Duren Manis

Duren Manis
Hampir pergi


Hampir pergi


Rio : “Jangan pergi, Gadis! Aku menyayangimu!”


Dug! Rio terbangun dari tidurnya dan kepalanya


langsung membentur pinggir tempat tidur Riri. Rio memegangi dahinya yang mengeluarkan


darah. Nafasnya tidak beraturan seperti orang habis berlari. Tubuhnya basah


oleh keringat dingin yang mulai membuatnya menggigil.


Mata Rio mencari sosok Gadis yang tadi tidur diatas


tempat tidur Riri. Jantungnya berdetak semakin kencang saat tidak melihat Gadis


disana. Ia menoleh menatap tas besar di dekat pintu, tas itu tidak ada.


Rio tidak mempedulikan darah yang mengalir menuruni


pipinya. Darahnya cukup banyak yang keluar. Ia berlari dengan cepat menuruni


tangga, mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mia yang melihat Rio menuruni


tangga dengan kepala berdarah, spontan berteriak.


Mia : “Rio! Kenapa kamu berdarah?!”


Teriakan Mia membuat semua orang menoleh menatap


Rio. Rio mencari kunci mobilnya diatas meja. Ia hampir berlari keluar rumah


setelah mendapatkannya kalau Alex dan Arnold tidak cepat menahannya.


Alex : “Rio, kamu kenapa?! Dahimu berdarah. Kamu


mau kemana?”


Rio terus meronta tanpa bisa bicara, ia sangat


takut Gadis akan benar-benar pergi seperti mimpinya barusan. Alex dan Arnold


hampir kalah menahan tubuh Rio yang terus meronta. Entah dapat kekuatan dari


mana sampai Rio bisa sekuat itu.


Mia mendekati Rio dan mencoba menenangkannya. Ia


sangat khawatir melihat darah yang semakin banyak keluar dari kening Rio.


Mia : “Rio! Tenang, nak. Ini mama.”


Rio tidak mendengar kata-kata Mia, ia terus memaksa


keluar dari rumah sampai ia mendengar suara Gadis di belakangnya.


Gadis : “Rio! Kamu mau kemana?”


Rio tiba-tiba berbalik, membuat Alex dan Arnold


terlempar ke sebelah Mia. Rio menggelengkan kepalanya, matanya tidak bisa


melihat dengan jelas karena darah yang masuk kesana. Rio mengucek matanya, ia


memfokuskan matanya melihat Gadis yang berdiri di depannya.


Gadis : “Rio, kamu gak pa-pa?”


Rio merasakan sesak di dadanya. Ia ingin bicara


tapi suaranya tidak bisa keluar. Tiba-tiba Rio merasa kesulitan bernafas. Ia berlutut


sambil megap-megap kehabisan nafas. Tubuh Rio meluncur turun hampir menabrak


pinggiran meja kalau Gadis tidak cepat menahannya.


Gadis : “Rio! Rio!”


Rio tidak sadarkan diri dalam pelukan Gadis. Gadis


tidak kuat menahan tubuh Rio, ia hampir jatuh juga. Untung Alex dan Arnold


sudah bersiap menahan tubuh Rio dan mengangkatnya ke tumpukan bantal di ruang


keluarga.


Mia : “Rio! Rio, sadar!! Aduch, dia kenapa sich?


Mas, cepat panggil dokter!”


Alex menelpon dokter terdekat dari rumah mereka. Mb


Minah mengambilkan handuk untuk mengelap darah yang masih terus mengalir dari


kening Rio. Mia menekan luka Rio dengan panik. Untuk sesaat Mia tidak merasakan


gerakan tubuh Rio karena bernafas.


Mia : “Mas, mana dokternya? Rio gak bernafas!”


Rara mencoba memberikan nafas buatan pada Rio. Ia berlatih


melakukannya sambil berlatih pembelaan diri setelah penyerangan Jodi padanya


dulu. Gadis hanya bisa melihat di pojokan tanpa bisa melakukan apa-apa.


*****


Rio membuka matanya, ia sedang berada di sebuah


padang rumput yang luas. Dari kejauhan, Rio melihat sosok Gadis sedang berjalan


sendirian. Ia mengejar Gadis yang saat itu berhenti dan menoleh padanya.


Rio : “Tunggu aku!”


Kaori : “Rio...”


Rio berhenti berlari, ia langsung menoleh ke


belakang ketika mendengar suara Kaori.


Kaori : “Rio. Rio.”


Rio : “Kaori!”


Rio mencoba mengejar Kaori, tapi di depannya


seperti ada penghalang. Ia tidak bisa mendekati Kaori. Rio menempelkan


tangannya di kaca. Kaori juga melakukan hal yang sama.


Kaori : “Apa kabar, Rio? Kamu kangen sama aku?”


Rio : “Kaori, aku sangat merindukanmu.”


gak bisa bahagia disana? Lihat.”


Rio menoleh ke belakang, melihat sosok Gadis dengan


perut yang lebih besar sedang berdiri menunggunya.


Kaori : “Kita gak bisa bersama, Rio. Tapi kamu


masih punya dia. Bahagialah dengan dia.”


Rio : “Hubungan kami sangat rumit, Kaori. Biarkan


aku pergi bersamamu.”


Kaori : “Cepat, Rio. Kau akan kehilangan dia kalau


kau tidak mengejarnya sekarang.”


Rio menoleh ke belakang lagi, Gadis mulai berjalan


menjauh darinya. Rio menatap Kaori lagi yang masih berdiri di depannya tapi


tidak bisa ia raih.


Kaori : “Pergilah. Kau akan bahagia bersamanya.


Pergilah, Rio.”


Rio : “Aku tidak akan pernah melupakanmu, Kaori.”


Kaori : “Aku akan selalu ada bersama kalian.


Bahagialah, Rio.”


Rio berlari dengan cepat mengejar Gadis, ia terus


berusaha sampai rasanya nafasnya hampir putus.


Rio : “Tunggu!! Kaori...! Ingin kita bersama!


Tunggu aku!”


Rio terus memanggil-manggil Gadis yang tetap


berjalan di depannya. Ia terjatuh di padang rumput itu dan melihat sosok Gadis


menghilang di depannya.


*****


Dokter sudah datang tepat saat Rio kembali


bernafas. Setelah memeriksa dan mengobati luka di kening Rio, dokter mengatakan


sepertinya Rio sedang mengalami stress dan kelelahan. Untuk sementara bisa di


rawat di rumah dulu.


Gadis duduk di samping Rio, mengelap keningnya yang


terus berkeringat. Dokter mengatakan kalau Rio kemungkinan akan demam tapi


karena keningnya masih berdarah dan tidak boleh kena air, dokter memberitahu


agar menjaga tubuh Rio tetap kering dan hangat.


Rio : “Tunggu... Kaori... tunggu...”


Gadis mendengar Rio mengigau memanggil nama Kaori. Ia


bertatapan dengan Mia dan tersenyum  manis. Padahal dalam hatinya sedikit sakit mendengar Rio memanggil nama


Kaori dalam tidurnya.


Mia : “Gadis, kamu mau makan apa? Dari tadi kamu kan


belum makan.”


Gadis : “Saya gak mau makan, mah. Nanti aja.”


Rara : “Kamu tetep harus makan. Dikit aja ya. Ayo


bilang mau apa?”


Gadis malah melamun sambil menatap Rio. Ia merasa


bersalah atas apa yang menimpa Rio barusan. Rio bahkan hampir menyusul Kaori


tadi. Gadis menangis lagi, Mia memeluk tubuh wanita itu dan mengelus rambutnya.


Mia : “Sudah, jangan nangis lagi. Rio gak pa-pa.


Kamu istirahat dulu ya.”


Gadis : “Saya masih mau disini, mah.”


Mia : “Sana baring di samping Rio. Itu ada bantal. Mama


mau mandiin si kembar dulu ya.”


Gadis mengangguk. Ia menuruti Mia dan berbaring di


samping Rio. Perutnya terasa sakit sejak terbangun dan langsung muntah-muntah


tadi. Mia membawanya turun untuk minum susu hangat. Saat sedang menunggu roti


bakar buatan mb Minah, ia melihat Rio turun dengan kepala berdarah.


Perutnya langsung terasa mual melihat banyaknya


darah di wajah Rio. Tapi ia lebih takut melihat Rio seperti orang bingung. Entah


Rio mencari siapa dan bersikeras keluar dari rumah. Gadis tidak bisa menahan


dirinya untuk tidak memanggil Rio. Seolah bukan dirinya yang bicara saat itu.


Anehnya Rio justru berbalik menoleh padanya.


Gadis merubah posisi tidurnya menghadap ke arah


Rio. Ia meletakkan tangannya ke dada Rio untuk merasakan detak jantungnya.


Perlahan Gadis mengatur nafasnya agar sama dengan hembusan nafas Rio. Bohong


kalau Gadis bilang dia bisa melupakan Rio, melihat Rio hampir kehilangan


nyawanya tadi terasa jantungnya hampir berhenti berdetak.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.