Duren Manis

Duren Manis
Ng-date


Alex mengantar Mia pulang dulu untuk ganti baju dan menaruh perlengkapan ujian dan skripsinya.


Besok Mia harus ke kampus lagi untuk mengurus keperluan wisudanya. Dan untuk saat ini, ia hanya ingin memanjakan Alex.


Beberapa hari sebelum ujian, Mia tidak bisa melakukannya karena konsen dengan persiapan ujian. Ia tidak ingin gagal sekarang atau pernikahan mereka akan tertunda.


Mia mengemasi tas ransel kecilnya. Mengisinya dengan barang-barang pribadinya. Ia tidak tahu kemana Alex akan membawanya malam ini. Tapi ia tetap akan mempersiapkannya juga.


Mia tersenyum malu, apa mungkin Alex akan membawanya dinner romantis di sebuah restaurant atau nonton film romantis di bioskop.


Lebih gila lagi, Alex akan membawanya ke sebuah tempat yang private, memintanya memakai lingeri seksi dan berakhir dengan tidur saling berpelukan.


Pikiran mesum Mia membuatnya senyum-senyum sendiri bahkan sampai ia berjalan menghampiri Alex yang menunggunya di ruang tamu.


Alex : "Kenapa senyum-senyum, sayang? Ada yang lucu."


Mia : "Aku cuma membayangkan akan kemana kita nanti."


Alex : "Apa kau sedang berpikir mesum?"


Mia : "Ih, jangan keras-keras. Ntar ada yang denger. Ayo pergi."


Mia menarik tangan Alex keluar dari rumahnya dan masuk ke mobil Alex. Alex tertawa melihat reaksi Mia.


Alex : "Jadi beneran kamu mikir mesum."


Mia : "Mas, hari-hari sama kamu pasti berakhir dengan adegan 18++. Jadi gimana aku gak mikir itu."


Alex : "Maklum dong, aku uda lama gak ngrasain itu."


Mia : "Jadi mas mau melakukannya malam ini?"


Alex tersenyum mendengar suara Mia yang bergetar. Ia mulai menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilnya.


Alex : "Aku gak akan maksa kalau kamu gak mau. Beberapa hari lagi juga kamu jadi istriku."


Mia : "Emang berapa hari lagi, mas?"


Alex : "Sepuluh hari lagi, sayang. Lusa jadwal kita untuk fitting baju pengantin dan foto prewedding."


Mia : "Cepet juga ya, mas. Sekarang kita mau kemana?"


Alex : "Bentar lagi juga kamu tahu."


Mia memilih diam menunggu saja kejutan dari Alex. Mereka melewati jalanan kota yang masih lengang dan sampai di sebuah apartment.


Mia : "Ngapain kita kesini, mas?"


Alex : "Aku perlu mengecek sesuatu. Ayo turun."


Mia mengikuti Alex dan membawa tasnya. Mereka masuk ke lift yang membawa mereka ke lantai 14.


Keluar dari lift, Alex menggenggam tangan Mia dan mereka berhenti di depan pintu nomor 475.


Alex membuka pintu itu dengan kartu yang dibawanya dan mengajak Mia masuk.


Alex : "Ayo masuk."


Mia menatap sekeliling apartment yang tidak terlalu luas. Di dekat jendela ada tempat tidur ukuran queen dan sebuah sofa besar dengan meja di depannya.


Disebelah kanan terlihat dapur mini dan meja bar. Ada juga lemari besar dan sebuah ruangan terbuat dari kaca. Itu kamar mandi yang lengkap dengan bathup, shower dan toilet.


Mia penasaran kenapa kamar mandinya transparan begitu, gimana cara mandinya? Ia mendekati kaca kamar mandi dan mengintip ke dalam.


Alex : "Kenapa? Kamu tertarik sama kamar mandinya? Mau coba?"


Mia : "Sepertinya seru. Apa aku boleh coba?"


Alex : "Coba saja. Kamu mandi duluan."


Mia : "Yakin gak kelihatan?"


Alex : "Ayo, kutunjukkan cara pakainya."


Alex masuk ke kamar mandi dan menekan tombol di dekat pintu. Kaca transparan perlahan jadi buram.


Mia tidak bisa melihat Alex di dalam kamar mandi. Alex keluar dan melihat ke arah kaca.


Alex : "Nah, gitu cara kerjanya. Tapi kalau kau mau menggodaku, jangan tekan tombolnya dan jangan kunci pintunya."


Mia : "Trus, mas mau ngapain?"


Alex : "Aku pasti ikutan masuk juga. Hehe..."


Mia : "Ya, uda. Ayo..."


Alex : "Eehh... boleh?"


Mia mengambil handuk di kamar mandi dan berjalan ke samping sofa.


Mia : "Mas, hidupkan air di bathup, aku mau berendam sebentar."


Alex masuk ke kamar mandi, mematikan tombol untuk memburamkan kaca dan menghidupkan air hangat mengisi bathup.


Alex melihat Mia melepas pakaiannya satu persatu sambil membelakanginya. Ia mulai membuka kemeja dan celana panjangnya.


Mia berbalik dengan tubuh hanya dibalut handuk, ia tersenyum melihat Alex keluar kamar mandi hanya memakai boxernya.


Alex : "Kamu yakin, sayang?"


Mia : "Iya, mas..."


Air hangat mulai mengalir membasahi rambut dan tubuh Mia. Pundaknya terasa lebih ringan setelah kucuran air hangat mengenai bagian itu.


Alex ikut masuk ke kamar mandi, ia melepas boxer yang dipakainya dan ikut masuk ke shower box. Mia memijat pundaknya, mencoba merilekskan tubuhnya yang menegang saat merasakan kehadiran Alex.


Alex menuangkan sabun ke tangannya, ia mulai menggosok punggung Mia dan memijat pundaknya. Mia memejamkan matanya merasakan pijatan Alex yang lembut.


Alex : "Rileks, sayang. Kita hanya mandi bersama..."


Mia : "Aku malu, mas."


Alex : "Kita sudah pernah melihat tubuh masing-masing... Malu apa lagi?"


Mia : "Sekarang aku uda lulus, mas. Rasanya beda aja."


Alex : "Kamu manis sekali ya. Lama-lama aku bisa kena diabetes nich."


Mia tersenyum mendengar gombalan Alex, tangan Alex sudah pindah ke bagian depan tubuhnya.


Mia : "Mas, aku sendiri aja sabunannya. Giliran mas sekarang, balik badan."


Alex mengikuti kata-kata Mia, daripada diusir keluar karena maksa. Mia menuangkan sabun ke tangannya dan mulai mengusap punggung Alex.


Mia merasakan hasratnya mulai meningkat saat melihat otot punggung dan otot bawah Alex yang seksi.


Mia : "Mas sering ng-gym ya."


Alex : "Iya, aku selalu sempatkan ng-gym tiap pulang kantor. Emang kamu gak tahu."


Mia : "Aku kira gak sering, hasilnya jelas sekali soalnya..."


Alex : "Kamu mau lihat bagian depannya? Aku balik badan ya."


Mia menahan nafasnya saat Alex berbalik, Mia bisa melihat otot bagian depan Alex dengan jelas. Dan ketegangan luar biasa pada otot bagian bawahnya.


Mia : "Gede banget...!!"


Mia menutup mulutnya yang keceplosan, wajahnya memerah melihat bagian intim tubuh Alex.


Alex : "Kau suka? Pegang saja."


Mia : "Geli..."


Alex : "Mau aku bikin geli tapi nikmat gak?"


Mia : "Mas, malu ih... Aku mau berendam dulu."


Mia menyabuni tubuhnya dengan gerakan cepat membuat tubuh Alex memanas, ia mendekatkan tubuhnya pada Mia dan mulai mencium gadis itu.


Mia terkejut mendapat serangan dari Alex. Sesaat ia mencoba mendorong tubuh Alex, tapi rasa rindu yang dirasakannya pada calon suaminya ini membuatnya menerima serangan itu.


-------


Rara dan Arnold juga ng-date di malam itu, tapi mereka hanya nonton dan makan malam romantis di sebuah restauran yang cukup ramai.


Arnold tidak pernah melepaskan tangan Rara, ia selalu punya alasan untuk memegang tangan Rara.


Rara : "Kak... gimana aku makannya kalau tanganku dipegang trus."


Arnold : "Aku suapin..."


Rara : "Hais... Biarkan aku makan dulu, nanti pegang lagi."


Arnold mengalah karena Rara sudah ngiler melihat seafood bakar di depannya. Lagi-lagi Arnold terpesona melihat cara makan Rara yang lahap.


Beberapa pengunjung melihat cara makan Rara dan mulai berbisik-bisik sambil tertawa. Tapi mereka iri melihat Arnold yang tampan dan tampak sangat mengagumi Rara.


Sesekali Arnold menarik tangan Rara dan makan daging kepiting dari tangannya. Arnold menjilat jemari Rara yang masih belepotan saus bakar.


Rara : "Kak... lepas tanganku. Malu tau."


Arnold : "Aku kan lagi makan, bodo amat sama yang lain."


Rara : "Tapi tanganku bukan makanan, kak. Lepas..."


Arnold : "Tanganmu enak, Ra. Boleh aku jilat bagian yang lain?"


Wajah Rara memerah mendengar godaan Arnold, dengan cepat ia menarik tangannya.


Rara : "Kakak genit."


Arnold : "Aku kan cuma genit sama calon istriku aja."


Rara kembali melanjutkan makannya dengan sesekali godaan dari Arnold.


Mereka mengobrol santai tapi mesra sampai waktu berjalan mulai larut malam. Arnold mengantarkan Rara kembali ke rumahnya.


--------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------