
DM2 – Pertemuan terakhir
“Ya, kamu cuma kuat di ranjang aja.”saut
Gadis mesem.
“Oh, ya kalo itu emang sich. Kamu mancing ya.”kata Rio menatap Gadis dengan
seringai mesumnya.
Gadis memutar bola matanya, ia menepuk
tangan Rio yang ingin menggenggam tangannya. Gadis masih ingin mengelus-elus
bayi Kaori.
“Sudahlah, Rio. Semua sudah berlalu
sekarang. Jangan ada rahasia lagi ya? Kalau kamu ada masalah, ngomong sama aku.
Kita bisa selesaikan sama-sama. Kita harus contoh papa sama mama. Mereka saling
terbuka gak ada rahasia. Itu yang buat mereka saling mendukung satu sama lain.”
Rio mengangguk. “Aku janji, gak ada rahasia
lagi.”
“Trus tadi gimana reaksi Kinanti waktu
ketemuan? Dia masih ngarepin kamu?”tanya Gadis mancing ikan.
“Aku liat biasa aja. Sempat merah mukanya,
gak berani liat aku.”kata Rio sambil mengingat pertemuannya tadi.
....Flash back...
Rio menghubungi Kinanti dari ponsel Mia. Ia
ingin bicara penting dengan Kinanti dan Endy tentang Kaori. Kinanti awalnya
menolak bertemu karena sudah berjanji pada Alex untuk tidak menampakkan dirinya
di depan keluarga Alex. Tapi Rio bersikeras ingin bertemu.
Rio mengendarai mobilnya dengan Mia duduk
disampingnya sambil menggendong Kaori. Mereka hampir sampai di lokasi yang
sudah dikirimkan Kinanti saat Mia melihat penjual jeruk asam yang diinginkan
Gadis. Mia meminta Rio minggir dulu, ia hampir turun membawa Kaori, tapi saat
itu sedikit gerimis.
Akhirnya Rio mengambil bayi Kaori dari
tangan Mia dan menggendongnya. Saat itu Kaori menggenggam tangan Rio dengan
erat. Ia meloncat-loncat dengan senangnya di pangkuan Rio. Sesekali
menepuk-nepuk tangan Rio.
“Waa...waa...waa... aaaa....eeeggghh..”celoteh
bayi Kaori.
Rio melihat bayangan Kaori besar pada bayi
Kaori. Senyumannya sama, sinar matanya juga sama. Meskipun tidak bisa melihat,
mata bayi Kaori bersinar jernih seperti mata Kaori besar.
“Apa aku salah ya? Gadis sudah banyak
sekali berkorban untukku dan juga bayi ini. Rasanya tidak adil kalau aku harus
memisahkan mereka berdua.”
Mia yang sudah kembali ke dalam mobil,
menatap Rio yang terus menatap bayi Kaori. “Gadis sangat menyayangi Kaori, Rio.
Bisa gak kamu pikirkan lagi?”kata Mia.
“Aku sudah memutuskannya, mah. Kita jalan
lagi ya.”
Mia hanya mengangguk pasrah. Mereka
melanjutkan perjalanan sampai tiba di mansion mewah milih Endy. Pintu gerbang
mansion terbuka saat Rio menyebutkan namanya. Kinanti dan Endy sudah menunggu
mereka di ruang tamu.
Rio dan Mia masuk ke ruang tamu, mereka
dipersilahkan duduk dan Kinanti tidak melepaskan pandangannya dari bayi Kaori.
“Aku gak akan basa-basi lagi. Kedatanganku
kesini untuk mengembalikan Kaori pada kalian, orang tua kandungnya.”kata Rio.
Kinanti dan Endy saling pandang, “Tapi...gimana
Gadis?”tanya Kinanti hati-hati.
“Gadis akan punya anak kami sendiri.”
“Kami juga akan punya bayi lagi.”saut Endy
gak mau kalah dari Rio.
“Jadi, kalian mau terima Kaori lagi?”tanya
Rio menatap tajam Endy.
“Aku gak masalah.”saut Endy datar hampir
memancing emosi Rio.
“Tapi Gadis gimana?”tanya Kinanti. “Aku gak
keberatan Kaori kembali pada kami, tapi Gadis sangat menyayangi Kaori. Gimana
kalau dia sedih?”
Rio tersenyum sinis, “Bisa punya hati juga
kamu ya. Perlu setahun lebih..”
Wajah Kinanti merah padam mendengar Rio
menyindirnya. Ia mengepalkan tangannya menunduk, tidak berani menatap Rio lagi.
“Aku tidak akan mengembalikan Kaori pada
harap kalian tidak datang suatu hari nanti dan bilang kalau Kaori anak kandung
kalian.”kata Rio tegas.
Mia menoleh pada Rio dan tersenyum senang.
Kaori tidak jadi di kembalikan kepada Kinanti. Kinanti menghela nafasnya dan
mengangguk. “Aku janji tidak akan melakukan hal seperti itu. Tapi bisa kan,
maksudku boleh kan sesekali aku menengoknya. Kamu bisa bilang kita teman.”
“Kita tidak pernah berteman sejak kau menjebakku.
Aku tidak akan melupakan perbuatanmu padaku dan keluargaku, terutama Gadis.
Kamu gak berhak mengunjungi Kaori.”
Rio bangkit dari duduknya dan membantu Mia
bangun. Kaori sudah tertidur saat mereka masuk ke mansion itu. Sebelum pergi,
Rio berbalik sekali lagi. “Sebaiknya kalian jaga bayi kalian baik-baik dan
jangan ganggu keluargaku lagi. Ini pertemuan terakhir kita.”kata Rio.
Rio membawa Mia dan Kaori masuk ke mobilnya
lagi. Mereka tidak langsung pulang tapi Rio membawa Mia ke sebuah restaurant
yang nyaman. Ia menghabiskan waktu sesore itu untuk mengobrol dengan mamanya.
Rio mendengarkan cerita Mia tentang
pengorbanan Gadis selama dirinya sakit dan bagaimana Kinanti memperlakukan Rio
sampai akhirnya Kinanti pergi.
“Mama melihat sendiri bagaimana repotnya
Gadis mengurusmu, mengurus Kinanti, sampai ngurus Kaori juga. Dia bahkan sering
terlambat makan. Tapi Gadis gak pernah mengeluh sama siapapun. Dia selalu
tersenyum pada semua orang, Rio.”kata Mia.
“Aku sudah memilih pasangan hidup yang
tepat kan, mah?”tanya Rio.
“Ya, Rio. Kamu harus menjaga Gadis, jaga
anak-anak kalian. Sudah saatnya kamu membahagiakan Gadis. Jangan sekali-kali
menyakitinya lagi, Rio. Kamu ngerti maksud mama, kan?”tanya Mia.
Rio berdehem, “Ya, mah. Ngerti.”
Mereka menghabiskan waktu cukup lama di
restaurant itu sambil bermain dengan Kaori.
....Flash back end...
Rio dan Gadis membawa Kaori ke kamar mereka
di lantai dua. Mb Roh sempat mengejar mereka dan mengatakan biar Kaori tidur
bersamanya, tapi malam itu, Gadis ingin tidur bersama Kaori juga.
“Beneran kita gak akan ketemu Kinanti lagi?”tanya
Gadis sambil menidurkan Kaori di ranjang mereka. Gadis berbaring di samping
Kaori, mengusap-usap kaki gembul Kaori.
“Ya, aku sudah menegaskan kalau tadi adalah
pertemuan terakhir mereka dengan Kaori. Kita gak tahu dimasa depan nanti kalau
Kinanti ingin bertemu anaknya. Tapi kita bisa meyakinkan Kaori kalau dia adalah
anak kita.”
Gadis terdiam, ia tidak ingin memikirkan
hal itu sekarang. Yang penting baginya Kaori sudah berada bersamanya lagi. Rio menatap
cemberut pada Gadis yang masih asyik menoel-noel Kaori. Bayi itu masih tertidur
dengan pulas.
“Yank, aku disini juga mau ditoel-toel.”rajuk
Rio.
“Dih, ngalah dikit sama anak kenapa sich.”saut
Gadis masih asyik menatap Kaori.
“Sini.”kata Rio sambil menarik tangan
Gadis. Ia duduk di karpet tebal di samping tempat tidur. Rio ingin Gadis duduk
di pangkuannya.
“Yank, kalau anak-anak udah tidur, gantian
manjain aku dong.”tuntut Rio manja.
Gadis mengusap-usap pipi Rio, lantas
menarik pipinya hingga bibirnya dower. “Bayi besarku. Udah mulai manja lagi
nich. Tapi ngalah ya sama anak.”
Rio memajukan bibirnya mencium Gadis lagi. “Aku
gak mau ngalah. Perhatiannya harus tetep sama.”pinta Rio manyun.
“Iya, sayang. Kalo perlu belah dah nich.”kata
Gadis menyodorkan tubuhnya.
“Belah apa? Belah duren?”pancing Rio.
Gadis tersenyum penuh arti pada Rio. Mereka
menghabiskan malam yang dingin dan sepi dengan saling berpelukan satu sama
lain.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.