
Akhir pekan, Elo mengajak Riri ke rumah kakek Elo lagi. Elo ingin bercerita sambil menunjukkan sekitar rumah kakek Elo pada Riri.
Mereka tiba disana sekitar jam 9 pagi, saat itu kakek, ibu Elo, dan tante Dewi sedang tidak ada di rumah. Kepala pelayan menyambut kedatangan Elo dan Elo meminta dihidangkan makanan kecil di dekat taman belakang.
Elo : "Ayo, Ri. Kita jalan-jalan di belakang."
Rumah kakek Elo sangat luas. Sampai-sampai kalau mereka berjalan bolak-balik, bisa dari pagi sampai siang. Makanya di belakang sana disediakan mobil mini untuk 2 orang.
Elo menuntun Riri duduk di kursi penumpang. Cuaca saat itu cukup sejuk karena kumpulan awan menutupi matahari.
Elo mulai mengendarai mobil mini itu melewati padang rumput yang luas di samping kolam renang. Riri merasakan semilir angin menyibak rambut panjangnya.
Ia merasa sangat tenang berada disana. Elo tersenyum melihat reaksi Riri. Mereka baru memasuki deretan pohon besar yang terlihat nyaman.
Riri : "Pasti nyaman banget kalau bisa baca buku disana, ya kak."
Elo : "Hmm... Kita bisa mencobanya."
Riri : "Tapi bukannya kita disini karena kakak mau cerita tentang..."
Riri tidak mau menyebut Elena lagi. Hatinya terasa sesak karena wanita itu mungkin masih ada dihati Elo sekarang.
Elo : "Lain kali kita bisa mencobanya."
Elo membawa Riri ke sebuah gazebo di ujung jalan yang mereka lalui. Riri turun dari mobil setelah Elo menghentikan mobilnya.
Ia berjalan memasuki gazebo dan melihat pemandangan kota dari sana.
Riri : "Wow! Luar biasa indahnya."
Elo : "Coba kita datang malam, lebih bagus lagi."
Riri duduk di bangku yang tersedia disana, Elo duduk di sampingnya.
Elo : "Elena... Dia anak tante Dewi dari suami pertamanya. Sejak kecil kami selalu bersama karena tante Dewi dan suaminya tinggal disini."
Riri menatap Elo yang mulai bercerita,
Elo : "Saat kami remaja, aku sadar kalau aku sudah jatuh cinta padanya."
Elo menatap Riri,
Elo : "Aku jatuh cinta pada kesederhanaannya, kepolosannya, dan juga kepintarannya."
Riri : "Dan dia juga merasakan hal yang sama?"
Elo : "Aku gak pernah tahu, Ri. Aku tidak pernah bertanya padanya. Aku bilang aku suka sama dia dan kami mulai menjalaninya."
Riri mengalihkan pandangannya dari Elo."
Elo : "Kami baik-baik saja, sampai suatu hari, papanya meninggal. Elena tiba-tiba berubah jadi orang yang tidak kukenal."
Elo menarik nafas berat, ia mengusap tengkuknya yang pegal.
Elo : "Yang biasanya kami rutin jalan setiap minggu, dia mulai menghindar dengan berbagai alasan. Aku pikir dia hanya bosan, tapi semuanya sangat berbeda."
Riri menatap Elo lagi, sungguh ia ingin menghentikannya bercerita, tapi Riri masih penasaran.
Elo : "Puncaknya ketika kami lulus kuliah, Elena menghilang tanpa jejak. Aku mencarinya kemana-mana tapi tidak pernah ketemu. Sampai..."
Riri : "Sampai apa, kak?"
Elo tersenyum menatap Riri,
Elo : "Sampai aku ngeliat dia sedang jalan sama om-om di mal. Penampilannya berubah drastis. Ia terlihat seperti simpanan om-om, Ri."
Riri : "Yang benar saja..."
Elo : "Aku gak percaya awalnya, Ri. Sampai aku mengikuti mereka seharian. Aku melihat Elena tersenyum dengan sangat bahagia. Ia menggelayut manja di lengan om-om itu yang membeli semua barang yang ia tunjuk."
Elo berhenti bicara, nafasnya mulai sesak sekarang.
Elo : "Aku mengikuti mereka sampai ke hotel dan orang-orang disana berbicara tentang dia yang biasa datang ke hotel untuk menemani om-om. Astaga!"
Riri memeluk Elo yang terlihat terluka.
Riri : "Maaf, kak. Sudah cukup, maafkan aku."
Elo memeluk Riri dengan erat, sampai gadis itu harus memukul punggungnya karena tidak bisa bernafas. Riri megap-megap seperti ikan kehabisan air.
Elo : "Maaf, Ri."
Riri : "Haduh, kak. Hah... Hah..."
Riri memegangi dadanya mengatur nafasnya yang memburu.
Elo : "Kita jalan lagi yuk."
Elo : "Jangan kesana, ada buaya di sungai itu."
Riri : "Kalau gitu kenapa kita berhenti disini! Cepat jalan lagi!"
Elo tertawa geli melihat wajah panik Riri.
Elo : "Aku bercanda, mana mungkin ada buaya di sungai buatan itu."
Riri : "Iihh, kakak! Jangan menakutiku."
Elo : "Hihi... Iya, maaf."
Mereka melanjutkan perjalanan lagi, kali ini berhenti di dekat deretan pohon yang membentuk payung di sisi kanan dan kiri jalan.
Riri memejamkan matanya saat udara segar yang sejuk, berhembus melalui sela-sela pohon itu.
Saat ia membuka matanya lagi, wajah Elo sudah sangat dekat di depannya. Riri menatap dalam mata Elo yang terlihat sangat menginginkan dirinya.
Riri : "Kak..."
Elo : "Sssttt..."
Bibir Elo menyentuh lembut bibir Riri. Mata Riri yang tadinya terbelalak perlahan mulai menatap sayu mata Elo.
Elo menegakkan tubuhnya, ia mendongak ke atas dan ribuan tetes air tiba-tiba menghujani mereka berdua.
Riri : "Kak! Hujan!"
Elo : "Sebentar, Ri..."
Elo kebingungan mencari tempat berteduh yang tidak ada di dekat sana.
Riri panik menutupi kepalanya dengan tangan. Mobil itu jenis mobil terbuka tanpa atap. Dengan cepat Elo mengemudikan mobil kembali ke rumah kakek Elo.
Keduanya sudah basah kuyup saat mereka tiba di tempat semula. Hujan turun semakin deras selama dalam perjalanan.
Kepala pelayan dengan sigap menyiapkan bathrobe dan handuk untuk keduanya. Elo menatap Riri yang meringkuk kedinginan. Ia seperti menimbang sesuatu, sebelum menarik tangan Riri naik ke lantai dua.
Riri menahan tangan Elo yang hampir membawanya masuk ke salah satu kamar disana.
Riri : "Kak, kita mau kemana?"
Elo : "Ke kamarku. Bajumu basah, Ri. Nanti kamu sakit kalau gak cepat ganti baju."
Riri : "Tapi pintunya jangan ditutup ya, kak."
Elo : "Iya, aku ngasi baju ganti aja, abis itu aku keluar."
Elo masuk duluan ke kamarnya, Riri juga masuk pelan-pelan sambil memperhatikan sekeliling kamar.
Elo membuka lemarinya, mengambil baju kaos dan celana pendek untuk Riri.
Elo : "Pakai ini dulu ya sementara. Apa baju dalammu juga basah?"
Wajah Riri merona mendengar pertanyaan Elo.
Elo : "Maaf, aku cuma memastikan aja."
Riri : "Iya, basah juga, kak."
Elo menarik bathrobe dari dalam lemari juga. Ia menyerahkan baju ganti dan bathrobe pada Riri.
Elo : "Ri, ganti bajumu dulu ya. Pakai kaosku dan bathrobe ini. Lebih baik kau mandi, biar gak demam."
Riri : "Kakak punya hairdryer?"
Elo : "Ada didalam. Sebentar aku cek."
Riri menunggu Elo di depan kamar mandi, ia melihat Elo menghidupkan hair dryer dan meletakkannya di atas wastafel.
Elo : "Uda bisa dipakai ya. Ri, buka dulu bajumu. Aku tunggu sini."
Riri jadi takut mendengar kata-kata Elo.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²