Duren Manis

Duren Manis
Nona Bandel


Bianca mendengus kesal saat Romi memaksanya pergi dari kantor Alex. Berkali-kali Romi mengatakan kalau Alex sudah menikah dan gak ada kesempatan bagi Bianca untuk menikahi Alex.


Sedikit frustasi ia mulai memikirkan suatu rencana untuk memisahkan Alex dan Mia. Dimana lagi ia bisa menemukan pria sempurna seperti Alex. Duda keren limited edition dengan tiga anak.


Bianca terobsesi dengan Alex hingga jadi halu kalau obsesinya adalah cinta. Keseringan melamun, Bianca tidak melihat seorang pria berjalan cepat ingin masuk ke lobby kantor Alex.


Bianca dan pria itu bertabrakan, pria itu langsung menahan tubuh Bianca agar tidak jatuh. Terjadilah adegan ala-ala drama India. Pandangan mereka bertemu dan Bianca berdebar menatap pria itu.


Pria itu dengan cepat menegakkan tubuh Bianca dan berjalan memasuki lift tanpa bicara apa-apa.


Pasti kepo siapakah dia?


Pria itu adalah Ilham, asisten Arnold. Ia ditugaskan Arnold ke kantor Alex untuk menggantikan Romi untuk sementara waktu. Romi harus membantu Jelita mengurus perusahaan pak Hary di luar kota. Mereka pergi sekalian bulan madu karena pak Hary ingin Jelita segera hamil.


Bianca yang penasaran dengan sosok Ilham, kembali masuk ke lobby kantor Alex. Security menahannya di depan pintu masuk.


Security : "Mohon maaf, ibu tidak boleh masuk."


Bianca : "Saya mau tanya, pelit banget sich. Orang yang tadi masuk itu siapa?"


Security : "Yang barusan masuk? Itu pak Ilham, asisten pak Alex."


Bianca : "Orang baru? Setahu saya bukan dia asisten Alex."


Security : "Pak Romi cuti, jadi pak Ilham yang gantikan sementara."


Bianca : "Jadi dia kerja disini sama Alex?"


Security : "Iya, bu."


Bianca : "Ok, thank infonya." Bianca menyelipkan selembar uang 100ribuan ke tangan security itu yang langsung panik.


Pasalnya ada CCTV di tempat ia berdiri dan kelakuan Bianca bisa membuatnya berada dalam masalah. Benar saja, baru saja Bianca pergi, Romi menelpon pos security.


Kebetulan Romi mendapat laporan kalau Bianca ingin masuk lagi ke dalam lobby.


Security itu menceritakan apa yang ditanyakan Bianca tentang Ilham. Kening Romi mengkerut, Ilham sudah ada di ruang kerjanya untuk melapor tugas di hari pertamanya.


Romi : "Apa kau yakin?"


Security itu menjawab mantap, ia takut dipecat kalau ketahuan berbohong.


Romi : "Tetap awasi nona itu jangan sampai masuk ke kantor lagi. Mengerti?"


Romi menutup telpon dan balik menatap Ilham yang sudah menatapnya. Ia mencoba memastikan apa yang akan dilakukan Bianca selanjutnya dengan menanyakan tentang Ilham.


Romi : "Ilham, tadi dibawah apa kamu ketemu seorang gadis?"


Ilham : "Seingatku aku hanya bertabrakan dengan seorang gadis di lobby."


Romi : "Pake baju pink ketat dan rambut pendek?"


Ilham : "Iya, kenapa?"


Romi : "Itu Bianca, waspada padanya saat ia kesini. Dia tergila-gila pada Alex."


Ilham : "Apa dia gila? Pak Alex sudah menikah."


Romi : "Nah itu dia masalahnya. Pokoknya alihkan saja dia dari Alex dan Mia."


Ilham : "Baik akan kulakukan."


-----


Keesokan harinya, Ilham mulai bekerja sendiri. Ia mengurus semua keperluan Alex dan juga Mia karena mereka berdua berkantor bersama. Sesekali ia menerima telpon dari client dan ada telpon juga dari Bianca meminta bertemu dengan Alex dan Mia.


Ilham mencatat semuanya dengan baik, tapi ia merasa sedikit aneh karena suara Bianca seperti ingin merayunya. Ilham menepis pikiran anehnya. Ia harus menyampaikan semua pesan ini pada Alex.


Ilham mengetuk pintu ruang kerja Alex, tidak ada jawaban dari dalam sana. Ia menunggu sebentar dan kembali mengetuk pintu, kali ini Alex memintanya masuk.


Ilham membuka pintu, mendapati penampilan Alex yang berkeringat padahal AC diruangan itu sangat dingin. Romi sudah memperingatkannya tentang pemandangan ini yang akan selalu dilihat Ilham.


Ilham nyengir lebar meratapi pikiran kotornya. Gini amat ya kalo jomblo. Ia juga mengalami hal yang sama dikantor Arnold terutama saat Rara magang disana. Sekarang Rara yang jadi asisten Arnold menggantikannya sementara.


Alex : "Ada apa?"


Ilham : "Ada satu pesan dari nona Bianca minta bertemu bapak dan ibu Mia. Bapak mau menemuinya?"


Alex : "Dia bilang apa alasannya?"


Ilham : "Tidak, pak. Jadi bapak bisa ketemu? Sore ini."


Alex : "Semasih bersama Mia, aku gak masalah. Katakan pada Bianca untuk datang sore ini."


Mia : "Bianca mau datang? Mau apa lagi sich?' Mia baru keluar dari kamar mandi dan ia mendengar kata-kata Alex.


Alex : "Dia mau bicara sama kita. Kita hadapi saja atau sifat keras kepalanya akan mengganggu kita terus."


Mia : "Ok, aku akan menendangnya kalau dia macam-macam."


Alex : "Ingat kandunganmu, sayang."


Mia : "Hummpp..!" Mia melipat tangannya di depan dada. Kesal karena akan bertemu lagi dengan Bianca.


-----


Sore harinya, Bianca datang sesuai janji. Kali ini penampilannya lebih sopan dan rapi. Ilham menyambut Bianca dan hampir mengantarnya masuk ke ruang kerja Alex tapi Bianca menahannya.


Bianca : "Apa penampilanku sudah rapi?"


Ilham : "Iya, nona."


Ilham : "Iya, nona."


Bianca : "Apa aku seksi?"


Ilham : "Iya, nona."


Bianca : "Apa kau tidak bisa mengucapkan kata lain selain iya nona?"


Ilham : "Iya, nona."


Bianca meremas tas tangan mahalnya dengan gemas. Pria didepannya menatapnya dingin sambil bergerak membuka pintu ruang kerja Alex. Alex dan Mia sudah menunggu di sofa.


Ilham : "Silakan duduk, nona."


Bianca duduk di sofa di depan keduanya. Ia ingin bicara tapi Ilham tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri di sampingnya.


Alex : "Bianca, cepat bilang apa maumu?"


Bianca : "Bisa kita bicara bertiga saja?"


Alex : "Ilham tetap disini. Cepat bicara."


Bianca berdiri dan berjalan mendekati Mia, membuat Alex bersiap menjaga Mia.


Bianca : "Aku gak maksud apa-apa. Please..."


Mia menahan Alex, membiarkan Bianca berbisik padanya.


Bianca : "Aku mau bicara tentang Ilham. Suruh dia keluar dulu. Please..."


Bianca kembali duduk di tempatnya menunggu keputusan Mia.


Mia : "Ilham, keluar dulu ya. Terima kasih."


Ilham menatap Alex yang mengangguk dan pergi keluar dari ruang kerja Alex.


Bianca mengelus dadanya yang berdebar-debar saat Ilham ada di dekatnya. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


Bianca : "Aku mau bicara tentang Ilham. Aku rasa aku menyukai dia..."


Mia dan Alex : "Apaa...!!!"


Bianca : "Kemarin aku ketemu dia dan kami sempat tabrakan. Emm... Aku rasa aku jatuh cinta gitu."


Alex : "Kamu yakin? Kemarin kau bilang menunggu aku, sekarang uda jatuh cinta sama pria lain? Kamu beneran waras?"


Mia mendelik pada Alex yang langsung membela diri,


Alex : "Aku cuma memastikan, gak ada maksud apa-apa. Beneran, yang. Iya, aku diem deh."


Alex frustasi mendapat tekanan dari Mia. Ia serba salah sendiri.


Mia : "Trus kamu mau apa?"


Bianca : "Bantu aku mengejarnya. Dia masih single kan?"


Mia : "Caranya?"


Bianca : "Aku harus pastikan dulu kalau Ilham beneran single. Atau aku akan patah hati lagi. Usiaku hampir 28 tahun sekarang, dan aku belum menemukan calon suamiku. Aku gak mau jadi perawan tua."


Mia : "Pantas saja kau mengejar Alex."


Bianca : "Iyaa, diusia seperti ini, mau duda atau single aku terima aja. Sedih..."


Mia : "Aku akan coba cari tahu apa status Ilham. Tunggu sebentar."


Mia menekan beberapa tombol di ponselnya yang tersambung langsung dengan Rara. Seharusnya saat ini Rara sedang bersama Arnold. Setelah tersambung, Mia segera menanyakan status Ilham pada Arnold.


Mia terlibat percakapan sebentar dengan Arnold dan ia menutup sambungan telpon.


Mia : "Ilham masih single. Orang tuanya hidup di kampung dan dia punya 2 saudara. Selama ini ia bekerja keras untuk menghidupi keluarganya."


Bianca : "Bagus sekali! Tapi kalian mau bantu aku kan? Mia, maafkan aku kemarin mengataimu. Aku emosi."


Bianca menunduk meminta maaf pada Mia.


Bianca : "Aku tahu aku salah, please forgive me. Alex..."


Mia : "Iya, aku maafkan. Tapi kalau Ilham cuma jadi alasan kamu buat deketin mas Alex, aku botakin kepalamu."


Mia menggenggam gunting di tangannya, sejak tadi ia memegang benda tajam itu untuk jaga-jaga dari Bianca. Alex dan Bianca sampai bergidik ngeri melihat wajah seram Mia.


Ibu hamil ini mengerikan, Bianca mengatakan semua rencananya pada Alex dan Mia yang setuju membantunya. Dan kalau dalam sebulan ini gak berhasil juga, Bianca akan kembali ke rumah papanya dan menikahi siapa saja yang disodorkan papanya nanti.


 


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------