Duren Manis

Duren Manis
Mimisan


Mereka makan malam dulu berdua disertai obrolan


ringan mengenang masa mereka waktu sekolah dulu. Usai makan, Guntur membawa


piring kotor keluar dari kamar mereka dan rasa gugup kembali menyerang Anisa.


Ketika Guntur masuk lagi ke kamarnya, ia melihat


lampu kamarnya sudah dimatikan berganti lampu tidur di samping tempat tidurnya.


Guntur memang tidak bisa tidur kalau suasana kamarnya terlalu gelap. Ia selalu


menyalakan lampu tidur itu untuk menemani tidurnya.


Guntur : “Anisa?”


Anisa tampak sudah berbaring diatas tempat tidur


Guntur, ia memejamkan matanya. Guntur tersenyum, ia masuk ke kamar mandi untuk


gosok gigi dulu. Ketika Guntur keluar dari kamar mandi, ia melihat Anisa


berdiri di pinggir tempat tidur.


Guntur : “Kamu belum tidur?”


Anisa : “Kamu mau langsung tidur?”


Guntur tersenyum, ia berjalan mendekati Anisa yang


menatapnya dengan senyuman manisnya.


*****


Kaori terbangun dengan keringat dingin membasahi


tubuhnya. Ia merasakan kepalanya sangat pusing sampai ia tidak berani membuka


matanya.


Kaori : “Kenapa sakit banget sich?”


Kaori memijat keningnya, ia meraba-raba meja


mencari gelas minumnya dan mengambilnya. Untung saja gelas itu tidak pecah


karena sempat tersenggol tangan Kaori tadi. Kaori menghabiskan air di dalam


gelas itu.


Kondisinya sudah lebih baik sekarang, ia melihat


jendela kamar asramanya, masih gelap. Sepertinya masih tengah malam, Kaori


kembali memejamkan matanya agar bisa tidur lagi. Tapi tidak bisa lagi,


pikirannya melayang pada kejadian tadi sore.


Flash back...


Sepulang dari rumah kakek dan neneknya tadi, Kaori


sempat mampir ke rumah Alex untuk berganti pakaian sebelum ia dan Rio kembali


ke asrama. Lagi-lagi ia mimisan saat akan berganti pakaian. Kepalanya juga


pusing, Kaori memegangi pinggir tempat tidur Riri dan menjatuhkan dirinya di


atas tempat tidur itu.


Setelah memejamkan matanya, sekitar 15 menit, ia


merasa lebih baik dan bisa bangun dengan normal. Kaori membersihkan bekas


mimisannya, ia tidak memberi tahu Rio dan memutuskan menyimpannya sendiri.


Flash back end...


Kaori menghapus air matanya yang jatuh karena rasa


sakit yang kembali datang menyerang kepalanya. Ia menahan kesakitan itu


sendirian karena sejak Riri keluar dari kampus, Kaori belum punya teman sekamar


lagi.


Untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya, Kaori


melihat-lihat foto lucunya bersama Rio. Ia tersenyum tapi lagi-lagi hidungnya


mengeluarkan darah. Panik, Kaori mengambil tisu di atas mejanya dan


membersihkan hidungnya. Ia berjalan perlahan ke kamar mandi untuk mendinginkan


kepalanya.


Kaori : “Aku kenapa sich?”


Setelah kepalanya lebih dingin, mimisan Kaori


berhenti. Ia mengeringkan rambutnya dan naik lagi ke tempat tidur. Kali ini


matanya mulai terpejam dan ia pun tertidur lagi.


Keesokan harinya, Kaori terlihat mengantuk di dalam


kelasnya. Ia mengikuti kelas dengan sedikit tidak bersemangat apalagi Rio sudah


pisah kelas dengannya setelah libur semester. Yang membuat Kaori lebih kesal


karena Rio sekelas dengan Gadis dan cewek itu terus menempel pada Rio sepanjang


kelas.


Kaori pernah melihatnya sendiri, setiap bubaran


kelas, Rio tidak bisa beranjak dari samping Gadis yang terus beralasan ingin


menanyakan tugas pada Rio. Bahkan terang-terangan menempel dengan ketat disisi


Rio, padahal Kaori sudah datang ke kelas Rio.


Rio juga sebenarnya enggan melihat Gadis yang terus


menempel padanya, tentu saja kelas mereka jadi salah paham karena kedekatan


keduanya. Tapi ia mencoba bersikap sewajarnya hanya karena mereka teman


sekelas.


Kaori mengangkat kepalanya ketika mendengar


panggilan Rio, ia melihat sekitarnya, kelas itu hampir sepi dari mahasiswa.


Rio : “Kamu tidur? Kenapa? Capek?”


Pertanyaan bertubi-tubi Rio hanya dibalas anggukan


Kaori. Ia benar-benar mengantuk karena sulit tidur akhir-akhir ini.


Rio : “Ayo, kita makan dulu. Tugasmu banyak?”


Rio membantu Kaori membereskan tasnya. Tugas untuk


kelas Kaori sudah di share dosen lewat grup chat mereka. Ia melihat ponselnya


dengan mata mengantuk.


Kaori : “Tugasku lumayan banyak.” Kata Kaori


setengah tertidur.


Rio menuntun Kaori keluar dari kelasnya. Ia membawa


tas Kaori dan memegang erat pinggang gadis itu agar bisa berjalan bersamanya.


Kemesraan mereka sudah diketahui seluruh kampus. Siapa Kaori bagi Rio sudah


diketahui semua orang di kampus.


Rio : “Kita ke apartment papa, ya. Kamu bisa tidur


disana, aku yang kerjain tugasmu.”


Kaori : “Tugasmu kan juga banyak, Rio.”


Rio : “Gak pa-pa. Yang penting kamu bisa


istirahat.”


Kaori menurut saja pada Rio, sungguh ia hanya ingin


tidur saja tanpa melakukan apa-apa untuk saat ini. Rio membawa Kaori masuk ke


mobilnya dan menjalankan mobil keluar dari parkiran asrama. Ia mampir di sebuah


warteg untuk membeli makanan untuk mereka berdua.


Sampai di parkiran apartment Alex, Rio membangunkan


Kaori yang tampak tertidur pulas.


Rio : “Kaori, bangun.”


Kaori menggeliat sebentar, tapi tertidur lagi. Rio


iseng mendekatkan wajahnya pada Kaori dan mencium bibir kekasihnya itu. Awalnya


Kaori mengikuti permainan bibir Rio, tapi saat tangannya menyentuh jok kursi


mobil Rio, Kaori sadar kalau mereka masih ada di dalam mobil.


Kaori mendorong Rio, dan melihat sekeliling. Untung


saja parkiran itu cukup sepi sehingga tidak ada yang memergoki mereka tadi.


Kaori memukul lengan Rio dan mulai mengomelinya kalau mereka bisa saja kepergok


orang lain.


Rio dengan cueknya turun dari mobil, mengambil tas


mereka dan bungkusan makanan, dan membuka pintu mobil untuk Kaori.


Rio : “Makanya kalau dibangunin itu, ya bangun.


Jangan molor lagi.”


Kaori : “Aku kan ngantuk. Nyebelin banget.”


Rio menarik Kaori dan merangkul pinggangnya lagi. Mereka


berdua masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke apartment Alex. Rio membuka


pintunya dan Kaori langsung masuk ke kamar mandi. Ia kembali mimisan, sampai


kepalanya juga ikut berdenyut. Ia melihat kemejanya terkena darah. Kaori


memutuskan mandi saja sekalian mencuci kemejanya.


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Rio melongo


melihat Kaori keluar dari sana dengan rambut basah dan tubuh berbalut handuk


saja.


Kaori : “Rio, ada handuk lagi gak?”


Rio : “Kamu ngapain mandi?”


Rio mencari handuk lain di lemari Alex dan


menemukan bathrobe disana. Kaori menerima bathrobe itu dan minta Rio membalik


badannya.


Kaori : “Jangan ngintip.”


Rio : “Iya, tapi kenapa kamu mandi? Bajumu mana?”


Kaori : “Aku mimisan lagi, bajuku kena darah. Udah


kugantung di kamar mandi.”


*****


Apa yang sebenarnya terjadi pada Kaori?


Jangan lupa vote dan like kk, biar saya semangat up


terus.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).