
Lili menahan
tangisannya, ia menegakkan tubuhnya dan keluar dari toilet. Ketika ia kembali
ke dapur, dirinya sudah menjadi Lili yang dingin kembali. Pak Kim datang dan
memberikan sebuah kertas pada Lili, ia membaca tugas berikutnya.
Riri dan Elo akan
berkunjung ke mall untuk nonton film romantis. Dirinya dan Dion harus menjaga
mereka dari kejauhan. Lili membungkuk pada pak Kim dan meminta ijin untuk
mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Setelah berganti
baju, Lili segera ke depan rumah besar, Dion sudah menunggu di dalam mobil
seperti biasa. Lili berjaga di samping mobil Elo, menunggu pengantin baru itu
keluar dari dalam rumah.
Visual Lili saat
itu menarik perhatian Dion sedikit, ia jelas menatap sosok Lili yang memakai
kaos putih ketat, dengan celana jeans, sepatu kets putih dan tas kecil berwarna
hitam. Rambut panjangnya diikat ekor kuda memperlihatkan tengkuknya yang putih
bersin.
Saat Elo dan Riri
keluar, Dion bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari sosok Lili. Ia
mencengkeram kemudi mobil dengan erat, menahan perasaannya yang masih saja
tidak bisa melupakan Lili.
Gadis itu berjalan
cepat menghampiri mobilnya, mobil Elo sudah berjalan menuju gerbang. Lili
membuka pintu mobil Dion dan duduk di samping Dion. Dion langsung tancap gas
tanpa menunggu Lili menggunakan sabuk pengamannya.
Lili mencengkeram
kursi mobil, ia menarik perlahan sabuk pengaman tanpa menunjukkan ekspresi
apa-apa. Keduanya tidak saling bicara selama dalam perjalanan. Mata Lili sibuk
mengawasi keadaan sekitar, terutama saat mereka berhenti di lampu merah.
Perjalanan sangat
lancar sampai di mall. Riri mengapit lengan Lili dan mengajaknya melihat-lihat
toko yang mereka lewati. Elo dan Dion berjalan di belakang mereka. Untuk
menyamarkan wajahnya yang rusak, Dion memakai masker dengan hoodie tetap
menutupi kepala.
Elo : “Hanya
perasaanku saja ya. Kau bertengkar dengan Lili?”
Dion : “...”
Elo geleng-geleng
kepala, sudah jadi kebiasaan kalau Dion tidak menjawab pertanyaannya, artinya
dirinya sedang tidak ingin diganggu. Keduanya tetap mengawasi para wanita
mereka yang kini sedang memperhatikan aksesoris di sebuah etalase.
Beberapa remaja
yang melihat Riri dan Lili, bergerak mendekati mereka dan mencoba menggoda.
Lili langsung pasang badan, menyembunyikan Riri di belakang tubuhnya. Dion
mengepalkan tangannya saat melihat Lili menghindari tangan salah satu remaja
itu yang ingin menyentuh wajahnya.
Elo dan Dion segera
mendekati Riri dan Lili. Elo merangkul pinggang Riri, sementara Dion menyela
antara Lili dan remaja itu. Ia menatap mereka dengan tatapan tajam yang
mengerikan. Tubuhnya yang tinggi menjulang, membuat remaja-remaja itu segera
menyingkir dari sana.
Mereka berempat
melanjutkan berjalan menuju bioskop dengan perubahan formasi. Elo dan Riri
berjalan mesra di depan Lili dan Dion. Sementara Lili menjaga jarak dengan Dion,
ia berjalan di belakang Elo, hampir mensejajari langkah tuan mudanya itu.
Tiba di depan
bioskop, Riri menunjuk film yang ingin ia tonton. Lili langsung mengantri tiket
untuk mereka berempat. Elo dan Riri melangkah ke stand penjual popcorn dan
minuman. Lili tetap mengawasi nona-nya dari dalam antrian. Seorang laki-laki
yang mengantri setelah Lili, mengajak Lili mengobrol.
Lili hanya sekedar menanggapi
tapi rupanya laki-laki itu sudah tertarik padanya. Ia mencoba meminta nomor HP
Lili, dan terus mengajaknya bicara. Saat laki-laki itu melontarkan lelucon,
Dion bisa melihat senyuman Lili muncul dari sudut bibirnya. Tangan Dion kembali
mengepal dengan erat. Ia hampir menghampiri Lili, kalau tidak melihat Elo dan
Riri kembali dari stand penjual.
Setelah Lili
membeli tiket untuk mereka berempat, mereka duduk di sofa yang sudah
disediakan, menunggu pintu bioskop terbuka. Laki-laki tadi mendekati Lili dan
duduk disampingnya. Riri menyikut Elo dan memberi tanda dengan sudut matanya. Elo
Elo : “Sepertinya
mereka lagi ada masalah dech. Kita harus melakukan sesuatu, sayang.”
Riri : “Kita lihat
saja dulu. Biar saja kak Dion panas melihat Lili sama laki-laki itu.”
Pintu bioskop
terbuka, laki-laki itu mengajak Lili masuk duluan. Ia menunjukkan tiket yang
satu deret dengan Lili dan lainnya. Jadinya mereka berlima duduk berderet.
Laki-laki itu, Lili, Riri, Elo, dan Dion.
Elo : “Kau yakin
gak ada masalah?” tanya Elo pada Dion sambil menyerahkan popcorn dan minuman.
Dion : “Aku akan
mengurus dia nanti.”
Elo : “Siapa?
Laki-laki itu atau Lili?”
Dion : “Laki-laki
itu.” Seringai Dion.
Film mulai diputar.
Elo dan Riri asyik menonton, tapi tidak begitu dengan Lili yang tetap mengawasi
sekeliling sambil sesekali menanggapi obrolan laki-laki itu. Sepertinya mereka
sudah berkenalan karena Riri sempat mendengar Lili menyebut nama laki-laki itu,
Leo.
Riri : “Malah
kenalan. Ini gimana jadinya, mas?”
Elo : “Kayaknya
lebih seru kejadian bentar lagi dech daripada film itu.”
Riri menoleh
menatap Elo yang malah mendekat mengecup keningnya. Elo tersenyum melihat Riri
tersipu karena ulahnya. Keduanya mengumbar kemesraan dengan rangkulan dan juga
genggaman tangan yang tidak pernah lepas. Dion semakin kesal melihat Elo
bermesraan dengan Riri di sampingnya.
Sampai film selesai
dan mereka berjalan keluar dari bioskop, Dion menghilang. Laki-laki bernama Leo
itu juga kebetulan mau ke toilet.
Lili : “Akhirnya
pergi juga.” Kata Lili sambil berbalik pada Riri dan Elo.
Lili : “Bisa kita
pergi saja dari sini? Saya tidak mau laki-laki itu kembali lagi.”
Elo : “Baiklah.
Kita makan dulu ya. Mau makan apa, sayang?” tanya Elo pada Riri.
Mereka berjalan
menuju bagian restaurant di mall itu. Riri menunjuk restauran seafood dan
mereka masuk kesana. Lili memanggil pelayan sambil memperhatikan sekeliling. Ia
akan sembunyi kalau laki-laki itu datang lagi.
Elo : “Tenanglah. Laki-laki
itu tidak akan datang lagi.”
Lili : “Darimana
tuan muda bisa tahu?”
Lili menoleh saat
seseorang duduk di sampingnya. Dion sudah kembali entah dari mana dan ikut
bergabung dengan mereka. Elo bisa melihat kalau Dion sedang tersenyum dan
merasa sangat puas.
Riri : “Kita makan
saja, okey. Tidak usah dipikirkan lagi, Lili.”
Lili hanya
mengangguk, ia menikmati makanan di depannya yang sudah dihidangkan pelayan.
Dion melihat Lili kesulitan membuka kulit kepiting dan memberikan yang sudah ia
kupas ke piring Lili. Lili mau tidak mau memakan daging kepiting yang sudah
tersedia di piringnya.
Saat Lili mulai
merasa kepedasan, Dion menyodorkan air putih ke hadapannya. Terus mengisi gelas
kosong Lili dengan air sampai Lili merasa lebih baik. Lili mengusap air matanya
yang jatuh lagi. Ia beralasan tidak tahan pedas sehingga menangis seperti itu. Padahal
jauh di dalam lubuk hatinya...
🌻🌻🌻🌻🌻
Lili sedih karena lupa
ngasi vote dan like buat author. #Auto ditimpuk reader nich karena gantung
terus.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).