Duren Manis

Duren Manis
Aku mau anak darimu


Dion : “Apa aku


boleh lebih dekat denganmu?”


Lili menggeleng


sambil menundukkan kepalanya lagi. Dion memaksa mengangkat dagu Lili dan


menciumnya sekali lagi. Jemari Lili meremas keras hoodie yang dipakai Dion. Dion


membuat Lili tidak ingin melepaskan pelukannya.


Dion : “Aku boleh dekat


denganmu?” tanya Dion lagi.


Lili menggeleng


lagi dan Dion tersenyum sambil memeluk Lili dengan erat.


Dion : “Aku anggap


itu sebagai iya.”


Keduanya masih


betah berpelukan sampai ponsel Lili berbunyi tanda chat dari Riri. Lili


mengambil ponselnya, ia membaca chat dari Riri yang minta tolong dibawakan


makanan. Lili menjawab dengan cepat sambil melepaskan pelukannya dari Dion.


Merapikan seragam


dan penampilannya, Lili berjalan keluar dari balik korden. Dion tersenyum geli


melihat tingkah Lili yang mendadak serius ketika mendapat perintah. Hati Dion


terasa hangat setelah Lili hadir menghangatkan hatinya yang dingin bersamaan


dengan wajahnya yang rusak.


Deg! Dion meraba


wajahnya yang sebagian tertutup hoodie. Ia tetap meraba wajahnya, membawa


kesadarannya pada kenyataan yang pahit. Bagaimana dia bisa mendambakan Lili


yang sempurna, sementara dirinya seperti ini.


Dion memejamkan


matanya, air matanya bahkan tidak bisa keluar merasakan kepedihan yang


tiba-tiba saja merenggut perasaan bahagia di hatinya. Hatinya menjadi dingin


kembali, kepalanya menggeleng memaksakan sorot matanya kembali seperti Dion


yang dulu.


Dion : “Aku harus


menghentikan ini sebelum terlambat. Sungguh menggelikan.”


Senyum sinis muncul


dari sudut bibir Dion. Ia akan melupakan perasaannya pada Lili sebelum menjerat


hati gadis itu semakin dalam.


*****


Alex berjalan cepat


memasuki kantornya, ia sudah terlambat meeting karena ketiduran lagi. Saat Alex


tiba di ruang kerjanya, Romi sudah menunggunya disana.


Romi : “Kamu


darimana sich?!”


Alex : “Berisik.


Aku habis bercinta.”


Romi : “Gak cukup


malam hari, pagi juga wajib?”


Alex : “Kau coba


saja. Belum pernah kan?” tebak Alex dengan jitu.


Romi kehilangan


kata-katanya, Alex sudah melesat lebih dulu masuk ke ruang meeting dan menyapa


koleganya disana. Romi tidak jadi masuk ke dalam ruang meeting. Ia hampir saja


menggantikan Alex meeting tadi.


Romi duduk lagi di


ruang kerjanya, ia melirik foto Jelita yang terpasang di mejanya sejak mereka


menikah. Romi mengambil ponselnya dan mengetik chat dengan cepat pada Jelita,


menanyakan apa yang sedang ia lakukan.


Jelita menerima


chat dari Romi, ia sedang berkutat dengan setumpuk dokumen di ruang kerja


papanya. Saat itu papa Jelita sedang keluar kota untuk mengurus bisnis mereka


juga. Jelita membalas chat Romi dengan mengatakan kalau ia sedang memeriksa


dokumen.


Merasa haus, Jelita


mengambil gelas di ujung mejanya dan meminum airnya, sambil membaca chat masuk dari


Romi. Uhuk! Uhuk! Jelita menyemburkan air yang diminumnya ketika membaca chat


terakhir Romi.


Romi : “Sayang, aku


mau anak darimu.”


Jelita menetralkan


batuknya dan mengelap dokumen yang kena tumpahan air. Putus asa melihat dokumen


yang luntur, Jelita memanggil sekretaris papanya untuk membereskan kekacauan


itu, sementara ia melakukan sesuatu dengan ponselnya.


Dada Jelita


berdebar saat mengetahui kalau hari ini adalah masa suburnya. Entah kenapa


setelah berbulan-bulan menikah, dan Romi sering meminta anak darinya, Jelita


juga menginginkannya sekarang.


Jelita : “Hari ini


masa suburku.” Balas Jelita


Romi : “Ya, aku


tahu. Mau mencobanya? Siapa tahu berhasil.”


Jelita : “Okey.”


Keduanya tersenyum


setelah jawaban terakhir Jelita masuk ke ponsel Romi. Romi merenggangkan


tubuhnya, dan mulai berkutat dengan dokumen lagi. Ia harus pulang cepat agar


Jelita tidak kecewa.


*****


Rara dan baby Reynold ya. Hari ini mereka pulang loh.


Arnold sedang


menyelesaikan urusan administrasi untuk keluar rumah sakit, sementara Rara sedang


bersama bayinya di ruang bayi. Suster mengajari Rara bagaimana cara memandikan


bayi. Rara memperhatikan dengan teliti saat suster memandikan baby Reynold.


Suster membersihkan


setiap bagian tubuh bayi itu sampai bersih dari sisa bedak dan minyak telon. Kemudian


memakaikan minyak telon dan sedikit sapuan bedak bayi ke lipatan tubuh bayi


Reynold. Bayi itu hanya menatap suster sambil sesekali menguap.


Karena Rara akan


pulang sekarang, suster memakaikan pampers ke bayi itu dan pakaian bayi yang


sudah disiapkan Rara. Suster menggendong baby Reynold dan memberikannya pada


Rara. Baby Reynold mulai membuka mulutnya mencari sesuatu yang sudah Rara tau.


Ia membuka kancing kemeja yang dipakainya dan mendekatkan ****** payudaranya


yang langsung dilahap baby Reynold.


Rara tersenyum


melihat bayinya minum dengan lahap, seluruh tubuhnya terasa tersedot ke dalam


mulut bayinya. Suster memberikan bingkisan dan juga surat kenal lahir untuk


baby Reynold. Ada foto baby Reynold juga disana.


Setelah baby


Reynold terlelap, Arnold masuk ke ruang bayi mencari Rara. Visual Arnold


membuat suster auto nengok menatapnya.


Arnold : “Sayang,


sudah siap? Kita bisa pulang sekarang.”


Rara : “Ya, mas.


Bawa tas itu sama tasku ya.”


Rara dan Arnold


mengucapkan terima kasih pada para suster yang meminta foto bareng dengan


mereka sebelum pulang. Rara tersenyum geli melihat dua suster yang sedikit


montok mengapit Arnold.


Keduanya berjalan


keluar dari ruang bayi,


Arnold : “Kamu


yakin gak mau pake kursi roda?”


Rara : “Gak, mas.


Aku bisa kok.”


Arnold : “Ya udah,


pelan-pelan aja jalannya.”


Ronald tampak


berjalan mendekati mereka, ia langsung meminta baby Reynold agar Rara bisa


berjalan lebih ringan.


Ronald : “Sini,


papa yang gendong. Kok gak pake kursi roda?”


Rara : “Gak pa-pa,


pah. Jahitannya gak sakit lagi.”


Rara memberikan


baby Reynold kepada kakeknya. Bayi itu masih anteng tertidur lelap. Mereka


berjalan terus sampai ke lobby rumah sakit.


Ronald : “Mana


mobilmu?”


Arnold : “Ntar,


Arnold ambil dulu. Papa sama Rara duduk aja. Gak jauh kok.”


Ronald mengajak


Rara duduk di sofa lobby. Saat itu mereka melihat Rio dan Kaori berjalan cepat


masuk ke lobby rumah sakit.


Rara : “Rio!”


panggil Rara sambil melambaikan tangannya.


Rio : “Mb Rara


pulang sekarang?”


Rara : “Ya, kalian


ngapain disini?”


Rio : “Papa Kaori


masuk rumah sakit, mb. Sudah tau kamarnya?” tanya Rio pada Kaori yang masih


sesenggukan.


Kaori : “ICU.”


Ronald menunjuk


lorong, memberitahu kalau ICU ada di ujung lorong itu.


Rio : “Makasih, om.


Mb, Rio kesana dulu sama Kaori ya. Hati-hati pulangnya.”


Rara : “Iya. Kamu


juga.”


Rara berpandangan


dengan Ronald yang mengelus kepalanya dengan sayang. Rara mengangguk dan


berharap...


🌻🌻🌻🌻🌻


Berharap yang baca


mau like dan vote juga. Makasih kk. Author lagi ngebut nich mumpung tingkat


halu lagi tinggi-tingginya.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).