Duren Manis

Duren Manis
Hanya mimpi


Hanya mimpi


Mia : “Iya. Dia tinggal disini sampai mamanya balik


dari luar negeri minggu depan.”


Riri : “Boleh kenalan sama dia, mah?”


Mia : “Jangan dulu ya. Gadis masih malu karena


kehamilannya. Mama liat juga ngidamnya parah. Tunggu beberapa hari lagi, nanti


mama yang ngasi tahu kalau Riri mau kenalan.”


Rara : “Kalian lagi ngapain tuch?”


Riri : “Ach, kakak kayak gak tau aja.”


Rara : “Lagi bikin anak ya?”


Elo : “Iya, Ra. Tapi ya gitu, tunggu lulus dulu


baru jadinya.”


Riri memukul lengan Elo yang nyamber aja. Wajahnya


langsung memerah menahan malunya di depan keluarganya.


Riri : “Mb Rara, jangan marah lagi ya sama Rio. Dia


kan udah mau tanggung jawab. Sayang banget aku gak bisa nemenin dia disana.”


Rara : “Mb gak akan marah kalau misalnya mereka


melakukannya baik-baik. Ini maksa, Ri. Mau dia sadar atau tidak. Mb juga belum


tahu gimana bentuk tanggung jawab Rio nanti. Lagian Rio kan masih cinta sama


Kaori, belum bisa move on. Mb takut Rio malah jadi tambah nyakitin Gadis.”


Riri : “Nanti coba Riri ngomong pelan-pelan ya. Rio


mana?”


Alex memanggil Rio yang tampak melamun di meja


makan. Ia menyerahkan ponselnya pada Rio yang langsung membawanya ke ruangan


sebelah.


Riri : “Rio, kenapa kamu jadi gini?”


Rio : “Aku gak sengaja, Ri. Aku kangen banget sama


Kaori. Dulu setiap hari aku bisa meluk dia sepuasku. Malam itu aku minum-minum.


Gadis nganter aku pulang, tapi aku malah maksa dia.”


Riri : “Trus kamu mau gimana? Kalian harus nikah


kalau udah kejadian gini.”


Rio : “Ya, itu juga yang lagi aku coba bicarakan


sama dia. Gadis gak mau nikah sama aku, Ri.”


Riri : “Loh, kenapa? Tunggu, ini cewek yang biasa


berkeliaran dekat kamu dulu kan? Gadis yang itu kan?”


Rio : “Iya. Dulu dia suka banget sama aku, sekarang


benci banget. Sampe tiap deket aku pasti muntah.”


Riri : “Kenapa kamu gak belajar mencintai dia,


Rio?”


Rio : “Aku gak tau apa bisa mencintai seseorang


lagi, Ri. Aku takut dia akan pergi lagi seperti Kaori.”


Riri : “Setiap orang perlu kesempatan kedua, Rio.


Kamu lihat papa, papa bisa bahagia sekarang sama mama kan?”


Rio : “Tapi Gadis gak mau nikah sama aku, Ri. Aku


harus gimana?”


Riri : “Kasi dia waktu. Kalau kamu mau menebus


kesalahanmu, coba cintai dia atau lepaskan saja. Aku yakin dia masih suka sama


kamu, cuma takut karena kejadian itu.”


Rio : “Dia sudah janji di kuburan Kaori kalau dia


akan berhenti mengejarku. Gak akan mendekatiku lagi.”


Riri : “Kalau gitu kamu yang harus kejar dia. Kaori


akan sedih kalau kamu terus begini, Rio. Cintai dia dengan tulus sebagai salah


satu orang yang pernah sangat dekat dan berharga dalam hidupmu. Bukan dengan


merasa sedih terus atas kepergiannya. Simpan dia dihatimu sebagai kenangan yang


terindah. Kamu hanya perlu fokus pada masa depan sekarang. Ingat sudah ada


Gadis dan anak kalian.”


Rio terdiam dan menggeleng. Dia masih perlu waktu


untuk bisa menerima kehadiran wanita lain. Riri mengatakan sudah terlambat


untuk meminta tambahan waktu sekarang. Karena Gadis bisa sewaktu-waktu pergi


dari Rio. Dan saat itu terjadi, Rio hanya akan menyesali dirinya.


Riri menutup sambungan v-call dengan air mata


berlinang. Rio juga sibuk mengusap air matanya, sebelum kembali ke ruang


keluarga dan memberikan ponselnya pada Alex. Mia yang melihat bekas air mata


Rio, merentangkan tangannya memeluk putranya itu.


Rio kembali menangis dalam dekapan mamanya. Rara


mengusap sudut matanya melihat kesedihan Rio. Gadis ikutan menangis juga


menyesali apa yang sudah terjadi. Kalau saja ia membiarkan Rio tetap di kantor


malam itu, dirinya tidak akan berakhir seperti ini.


Nenek yang sudah pindah duduk ke meja makan,


mengusap tangan Gadis. Ia memeluk wanita itu yang balas memeluk nenek juga.


Alex hanya melihat keluarganya dipenuhi kesedihan, hanya bisa memohon agar


*****


Setelah mereka semua tenang kembali dan bersiap


makan siang, Rio membawa Gadis naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya. Gadis


melihat tempat tidur Rio, ia merasa tidak nyaman berada di kamar yang sama


dengan Rio.


Rio : “Ini kamarku. Kamu bisa tinggal disini.”


Gadis : “Apa kamu juga akan tidur disini?”


Rio : “Ya. Aku bisa tidur di lantai. Karpetnya


cukup tebal, kok.”


Gadis : “Kalau kamar di dekat tangga itu punya


siapa?”


Rio : “Itu kamar Riri, kembaranku. Dia sudah


menikah dan tinggal sama suaminya.”


Gadis : “Boleh aku tinggal di kamar Riri saja?”


Rio melihat Gadis gemetar berada di dekatnya. Ia


mengajak Gadis keluar dan masuk ke kamar Riri. Gadis melihat sekeliling kamar


yang hampir kosong tapi sangat bersih dan rapi.


Rio : “Dulu Kaori sering menginap disini, dia tidur


di kamar ini.”


Gadis hanya diam, Rio merasa omongan tidak perlu


dan berjalan keluar kamar.


Gadis : “Aku gak keberatan.”


Rio : “Apa?”


Gadis : “Aku gak keberatan kalau kau cerita tentang


Kaori. Jangan merasa tidak enak.”


Gadis duduk di atas tempat tidur. Ia mengusap


pinggangnya yang terasa pegal. Sejak hamil muda, banyak sekali perubahan pada


tubuhnya yang membuatnya tidak nyaman.


Rio : “Apa kau perlu sesuatu?”


Gadis : “Tidak. Aku bisa minta tolong mb Minah,


nanti.”


Rio : “Sekarang ada aku disini. Kau bisa minta


tolong padaku.”


Gadis : “Aku gak mau bergantung.”


Rio : “Kau bisa bergantung padaku!”


Gadis tercekat mendengar teriakan Rio. Ia menunduk


lagi, Rio masuk ke dalam kamar Riri. Duduk di samping Gadis.


Rio : “Dengar. Aku yang membuat kamu jadi begini,


tolong kasi aku kesempatan menebus kesalahanku. Aku akan menjagamu dan anakku.”


Gadis : “Aku sudah memberimu kesempatan. Tapi


tolong jangan terlalu banyak memberi perhatian padaku. Aku takut saat mimpi indah


ini berakhir nanti, aku akan jadi serakah dan tidak mau melepaskanmu.”


Rio menatap Gadis yang sudah tersenyum manis. Untuk


sesaat Rio melihat sosok Kaori ada pada diri Gadis. Rio mengalihkan


pandangannya.


Rio : “Tadi aku nangis bukan karena menyesal dengan


keadaanmu. Aku kangen sama kembaranku, kebetulan dia v-call tadi. Aku juga


kangen sama Kaori.”


Gadis : “Ya. Aku juga merindukannya. Biasanya aku


sempat ke kuburannya untuk curhat.”


Rio : “Ya, aku tahu. Kau selalu meninggalkan bunga


mawar putih disana.”


Gadis : “Maafkan aku, Rio. Seharusnya aku biarin


kamu tetap di kantor waktu itu. Atau memanggil Pak Alex. Aku bodoh sekali.”


Rio : “Aku yang bersalah. Aku sudah menghancurkan


masa depanmu tanpa bisa menjanjikan apa-apa. Tapi aku akan bertanggung jawab


pada anakku.”


Gadis : “Ya, kita bisa merawatnya tanpa perlu


bersama.”


Rio : “Apa kau mencintai orang lain? Selain aku?”


Gadis : “Pertanyaan macam apa itu?”


Rio : “Maksudku kalau kau mencintai orang lain, aku


bisa melepaskanmu. Tapi kalau belum ada selain aku, kita bersama saja. Kita


beri anak itu keluarga yang utuh.”


Gadis : “Apa hanya anak ini alasan kau ingin


bersamaku?”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).