
Bilang sama mama
Rio menunjukkan e-mail yang masuk ke bagian
pemasaran beberapa hari lalu. Kalau sudah seperti itu, mereka berdua akan
bersikap profesional dan menunjukkan kemampuan mereka.
*****
Gadis memijat pinggangnya yang terasa pegal. Ia
sudah menyelesaikan konsep proyek terbaru mereka. Alex meminta Gadis bergabung
dengan rapat kalau ia merasa cukup kuat untuk bergabung. Untuk menutupi kondisi
kehamilan Gadis, Alex tidak mewajibkan Gadis ikut meeting dan selalu diwakilkan
oleh Rio.
Gadis sebenarnya sangat siap untuk melakukan
presentasi, tapi tiba-tiba rasa mual dan sakit pinggang mendera tubuhnya. Ia
sudah berpindah ke ruang pribadi Alex sekarang, berharap keadaannya akan
membaik. Alex memberi ijin pada Gadis untuk memakai ruang pribadinya kalau dia
ingin istirahat juga.
Gadis berbaring dengan nyaman sambil menghirup
minyak kayu putih. Ia menarik selimut menutupi sampai ke dadanya dan mencari
posisi paling enak untuk mulai tidur. Gadis tertidur pulas tanpa memberitahu
siapapun, termasuk Alex yang sedang menunggunya di ruang meeting.
Rio yang baru datang dari meeting bersama Romi tidak
menemukan Gadis di mejanya. Ia mengira Gadis sedang meeting dengan Alex. Tapi
saat ia melihat flashdisk dan file presentasi Gadis masih ada di atas mejanya,
ia membawa kedua benda itu dan masuk ke ruang meeting.
Rio mengedarkan pandangannya setelah ia duduk di
samping Alex. Tapi Gadis tidak ada dimanapun.
Rio : “Pah, dimana Gadis?”
Alex : “Tadi di mejanya. Papa kira bakalan masuk
kesini. Gak ada ya?”
Rio : “Dia gak mungkin kabur, kan?”
Alex : “Kalau dia keluar kantor, security pasti
lapor ke papa. Belum ada telpon, berarti masih disini. Apa itu?”
Rio : “Ini presentasi Gadis. Biar Rio yang gantiin.
Mungkin dia lagi gak enak badan.”
Alex : “Habis ini giliranmu.”
Rio maju setelah presentasi terakhir selesai
dijabarkan. Ia memasang flashdisk ke laptop dan mulai menjelaskan tentang
konsep yang dibuat Gadis. Seperti dugaan Rio, ide Gadis diterima dan siap untuk
dijalankan.
Rio terburu-buru membereskan semua file Gadis, ia
keluar dari ruang meeting dan langsung ke toilet untuk mencari Gadis. Toilet
itu kosong, Rio melongok ke pantry juga kosong. Rio berpikir mungkin di ruangan
Alex. Ketika Rio masuk kesana, Alex sedang berdiri di depan ruang istirahatnya.
Alex : “Gadis lagi tidur di dalem.”
Rio : “Coba Rio cek.”
Alex membiarkan Rio masuk ke ruang pribadinya. Rio
melihat kalau Gadis sudah membuka blazer yang dipakainya tadi. Ia duduk di
samping Gadis dan menatap wajah wanita itu. Rio mengulurkan tangannya mengelus
kepala Gadis.
Gadis : “Mmm...”
Rio tersenyum ketika Gadis merubah posisi tidurnya.
Ia keluar dari ruang pribadi Alex untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sampai jam pulang kantor, Gadis tidak juga bangun. Alex
dan Romi berpamitan untuk pulang duluan pada Rio. Sambil menunggu Gadis bangun,
Rio menyelesaikan pekerjaannya dan pekerjaan Gadis juga.
Rio melihat sudah hampir jam 7 dan dia mulai lapar.
Ketika menyadari Gadis belum juga bangun, wajah Rio memucat. Ia segera masuk ke
ruang pribadi Alex dan berniat membangunkan Gadis. Rio ketakutan lagi mengingat
cara Kaori pergi untuk selamanya.
Tapi ketika ia masuk ke ruang pribadi Alex, Rio
melihat Gadis baru bangun. Gadis mengusap matanya dengan rambut berantakan dan
tank top yang melorot hampir memperlihatkan aset Gadis. Rio menghela nafasnya
lega, ia memanggil Gadis agar wanita itu tahu kalau Rio akan mendekatinya.
Rio : “Gadis, kamu udah bangun.”
Gadis : “Hmm. Jam berapa sekarang?”
Rio : “Jam 7 malem. Ayo, kita pulang. Kamu lapar?”
Gadis : “Aku masih ngantuk.”
Rio mengambil blazer Gadis, ia mendekatkan blazer
dan membantu wanita itu memakai blazernya lagi. Gadis merentangkan tangannya
minta gendong pada Rio.
Rio : “Gak bisa jalan sendiri ya. Kayak bayi, kamu.”
Gadis : “Gak mau? Ya udah.”
Rio mau gak mau menggendong Gadis dan membawanya ke
toilet di ruang kerja Alex untuk mencuci wajahnya.
Gadis : “Aku mau makan soto ayam.”
Rio : “Iya. Ntar kita beli sambil jalan pulang.”
Setelah Gadis mencuci wajahnya, mereka bersiap-siap
keluar dari kantor dan pulang ke rumah.
*****
Gadis menarik nafasnya dengan kasar, ia
mengusap-usap tangannya yang dingin ketika mendengar suara mamanya masuk ke
dalam rumahnya. Kemarin sore sepulang dari kerja, Rio mengantar Gadis pulang
kerumahnya sendiri. Mereka ngobrol di ruang tamu sampai malam mulai larut.
...Flash back...
Rio : “Kamu yakin mau ngasi tau mamamu sendiri? Aku
bisa kesini besok, nemenin kamu.”
Gadis : “Gak pa-pa. Aku takut mama marah kalau liat
kamu nanti. Apalagi kondisiku kayak gini.”
Rio : “Kasi tau aku kalau ada apa-apa ya. Jam
berapa mamamu pulang besok?”
Gadis : “Kayaknya siang dech. Kenapa?”
Rio : “Aku stand by di kantor ya. Beneran nich,
kabarin aku kalau ada apa-apa.”
Gadis : “Iya. Mamaku gak galak kok. Cuma tegas.”
Rio : “Galak kayaknya. Aku pulang dulu ya.”
Gadis mengangguk, Rio melirik perut Gadis yang
masih rata. Ia ingin memegang perut Gadis tapi mengurungkan niatnya. Gadis
mengantar Rio sampai ke pintu rumahnya.
...Flash back end...
Mamanya tersenyum ketika melihat Gadis duduk di
sofa ruang tengah. Ia merasakan sedikit keanehan pada putrinya itu.
Aira : “Sayang, tumben kamu duduk disini. Biasanya
dikamar aja.”
Gadis : “Mah, Gadis mau bicara.”
Melihat raut wajah serius Gadis, Aira meletakkan
tasnya dan duduk disamping putrinya semata wayangnya itu.
Aira : “Kenapa, sayang? Gimana kerjaanmu.”
Gadis : “Baik, mah. Mah... Gadis mau kasi liat ini.”
Gadis menyerahkan sebuah amplop putih pada Aira.
Wanita paruh baya itu membuka ragu-ragu amplop di tangannya dan mengeluarkan
isinya. Aira menoleh pada Gadis yang terlihat tertekan melihat ekspresi mamanya
yang sangat terkejut melihat testpack di tangannya.
Aira : “Kamu hamil?!”
Gadis : “Maaf, mah.”
Aira : “Siapa? Siapa ayahnya?!”
Gadis : “Itu, Rio, mah.”
Aira : “Rio? Apa dia sudah tau, nak?!”
Gadis mengangguk, ia berusaha bernafas dengan
tenang karena mendengar nada suara Aira yang mulai meninggi. Aira mengatur
nafasnya yang ngos-ngosan. Setidaknya laki-laki itu mau bertanggung jawab.
Aira : “Apa kau mencintainya, nak? Kamu gak dipaksa
kan?”
Gadis : “Iya, mah. Tapi Rio mencintai orang lain.
Dia... dia mabuk waktu kejadian itu.”
Aira : “Kalau gitu jangan menikah dengannya. Mama
masih bisa menjagamu dan anak itu. Kita bisa pergi yang jauh bersama-sama.”
Gadis : “Tapi Gadis sudah janji akan membiarkan dia
bertemu anaknya, mah.”
Aira : “Hubungi dia saat anak itu lahir. Itu
terserah kamu, sayang.”
Gadis : “Mama gak marah?”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.