
Extra part 59 Keira & Bilar
Bilar terbangun di suatu pagi yang cerah, ia
melihat sekeliling kamar yang sepi. Entah dimana bidadari hatinya saat itu
berada. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Bilar tersenyum lebar,
Keira sepertinya sedang mandi. Setelah kedua orang tua mereka sama-sama
merestui hubungan keduanya, Keira memutuskan tinggal di apartment bersama
Bilar.
Apakah mereka melakukan itu sebelum menikah? Tentu saja
tidak. Keira tetap mempertahankan kehormatannya meskipun Bilar adalah calon
suaminya. Ia ingin merasakan keseruan lepas perawan setelah menikah nanti. Keira
keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk dengan rambut sedikit basah. Dari
bibirnya terdengar senandung lagu cinta dengan lirik dalam bahasa asing.
Sebelum melepas handuknya, Keira melirik Bilar yang
pura-pura tidur lagi. Ia ingin memakai pakaian dalamnya di kamar itu tapi takut
Bilar sudah bangun.
“Bilar, jangan pura-pura tidur lagi. Aku mau pakai
baju, jangan ngintip ya,” kata Keira sambil menatap Bilar.
Entah mendengar kata-kata Keira atau tidak, pria
itu tiba-tiba membalik tubuhnya menghadap ke dinding, lalu menutupi wajahnya
dengan bantal. Keira tersenyum malu, ia membuka lemarinya dan memakai pakaian
dalamnya dengan cepat. Saat sedang mengaitkan bra di punggungnya, Keira
merasakan sentuhan di punggungnya.
“Bilar, aku belum selesai pakai baju,” lirih Keira.
“Aku sudah lihat semuanya, apa kamu masih malu?”
tanya Bilar sangat terus terang.
Bilar bukan hanya mengelus punggung Keira, tapi
juga mencium tengkuk gadis itu. Keira cepat-cepat mengaiitkan bra-nya. Ia
berbalik lalu mencium bibir Bilar.
“Mandi, sayang. Kamu bisa telat ke kantor,” kata Keira
sambil mengelus pipi Bilar.
“Makanya aku pindah kesini, kan. Biar deket ke
kantor, buka bentar, yank,” pinta Bilar.
Keira benar-benar heran dengan Bilar. Pria kalem
yang sangat kolot dengan penampilan yang culun plus kacamata norak itu, kini
sudah berubah jadi pria keren yang sangat agresif. Keira sampai kewalahan kalau
Bilar sudah mulai minta macam-macam. Masalahnya Keira sudah terlanjur jatuh
cinta pada kepolosan Bilar dan sepertinya perubahan yang terjadi pada diri
Bilar adalah karena kena pengaruh Keira.
“Yank, kamu kok jadi agresif gini sich? Kita belum
nikah tapi kamu maunya minta yang nakal terus dech,” keluh Keira yang tidak mau
bermain di pagi hari.
“Habisnya kamu yang ngundang duluan, Ra. Aku nggak
tahan liatnya,” bisik Bilar.
“Kapan aku ngundangnya? Itu bisa-bisanya kamu aja.
Cepetan mandi sana. Aku mau bikin sarapan dulu,” kata Keira sambil mendorong
Bilar masuk ke kamar mandi.
Gadis itu cepat-cepat memakai pakaiannya lalu
menyisir rambutnya, ia masih harus membuat sarapan untuk mereka berdua.
Meskipun lebih repot mengurus Bilar juga, tapi Keira senang juga untuk melakukannya.
Baginya, membiasakan diri seperti itu sangat baik untuk kehidupan pernikahannya
nanti.
Keira hampir berjalan keluar dari kamarnya ketika
suara ponsel Bilar membuatnya berhenti melangkah. Belum sempat Keira mengambil
ponsel itu, ponsel Bilar mati dan gantian ponselnya yang berdering. Keira
melihat mama Bianca calling, ia segera mengangkat telpon itu.
“Halo, mah,” sapa Keira.
“Keira, bisa kamu sama Bilar ke rumah mama
sekarang? Silvia nunggu disini. Dia mau bilang sesuatu sama kalian. Mama tunggu
ya,” kata Bianca.
“Ngapain Silvia kesana, mah?” tanya Keira kepo.
“Kita ngobrol disini ya. Mama juga belum tahu,”
sahut Bianca.
Bilar yang baru keluar dari kamar mandi cuma pakai
handuk kecil, mendekati Keira yang menatap ponselnya. Gadis bingung sendiri, untuk
apa Silvia ke rumah Bilar?
“Yank, kamu nelpon siapa?” tanya Bilar sambil
memeluk Keira dari belakang.
Tangan pria itu masuk ke dalam blus Keira menyentuh
perutnya. Keira membiarkan Bilar melakukan apa yang ia mau. Karena pria itu
tidak akan berhenti mengganggunya sebelum dapat apa yang ia inginkan.
“Ach..., desah Keira saat Bilar bermain dengan
dadanya. “Bi, mamamu nyuruh kita ke rumah sekarang. Ach! Jangan digigit, Bi,”
pekik Keira.
“Kenapa mendadak? Kita kan harus kerja.” Bilar
masih ingin bermain lebih lama.
“Ach! Silvia datang ke rumahmu. Bi! Sakit!” jerit
Keira saat Bilar tidak sengaja menggigit dadanya.
“Sory, sayang. Ngapain dia kesana?” tanya Bilar
masih belum melepaskan Keira.
“Ada yang mau diomongin katanya. Bilar!” pekik
Keira yang kaget karena Bilar mulai pegang-pegang yang seharusnya belum boleh
dia pegang.
Keira menabok tangan nakal Bilar, pria itu menatap Keira
dengan mata memelas mirip anak kucing kegencet truk. Bukannya kasihan, Keira malah
mencubit lengan pria itu dan memukul pantatnya.
“Cepetan pake baju. Ntar mamamu ngamuk kalau kita
telat dateng,” kata Keira tegas.
“Pakein baju,” rengek Bilar.
Keira kehilangan kata-katanya, ia memakaikan
pakaian pada Bilar yang sedang bertingkah seperti anak kecil. Pria itu masih
berusaha menggodanya dengan berpose sensual, tapi Keira kembali mencubit
lengannya.
protes Bilar.
“Sana, balik ke rumah mamamu! Jangan ganggu aku
lagi,” sahut Keira penuh ancaman.
Bilar langsung diam, takut melihat Keira yang
galak. Pria itu seketika jadi pria penurut yang mengikuti semua yang dikatakan
Keira. Mereka berdua segera berangkat ke rumah Bianca tanpa sempat sarapan
dulu.
Sesampainya di rumah Bianca, mereka berdua langsung
disambit, eh, disambut drama paling dramatis tahun ini. Silvia menangis bombay
sambil berlutut di lantai. Keira bingung apa sofa di rumah Bianca sedang dicuci
atau bagaimana sampai Silvia harus ngesot di lantai seperti itu.
“Hai, mah,” sapa Keira sambil mencium tangan
Bianca. Sedangkan Bilar mengerutkan keningnya menatap Silvia yang sibuk
sendiri.
“Dia kenapa, mah?” tanya Bilar sambil cipika-cipiki
dengan Bianca.
“Nggak tau, dari tadi mewek aja. Mama tanya, nggak
dijawab. Tanya sana sama dia,” kata Bianca pada Bilar.
Pria itu langsung geleng-geleng sambil menyodorkan
Keira pada mamanya. Keira yang kepo, mendekati Silvia.
“Elo kenapa kesini? Pake nangis segala,” kata Keira
masih normal.
“Ak—aku mau minta tang—tanggung jawab Bilar,” kata
Silvia sambil sesenggukan. Keira dan Bianca refleks menoleh pada Bilar yang
bengong tidak mengerti maksud Silvia.
“Tanggung jawab apa maksudmu?” tanya Keira lagi
masih normal.
“A—aku hamil anak dia,” kata Silvia dengan dramatis
sambil menunjuk Bilar.
“Eh... kapan buatnya?” tanya Bianca asal nyebut.
Jelas-jelas putranya itu tidak pernah lepas dari Keira. Mereka sudah seperti
materai sama tanda tangan, tidak bisa dipisahkan. Bahkan sudah tinggal bersama
di apartment Keira.
“Ngawur!” pekik Keira mulai emosi.
“Bilar, kamu lupa malam itu. Kamu sendiri yang
memanggilku. Kita melakukannya sekali sebelum dia datang mengganggu kita,” kata
Silvia sinis menatap Keira.
“Lo halu ya. Jelas-jelas lo belum sempat
ngapa-ngapain Bilar. Gue yang bantuin dia dari ulah lo. Cewek sialan!” kata
Keira hampir mendekati Silvia.
“Lo kan nggak tau apa yang terjadi di dalem. Jelas
Bilar sudah melakukannya duluan sama gue,” pancing Silvia masih bertahan.
“Gue yang bantuin dia!” jerit Keira.
“Gue hamil anak dia, jelas gue yang duluan sama
Bilar. Lo mana? Sudah lewat sebulan belum hamil juga lo,” ejek Silvia.
“Gue nggak murahan kayak lo ya. Barang lo, lo jual
murah bahkan sampai ngasih gratis. Cih! Cewek murahan!” pekik Keira sangat
emosi.
Bianca dan Bilar sibuk melihat ke kanan dan ke kiri
melihat Silvia dan Keira bertengkar. Keduanya sama-sama keras kepala dan tidak
mau mengalah. Sampai Keira mengatakan semua yang ia lakukan pada Bilar malam
itu di hotel.
“Gue pake mulut gue. Lo nggak paham kan caranya? Lo
cuma bisanya pake barang lo doank!” Keira menantang Silvia untuk mengatakan
gaya apa yang ia pakai saat bermain dengan Bilar dan seberapa besar milik pria
itu.
Bianca melongo dengan wajah sangat kaget, sementara
reaksi Bilar terlihat senang dengan mata berbinar-binar. Silvia langsung keder
saat ditanyai tentang ukuran. Ia belum sempat membuka celana Bilar malam itu.
“Gue tahu dengan jelas ukuran Bilar. Apa lo tahu
ada tahi lalat atau nggak disana? Jawab!” bentak Keira masih emosi jiwa.
“Gue mana sempet ngliatin tahi lalatnya. Yang jelas
gue udah hamil dan dia harus tanggung jawab,” kata Silvia mulai ngegas lagi.
“Lo yakin itu bukan anaknya cowok yang lo ajak
tidur di club malam?” tanya Keira membuat Silvia terhenyak.
Keira mendekati Silvia dengan tatapan sinis yang
mengancam. Ia mempermainkan ujung rambutnya dengan sangat elegan sebelum bicara
lagi.
“Gua bisa nunjukin semua video lo lagi main sama
cowok-cowok itu. Atau lo mau gue ekspos waktu lo sama om-om? Mau lo!” bentak
Keira.
Gadis itu tidak punya semua video yang ia sebutkan,
tapi Keira memang melihat Silvia asyik main dengan om-om saat dirinya dan Bilar
sedang asyik bercumbu di dalam mobil Bilar yang parkir di tempat parkir yang
sama. Keira merekam kejadian itu meskipun hanya sebentar.
“Atau om-om itu yang buat lo hamil. Cewek j****g!”
bentak Keira sampai urat di lehernya keluar semua.
Silvia terdiam sejenak, ia memikirkan cara lain
untuk membuat Bianca percaya kalau dirinya memang hamil anak Bilar.
“Nggak ada video! Lo pasti bohong. Ditempat gue
main nggak ada CCTV! Mana ada CCTV di basement!” teriak Silvia kena jebakan
batman, eh, Keira.
“Gue nggak bilang di basement ya. Lo sendiri yang
buka kartu. B**o!” balas Keira menang telak.
Silvia mau nggak mau segera pergi dari rumah Bianca
tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia berpikir dengan mengatakan dirinya hamil,
akan bisa menjebak Bilar. Tapi rupanya satpamnya Bilar lebih galak dan tegas
daripada Bianca. Saat Keira berbalik dengan senyum mengembang penuh kemenangan,
ia melihat Bilar juga tersenyum menatapnya. Seketika itu Keira merasa tubuhnya
merinding.