Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Anak setan


DM2 – Anak setan


Kinanti keluar dari ruang kerja Rio, Rio


meletakkan pulpennya. Ia memijat kepalanya yang sakit mengingat cinta


pertamanya lagi.


Kinanti masuk lagi membawakan kopi untuk


Rio, ia tersenyum pada Rio, lalu berdiri di dekatnya. Rio melirik sosok


Kinanti, ia mengakui kalau Kinanti sangat mirip dengan Kaori.


“Berapa umurmu, Kinanti?”


“Saya 24 tahun, pak.”


”Beda 5 tahun denganku. Tapi kenapa Kaori


gak pernah cerita punya sepupu ya?”


“Pak, maaf boleh nanya, itu foto istri


bapak ya?”tanya Kinanti melihat foto Gadis terpajang di meja kerja Rio.


“Iya, dia istriku. Kenapa?”


“Istri bapak cantik.”puji Kinanti.


Rio ingin mengobrol lebih banyak dengan


Kinanti, ia meminta Kinanti duduk di depannya. Sambil membaca berkas di


tangannya, Rio meminta Kinanti memeriksa laporan yang lebih mudah dikerjakan.


“Kinanti, apa benar kamu sepupu Kaori?


Kenapa Kaori gak pernah cerita ya?”


“Iya, pak. Mungkin karena saya tinggal di


luar kota, pak. Saya sering menelpon Kaori untuk ngobrol lama. Setelah Kaori


meninggal, saya baru pindah ke kota ini lagi.”


“Kamu tinggal dimana?”


“Saya kost di dekat sini, pak. Mmm... pak,


ini ada yang aneh. Begini ya cara periksanya?”


Kinanti bangkit berdiri memperlihatkan


laporan di tangannya pada Rio. Rio mengajari Kinanti dan mengangguk senang


melihat Kinanti bisa mengerti apa yang ia ajarkan. Saat Kinanti akan berbalik


kembali ke kursinya, ia tidak sengaja tersandung kaki meja. Kinanti hampir


jatuh, tapi Rio sigap merangkul pinggang Kinanti dan menariknya ke pelukan Rio.


Deg! Parfum Kinanti mengaktifkan syaraf pencium


Rio. Parfum yang sama dengan milik Kaori, Rio segera menegakkan tubuh Kinanti


dan berdehem.


“Hati-hati, lanjutkan kerjaanmu.”


Kinanti tersenyum tipis, ia duduk kembali


ke kursinya. Mereka menghabiskan waktu menyelesaikan pekerjaan Rio sampai makan


siang hanya berdua di ruang kerja itu.


Sementara itu di rumah Alex, Mia


membangunkan Gadis setelah lewat sejam. Alex menelponnya tadi karena Gadis


belum juga datang ke kantor.


“Gadis, mama masuk ya.”Mia membuka pintu


kamar Rio. Udara dingin dari AC yang belum dimatikan Rio, menyeruak dari dalam


sana. Gadis tampak masih tidur diatas ranjang, Mia mendekati Gadis, duduk


disamping menantunya itu.


“Gadis, bangun sebentar. Makan dulu ya.” Mia


mengguncang tubuh Gadis, ia meraba kening Gadis, mendapati wanita itu demam.


“Waduh, badannya panas.”


Mia mengambil kompres, ditariknya sedikit


selimut yang menutupi tubuh Gadis. Mata Mia terbelalak melihat tubuh putih


Gadis penuh tanda merah. Kedua pergelangan tangannya juga kebiruan, “Astaga,


apa yang dilakukan Rio sampai Gadis jadi begini! Dasar anak setan!”umpat Mia


kesal.


Hattciuu!! Alex dan Rio bersin bersamaan


dikantor mereka masing-masing. Keduanya menggosok bawah hidung mereka dengan


tangan satunya garuk-garuk kepala.


Mia merawat bekas perbuatan Rio di tubuh


Gadis, perlahan wanita itu mulai terbangun. Ia melihat Mia sedang mengoleskan


sesuatu di dadanya, “Mah.”panggil Gadis.


“Kamu udah bangun, sayang. Dimana yang


sakit?”


“Mah, mama ngapain?”


“Mama habis mandiin kamu, sayang. Rio


ngapain semalem, kenapa bekasnya bisa banyak gini? Kalian bertengkar?”


Gadis ragu-ragu menjawab pertanyaan Mia,


“Ya, sudah kalo gak mau cerita. Sekarang kamu makan dulu ya. Habis itu


istirahat lagi.”


“Itu, Rio marah... karena Gadis nyuruh dia


nikah lagi.”


Mia terhenyak mendengar pengakuan Gadis. Wanita


“Kenapa kamu minta begitu, Gadis? Kamu gak


sayang sama Rio?”


“Justru karena Gadis sayang, Gadis cinta,


mah. Rio masih bisa punya anak sama wanita lain. Dia sehat, gak seperti Gadis,


mah.”


Mia memeluk Gadis dengan sayang, biar


bagaimanapun tidak ada wanita yang ingin dimadu, apalagi kalau masalahnya


tentang keturunan. Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan. Mereka juga


masih muda, masih punya harapan punya anak sendiri.


“Sepertinya kamu terlalu terburu-buru, Gadis.


Pikirkan lagi baik-baik. Masih banyak cara lain yang bisa kalian lakukan.”


Gadis terdiam, kenapa tidak ada yang


mengerti perasaannya. Ia sangat mencintai Rio, sampai rela dimadu agar Rio bisa


menimang anak kandungnya sendiri.


Gadis sudah kembali berpakaian dan makan.


Ia kembali duduk beristirahat di kamarnya. Mia datang lagi setelah meletakkan


piring kotor di bawah.


“Gadis, mama mau ke kantor papa dulu ya.


Gadis dirumah sama mb Minah sama mb Roh ya.”


“Iya, mah. Mah, makasih udah bantuin Gadis


ya.”


“Iya, sayang. Istirahat ya. Nanti mama


bicara sama Rio, seharusnya dia gak berbuat gitu sama kamu.”


Gadis menunduk malu melihat keadaannya. Rio


memang sangat liar semalam, tapi Gadis juga tidak bisa bohong kalau ia


menikmatinya juga.


Rey datang bersama Rara dan Arnold, Gadis


yang masih berada di kamarnya, menoleh saat Rey membuka pintu.


“Mama Gadis?”panggil Rey.


“Ya, sayang. Sini.”Gadis merentangkan


tangannya memeluk Rey yang tersenyum gembira. “Mama sakit?”


“Nggak, sayang. Mama cuma perlu istirahat.”


“Mah, kenapa leher mama merah-merah? Mama


alergi seperti Rey alergi udang?”


“Eh, iya sayang. Tapi mama gak tau alergi


apa. Nanti juga hilang.”Gadis merapikan pakaiannya, menutupi bekas perbuatan


Rio di tubuhnya.


“Gatal ya, mah? Uda dikasi obat dingin?”Rey


malah menarik pakaian Gadis, mencolek-colek tanda merah di lehernya. Ia


memanjat tubuh Gadis, ingin tahu sampai dimana merah-merah itu.


“Rey, jangan ditarik baju mama.”


“Rey mau lihat sampai mana alerginya.


Kenapa gak ada baunya? Mama gak pake obat dingin ya?”cerocos Rey mengatakan


obat dingin itu berbau mint yang menyegarkan.


Gadis hampir kewalahan menghadapi rasa


ingin tahu Rey yang besar. Apalagi anak itu memang selalu kepo kalau melihat


sesuatu yang berbeda pada Gadis. Kedekatan mereka membuat Rey merasa tidak ada


yang perlu ia sembunyikan dari Gadis. Dan ia selalu bertanya kalau belum puas


dengan jawaban Gadis.


Gadis menangkap kedua tangan Rey,


menggelitiki pinggang anak kecil itu sampai Rey tertawa kegelian.


“Mah, kenapa tangan mama biru?”


“Apa? Masa biru? Nggak, ach.”


Gadis kembali menggelitiki Rey agar tidak


fokus pada dirinya. Bagaimana bisa ia menjelaskan apa yang sudah Rio lakukan


semalam. Mengingatnya saja membuat wajah Gadis bersemu merah, badannya memanas


seketika, ia menyukai apa yang dilakukan Rio meskipun akhirnya tubuhnya sakit


semua.


Rara yang melihat dari pintu luar, menoleh


pada Mia minta penjelasan apa yang sudah dialami Gadis.


“Apa?! Rio berbuat itu... Anak setan


emang!”maki Rara saat Mia selesai bercerita di kamar Riri. Mia menarik Rara


kesana agar tidak di dengar Rey.


Hattciuu!! Alex dan Rio bersin bersamaan,


mereka saling menatap sebelum menggosok bawah hidung mereka. Keduanya baru saja


pulang, dan bersamaan masuk ke dalam rumah.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.