
"Iya bu El mengerti. El mohon tolong ibu bersabar sedikit"
Ibu mengerti El. Tapi ayah mu terus saja ingin menjodohkanmu dengan anak rekan bisnis nya
Rendy memijat sedikit keningnya. Sedikit pusing. Jujur saja ini membuatnya sedikit geram. Tapi mana bisa ia marah pada ayah itu.
"Bu tolong katakan pada ayah. El bisa mencari sendiri. El tidak mau dijodohkan lagi. Biar yang lalu menjadi pembelajaran untuk El"
Baiklah, ibu akan mengatakan nya pada ayahmu. Semoga saja ia mau mengerti.
"Terima kasih bu. Tolong beri El waktu satu bulan"
Okey. Tapi jika lebih dari 1 bulan. Ibu tidak bisa membantu kamu lagi
"Iya bu. El mengerti"
•
•
•
Pagi-pagi sekali Rendy mengantarkan rafie ke sekolah. Sempat rafie protes kenapa pagi sekali. Dan tentu saja rendy mencari alasan yang bisa meyakinkan rafie. Padahal sejujurnya dia berangkat pagi hanya ingin bertemu dengan siti. Siapa tau dia mengantarkan adiknya pergi ke sekolah. Dalam perjalanan rafie terus saja protes ke papanya itu. Dia mengatakan kalau ini masih pagi pasti belum ada murid yang datang. Yang ada hanya tukang kebun sekolah. Bayangkan ini masih jam setengah 6 pagi. Matahari pun masih muncul sedikit. Mana ada orang yang berangkat jam segini. Rafie. Bocah kecih itu benar-benar tak habis pikir dengan papa nya itu. Kesal tentu saja. Sebenarnya rafie sempat tidak ingin kembali ke sekolah. Karena takut di ejek lagi. Tapi karena rendy membujuknya mengatakan jika rafie kalau ingin punya mama baru harus pergi ke sekolah. Jadi karena itu Rafie mau kembali ke sekolah. Rendy juga meminta bibi saras untuk tidak mengatarkan dan menjaga rafie saat disekolah. itu bertujuan untuk melatih mental rafie. rendy ingin rafie menjadi anak yang pemberani dan tangguh.
Karena pembicaraan dengan ibu nya kemarin malam di telepon membuat rendy harus bertindak lebih cepat. Dia tidak ingin dijodohkan lagi. Cukup sekali saja. Padahal dia ingin mendekati siti secera perlahan. Tapi karena ancaman ayah. Bahwa ia akan dijodohkan lagi. Membuatnya harus bekerja keras. Ayahnya memang selalu seperti itu.
Awalnya dia tidak ingin membuat rencana ini. Tapi mau bagaimana lagi. Bahkan dia lupa lagi untuk meminta nomor siti. Dasar pelupa.
Sesampainya di sekolah Rafie. Ia sengaja memakirkan mobilnya tepat di depan sekolah Rafie. Dia tidak membawa mobilnya masuk.
Rendy ingin menunggu siti diluar. karena parkiran di sekolah rafie cukup jauh dari jalan raya. tepat dibelakang sekolah. jika rendy memakirkan mobilnya disana dia tidak akan bisa bertemu dengan siti
" tuh kan pa macih cepi " ( tuh kan pa masih sepi ) ujar rafie. Ia mengerucutkan bibirnya kesal.
" kan enak berangkat pagi. Jadi rafie tidak akan terlambat " rendy mengatakannya dengan santai nya. Membuat rafie semakin kesal.
"Memang nya apie pelnah telambat " ( memang nya rafie pernah terlambat ) dengan cerdasnya rafie melontarkan kata-katanya itu. Membuat rendy mati kutu.
Skatmat
" P-pernah kok " ujar rendy tak yakin
" apan? " ( kapan? )sanggah rafie. Ia melipat tangannya didada. Memajukan dagunya.
Rendy menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Bingung.
" I-itu waktu rafie bangun kesiangan " alasan yang klise.
" papa apie celama ini idak pelnah cekolah. Apie kan celama ini cekolah dilumah. Maca papa lupa cih " ( papa rafie selama ini tidak pernah sekolah. Rafie kan selama ini sekolah dirumah. Masa papa lupa sih )
Rendy tersenyum meringis. Dia kalah.
"hǎo la hǎo la, rafie tidak pernah terlambat sekolah " ( baiklah-baiklah ) Rafie menatap sinis papanya.
15 menit mereka menunggu didalam mobil. Satu persatu murid TK dan SD berdatangan. Memang sekolah rafie termasuk Yayasan. Memiliki beberapa bangunan gedung. Gedung depan untuk Anak TK. Sedangkan Gedung Belakang untuk anak SD.
" Papa, itu liski teman apie " ( papa itu rizki teman rafie )
" Yang Mana? " Rendy celingukkan mencari keberadaan teman yang dimaksud oleh anaknya itu
.
" Itu " Rafie menunjuk seorang ibu-ibu dan anak kecil.
" Oh yang itu " Rendy mengangguk mengerti.
" Papa apie belangkat dulu ya " ( papa rafie berangkat dulu ya ) Rafie mencium tangan rendy. Rendy membalasnya dengan mencium kening Rafie.
" ingat kata-kata papa. Kalau ada yang mengejek rafie jangan takut "
" Ciap " ( siap ) rafie memberi hormat ala-ala tentara.
"Acalamualikum " ( Assalamualaikum ) Rafie membuka pintu mobil. Keluar.
" Wa'alaikumsalam " Rendy menatap kepergian putranya.
Rafie berlari menghampiri temannya itu. Menggandeng tangannya. Lalu masuk kedalam sekolah. Rendy hanya melihat nya dari kaca mobilnya. tersenyum senang. ternyata meskipun banyak yang mengejek rafie. tapi dia sudah memiliki seorang teman.
Ini waktunya bagi rendy menunggu siti dan adiknya. Untuk menghilangkan rasa bosan. Ia meminkan ponselnya. Mengecek beberapa E-mail dari perusahaan dan rekan kerjanya. Banyak sekali E-mail yang masuk. Bahkan dari sekretarisnya, Nikolas. Rendy menghela napas dalam.
Memang akhir-akhir ini ia sangat sibuk sekali. Apalagi perusahaan sedang naik daun. Beberapa perusahaan lain mengajukan kerja sama. Tapi ia masih menyeleksi. Dan tentang kerja sama YC group dan ZO group berjalan dengan lancar. Mereka berencana membangun sebuah Hotel di daerah kalimantan. Ia juga harus meninjau tanah yang akan dia bangun hotel. Memang bukan perkara yang mudah. Apalagi membangun hotel membutuhkan dana yang banyak. Meskipun uangnya tidak akan habis untuk membangun 10 hotel sekalipun. Tetapi ia juga membutuhkan rencana yang matang.
Jika ia sangat sibuk. Bagaimana dia meluangkan waktunya untuk mendekati siti. Apalagi menjadi guru. Pasti akan sulit sekali ia membagi waktu. Nasib - nasib.
Tak berselang lama. Ia melihat sebuah motor berhenti didepan sekolahnya. Dan dia tau itu nana dan bapaknya, wisman. Itu artinya siti tidak mengantarkan nana ke sekolah. Padahalkan mereka satu arah. Setelah wisman mengantarkan nana. Ia pergi. Rendy mematikan ponsel. Segera keluar dari mobil menghampiri nana.
" Nana " panggil rendy. Nana berhenti. Ia menoleh
" Eh om yang waktu itu kan? " ucap nana, tepat saat rendy berdiri dihadapannya.
" Boleh om bertanya "
" Boleh " nana mengangguk.
" Kakak kamu mana. Dia tidak mengantarkanmu ?"
" Enggak om. Kak siti memang jarang nganterin nana sekolah, soalnya yang biasa nganterin nana sekolah itu bapak, tapi karena waktu itu bapak sibuk, jadi kak siti yang nganterin "
" Dia akan lewat jalan sini kan? "
" Enggak om, kak siti biasanya lewat jalan lain ( jalan tikus ) yang lebih dekat dengan sekolahnya. Jarang sekali lewat sini. Kak siti udah berangkat dari tadi pagi om "
Ada sedikit kekecewaan diwajah rendy mendengar perkataan nana.
" Memangnya kenapa ya om " tanya nana.
" Enggak ada apa-apa kok "
" Nana om bisa minta tolong? "
" minta tolong apa om? "
" Tapi jangan bilang pada kakak kamu "
" Oke om "
" Bisa kamu minta nomor kakak kamu, tanpa kakak kamu tahu. Nanti kamu kasih ke om "
" kenapa om tidak minta sendiri ke kak siti ? " nana menatap heran rendy.
" tidak bisa. Soalnya om sangat sibuk "
" Emm.. Gimana ya om bukannya nana tidak mau " nana terlihat berpikir.
" Tapi harus ada imbalannya " nana menaik turunkan alisnya. Tersenyum lebar.
Dasar tidak ikhlas. Dalam hati rendy berujar sinis. Ternyata anak jaman sekarang memang pintar sekaligus licik.
" Baiklah apa yang kamu minta " sahut rendy. Nana terlihat senang
" Nana mau boneka berbie " ujar nana riang.
" Baik nanti akan om belikan. Dengan syarat nana harus dapat nomor kakak kamu. Tapi ingat jangan sampai kakak kamu tau "
" Siap om " Rendy tersenyum senang. Mereka saling adu kepalan tangan. Benar-benar. Rendy bekerja sama dengan anak kecil.
" om nana boleh minta duit nggak? " ujar nana tiba-tiba.
" Eh buat apa? " Rendy mengernyit heran.
" Buat beli cilok di kantin nanti kalau udah istirahat om "
Nana menadahkan kedua tangannya. Memasang puppy eyes andalannya.
" Boleh ya om "
" nih " Nana menerimanya, kemudian ia mengembalikannya kembali.
" Eh, kenapa dikembalikan. Katanya tadi mau uang? "
Nana menggeleng, " duitnya kegedean om. Nana maunya yang lima ribuan aja. Ciloknya kan harganya nggak sampai seratus ribu " ucap nana dengan polosnya.
Baru kali ini ia menemukan bocah yang tidak suka diberi uang dengan nominal besar. Kalau bocah yang lainnya pasti dengan senang hati menerimanya.
Rendy memeriksa lagi dompetnya. Mencari keberadaan uang lima ribuan. Namun, tidak menemukannya. Yang ada hanya uang merah dan biru. Sisanya hanya kartu ATM, kredit dan black card milinya. Maklum orang kaya.
" Om tidak punya uang lima ribu na. Itu saja kamu terima "
Nana tetap menggeleng. Menolak.
" Nggak bisa om. Kata kak siti kalau minta uang harus sesuai kebutuhan. Kan kebutuhan nana ingin beli cilok. Jadi duitnya harus kecil "
" Tapi om tidak punya uang kecil na. Ya sudah itu kamu terima buat beli cilok, sisanya bisa kamu belikan apa gitu "
" Nana takut om nggak ikhlas "
Rendy mendekati nana. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan nana. Mengusap lembut kepala nana.
" om ikhlas na "
" Benar ya om "
Rendy mengangguk. Nana memasukkan uang yang diberikan rendy ke dalam sakunya.
" Yey. Kalau gitu kapan - kapan nana minta duitnya lagi ya om " nana tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya alias senyum pepsodent.
Dinggg......
Seketika wajah rendy menjadi cengo. Pasalnya jaman sekarang yang suka malak bukan hanya orang dewasa saja tapi anak kecil juga suka.
Ingat rendy. Bagaimana pun juga nana adik siti. Dia akan jadi adik ipar kamu. Jadi jangan pelit.
" Iya - Iya. Nana bisa minta uang sebanyak mungkin "
" Makasih ya om. Om baik banget deh. Jadi tambah ganteng " puji nana. rendy hanya tersenyum kecil.
" Sama-sama. Sekarang kamu masuk gih. Tuh sudah bel. Jangan lupa nomor kakak kamu. Besok om tunggu disini" nana mengangguk. rendy menganyunkan tangannya berusaha untuk mengusir nana. Akhirnya pun nana beranjak pergi meninggalakan rendy.
Rendy menatap kepergian nana. Melipat tangannya di dada. Dalam hati ia tertawa senang. Karena sebentar lagi ia akan memiliki nomor siti. Memang kesalahannya tidak langsung meminta pada yang bersangkutan. Namanya juga sudah tua. Sering lupa. Namun dengan adanya nana akan mempermudahkannya mendekati siti. That's true guys
" Baiklah waktunya pergi bekerja " Rendy berguman. Ia pergi berbalik menuju mobilnya. Tapi, Tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
" Pak Rendy "
Rendy menoleh. Ternyata seorang laki-laki Setengah tua. Ah tidak. Lebih tepat nya laki-laki parubaya sedang didalam mobil. Tepat di depan mobil rendy. Pak tua itu menurunkan kaca mobilnya lebih lebar lagi. Rendy mempertajam penglihatannya. Ia memicingkan matanya.Berusaha mengenali laki-laki parubaya itu.
Aku seperti mengenalnya, tapi dimana.
Lelaki tua itu membuka pintu mobilnya. Lalu turun menghampiri Rendy.
" pak arya " akhirnya rendy mengingat jelas lelaki tua itu. Pemilik SMA Puncak Bukit. rekan bisnis ayahnya dulu.
Pria tua itu memeluk rendy. Menepuk - nepuk punggung rendy. Sebentar.
" Sudah Lama tidak bertemu ya pak rendy "
" Ah iya pak arya " rendy tersenyum ramah.
"Saya bisa bicara sebentar dengan pak rendy "
" Bisa pak. tapi bisakah anda tidak memanggil saya dengan sebutan ' Pak '? "
" ah, baiklah. kalau gitu rendy jangan memanggil saya ' pak ' juga. panggil om sama seperti dulu " ujar pria itu sedikit bercanda. rendy hanya tersenyum tipis.
" Jadi begini Ren. Kebetulan salah satu guru di SMA om sedang melaksanakan tugas mengajar di luar kota selama satu semester. Selama mata pelajaran beliau kosong tidak ada yang mengisi. Mata pelajaran nya Agama. om dulu pernah mendengar dari ayah kamu jika kamu pernah menjadi guru agama di salah satu SMP. om berharap kamu bisa menggantikan beliau selama satu semester, kamu tidak keberatankan? " jelas pria tua itu to the point
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Memang kalau sudah berjodoh tidak akan kemana. Awalnya rendy ingin meminta niko sekretarisnya mengurus surat lamaran kerjanya. Tapi mungkin itu tidak perlu karena pemilik sekolah yang datang sendiri kepadanya. Sungguh mengejutkan.
Ini adalah salah satu cara untuk mendekati siti rendy. Jangan ditolak.
" Baiklah om. Saya tidak keberatan "
Mendengar jawaban positif rendy. Pria tua itu terlihat senang.
•
•
•
Di sisi lain.
Siti telah sampai di sekolahnya. Ia memakirkan sepedanya. Namun, ketika hendak menuju kelasnya ia dihadang dengan segerombolan GGS alias gadis gadis stress. Begitulah siti menyebut mereka. Kumpulan gadis yang suka membully orang lain. Siti sering menjadi korban bully mereka. Mereka sering membully adik kelas mereka. Karena mereka merasa lebih senior dan bekuasa dari adik kelas mereka.
" Coba lihat siapa yang datang " salah satu dari mereka berdiri di depan siti dengan tatapan menghina, gadis berambut pendek itu menatap siti sinis. Sedangkan dua teman lainnya melihat dari belakang.
" Gadis kampung " ejek gadis itu.
" Maaf kak saya mau lewat " siti berusaha sesopan mungkin pada kakak kelas nya itu. Siti berjalan di samping gadis itu. Namun tangan gadis itu menghalangi siti.
" Mau kemana lo, gue belom selesai ya dengan lo "
" Sudah gue bilang dari dulu jauhi devan. Dia itu milik gue. Ngerti lo " gadis itu mendorong siti. Hingga terjatuh ke belakang. Lalu menjambak rambut siti.
" Dengar ya. Sekali lagi gue peringatkan lo. Jauhi devan. Awas aja kalo lo masih deketin devan. Gue bakal bikin hidup lo menderita " Ancam gadis itu. Ia masih mencengkram rambut siti keras.
" Udah yur.. Nanti keburu ketahuan devan " ujar salah temannya, yang berambut panjang. Devan yang mereka maksud adalah ketua osis di SMA puncak bukit. Devan setiap hari selalu berkeliling sekolah. untuk mengecek siapa yang terlambat ataupun yang ketuan membolos memanjat pagar belakang sekolah.
" Ck bentar. Gue belom selesai nih " gadis itu berdecak kesal kepada temannya.
Dari arah berlawanan. Seorang remaja laki-laki melihat mereka. Melihat siti yang bersimpuh di lantai kolidor membuatnya penasaran. Remaja laki-laki itu segera menghampiri mereka.
" Ada apa ini? "
Siti dan gadis-gadis stres itu menoleh secara bersamaan kearah remaja laki-laki itu.
" D-devan.." gadis berambut pendek itu melepas cengkraman tangannya pada rambut siti.
" Yura lo berbuat ulah lagi ya " remaja laki-laki yang tak lain adalah devan itu segera membantu siti berdiri.
" Kan sudah gue bilang jangan ganggu siti "
" Tapi Dev dia itu sudah ngerebut kamu dari aku "
" Yur.. Gue tekankan sekali lagi. Gue sama siti nggak ada hubungan apa-apa. Mending lo pergi sana sudah bel masuk " Devan berujar dingin kepada gadis berambut pendek itu, yura.
" Dan satu hal lagi. Kita nggak ada hubungan apa-apa. Jadi terserah, gue mau dekat dengan siapapun termasuk siti "
Mendengar devan yang membela siti. Membuat yura geram. Ia menghentakkan kakinya segera beranjak pergi dari sana bersama kedua temannya itu.
" lo nggak papa sit " Devan terlihat khawatir dengan siti. Jujur saja devan memang menyukai siti.
" Aku tidak apa-apa kak. Terima kasih. Saya permisi " Siti beranjak pergi dari hadapan devan. Devan hanya menatap punggung siti yang semakin menjauh sendu. Ia terlihat sedih.
Gue suka sama lo sit
•
•
•
TBC....
maaf author upnya lama🙏🙏🙏
terima kasih bagi yang sudah membaca❤ ...