
Mereka makan malam dulu berdua disertai obrolan
ringan mengenang masa mereka waktu sekolah dulu. Usai makan, Guntur membawa
piring kotor keluar dari kamar mereka dan rasa gugup kembali menyerang Anisa.
Ketika Guntur masuk lagi ke kamarnya, ia melihat
lampu kamarnya sudah dimatikan berganti lampu tidur di samping tempat tidurnya.
Guntur memang tidak bisa tidur kalau suasana kamarnya terlalu gelap. Ia selalu
menyalakan lampu tidur itu untuk menemani tidurnya.
Guntur : “Anisa?”
Anisa tampak sudah berbaring diatas tempat tidur
Guntur, ia memejamkan matanya. Guntur tersenyum, ia masuk ke kamar mandi untuk
gosok gigi dulu. Ketika Guntur keluar dari kamar mandi, ia melihat Anisa
berdiri di pinggir tempat tidur.
Guntur : “Kamu belum tidur?”
Anisa : “Kamu mau langsung tidur?”
Guntur tersenyum, ia berjalan mendekati Anisa yang
menatapnya dengan senyuman manisnya.
*****
Kaori terbangun dengan keringat dingin membasahi
tubuhnya. Ia merasakan kepalanya sangat pusing sampai ia tidak berani membuka
matanya.
Kaori : “Kenapa sakit banget sich?”
Kaori memijat keningnya, ia meraba-raba meja
mencari gelas minumnya dan mengambilnya. Untung saja gelas itu tidak pecah
karena sempat tersenggol tangan Kaori tadi. Kaori menghabiskan air di dalam
gelas itu.
Kondisinya sudah lebih baik sekarang, ia melihat
jendela kamar asramanya, masih gelap. Sepertinya masih tengah malam, Kaori
kembali memejamkan matanya agar bisa tidur lagi. Tapi tidak bisa lagi,
pikirannya melayang pada kejadian tadi sore.
Flash back...
Sepulang dari rumah kakek dan neneknya tadi, Kaori
sempat mampir ke rumah Alex untuk berganti pakaian sebelum ia dan Rio kembali
ke asrama. Lagi-lagi ia mimisan saat akan berganti pakaian. Kepalanya juga
pusing, Kaori memegangi pinggir tempat tidur Riri dan menjatuhkan dirinya di
atas tempat tidur itu.
Setelah memejamkan matanya, sekitar 15 menit, ia
merasa lebih baik dan bisa bangun dengan normal. Kaori membersihkan bekas
mimisannya, ia tidak memberi tahu Rio dan memutuskan menyimpannya sendiri.
Flash back end...
Kaori menghapus air matanya yang jatuh karena rasa
sakit yang kembali datang menyerang kepalanya. Ia menahan kesakitan itu
sendirian karena sejak Riri keluar dari kampus, Kaori belum punya teman sekamar
lagi.
Untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya, Kaori
melihat-lihat foto lucunya bersama Rio. Ia tersenyum tapi lagi-lagi hidungnya
mengeluarkan darah. Panik, Kaori mengambil tisu di atas mejanya dan
membersihkan hidungnya. Ia berjalan perlahan ke kamar mandi untuk mendinginkan
kepalanya.
Kaori : “Aku kenapa sich?”
Setelah kepalanya lebih dingin, mimisan Kaori
berhenti. Ia mengeringkan rambutnya dan naik lagi ke tempat tidur. Kali ini
matanya mulai terpejam dan ia pun tertidur lagi.
Keesokan harinya, Kaori terlihat mengantuk di dalam
kelasnya. Ia mengikuti kelas dengan sedikit tidak bersemangat apalagi Rio sudah
pisah kelas dengannya setelah libur semester. Yang membuat Kaori lebih kesal
karena Rio sekelas dengan Gadis dan cewek itu terus menempel pada Rio sepanjang
kelas.
Kaori pernah melihatnya sendiri, setiap bubaran
kelas, Rio tidak bisa beranjak dari samping Gadis yang terus beralasan ingin
menanyakan tugas pada Rio. Bahkan terang-terangan menempel dengan ketat disisi
Rio, padahal Kaori sudah datang ke kelas Rio.
Rio juga sebenarnya enggan melihat Gadis yang terus
menempel padanya, tentu saja kelas mereka jadi salah paham karena kedekatan
keduanya. Tapi ia mencoba bersikap sewajarnya hanya karena mereka teman
sekelas.
Kaori mengangkat kepalanya ketika mendengar
panggilan Rio, ia melihat sekitarnya, kelas itu hampir sepi dari mahasiswa.
Rio : “Kamu tidur? Kenapa? Capek?”
Pertanyaan bertubi-tubi Rio hanya dibalas anggukan
Kaori. Ia benar-benar mengantuk karena sulit tidur akhir-akhir ini.
Rio : “Ayo, kita makan dulu. Tugasmu banyak?”
Rio membantu Kaori membereskan tasnya. Tugas untuk
kelas Kaori sudah di share dosen lewat grup chat mereka. Ia melihat ponselnya
dengan mata mengantuk.
Kaori : “Tugasku lumayan banyak.” Kata Kaori
setengah tertidur.
Rio menuntun Kaori keluar dari kelasnya. Ia membawa
tas Kaori dan memegang erat pinggang gadis itu agar bisa berjalan bersamanya.
Kemesraan mereka sudah diketahui seluruh kampus. Siapa Kaori bagi Rio sudah
diketahui semua orang di kampus.
Rio : “Kita ke apartment papa, ya. Kamu bisa tidur
disana, aku yang kerjain tugasmu.”
Kaori : “Tugasmu kan juga banyak, Rio.”
Rio : “Gak pa-pa. Yang penting kamu bisa
istirahat.”
Kaori menurut saja pada Rio, sungguh ia hanya ingin
tidur saja tanpa melakukan apa-apa untuk saat ini. Rio membawa Kaori masuk ke
mobilnya dan menjalankan mobil keluar dari parkiran asrama. Ia mampir di sebuah
warteg untuk membeli makanan untuk mereka berdua.
Sampai di parkiran apartment Alex, Rio membangunkan
Kaori yang tampak tertidur pulas.
Rio : “Kaori, bangun.”
Kaori menggeliat sebentar, tapi tertidur lagi. Rio
iseng mendekatkan wajahnya pada Kaori dan mencium bibir kekasihnya itu. Awalnya
Kaori mengikuti permainan bibir Rio, tapi saat tangannya menyentuh jok kursi
mobil Rio, Kaori sadar kalau mereka masih ada di dalam mobil.
Kaori mendorong Rio, dan melihat sekeliling. Untung
saja parkiran itu cukup sepi sehingga tidak ada yang memergoki mereka tadi.
Kaori memukul lengan Rio dan mulai mengomelinya kalau mereka bisa saja kepergok
orang lain.
Rio dengan cueknya turun dari mobil, mengambil tas
mereka dan bungkusan makanan, dan membuka pintu mobil untuk Kaori.
Rio : “Makanya kalau dibangunin itu, ya bangun.
Jangan molor lagi.”
Kaori : “Aku kan ngantuk. Nyebelin banget.”
Rio menarik Kaori dan merangkul pinggangnya lagi. Mereka
berdua masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke apartment Alex. Rio membuka
pintunya dan Kaori langsung masuk ke kamar mandi. Ia kembali mimisan, sampai
kepalanya juga ikut berdenyut. Ia melihat kemejanya terkena darah. Kaori
memutuskan mandi saja sekalian mencuci kemejanya.
Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Rio melongo
melihat Kaori keluar dari sana dengan rambut basah dan tubuh berbalut handuk
saja.
Kaori : “Rio, ada handuk lagi gak?”
Rio : “Kamu ngapain mandi?”
Rio mencari handuk lain di lemari Alex dan
menemukan bathrobe disana. Kaori menerima bathrobe itu dan minta Rio membalik
badannya.
Kaori : “Jangan ngintip.”
Rio : “Iya, tapi kenapa kamu mandi? Bajumu mana?”
Kaori : “Aku mimisan lagi, bajuku kena darah. Udah
kugantung di kamar mandi.”
*****
Apa yang sebenarnya terjadi pada Kaori?
Jangan lupa vote dan like kk, biar saya semangat up
terus.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).