Duren Manis

Duren Manis
Triple date


Sampai di depan loket pembayaran tiket film, Kaori memberikan kode booking ke kasir dan mendapatkan tiket film yang mereka ingin tonton.


Saat Rio dan Kaori sedang berjalan ke bangku terdekat disana, Arnold datang dari arah eskalator. Ia berjalan dengan cool diiringin tatapan kagum beberapa perempuan yang juga mau nonton.


Rio memperhatikan ada sekitar 10 perempuan menoleh menatap Arnold dengan intens. Ia juga mengakui kalau kakak iparnya itu memang tampan dan gagah.


Apalagi dengan visual bad boy-nya. Kaum hawa benar-benar klepek-klepek sama Arnold.


Riri dan Rara juga berjalan mendekati Rio dan Kaori. Di tangan Rara penuh dengan popcorn besar. Ia berjalan pelan takut popcornnya jatuh.


Arnold yang melihat Rara, memberi isyarat agar Rio diam dulu. Ia berjalan ke samping memutari Rara dan berdiri di belakangnya.


Kaori yang belum pernah bertemu Arnold, menatap pria itu dengan intens. Rio menegakkan kepalanya mencari arah pandangan Kaori dan mencolek lengannya.


Rio : "Itu kakak iparku. Jangan naksir dia." Rio berbisik pada Kaori,


Kaori : "Sapa juga yang naksir. Seneng aja liatnya. Bening."


Rio : "Emang aku kurang bening."


Kaori menoleh menatap Rio, wajah mereka sangat dekat sampai Kaori bisa melihat bayangan wajahnya di mata hitam Rio.


Rara dan Riri senyum-senyum melihat keduanya. Rara belum menyadari kalau Arnold berdiri di belakangnya. Tangan Arnold memeluk Rara yang mendekap popcorn di tangannya.


Arnold : "Sayang..."


Rara : "Hiii....!!"


Rara terkejut dan hampir melempar popcorn ditangannya. Suaminya itu tadi pagi pamit untuk ketemu client di sebuah restaurant dan berjanji menyusul mereka ke mall tepat waktu.


Rara : "Maass... Kaget tau. Mas kapan dateng?"


Arnold : "Barusan. Uda siap nonton?"


Rara : "Uda sich. Tiketnya uda?"


Rara, Arnold, dan Riri menoleh menatap Rio dan Kaori yang masih saling pandang. Keduanya tidak menyadari sedang ditatap.


Riri : "Eheemm..."


Rara : "Eehhemm..."


Kaori menyadari dirinya jadi perhatian segera mundur dan hampir menabrak seseorang.


Kaori : "Ups, maaf."


Mereka ganti menoleh orang yang tadi hampir di tabrak Kaori.


Riri : "Kak Elo..."


Elo menoleh mendengar namanya dipanggil. Ia tersenyum lebar pada Riri.


Elo : "Loh, kalian disini juga. Mau nonton apa?"


Kaori melambaikan tiket di tangannya.


Elo : "Aku juga mau nonton film itu."


Riri : "Kakak sama siapa nonton?"


Elo : "Temen, tapi kok belum dateng ya. Aku coba telpon dulu ya."


Elo mengeluarkan ponselnya dan sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Elo mengangkat telpon itu sambil menatap Riri.


Elo : "Kamu gak bisa dateng. Trus tiketnya hangus dong."


Riri menatap penuh minat pada Elo yang masih bicara di telpon. Saat Elo menutup telponnya, Kaori memekik.


Kaori : "Aduch, gawat. Aku kurang beli tiketnya. Kurang satu dong. Kita kan berlima. Aku lupa. Maaf banget!"


Kaori sudah hampir mau antri lagi, tapi Elo menghentikannya.


Elo : "Tiketku lebih nich. Temenku gak bisa dateng, ada kerjaan dadakan katanya."


Elo menatap Rio dan Kaori, Rara dan Arnold, dan terakhir Riri.


Elo : "Ri, kamu temenin aku nonton ya."


Riri : "Iya, kak." Riri memutuskan sendiri tanpa


Riri menyerahkan minuman ke tangan Rio dan Arnold, ketika Elo mengajaknya membeli minuman dan popcorn.


Rara menyikut lengan Arnold,


Rara : "Kayaknya banyak pasangan baru nich."


Arnold : "Iya nich."


Setelah Elo dan Riri kembali dari membeli minuman, mereka mulai antri memasuki bioskop.


Tempat duduk yang dipilih Elo kebetulan ada di depan mereka berempat.


Setelah duduk di tempat masing-masing dengan formasi Rio, Kaori, Rara, Arnold dan di depan mereka duduk Riri dan Elo, mereka bersiap menonton film komedi romantis itu.


🌻🌻🌻🌻🌻


Selama hampir tiga jam di dalam bioskop yang dingin itu, duduk Rara dan Arnold semakin rapat. Rara sampai menyenderkan kepalanya ke bahu Arnold.


Adegan romantis yang ditayangkan membuat mereka serasa dunia milik berdua yang lain ngontrak. Rio yang melihat kakaknya bermesraan dengan kakak iparnya, ikutan panas dingin.


Kaori merasa terganggu merasakan pergerakan Rio, ia menoleh padanya dan berbisik.


Kaori : "Kamu kenapa? Mules?"


Rio tengsin dibilang sakit perut sama Kaori. Ia meraih tangan Kaori yang dingin dan menggenggamnya. Kaori hanya melirik tangannya saat Rio melakukan itu.


Rio : "Aku kedinginan."


Kaori : "Kamu kan pake jaket, dingin darimana?"


Rio : "Kamu gak ngrasa tanganku dingin?"


Kaori : "Hehe... Iya dingin banget."


Kaori kembali fokus menatap layar bioskop, membiarkan tangannya digenggam Rio yang girang setengah mati.


Situasi tidak sama dengan calon pasangan di depan mereka. Mereka hanya sesekali saling melirik dan tersenyum malu. Manis banget dech.


🌻🌻🌻🌻🌻


Ketika film berakhir, ketiga pasangan itu berjalan beriringan keluar dari bioskop. Mereka akan makan dulu sebelum pulang.


Arnold menggenggam tangan Rara erat selama mereka berjalan bersama. Sesekali ia mengangkat tangan Rara dan menciumnya. Kemesraan mereka tidak lepas dari perhatian calon pasangan di belakang mereka.


Rara : "Eh, mas kita mau makan apa?"


Arnold : "Apa aja. Ayo, cepat. Abis ini kita ke apartment."


Rara : "Lagi?"


Arnold : "Hmm..."


Rara deg-degan mendengar kata-kata Arnold. Sejak ia lulus kuliah dan bekerja part time di kantor Arnold, suaminya lebih sering minta jatah.


Arnold ingin mereka segera punya anak, setidaknya berusaha punya anak karena mereka belum tahu apa Arnold mampu untuk itu. Sisa-sisa kecelakaannya masih membayangi dirinya sampai saat ini.


Rara : "Kalian mau makan apa?"


Si kembar kompak menunjuk restaurant yang menjual masakan tradisional di mall itu. Mereka tahu kalau Arnold suka makan disana dan pasti dibayarin.


Mereka berjalan masuk kesana, seorang pelayan mengantar mereka ke meja yang lebih besar. Pelayan itu membawakan menu dan hampir salfok saat melihat Arnold.


Si kembar memesan nasi campur, Kaori juga memesan yang sama. Sementara Elo, Rara, dan Arnold memilih menu lain.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka ngobrol singkat,


Rara : "Habis ini kalian mau kemana?"


Rio : "Mb mau kemana?"


Rara : "Mb mau ke apartment sama mas Arnold."


Rio : "Kita mungkin langsung pulang. Riri mau kemana?"


Riri : "Kalo boleh, Riri mau ikut kak Elo nyari buku di toko buku deket situ."


Elo : "Nanti aku yang anter Riri pulang. Boleh gak?"


Rara : "Ya, boleh aja. Nanti wa mama ya. Ngabarin aja. Biar gak bingung karena kita misah."


Riri : "Ok, mb."


Rio : "Kaori, kamu mau kemana? Aku anterin."


Rara dan Riri saling melirik mendengar kata-kata Rio. Kaori tampak berpikir sebentar,


Kaori : "Aku mau beli kaos kaki dulu. Ada kan tokonya disini?"


Rio : "Ya, kita cari ntar."


Pesanan mereka akhirnya datang juga. Rio menatap penuh minat menu yang dipilih Kaori. Ia ingin mencicipinya.


Rio : "Ri, minta dong. Nyicip dikit. Kayaknya enak"


Kaori : "Nich, ambil sendiri."


Kaori menyerahkan sendoknya tapi Rio minta disuapin. Kaori mengambil satu sendok full makanannya dan menyodorkan sendok ke depan mulut Rio. Rio memakannya dengan nikmat.


Rio : "Kamu mau nyicip juga?"


Kaori : "Gak ach. Uda makan aja sana."


Mereka menghabiskan makanan mereka dan Arnold yang bayar semuanya.


Akhirnya triple date hari itu berakhir dengan saling misah dan pergi dengan pasangan masing-masing.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲