Duren Manis

Duren Manis
Nggak ngerti


Hari H lamaran.


Riri sudah selesai dirias dan sedang memakai kebayanya dibantu Kaori dan Rara.


Mia yang masih mengurus si kembar dibantu mb Roh, tampak sedang menyusui baby


Reva.


Mia : “Mb, minta


tolong ambilkan air putih.”


Mb Roh mengambilkan


air putih untuk Mia yang langsung menghabiskannya.


Mia : “Makasih, mb.


Nanti mb jagain si kembar disini saja ya. Kalau si kembar rewel, mb telpon ke


HP saya ya.”


Mb Roh : “Iya, mb.”


Rio membuka pintu


kamar Mia dan melongok ke dalam,


Rio : “Mah, tamunya


uda pada dateng tuch.”


Mia : “Ntar, mama


masih nyusuin Reva. Papamu mana?”


Rio : “Udah di


depan sich sama kak Arnold.”


Mia : “Biar papamu


dulu yang ngurus tamu. Riri udah siap?”


Rio : “Kayaknya


masih ganti baju.”


Tiba-tiba dari arah


luar terdengar teriakan beberapa orang yang mengatakan calon suami Riri sudah


datang.


Mia : “Rio, kasi


tahu Riri suruh cepat. Mama keluar sebentar lagi.”


Rio segera berlari


ke kamar tempat Riri dirias dan membuka pintunya. Terlihat Riri sudah siap dan


terlihat sangat cantik.


Rio : “Wow,


cantik.”


Riri : “Makasih,


Rio.”


Rio : “Maksudku


Kaori cantik banget.”


Riri : “Jadi aku


gak cantik nich?”


Rio nyengir dan


memuji kembarannya juga. Seseorang memberi tahu kalau Riri harus segera ke


depan karena acaranya sudah dimulai.


Riri : “Kok aku gugup


ya.”


Kaori memegang


tangan Riri yang dingin.


Riri : “Mama kemana


sich?”


Rio : “Tadi masih


nyusuin si kembar. Bentar lagi juga datang.”


Mia muncul tepat


waktu dan memeriksa penampilan Riri.


Mia : “Sudah semua


kan? Perhiasannya juga?”


Kaori : “Sudah, tante.”


Mia : “Ayo kita


keluar.”


Mia menuntun Riri


ke depan, Rio dan Kaori mengikuti mereka dari belakang.


*****


Alex menoleh saat


rombongan Kakek Elo akhirnya datang juga. Elo tampak gagah dengan jas yang


dipakainya, ia berjalan di samping kakek Elo. Ratna dan beberapa orang lagi


juga berjalan di belakang Elo.


Alex : “Selamat


datang, pak Michael. Selamat datang di rumah kami. Mari silakan masuk.”


Keluarga Elo


berjalan masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Pelayan catering


langsung datang dan membawakan kue dan minuman untuk para tamu.


Michael : “Pak


Alex, mari kita mulai acaranya. Saya tidak sabar ingin melihat cucu menantu


saya.”


Kakek Elo berkata


begitu sambil menyenggol lengan Elo yang sejak pagi terus mendesak mereka agar


segera berangkat ke rumah Riri.


Alex : “Baik, Pak


Michael. Saya akan panggilkan Riri dulu.”


*****


Semua orang menoleh


ke arah Riri yang sudah datang bersama Mia. Riri terlihat cantik dan cemerlang


dengan perhiasan berlian yang dikenakannya. Kakek Elo tersenyum saat kerabat


yang duduk di belakangnya berbisik-bisik tentang kecantikan Riri.


Michael : “Riri


sayang, kemari nak.”


Riri menoleh pada


Mia dan berjalan mendekati kakek Elo setelah melihat Mia mengangguk. Kakek Elo


mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak dan membukanya.


Michael : “Ratna,


bantu papa.”


Ratna tersenyum dan


mengulurkan tangannya pada Riri. Michael dan Ratna sama-sama memakaikan gelang


berlian di kedua tangan Riri. Bisik-bisik di belakang kakek Elo semakin keras,


mereka tidak menyangka kalau Riri sangat berharga sampai-sampai Michael


memberikan gelang kesayangan mendiang istrinya pada Riri.


Michael : “Riri,


ini gelang milik istri kakek. Nenek pernah berpesan agar memberikan gelang ini


pada calon istri yang sangat dicintai Angelo. Sekarang kakek berikan padamu.”


Riri : “Terima


kasih, kakek.”


Riri mencium tangan


Michael dan Ratna, kemudian kembali ke samping papanya. Riri tidak berani


menatap Elo yang terpesona melihat penampilannya. Ia takut rasa gugup yang


melingkupi dirinya saat ini akan membuatnya salah tingkah setelah bertatapan


dengan Elo.


Acara lamaran


segera dimulai dengan pembicaraan antara kedua belah pihak termasuk persetujuan


dari kedua calon mempelai.


Pembaca acara :


“Tuan Angelo tolong dipastikan lagi apa benar ini nona Riri yang akan tuan persunting?”


Elo : “Aku tidak


bisa memastikannya. Dari tadi dia tidak mau melihatku, sedangkan Riri yang


kukenal selalu menatapku.”


Riri yang sedang


menunduk langsung menegakkan kepalanya dan menatap Elo. Mata mereka bertemu dan


Elo mengangguk.


memang Ririku. Wanita yang akan kunikahi minggu depan.”


Tepuk tangan


terdengar riuh memenuhi rumah Alex. Wajah Riri merona merah mendengar godaan


dari saudara-saudaranya.


Acara dilanjutkan


dengan makan bersama. Kesempatan itu dipakai Elo untuk menarik Riri ke sudut


rumahnya yang tidak bisa dilihat siapapun.


Riri : “Mas, mau


apa kesini?”


Elo : “Aku kangen,


Ri.”


Riri : “Mas, kita


baru ketemu kemarin kan?”


Elo : “Aku akan


selalu kangen sama kamu, Ri. Kamu cantik banget.”


Riri : “Mas juga


ganteng banget.”


Elo : “Aku boleh


dapet ciuman dong.”


Riri : “Mas, nanti


ada yang datang. Ada kakek juga. Mas gak malu?”


Elo : “Iya, dech.”


Elo menautkan


jemarinya dengan jemari Riri. Ia mencium punggung tangan Riri yang lembut dan


wangi.


Elo : “Ri, makasih


ya kamu udah mau nikah sama aku. Sampai rela ninggalin rumahmu, ikut aku ke


negara A. Aku janji akan selalu jagain kamu.”


Riri : “Iya, mas.


Tapi mas ingat kan aku masih 19 tahun.”


Elo : “Aku tahu,


Ri. Aku akan menahannya, tapi sampai kamu lulus kuliah ya.”


Riri mengangguk dan


tersenyum senang. Elo memeluk Riri dengan erat, hampir merusak tatanan rambut


Riri.


Riri : “Mas, kita


balik ke depan yuk. Nanti dicariin loh.”


Elo : “Kita disini


aja dech. Sampai kakek pulang.”


Riri : “Emangnya


mas gak ikutan pulang?”


Elo : “Eh, iya ya.


Aku kan nebeng mobil kakek tadi.”


Baru juga mau


keluar dari tempat mereka sembunyi, Rio sudah keburu memergoki mereka.


Rio : “Tuch kan


bener kalian disini.”


Kaori ikutan


melongok ke sudut tersembunyi itu.


Kaori : “Hihi,


mojok ampe segitunya. Gak ada tempat lain, pak?”


Riri : “Kalian kok


bisa tahu kami disini?”


Rio : “Aku kan


kembaranmu, aku tahu aja kamu dimana. Dipanggil papa tuch.”


Riri : “Ngapain?”


Rio : “Session foto


katanya.”


Mereka berempat


segera kembali ke depan dan fotografer mulai membidik mengambil gambar seluruh


keluarga yang tampak tersenyum bahagia.


Setelah foto


bersama berakhir, Michael berpamitan dengan keluarga Alex dan kembali pulang


bersama keluarganya. Ratna sampai harus menarik Elo agar mau pulang bersama


mereka karena Elo belum mau pulang.


*****


Malam harinya, Riri


membawa kotak yang berisi perhiasan mahal dari Elo ke kamar Mia. Riri mengetuk


pintu perlahan sebelum membuka pintu dan masuk.


Riri : “Mah, Riri


masuk ya.”


Mia : “Iya, Ri.


Masuk aja. Ada apa?”


Riri : “Papa mana,


mah?”


Mia : “Lagi di


ruang kerjanya. Riri mau bicara sama papa?”


Riri : “Nggak. Sama


mama aja.”


Riri duduk di


samping Mia dan bersandar di pundak Mia.


Riri : “Mah, tolong


simpan perhiasan ini ya. Riri takut naruh di lemari.”


Mia : “Iya, sayang.


Kamu kenapa galau gitu?”


Riri : “Mah, bentar


lagi Riri nikah trus pergi jauh dari sini. Riri masih takut, mah.”


Mia : “Kamu takut


apa sich? Gak bisa menyesuaikan bahasa? Bukannya kamu juara 1 lomba pidato


bahasa Inggris ya?”


Riri : “Bukan takut


itu, mah tapi takut gak bisa jadi istri yang baik.”


Mia : “Astaga,


sayang. Kamu takut Elo minta haknya sebagai suami?”


Riri : “Hak apa,


mah?”


Mia : “Hak


menyentuh kamu, Ri. Masa gak ngerti.”


Riri : “Nggak


ngerti, mah. Dan Riri paling benci kalo gak ngerti. Stress dech.”


Mia : “Jalanin aja,


ya.”


Riri : “Iya dech,


mah. Boleh bobok sini gak?”


Mia : “Boleh, kok.”


Riri : “Trus papa


gimana?”


Mia : “Papa kan


bisa tidur di ruang kerjanya. Uda tidur aja.”


Riri berbaring dan


mulai memejamkan matanya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).