Duren Manis

Duren Manis
Reaksi keluarga


Arnold meraih ponselnya dan menekal tombol hijau.


Arnold : "Halo."


Ronald : "Arnold, kamu dimana?"


Arnold : "Arnold di resort, pah. Papa kenapa gak bilang punya resort disini."


Ronald : "Huh, syukurlah. Papa lupa. Jangan ke lokasi dulu ya, nak. Ada tanah longsor disana. Tadi papa dapat kabar."


Arnold : "Oh, yang barusan itu tanah longsor. Arnold lihat dari kamar papa di resort."


Ronald : "Kamu cepetan balik dech, disana hujan gak?"


Arnold : "Barusan reda, tadi disini hujan badai. Sepertinya lokasi disana gak aman ya, pah."


Ronald : "Masalah keamanan, nanti kita uji lagi. Ini temen-temen bisnis papa yang mau invest disana. Karena resort papa full terus."


Arnold : "Investnya harus besar nich. Kalo gak, gak cukup buat pondasi."


Ronald : "Ya, papa sudah perhitungkan. Kamu sama siapa kesana?"


Arnold melirik Rara yang baru keluar lagi dari kamar mandi, begitu Arnold mengangkat telpon, Rara langsung berlari masuk ke kamar mandi.


Arnold : "Arnold sama Rara, pah. Papa inget anaknya Pak Alex?"


Ronald : "Kalian check in di kamar papa? Arn..."


Arnold : "Mau gimana lagi, cuma kamar papa yang kosong. Lagian kami cuma makan siang sambil nunggu hujan reda. Arnold gak ngapa-ngapain, pah."


Ronald : "Iya papa percaya. Papa tahu kamu belum bisa... Ya sudah, cepat balik ntar keburu malem."


Arnold menutup telponnya. Ia kembali mengambil kameranya dan melihat kondisi tempat proyek dari sana.


Tampak beberapa jalan berwarna kecoklatan dan itu bukan jalan, tapi tanah longsor. Arnold belum tahu dibalik lokasi itu ada pemandangan apa.


Ia ingin kesana, tapi sebaiknya lain kali saja. Mereka harus segera kembali sebelum gelap.


Arnold : "Ra, kita balik aja ya. Jalanan disana kena longsor. Papaku bilang kita harus balik secepatnya."


Rara : "Tapi aku belum ambil foto, kak. Ntar papa nanya gimana?"


Arnold : "Ini kameraku, tadi aku uda ambil beberapa foto sich. Kamu pake aja. Aku mau mandi dulu."


Arnold menyerahkan kameranya pada Rara, memberi beberapa petunjuk cara pakainya dan menunjukkan lokasi proyeknya nanti.


Arnold masuk ke kamar mandi, ia bisa mencium wangi sabun dan parfum Rara bercampur di dalam kamar mandi.


Menempel pada handuk yang tadi dipakainya. Arnold mencium handuk itu seperti maniak. Tubuh bagian bawahnya menegang hebat dan membawanya dalam klimaks.


Arnold melihat ke bawah, wajahnya merona melihat apa yang terjadi dengan tubuh bagian bawahnya. Ia berjongkok membersihkan lantai yang basah.


Arnold : "Aku benar-benar sudah tidak waras. Bahkan mencium barang yang habis dipakai Rara, bisa berakibat begini. Aku harus segera menemui dokter. Atau aku tidak akan bisa menahan diriku."


Arnold mandi dan keramas. Ia benar-benar mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Masalahnya setelah klimaks tadi, juniornya belum juga tertidur lagi.


Ia memejamkan matanya, menepis semua bayangan Rara tapi tetap tidak mau pergi.


Arnold : "Aku harus gimana sekarang?"


Akhirnya Arnold mencelupkan handuk yang dipakai Rara tadi ke air untuk menghilangkan baunya. Ini lumayan membantunya normal kembali.


Setelah memastikan dirinya tidak akan menyerang Rara saat keluar dari kamar mandi, Arnold membuka pintu kamar mandi dan keluar.


Rara sedang duduk di sofa, tampak asyik melihat hasil foto-fotonya.


Arnold : "Sudah selesai, Ra? Kita pulang sekarang ya."


Rara : "Iya, kak. Longsornya cukup parah juga disana. Untung saja kita tidak jadi kesana ya."


Arnold : "Untung saja, aku jadi bisa..."


Rara menatap Arnold dengan bingung dan wajahnya merona. Arnold balik menatapnya,


Arnold : "Kenapa, Ra?"


Rara : "Itu celana dalam kakak keliatan."


Gosh! Bego! Arnold berbalik sambil menarik retsletingnya menutup. Situasinya jadi canggung sekarang.


-------


Arnold mengendarai mobilnya kembali pulang, ia masih merasa malu pada Rara dan lebih memilih diam saja.


Rara yang tidak enak hati memergoki sesuatu yang sensitif, berusaha menyambung obrolan.


Rara : "Kak, nanti tolong kirim fotonya ke ponselku ya."


Arnold : "Iya, Ra. Sampai apartment aku kirim ya."


Suasana di dalam mobil kembali canggung, Rara lebih memilih chat dengan Mia sementara Arnold mendengarkan lagu.


-------


Mia asyik chat dengan Rara, mengabaikan Alex yang sejak tadi berbaring di ruang keluarga rumahnya dengan kepala di paha Mia.


Alex : "Yang, kok kamu sibuk banget sama ponselmu dari tadi."


Mia : "Aku lagi chat sama Rara, mas. Anaknya lagi cerita ini."


Alex : "Cerita apa?"


Mia : "Soal kecelakaan Arnold."


Alex : "Mereka kecelakaan?!!"


Mia menutup mulut Alex agar tidak berteriak, takut nenek terganggu.


Mia : "Bukan mereka, tapi Arnold aja. Dulu Arnold itu pernah kecelakaan waktu balapan liar. Lukanya parah banget sampai harus terapi seumur hidup."


Alex : "Jadi dia gak normal?"


Mia : "Rara belum selesai ngetik nich. Tunggu napa, sabar."


Tangan Alex menyusup masuk ke kaos Mia, membuka pengait bra-nya. Mia tidak merasakan keanehan karena fokus lagi membaca cerita Rara.


Tapi saat Alex menyusupkan wajahnya masuk ke kaos Mia yang sudah tersingkap, Mia baru sadar tapi sudah terlambat. Mia meremas rambut Alex, menikmati apa yang Alex lakukan pada dadanya.


Nenek yang baru keluar kamarnya, cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kedua insan yang saling mencintai itu asyik bermesraan gak tahu tempat.


Nenek : "Eehheemm... Pindah ke kamar sana... Ntar dilihat anak-anak."


Mia membeku mendengar suara nenek di belakangnya. Wajahnya bukan lagi memerah tapi sudah hampir berubah keunguan saking malunya.


Alex sampai tidak berani melihat ibunya, ia membenamkan wajahnya di perut Mia. Ceklek! Setelah mendengar suara pintu kamar nenek tertutup, Alex bangkit dan menarik Mia masuk ke kamarnya.


Alex : "Nanggung, yang. Bentar aja."


Dan adegan 18++ dilanjutkan dengan aman dan tenang di dalam kamar Alex. 15 menit kemudian, Mia keluar kamar Alex sementara Alex lanjut mandi.


Nenek yang sudah ada di dapur, senyum-senyum melihat Mia berjalan mendekat.


Nenek : "Sudah selesai? Kok cepet?"


Mia : "...Memangnya ngapain sich, bu. Pake lama-lama." Nenek tertawa melihat reaksi Mia,


Nenek : "Kalian ini, ibu juga pernah muda kali."


Mia tertawa mendengar kata-kata nenek. Calon mertuanya ini terdengar lebih lepas setelah mereka akrab.


Nenek : "Tapi beneran ya, lain kali kalian langsung ke kamar aja. Ibu takut anak-anak lihat."


Mia : "Mas Alex yang nakal tuch, bu. Padahal Mia lagi chat sama Rara. Malah diganggu."


Nenek : "Rara uda mau balik?"


Mia : "Iya dan Mia dapat cerita panjang tentang Arnold."


Nenek : "Cerita apa?"


Alex : "Aku juga mau tahu."


Akhirnya mereka bertiga duduk di meja makan membaca chat dari Rara. Alex hanya terdiam mendengar bagian ereksi dan merasa tidak masuk akal.


Alex : "Dimana Rara sekarang?"


Mia : "Mereka dalam perjalanan pulang, seharusnya sudah memasuki batas kota sekarang."


Alex : "Kalau Arnold seperti itu, Rara bisa dalam bahaya kan."


Mia : "Mas, aku percaya sama Arnold. Kita bisa memberi kesempatan pada dia untuk menjelaskan. Lagipula aku lihat Rara sudah jatuh cinta sama dia."


Alex : "Nah, itu yang aku takutkan. Rara masih lugu dan polos. Kau tahu sendiri kalau sudah nafsu yang mendominasi..."


Mia mencubit tangan Alex, Alex menyamakan Arnold dengan dirinya.


Mia : "Rara sudah bilang disini kalau Arnold bersikap baik selama mereka di resort. Padahal banyak kesempatan kalau memang Arnold begitu. Kita kasi kesempatan dulu. Kasian Rara, dia sudah patah hati duluan."


Alex : "Aku akan tanyakan ke Ronald. Kita undang Arnold makan malam disini, sambil ngobrol tentang ini."


Alex menelpon Ronald dan Mia membantu nenek memasak makan malam.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author


ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’,


‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari


detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


-------