
Rara turun dari atas tubuh Arnold saat dokter Kevin mulai menyadarkan Arnold dengan kata-katanya. Terapi mereka sudah selesai untuk hari ini dengan perkembangan yang sangat bagus.
Dokter Kevin yakin, setelah mereka menikah nanti, Arnold tidak perlu lagi menjalani terapi dengannya. Rara sudah cukup menjadi obat terapi untuk Arnold.
Arnold membuka matanya dan melihat Rara duduk memunggunginya, ia tampak sedang merapikan kemeja yang menutupi tubuhnya. Wajah Rara merah padam dan tubuhnya lemas. Ia benar-benar tidak bisa bicara apa-apa untuk saat ini.
Arnold : "Ra... kamu baik-baik aja?"
Sungguh Arnold tidak tahu apa yang baru saja Rara rasakan saat terapi yang mereka jalani tadi. Rara hanya diam membelakanginya.
dr.Kevin : "Arnold, kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"
Arnold : "Sebentar, dok."
Arnold bingung melihat tangan kirinya yang basah karena cairan lengket bening, ia mendekatkan tangannya dan mencium ujung jarinya. Sadarlah ia apa yang baru saja menimpa Rara.
Arnold : "Dok, aku perlu ke kamar mandi dulu. Tunggu sebentar."
Setelah mencuci wajah dan tangannya, Arnold segera kembali ke kamarnya. Ia melihat Rara masih duduk di tempat semula. Arnold memilih mendekati dokter Kevin dulu.
Arnold : "Jadi bagaimana, dok?"
dr. Kevin : "Perkembangan terapi kali ini bagus sekali. Aku akan mengirimkan rekamannya padamu. Aku harus pergi sekarang. Apa Rara baik-baik saja?"
Arnold : "Iya, dok. Sepertinya ia ketiduran."
dr. Kevin : "Ok, sampaikan salamku padanya. Dan obatmu tidak perlu kau minum lagi untuk saat ini. Sampai jumpa di terapi berikutnya."
Arnold : "Baik, dok. Terima kasih."
Arnold mengantar dokter Kevin keluar apartmentnya dan kembali menutup pintu.
Ia berjalan cepat mendekati Rara dan berlutut di depannya. Rara menunduk menggenggam bagian depan kemeja Arnold.
Wajah Rara masih memerah, tapi nafasnya sudah stabil dari yang tadi.
Arnold : "Ra, ada yang sakit? Apa aku melukaimu?"
Rara hanya diam, lidahnya terasa kelu. Ia sangat malu dengan keadaannya saat ini.
Arnold : "Ra, bilang sama aku. Apa kamu luka? Ada yang sakit?"
Rara masih menunduk tanpa berani menatap Arnold. Bagaimana dia bisa cerita tentang apa yang ia rasakan saat ini?
Arnold : "Ra... tolong ngomong sama aku, apa kamu berdarah?"
Rara menggeleng pelan, pahanya semakin merapat ketika Arnold mendekatkan tubuhnya.
Arnold : "Ra, lihat aku... Apa tadi aku... menyentuhmu disini?"
Arnold menunjuk bagian bawah tubuh Rara, spontan Rara menutupi bagian bawah tubuhnya.
Arnold : "Aku menyentuhnya waktu terapi kan? Benar kan?"
Arnold mencoba menebak apa yang sudah ia lakukan pada tubuh Rara saat ia tidak sadar tadi.
Arnold : "Apa aku... memasukkan jariku ke situ?"
Rara menatap wajah Arnold yang merah padam. Lagi-lagi Rara menggeleng.
Hati Arnold rasanya mencelos melihat gelengan Rara, setidaknya Arnold tidak merenggut kesucian Rara saat dirinya tidak sadar.
Arnold : "Ra, ngomong dong. Aku minta maaf, tolong kasi tau aku apa yang kamu rasakan sekarang?"
Rara : "Malu, kak... Aku mau ke kamar mandi dulu."
Arnold membiarkan Rara berdiri dan masuk ke kamar mandi. Ia menutup wajahnya, malu dengan pikiran-pikiran mesum yang sempat terlintas di kepalanya.
Arnold harus memastikan kondisi Rara tetap utuh atau Alex akan menggantungnya. Meskipun pernikahan mereka tinggal menghitung hari, Arnold masih harus menahan dirinya untuk tidak meminta haknya sebagai suami pada Rara.
-------
Setelah setengah jam, Rara keluar juga dari kamar mandi. Ia mencium aroma soto ayam menguar di apartment Arnold.
Arnold menatap Rara yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan hanya memakai kemejanya.
Arnold menelan liurnya susah payah, pemandangan di depannya bahkan lebih indah dari sunset terindah di dunia.
Arnold : "Ra, kita makan dulu ya. Habis ini aku antar kamu pulang."
Rara : "Kakak gak pa-pa aku tinggal sendirian?"
Arnold : "Gak pa-pa. Biasanya juga sendirian. Kalau kamu disini, takutnya kejadian tadi terulang lagi."
Rara : "Aku gak sakit, kak... tapi enak sampe lemes..."
Arnold menggenggam pahanya dengan keras, tubuh bagian bawahnya yang tadi sudah tenang, mulai berontak.
Arnold : "Ra, kamu pakai bajumu dulu ya. Aku gak enak..."
Rara : "Ntar aja dech, kak. Panas nich."
Arnold mengusap wajahnya kasar, bagaimana caranya bicara pada Rara agar paham kalau naluri pria dalam diri Arnold sedang menjebol pertahanannya.
Arnold tiba-tiba bangun dari duduknya di meja makan. Ia berjalan lurus menghampiri Rara yang sudah berjalan mundur.
Bruk! Rara jatuh di atas ranjang dan Arnold langsung mengunci tubuhnya. Rara menggeliat dibawah tubuh Arnold.
Arnold : "Jangan bergerak..."
Rara : "Kakak mau apa?"
Arnold : "Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? Kau katakan? Heh!!"
Lagi-lagi Rara cemberut karena Arnold meninggikan suaranya. Tangan Arnold menarik kemeja yang dipakai Rara sampai kancingnya lepas semua.
Rara : "Kyaa...!! Kakak stop!!"
Arnold mulai membuka pakaiannya juga, ia membuka semuanya dan memperlihatkan tubuh polosnya pada Rara.
Rara : "Kakak...!!!"
Rara menutup wajahnya dengan tangan, ia mulai merasa takut.
Arnold memaksa menarik tangan Rara agar melihat tubuhnya.
Arnold : "Lihat aku, Ra... Lihat apa yang bisa kulakukan kalau kau terus menggodaku!!"
Rara memejamkan matanya saat ia merasakan pundaknya sakit. Arnold menggigit pundak Rara dengan gemas.
Rara : "Sa.. sakit, kak..."
Arnold : "Coba kau bayangkan kalau rasa sakit ini pindah kesini."
Arnold terang-terangan menyentuh bagian bawah tubuh Rara yang masih tertutup pakaian dalam.
Sungguh Arnold tidak ingin kurang ajar pada Rara, tapi ia harus melakukannya ini sekarang agar Rara bisa mengerti betapa berbahayanya memancing gairah pria.
Arnold : "Kamu gak akan kuat jalan kalau aku melakukannya sekarang!!"
Rara sudah menatap Arnold dengan air mata menggenang di sudut matanya. Ia akhirnya sadar kalau Arnold sedang membuatnya mengerti.
Arnold : "Kau sudah ngerti maksudku?!"
Rara : "Maaf, kak."
Untuk sesaat mereka hanya diam dengan posisi yang cukup intim. Arnold tersadar dengan cepat, ia bangkit dari atas tubuh Rara dan mulai memakai pakaiannya satu persatu.
Rara mengintip tubuh Arnold yang terlihat jelas dari posisinya saat itu.
Rara : "Wow..." desisnya pelan menyatakan kekaguman akan tubuh Arnold yang berotot. Tapi hatinya sakit melihat bekas luka operasi yang memanjang dibagian tubuh Arnold.
Untung saja kecelakaan itu tidak membuat masalah pada otot bagian bawahnya. Bagian itu terlihat kokoh dan kuat.
Rara tersenyum malu mendapati matanya yang nakal.
Arnold : "Cepat pakai bajumu, Ra. Habis makan kuantar pulang."
Rara bangkit dengan cepat, ia menyambar tasnya dan masuk ke kamar mandi.
Arnold menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia memijat pundaknya untuk meredakan ketegangan yang melanda tubuhnya sejak tadi.
Arnold : "Semoga saja aku gak salah langkah dan membuat Rara membenciku."
Wajahnya memerah seperti tomat, ia bahkan sudah berani telanjang di depan Rara. Bagus sekali, bagaimana dia bisa menatap Rara sekarang.
Rara keluar dari kamar mandi, berpakaian normal dan duduk di samping Arnold. Mereka mulai makan tanpa bicara lagi.
Situasi yang cukup canggung mengingat apa yang baru saja mereka alami. Arnold ingin ini segera berakhir dengan mengantar Rara pulang.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------