Duren Manis

Duren Manis
Extra part 42


Extra part 42


“Kei...,” panggil seseorang di sampingnya.


“Mama?” panggil Keira yang masih halu. “Mama...


Huu... Hiks... Hiks...” Keira menangis tersedu-sedu, ia menggapai ingin memeluk


orang yang tadi memanggilnya. Pelukan hangat segera diterima Keira.


“Mama... Mah, Kei kangen mama. Kei udah lulus


kuliah, mah. Bentar lagi wisuda. Mama mau temenin Kei, kan?” tanya Keira masih


belum sadar kalau ia memeluk orang lain.


Semakin erat pelukan yang ia terima, air mata Keira


malah semakin deras mengalir. Ia menangis tersedu, meluapkan perasaannya yang


terdalam. Kekecewaan karena orang tuanya lebih memilih pekerjaannya daripada


dirinya.


“Kei salah, mah. Harusnya Kei mau ikut mama sama


papa. Tapi Kei nggak mau pergi dari sini, mah. Kei nggak mau ninggalin opa


Jang. Mama mau nggak tinggal lagi sama Kei? Kei janji mau berubah jadi anak


baik. Tapi mama mau tinggal disini lagi ya,” cerocos Keira panjang lebar.


Keira mengeluh pipi dan punggungnya sakit. Ia


meralat, semuanya sakit. Tubuhnya terasa remuk redam, meriang dan sangat tidak


nyaman. Keira mengeluh lagi kalau seharusnya ia sering berlatih pertahanan diri


dan membawa alat perlindungan diri.


“Kei kira kalau nggak tinggal di rumah, akan aman


aja, mah. Tapi malah orang lain yang hampir kena penculikan. Tante itu, mirip


mama. Kei menyesal, mah. Kei sudah kurang ajar sama tante itu. Tapi tante itu emang


nyebelin. Kei emang nakal, tapi bukan Kei yang minta anaknya ngikutin Kei. Mama


kok diem aja sich? Sariawan mah? Sakit gigi?” tanya Keira bertubi-tubi.


Keira mengendus wangi parfum orang yang dipeluknya.


“Mama ganti parfum ya. Baunya lebih enak ini, mah. Mama juga kayaknya gendutan.


Mama nggak takut nanti papa cari mama baru yang lebih singset?” tanya Keira


kurang ajar.


“Gadis liar kurang ajar,” kata Bianca yang langsung


ditanggapi Keira dengan gelak tawa sambil berdesis kesakitan.


“Huahahahaha... sss... hahahaha... sekarang


kata-kata mama persis banget sama tante itu,” sahut Keira masih belum sadar.


“Keira!” panggil Bilar setelah membuka pintu kamar


itu sampai terhempas.


Keira bengong melihat Bilar berlari mendekatinya. Ia


menoleh menatap Bianca yang masih memeluknya. Keira langsung menegakkan tubuhnya


dan berteriak,


“Stop!!!!” pekik Keira sambil meringis. Bilar


berhenti di sisi tempat tidur, tempat Keira duduk bersama Bianca.


“Kei...,” panggil Bilar penuh harap. Keira


mengulurkan telapak tangannya menghadap kepada Bilar. Ia meminta Bilar jangan bicara


dulu.


“Tante, maaf. Tadi saya kira tante, mama saya,”


kata Keira memejamkan matanya bersiap kena omelan lagi.


“Kamu nich! Udah sakit, masih bisa ngomong banyak


banget. Cerewet sekali,” ucap Bianca sambil mengelus pipi Keira yang bengkak.


Keira memejamkan matanya semakin erat, ia sudah takut kalau Bianca akan


memukulnya.


“T—tante, kalo mau pukul, jangan sekarang ya, tan.


Tunggu pipiku sembuh dulu. Sakit, tan,” ucap Keira memberanikan dirinya.


“Kamu pikir, saya nggak punya rasa kasihan. Kamu


sudah nolong saya dari upaya penculikan. Terima kasih, Keira,” ucap Bianca.


Keira membuka matanya melihat Bianca tersenyum


tulus padanya. Tanpa sadar, Keira juga tersenyum. Bilar yang melihat keduanya


menatap dengan senyum mengembang di bibir masing-masing, juga ikut tersenyum.


“Mah, Bilar boleh pacaran sama Keira ya,” pinta


Bilar tidak sabaran.


Keduanya kompak menggeleng, lalu saling menatap.


Tidak perlu alasan bagi Bianca untuk menolak permintaan Bilar, tapi apa alasan


Keira menolak permintaan Bilar? Bilar juga menanyakan hal yang sama. Mereka


berdua saling suka, apa salahnya berpacaran.


“Ayolah, Bilar. Kamu cuma penasaran sama aku. Kamu


harus membuka hati untuk perempuan lain yang lebih baik dari aku,” kata Keira


santai tanpa beban.


Gadis itu sadar sepenuhnya dengan apa yang ia


katakan. Keira sudah terlanjur terhanyut dengan kebiasaannya hidup bebas,


bersenang-senang dengan banyak pria. Meskipun tahu batasannya, tetap saja Keira


merasa dirinya tidak cukup baik untuk Bilar.


Bianca jadi berpikir kembali tentang gadis muda


dihadapannya itu. Dengan latar belakang Bilar, seharusnya Keira tidak bisa


menolak putranya itu. Apa Keira sedang bermain permainan tarik ulur?


Ingin tahu lebih dalam tentang Keira, Bianca


mengiyakan kata-kata Keira. Ia akan mengatur kencan buta untuk putranya itu.


Dihadapan Keira, Bianca memuji penampilan baru Bilar dan seberapa cocoknya


Bilar dengan putri pengusaha kaya kenalannya.


Bianca bicara begitu sambil melirik reaksi Keira


yang masih tersenyum sambil menyentuh pipinya. Gadis itu malah asyik sendiri


mengecek lebam di lengannya tanpa mempedulikan pembicaraan antara ibu dan anak


itu. Bilar kesal mendengar Bianca membicarakan tentang kencan buta di depan


Keira.


“Kei! Kamu kok nggak marah?” tanya Bilar.


“Marah kenapa? Bagus kan kalau mamamu udah dapet


calon yang baik untuk kamu,” sahut Keira tanpa berani menatap Bilar. Keira


ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu karena tidak ingin perasaannya


diketahui oleh siapapun lagi.


kecil yang tidak mendapat mainan.


Keira pura-pura tidak mendengar Bilar, ia menyibak


selimut yang menutupi kakinya. Masih tampak lebam kebiruan di kakinya dan


sekarang bertambah satu lagi lebam di lututnya. Keira menekan-nekan lebam di


lututnya sebelum menyadari pandangan dua orang di depannya itu.


Saat Keira menyadari apa yang dilihat kedua orang


itu, Keira langsung menarik selimut kembali menutupi tubuhnya yang hanya


memakai pakaian dalam.


“T—Tante, baju saya mana?” tanya Keira malu


sendiri.


“Bajumu masih dicuci. Keira, kamu bisa istirahat


disini dulu ya. Tante harap kamu mau tinggal disini sampai sembuh. Sekalian bantu


tante memilih gadis yang cocok untuk Bilar,” pinta Bianca sambil mengelus


rambut Keira.


Nyes! Hati Keira yang sudah sakit, semakin sakit


ketika Bianca menyiramkan air garam diatas lukanya. Ia tidak bisa menarik


kata-katanya dan memilih mengangguk.


Bianca meninggalkan mereka berdua dalam suasana


hening yang canggung. Keira merapatkan selimut yang menutupi tubuhnya saat


Bilar duduk di sampingnya. Pria itu menarik tangan Keira dengan lembut lalu


mencium punggung tangan Keira.


“Kei, makasih udah menyelamatkan mamaku. Kalau nggak


ada kamu, entar gimana nasib mamaku sekarang,” kata Bilar sambil menatap mata


Keira.


“Mamamu orang baik, kalau bukan aku, pasti ada


orang lain yang juga mau membantunya. Bilar, aku boleh minta sesuatu dari kamu?”


tanya Keira masih menunduk.


Bilar menarik dagu Keira dengan lembut agar


menatapnya saat gadis itu bicara. Keira terpesona menatap mata Bilar yang


berwarna hitam pekat. Seperti mutiara hitam yang berkilau indah terkena cahaya


senja. Terhanyut suasana, Keira memejamkan matanya ketika Bilar mengecup bibir


pink Keira.


Keira merangkul leher Bilar, menikmati ciuman manis


dengan pria itu. Baru kali ini Keira merasakan ciuman karena cinta dan bukan


nafsu sesaat. Rasanya lebih manis membuat ketagihan. Bilar benar, saat pria itu


ingin menciumnya terus. Ciuman atas dasar cinta membuat ketagihan dan selalu


ingin melakukannya.


”Aku mencintaimu, Bilar.” Keira bergumam tanpa


sadar dalam ciuman mereka.


“Kamu mengatakan sesuatu?” tanya Bilar yang


berhenti mencium Keira saat ia mendengar gadis itu menyatakan cintanya. Tapi


Bilar ingin Keira mengakui perasaannya terang-terangan.


Keira yang tidak mengerti apa yang Bilar katakan,


menarik tengkuk pria itu lalu menciumnya lagi. Gadis itu tidak peduli dengan


jantungnya yang memompa darah semakin cepat sampai wajahnya memerah. Keira


belum ingin melepaskan Bilar. Bahkan pipinya yang sakit tidak menghalangi gadis


itu menikmati ciumannya dengan pria yang ia cintai.


“Kei, apa kau mencintaiku?” tanya Bilar setelah


ciuman mereka berakhir.


Kesadaran Keira pulih sepenuhnya, ia menatap mata


Bilar lalu mengelus surai tebal pria itu. Keira tersenyum manis dengan mata


berkaca-kaca.


“Aku jatuh cinta sama kamu karena penampilanmu


berubah, Bilar. Itu bukan cinta yang sebenarnya. Hanya ketertarikan sementara,”


ucap Keira, lagi-lagi mengalihkan pandangannya dari Bilar.


“Lihat aku kalau kamu bicara, Kei. Aku disini,”


pinta Bilar.


Keira menatap mata Bilar dengan mata berkaca-kaca,


ia mengeluh kalau Bilar sangat tega membiarkannya kelaparan. Bilar bengong


sesaat sebelum menggelengkan kepalanya. Sia-sia bertanya pada Keira tentang


perasaan gadis itu padanya. Bilar harus memikirkan cara lain untuk membuat


Keira mengakui perasaannya yang sebenarnya.


Bilar memanggil pelayan di rumah itu untuk


menyiapkan makanan untuk Keira. Semangkuk bubur segera datang ke hadapan Keira.


Gadis itu cemberut dan mengeluh pada Bilar kalau ia bukan bayi yang masih makan


bubur. Bilar ingin sekali mencubit pipi Keira karena gemas dengan tingkah gadis


itu.


“Makan dulu bubur ini. Makanan lain segera


menyusul. Bubur ini bagus untuk tubuhmu yang masih shock,” bujuk Bilar.


Mau tidak mau, Keira terpaksa menghabiskan bubur


itu. Giginya terasa sakit saat mencoba mengunyah. Setelah bubur itu habis,


makanan lain segera terhidang dihadapan Keira. Gadis itu ngiler melihat daging


steak dihadapannya. Ada juga kepiting dan aneka seafood lainnya.


Keira memotong daging steak dan hampir


memasukkannya ke mulutnya, tapi Bilar mencegah Keira. Pria itu memotong daging


lebih tipis agar Keira bisa mengunyahnya dengan baik.


“Gigimu nggak sakit?” tanya Bilar ketika melihat


Keira meringis mengunyah daging.


Keira mengangguk. Giginya memang terasa sakit.


Bilar memotong daging steak setipis mungkin agar Keira bisa makan dengan


nyaman. Bilar tersenyum melihat Keira makan dengan lahap tanpa menawari


dirinya.


“Kei, kamu makan sendiri, aku nggak ditawarin?”


tanya Bilar merajuk.