
Dion : “Apa aku
boleh lebih dekat denganmu?”
Lili menggeleng
sambil menundukkan kepalanya lagi. Dion memaksa mengangkat dagu Lili dan
menciumnya sekali lagi. Jemari Lili meremas keras hoodie yang dipakai Dion. Dion
membuat Lili tidak ingin melepaskan pelukannya.
Dion : “Aku boleh dekat
denganmu?” tanya Dion lagi.
Lili menggeleng
lagi dan Dion tersenyum sambil memeluk Lili dengan erat.
Dion : “Aku anggap
itu sebagai iya.”
Keduanya masih
betah berpelukan sampai ponsel Lili berbunyi tanda chat dari Riri. Lili
mengambil ponselnya, ia membaca chat dari Riri yang minta tolong dibawakan
makanan. Lili menjawab dengan cepat sambil melepaskan pelukannya dari Dion.
Merapikan seragam
dan penampilannya, Lili berjalan keluar dari balik korden. Dion tersenyum geli
melihat tingkah Lili yang mendadak serius ketika mendapat perintah. Hati Dion
terasa hangat setelah Lili hadir menghangatkan hatinya yang dingin bersamaan
dengan wajahnya yang rusak.
Deg! Dion meraba
wajahnya yang sebagian tertutup hoodie. Ia tetap meraba wajahnya, membawa
kesadarannya pada kenyataan yang pahit. Bagaimana dia bisa mendambakan Lili
yang sempurna, sementara dirinya seperti ini.
Dion memejamkan
matanya, air matanya bahkan tidak bisa keluar merasakan kepedihan yang
tiba-tiba saja merenggut perasaan bahagia di hatinya. Hatinya menjadi dingin
kembali, kepalanya menggeleng memaksakan sorot matanya kembali seperti Dion
yang dulu.
Dion : “Aku harus
menghentikan ini sebelum terlambat. Sungguh menggelikan.”
Senyum sinis muncul
dari sudut bibir Dion. Ia akan melupakan perasaannya pada Lili sebelum menjerat
hati gadis itu semakin dalam.
*****
Alex berjalan cepat
memasuki kantornya, ia sudah terlambat meeting karena ketiduran lagi. Saat Alex
tiba di ruang kerjanya, Romi sudah menunggunya disana.
Romi : “Kamu
darimana sich?!”
Alex : “Berisik.
Aku habis bercinta.”
Romi : “Gak cukup
malam hari, pagi juga wajib?”
Alex : “Kau coba
saja. Belum pernah kan?” tebak Alex dengan jitu.
Romi kehilangan
kata-katanya, Alex sudah melesat lebih dulu masuk ke ruang meeting dan menyapa
koleganya disana. Romi tidak jadi masuk ke dalam ruang meeting. Ia hampir saja
menggantikan Alex meeting tadi.
Romi duduk lagi di
ruang kerjanya, ia melirik foto Jelita yang terpasang di mejanya sejak mereka
menikah. Romi mengambil ponselnya dan mengetik chat dengan cepat pada Jelita,
menanyakan apa yang sedang ia lakukan.
Jelita menerima
chat dari Romi, ia sedang berkutat dengan setumpuk dokumen di ruang kerja
papanya. Saat itu papa Jelita sedang keluar kota untuk mengurus bisnis mereka
juga. Jelita membalas chat Romi dengan mengatakan kalau ia sedang memeriksa
dokumen.
Merasa haus, Jelita
mengambil gelas di ujung mejanya dan meminum airnya, sambil membaca chat masuk dari
Romi. Uhuk! Uhuk! Jelita menyemburkan air yang diminumnya ketika membaca chat
terakhir Romi.
Romi : “Sayang, aku
mau anak darimu.”
Jelita menetralkan
batuknya dan mengelap dokumen yang kena tumpahan air. Putus asa melihat dokumen
yang luntur, Jelita memanggil sekretaris papanya untuk membereskan kekacauan
itu, sementara ia melakukan sesuatu dengan ponselnya.
Dada Jelita
berdebar saat mengetahui kalau hari ini adalah masa suburnya. Entah kenapa
setelah berbulan-bulan menikah, dan Romi sering meminta anak darinya, Jelita
juga menginginkannya sekarang.
Jelita : “Hari ini
masa suburku.” Balas Jelita
Romi : “Ya, aku
tahu. Mau mencobanya? Siapa tahu berhasil.”
Jelita : “Okey.”
Keduanya tersenyum
setelah jawaban terakhir Jelita masuk ke ponsel Romi. Romi merenggangkan
tubuhnya, dan mulai berkutat dengan dokumen lagi. Ia harus pulang cepat agar
Jelita tidak kecewa.
*****
Rara dan baby Reynold ya. Hari ini mereka pulang loh.
Arnold sedang
menyelesaikan urusan administrasi untuk keluar rumah sakit, sementara Rara sedang
bersama bayinya di ruang bayi. Suster mengajari Rara bagaimana cara memandikan
bayi. Rara memperhatikan dengan teliti saat suster memandikan baby Reynold.
Suster membersihkan
setiap bagian tubuh bayi itu sampai bersih dari sisa bedak dan minyak telon. Kemudian
memakaikan minyak telon dan sedikit sapuan bedak bayi ke lipatan tubuh bayi
Reynold. Bayi itu hanya menatap suster sambil sesekali menguap.
Karena Rara akan
pulang sekarang, suster memakaikan pampers ke bayi itu dan pakaian bayi yang
sudah disiapkan Rara. Suster menggendong baby Reynold dan memberikannya pada
Rara. Baby Reynold mulai membuka mulutnya mencari sesuatu yang sudah Rara tau.
Ia membuka kancing kemeja yang dipakainya dan mendekatkan ****** payudaranya
yang langsung dilahap baby Reynold.
Rara tersenyum
melihat bayinya minum dengan lahap, seluruh tubuhnya terasa tersedot ke dalam
mulut bayinya. Suster memberikan bingkisan dan juga surat kenal lahir untuk
baby Reynold. Ada foto baby Reynold juga disana.
Setelah baby
Reynold terlelap, Arnold masuk ke ruang bayi mencari Rara. Visual Arnold
membuat suster auto nengok menatapnya.
Arnold : “Sayang,
sudah siap? Kita bisa pulang sekarang.”
Rara : “Ya, mas.
Bawa tas itu sama tasku ya.”
Rara dan Arnold
mengucapkan terima kasih pada para suster yang meminta foto bareng dengan
mereka sebelum pulang. Rara tersenyum geli melihat dua suster yang sedikit
montok mengapit Arnold.
Keduanya berjalan
keluar dari ruang bayi,
Arnold : “Kamu
yakin gak mau pake kursi roda?”
Rara : “Gak, mas.
Aku bisa kok.”
Arnold : “Ya udah,
pelan-pelan aja jalannya.”
Ronald tampak
berjalan mendekati mereka, ia langsung meminta baby Reynold agar Rara bisa
berjalan lebih ringan.
Ronald : “Sini,
papa yang gendong. Kok gak pake kursi roda?”
Rara : “Gak pa-pa,
pah. Jahitannya gak sakit lagi.”
Rara memberikan
baby Reynold kepada kakeknya. Bayi itu masih anteng tertidur lelap. Mereka
berjalan terus sampai ke lobby rumah sakit.
Ronald : “Mana
mobilmu?”
Arnold : “Ntar,
Arnold ambil dulu. Papa sama Rara duduk aja. Gak jauh kok.”
Ronald mengajak
Rara duduk di sofa lobby. Saat itu mereka melihat Rio dan Kaori berjalan cepat
masuk ke lobby rumah sakit.
Rara : “Rio!”
panggil Rara sambil melambaikan tangannya.
Rio : “Mb Rara
pulang sekarang?”
Rara : “Ya, kalian
ngapain disini?”
Rio : “Papa Kaori
masuk rumah sakit, mb. Sudah tau kamarnya?” tanya Rio pada Kaori yang masih
sesenggukan.
Kaori : “ICU.”
Ronald menunjuk
lorong, memberitahu kalau ICU ada di ujung lorong itu.
Rio : “Makasih, om.
Mb, Rio kesana dulu sama Kaori ya. Hati-hati pulangnya.”
Rara : “Iya. Kamu
juga.”
Rara berpandangan
dengan Ronald yang mengelus kepalanya dengan sayang. Rara mengangguk dan
berharap...
🌻🌻🌻🌻🌻
Berharap yang baca
mau like dan vote juga. Makasih kk. Author lagi ngebut nich mumpung tingkat
halu lagi tinggi-tingginya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).