
Hari H lamaran.
Riri sudah selesai dirias dan sedang memakai kebayanya dibantu Kaori dan Rara.
Mia yang masih mengurus si kembar dibantu mb Roh, tampak sedang menyusui baby
Reva.
Mia : “Mb, minta
tolong ambilkan air putih.”
Mb Roh mengambilkan
air putih untuk Mia yang langsung menghabiskannya.
Mia : “Makasih, mb.
Nanti mb jagain si kembar disini saja ya. Kalau si kembar rewel, mb telpon ke
HP saya ya.”
Mb Roh : “Iya, mb.”
Rio membuka pintu
kamar Mia dan melongok ke dalam,
Rio : “Mah, tamunya
uda pada dateng tuch.”
Mia : “Ntar, mama
masih nyusuin Reva. Papamu mana?”
Rio : “Udah di
depan sich sama kak Arnold.”
Mia : “Biar papamu
dulu yang ngurus tamu. Riri udah siap?”
Rio : “Kayaknya
masih ganti baju.”
Tiba-tiba dari arah
luar terdengar teriakan beberapa orang yang mengatakan calon suami Riri sudah
datang.
Mia : “Rio, kasi
tahu Riri suruh cepat. Mama keluar sebentar lagi.”
Rio segera berlari
ke kamar tempat Riri dirias dan membuka pintunya. Terlihat Riri sudah siap dan
terlihat sangat cantik.
Rio : “Wow,
cantik.”
Riri : “Makasih,
Rio.”
Rio : “Maksudku
Kaori cantik banget.”
Riri : “Jadi aku
gak cantik nich?”
Rio nyengir dan
memuji kembarannya juga. Seseorang memberi tahu kalau Riri harus segera ke
depan karena acaranya sudah dimulai.
Riri : “Kok aku gugup
ya.”
Kaori memegang
tangan Riri yang dingin.
Riri : “Mama kemana
sich?”
Rio : “Tadi masih
nyusuin si kembar. Bentar lagi juga datang.”
Mia muncul tepat
waktu dan memeriksa penampilan Riri.
Mia : “Sudah semua
kan? Perhiasannya juga?”
Kaori : “Sudah, tante.”
Mia : “Ayo kita
keluar.”
Mia menuntun Riri
ke depan, Rio dan Kaori mengikuti mereka dari belakang.
*****
Alex menoleh saat
rombongan Kakek Elo akhirnya datang juga. Elo tampak gagah dengan jas yang
dipakainya, ia berjalan di samping kakek Elo. Ratna dan beberapa orang lagi
juga berjalan di belakang Elo.
Alex : “Selamat
datang, pak Michael. Selamat datang di rumah kami. Mari silakan masuk.”
Keluarga Elo
berjalan masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Pelayan catering
langsung datang dan membawakan kue dan minuman untuk para tamu.
Michael : “Pak
Alex, mari kita mulai acaranya. Saya tidak sabar ingin melihat cucu menantu
saya.”
Kakek Elo berkata
begitu sambil menyenggol lengan Elo yang sejak pagi terus mendesak mereka agar
segera berangkat ke rumah Riri.
Alex : “Baik, Pak
Michael. Saya akan panggilkan Riri dulu.”
*****
Semua orang menoleh
ke arah Riri yang sudah datang bersama Mia. Riri terlihat cantik dan cemerlang
dengan perhiasan berlian yang dikenakannya. Kakek Elo tersenyum saat kerabat
yang duduk di belakangnya berbisik-bisik tentang kecantikan Riri.
Michael : “Riri
sayang, kemari nak.”
Riri menoleh pada
Mia dan berjalan mendekati kakek Elo setelah melihat Mia mengangguk. Kakek Elo
mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak dan membukanya.
Michael : “Ratna,
bantu papa.”
Ratna tersenyum dan
mengulurkan tangannya pada Riri. Michael dan Ratna sama-sama memakaikan gelang
berlian di kedua tangan Riri. Bisik-bisik di belakang kakek Elo semakin keras,
mereka tidak menyangka kalau Riri sangat berharga sampai-sampai Michael
memberikan gelang kesayangan mendiang istrinya pada Riri.
Michael : “Riri,
ini gelang milik istri kakek. Nenek pernah berpesan agar memberikan gelang ini
pada calon istri yang sangat dicintai Angelo. Sekarang kakek berikan padamu.”
Riri : “Terima
kasih, kakek.”
Riri mencium tangan
Michael dan Ratna, kemudian kembali ke samping papanya. Riri tidak berani
menatap Elo yang terpesona melihat penampilannya. Ia takut rasa gugup yang
melingkupi dirinya saat ini akan membuatnya salah tingkah setelah bertatapan
dengan Elo.
Acara lamaran
segera dimulai dengan pembicaraan antara kedua belah pihak termasuk persetujuan
dari kedua calon mempelai.
Pembaca acara :
“Tuan Angelo tolong dipastikan lagi apa benar ini nona Riri yang akan tuan persunting?”
Elo : “Aku tidak
bisa memastikannya. Dari tadi dia tidak mau melihatku, sedangkan Riri yang
kukenal selalu menatapku.”
Riri yang sedang
menunduk langsung menegakkan kepalanya dan menatap Elo. Mata mereka bertemu dan
Elo mengangguk.
memang Ririku. Wanita yang akan kunikahi minggu depan.”
Tepuk tangan
terdengar riuh memenuhi rumah Alex. Wajah Riri merona merah mendengar godaan
dari saudara-saudaranya.
Acara dilanjutkan
dengan makan bersama. Kesempatan itu dipakai Elo untuk menarik Riri ke sudut
rumahnya yang tidak bisa dilihat siapapun.
Riri : “Mas, mau
apa kesini?”
Elo : “Aku kangen,
Ri.”
Riri : “Mas, kita
baru ketemu kemarin kan?”
Elo : “Aku akan
selalu kangen sama kamu, Ri. Kamu cantik banget.”
Riri : “Mas juga
ganteng banget.”
Elo : “Aku boleh
dapet ciuman dong.”
Riri : “Mas, nanti
ada yang datang. Ada kakek juga. Mas gak malu?”
Elo : “Iya, dech.”
Elo menautkan
jemarinya dengan jemari Riri. Ia mencium punggung tangan Riri yang lembut dan
wangi.
Elo : “Ri, makasih
ya kamu udah mau nikah sama aku. Sampai rela ninggalin rumahmu, ikut aku ke
negara A. Aku janji akan selalu jagain kamu.”
Riri : “Iya, mas.
Tapi mas ingat kan aku masih 19 tahun.”
Elo : “Aku tahu,
Ri. Aku akan menahannya, tapi sampai kamu lulus kuliah ya.”
Riri mengangguk dan
tersenyum senang. Elo memeluk Riri dengan erat, hampir merusak tatanan rambut
Riri.
Riri : “Mas, kita
balik ke depan yuk. Nanti dicariin loh.”
Elo : “Kita disini
aja dech. Sampai kakek pulang.”
Riri : “Emangnya
mas gak ikutan pulang?”
Elo : “Eh, iya ya.
Aku kan nebeng mobil kakek tadi.”
Baru juga mau
keluar dari tempat mereka sembunyi, Rio sudah keburu memergoki mereka.
Rio : “Tuch kan
bener kalian disini.”
Kaori ikutan
melongok ke sudut tersembunyi itu.
Kaori : “Hihi,
mojok ampe segitunya. Gak ada tempat lain, pak?”
Riri : “Kalian kok
bisa tahu kami disini?”
Rio : “Aku kan
kembaranmu, aku tahu aja kamu dimana. Dipanggil papa tuch.”
Riri : “Ngapain?”
Rio : “Session foto
katanya.”
Mereka berempat
segera kembali ke depan dan fotografer mulai membidik mengambil gambar seluruh
keluarga yang tampak tersenyum bahagia.
Setelah foto
bersama berakhir, Michael berpamitan dengan keluarga Alex dan kembali pulang
bersama keluarganya. Ratna sampai harus menarik Elo agar mau pulang bersama
mereka karena Elo belum mau pulang.
*****
Malam harinya, Riri
membawa kotak yang berisi perhiasan mahal dari Elo ke kamar Mia. Riri mengetuk
pintu perlahan sebelum membuka pintu dan masuk.
Riri : “Mah, Riri
masuk ya.”
Mia : “Iya, Ri.
Masuk aja. Ada apa?”
Riri : “Papa mana,
mah?”
Mia : “Lagi di
ruang kerjanya. Riri mau bicara sama papa?”
Riri : “Nggak. Sama
mama aja.”
Riri duduk di
samping Mia dan bersandar di pundak Mia.
Riri : “Mah, tolong
simpan perhiasan ini ya. Riri takut naruh di lemari.”
Mia : “Iya, sayang.
Kamu kenapa galau gitu?”
Riri : “Mah, bentar
lagi Riri nikah trus pergi jauh dari sini. Riri masih takut, mah.”
Mia : “Kamu takut
apa sich? Gak bisa menyesuaikan bahasa? Bukannya kamu juara 1 lomba pidato
bahasa Inggris ya?”
Riri : “Bukan takut
itu, mah tapi takut gak bisa jadi istri yang baik.”
Mia : “Astaga,
sayang. Kamu takut Elo minta haknya sebagai suami?”
Riri : “Hak apa,
mah?”
Mia : “Hak
menyentuh kamu, Ri. Masa gak ngerti.”
Riri : “Nggak
ngerti, mah. Dan Riri paling benci kalo gak ngerti. Stress dech.”
Mia : “Jalanin aja,
ya.”
Riri : “Iya dech,
mah. Boleh bobok sini gak?”
Mia : “Boleh, kok.”
Riri : “Trus papa
gimana?”
Mia : “Papa kan
bisa tidur di ruang kerjanya. Uda tidur aja.”
Riri berbaring dan
mulai memejamkan matanya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).