit Alex. “Hufh! Hah! Hah!”desah Melda
berusaha menarik nafasnya.
Suara-suara desahan yang didengar Mia
membuatnya panas. Ia berusaha berpikir positif kalau suaminya tidak akan
berbuat hal-hal seperti yang ia takutkan. Tapi rasa cemburunya membuat Mia
bergegas mandi. Ia tidak kenal siapapun yang bernama Melda di perusahaan Alex.
Dan kalau wanita itu adalah salah satu dari masa lalu Alex, Mia akan bersikap
sangat serius terhadap calon pelakor itu.
Maintenance merespon panggilan darurat dari
Alex. Mereka segera memperbaiki lift yang rusak dan terhenti diantara lantai 5
dan 6 kantor itu.
Alex masih berusaha menenangkan Melda,
udara di dalam lift mulai panas. Alex bertahan tidak menarik dasinya meski
peluh bercucuran di keningnya. Ia tahu kalau gosip akan muncul dengan cepat di
kantornya.
“Ugh, panas...”keluh Melda. Ia melepaskan
syal di lehernya.
“Ini tidak akan lama, mereka sedang
memperbaiki lift-nya. Tenanglah dulu.”kata Alex sambil membelakangi Melda.
Alex meraih ponselnya, ia mencoba menelpon
Romi. Tapi ia tidak perlu melakukannya, pintu lift sudah terbuka separuhnya.
Romi tampak dilantai 5, ia mendorong pintu lift terbuka lebih lebar.
“Lex, ayo keluar.”kata Romi.
“Tolong Melda dulu nich. Kayaknya dia
shock.”kata Alex sambil menarik Melda bangun. Lipstik Melda tidak sengaja
mengenai kemeja Alex saat ia menubruk dada Alex.
Romi mengulurkan tangannya memegang Melda
yang masih gemetaran. Nafasnya masih ngos-ngosan.”Romi, bawa dia ke rumah sakit
dulu.”kata Alex bersiap keluar dari lift.
Tapi tiba-tiba lift itu bergerak turun
dengan cepat. Grek!! Grek!! Alex terjatuh ke lantai lift. Melda yang sudah
turun, menatap ngeri lift yang bergerak turun.
“Alex!!”teriak Romi panik.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.