
Jodi melirik jam tangannya, sudah 1 jam berlalu. Ia mengambil air mineral dan meneguk isinya sampai tersisa setengah.
Ronald terlihat terkantuk-kantuk menunggu tanpa melakukan apa-apa. Jodi ingin mengajak ngobrol tapi takut dikata-katai lagi.
Akhirnya Ronald bangkit berdiri dan berjalan menjauh dari kamar operasi tanpa bicara apa-apa pada Jodi. Jodi bernafas sedikit lega.
Baru saja sosok Ronald menghilang di balik lorong, suster keluar dari ruang operasi.
Suster : "Keluarga pak Arnold?"
Jodi : "Iya, saya adiknya. Ada apa, suster?"
Suster : "Pasien memerlukan donor darah AB positif. Persediaan kami sedang kosong. Tolong dibantu, pak.
Jodi : "AB Positif?"
Suster : "Iya, kami tunggu ya pak. Kalau ada pendonor, tolong ketuk saja pintu ini." Suster itu menunjuk pintu ruang operasi.
Jodi : "Ya, suster."
Jodi menelpon Rara,
Jodi : "Halo, Ra."
Rara : "Kenapa kak?"
JodiΒ : "Arnold perlu donor darah AB positif. Coba tanya papanya. Aku coba tanya yang lain."
Rara : "Ya, kak."
Jodi menutup telponnya, ia menelpon Pak Jang menanyakan apa ada pelayan atau bodyguardnya yang berdarah AB positif.
Pak Jang : "Ada, tuan. Ada apa?"
Jodi : "Cepat bawa ke rumah sakit untuk bantu donor darah untuk Arnold. Saya share lokasi ya, pak."
Pak Jang : "Baik, tuan muda."
Jodi melihat Ronald berjalan cepat mendekatinya.
Ronald : "Mana susternya? Saya bisa donorkan darah untuk Arnold."
Jodi mengetuk pintu ruang operasi dan suster keluar dari sana.
Jodi : "Suster, ini pendonornya sudah datang."
Suster : "Silakan ikut saya, pak."
Ronald masuk ke ruang operasi. Ia melakukan test untuk mengecek tekanan darahnya dan ternyata Ronald tidak diperbolehkan donor karena tekanan darah tingginya.
Ronald memukul pintu ruang operasi ketika keluar. Ia menatap Jodi yang bingung melihatnya keluar dengan cepat.
Jodi : "Ada apa, om?"
Ronald : "Saya tidak diperbolehkan donor darah. Gimana ini?"
Saat itu Pak Jang dan dua orang berbadan besar datang menghampiri Jodi.
Jodi : "Pak Jang! Mana orangnya?"
Pak Jang : "Mereka berdua, tuan. Saya juga membawa persediaan dari bank darah kita."
Jodi : "Bagus."
Jodi memanggil suster lagi dan menyerahkan 2 kantung darah AB positif. Pak Jang menunjukkan ijin membawa kantong darah dari bank darah.
Suster : "Ada lagi, pak?"
Jodi : "Dua orang ini bisa ditest dulu. Kalian ikut suster."
Dua orang di belakang Pak Jang menunduk hormat pada Jodi dan masuk ke ruang operasi bersama suster.
Ronald melihat bagaimana Jodi sangat khawatir pada Arnold. Jodi masih meminta Pak Jang menghubungi kenalan mereka untuk minta darah AB positif lagi.
Jodi : "Kenapa bukan aku sich yang punya golongan darah itu? Dimana lagi kita bisa dapatkan darah itu?"
Pak Jang : "Kita bisa hubungi HRD untuk menanyakan karyawan yang punya golongan darah AB positif, tuan. Bukannya kita mendapatkan darah itu dari kegiatan donor darah karyawan."
Jodi : "Ide bagus. Aku harus telpon asistenku. Pak Jang, tolong hubungi Katty. Tanyakan dia punya teman yang bisa bantu atau tidak."
Jodi menelpon asistennya, meminta semua karyawan yang berdarah AB positif agar di cek dan diambil darahnya oleh bank darah.
Jodi : "Atur sekarang juga. Minta semua karyawan yang berdarah AB positif melapor ke bank darah. Ini darurat. Bawa kantong darahnya ke rumah sakit. Aku share loc sekarang."
Dua orang yang tadi masuk, sudah keluar dari ruang operasi.
Jodi : "Sudah selesai?"
Mereka menunjukkan bekas jarum di lengan kanan mereka masing-masing.
Jodi : "Pak Jang, beri mereka makanan dan bonus. Kalian stand by disini. Mungkin saya masih memerlukan darah kalian. Terima kasih banyak."
Dua orang itu pergi bersama Pak Jang dan Jodi mendapat telpon dari asistennya.
Jodi : "5 kantong? Ok. Kapan bisa dikirim?"
Saat Jodi masih menerima telpon dari asistennya, suster keluar dari ruang operasi, ia menghindar dari Ronald yang ingin menanyakan keadaan Arnold.
Suster : "Maaf, pak. Saya harus segera mengambil injeksi."
Ronald kembali duduk menunggu, membiarkan Jodi yang masih sibuk mencari pendonor.
Tak lama kemudian, tampak Katty berjalan cepat mendekati Jodi.
Katty : "Jodi, aku... darahku AB positif."
Jodi : "Oh, syukurlah. Ayo."
Jodi menggandeng tangan Katty dan memanggil suster.
Katty dibawa masuk ke ruang operasi.
Katty keluar dari ruang operasi, ia memegangi lengannya yang terasa nyeri. Jodi menuntunnya agar duduk di kursi. Ia sudah menyiapkan air gula untuk Katty.
Jodi : "Kamu gak apa-apa?"
Katty : "Iya. Hanya pusing sedikit."
Jodi : "Minumlah dulu."
Katty meneguk air gula hangat dan memakan snack ringan yang disodorkan Jodi. Untuk sesaat ia terharu dengan perlakuan Jodi.
Jodi : "Makasi ya sudah mau mendonorkan darahmu."
Katty : "Siapa yang sakit, Jodi?"
Jodi : "Itu Arnold, suaminya Rara."
Katty memejamkan matanya menyamarkan rasa sakit hati yang kembali ia rasakan. Lagi-lagi demi Rara.
Jodi : "Kau baik-baik saja?"
Katty : "Iya. Sebaiknya aku pergi. Kau pulang nanti malam?"
Jodi : "Aku masih nunggu operasinya selesai. Nanti aku chat ya."
Katty : "Ok. Sampai ketemu."
Jodi menatap kepergian Katty yang sudah meneteskan air matanya tanpa diketahui Jodi. Katty bersandar di dinding lorong rumah sakit, mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak.
Katty : "Ternyata kamu lebih berbahaya dari laki-laki hidung belang diluar sana. Rara sangat beruntung bisa dicintai pria baik sepertimu, Jodi."
Katty beranjak dari sana, kembali mengurus pekerjaannya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rara kembali ke depan ruang operasi setelah 3 jam berlalu. I melihat Jodi masih duduk disana seorang diri. Disampingnya tampak beberapa botol air minum kosong dan bungkus makanan kosong yang menumpuk rapi.
Mungkin Jodi gabut sampai mengemas sampahnya hingga rapi.
Rara duduk di samping Jodi berselat satu kursi. Jodi menatapnya sebentar, sebelum kembali menatap ke depan.
Rara : "Kak, makan dulu. Kakak sudah makan?"
Jodi : "Aku sudah makan, Ra. Kamu sudah makan? Bayinya gak lapar?"
Rara : "Aku sudah makan, kak."
Diam lagi, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Rara merasa tidak nyaman dalam kondisi diam mereka.
Dulu sebelum terjadi insiden menyakitkan itu, hubungan mereka berdua sangat baik. Jodi sering mengajak ngobrol Rara tentang banyak hal yang Rara sukai.
Tapi tampaknya hubungan mereka tidak bisa kembali lagi seperti dulu.
Rara : "Kak..."
Jodi : "Ra..."
Rara : "Kakak duluan."
Jodi : "Aku cuma mau bilang, kamu jangan sampai stress ya. Kasian bayimu."
Rara : "Kak, obrolan kita akan terus gini ya?"
Jodi : "Maksudnya?"
Rara : "Canggung banget. Kakak masih ngrasa gak enak ya?"
Jodi : "Iya, dikit."
Rara : "Kita gak bisa kayak dulu ya sebelum kejadian itu."
Jodi : "Mungkin bisa, Ra. Tapi kita tetap harus jaga jarak."
Rara : "Sayang sekali, padahal kakak teman yang menyenangkan."
Jodi : "Beneran?"
Rara : "Ya, aku banyak belajar dari kakak. Tapi gak tau ya kalau itu cuma modus."
Jodi yang tadinya merasa senang, langsung down lagi.
Jodi : "Mungkin juga itu modus, Ra. Tapi sama kamu, aku beneran nyaman waktu itu."
Rara : "Masa sich kak?"
Jodi : "Ya. Aku ingat kamu ketawa sama leluconku waktu itu. Padahal cewek-cewek yang kudekati gak pernah ketawain leluconku. Basi kata mereka."
Rara : "Oh, gitu kak. Emangnya cewek-cewek itu lebih suka kakak ngapain?"
Jodi : "Belanjain mereka barang-barang branded."
Rara : "Lah, itu namanya matre, kak."
Mereka tertawa bersama, saling menghibur satu sama lain. Mengingat kenangan saat mereka masih baik-baik saja.
Sampai Ronald kembali dan duduk diantara mereka. Jodi merasa sedang pedekate dengan anak perawan om Ronald.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²