
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 4
Alan dan Steven yang baru berkenalan di dalam
pesta, tampak asyik bermain game di ponsel masing-masing. Mereka sudah pasti
bosan karena pesta berlangsung cukup lama. Alih-alih bicara dengan sesama tamu
undangan, keduanya malah sibuk bertanding.
“Lo pasti kalah,” kata Steven memprovokasi Alan.
“Belum selesai tanding. Nah, kan lo yang kalah,”
balas Alan sedikit mengejek Steven.
Steven menepuk bahu Alan, mereka sama-sama menoleh
saat ponsel Alan berbunyi sedikit nyaring. Sekilas Steven bisa melihat lambang
hacker yang menyusup ke web perusahaannya. Ia ingin memastikan sekali lagi,
tapi lambang itu sudah berubah bentuk.
“Ini istriku, sebentar ya. Halo, sayang. Ada apa?”
tanya Alan pada Ginara.
“Mas, dimana? Ken sudah pulang, tapi mas kok nggak
ikut pulang?” tanya Ginara cemas.
“Hah?! Loh, tadi dia masih sama Kaori kok. Waduh,
kenapa aku ditinggal pulang sich?” kata Alan bingung.
“Aku suruh sopirnya balik jemput ya, mas?” kata
Ginara.
Steven menoel pundak Alan dan mengatakan kalau ia
akan mengantar Alan pulang. Mereka masih bisa tanding sekali lagi. Rupanya Steven
masih penasaran dengan sosok Alan. Ginara hanya mengatakan iya, saat Alan
menyampaikan maksud Steven. Wanita itu hanya mencemaskan Alan yang belum
pulang.
Ken sendiri, begitu sampai rumah, langsung mencari
Melisa. Ia tampak bicara serius dengan wanita itu di kamarnya. Meskipun
menyebalkan, Ken benar-benar tidak bisa mengabaikan kehebatan Melisa dalam
penyamaran. Ia ingin Melisa yang membawa sampel rambut milik Mia dan Ken untuk
dilakukan tes DNA di rumah sakit.
“Buat apa tuan muda melakukan tes ini?” tanya
Melisa curiga.
“Anggap saja aku hanya membantu seorang teman
meredakan kegelisahannya. Tapi jangan sampai orang lain tahu. Ini sangat rahasia.
Bahkan orang tuaku tidak boleh tahu,” kata Ken serius.
“Bayarannya tidak murah, tuan muda,” kata Melisa ingin
menggoda Ken.
“Berapa aku harus bayar?” tanya Ken mulai kesal.
Melisa tersenyum, “Sebenarnya aku punya target.
Harganya sangat menggiurkan. Tapi tuan muda harus berlatih sangat keras untuk
itu.” Ken mendengus kesal karena Melisa bicara berputar-putar. Wanita itu
menyodorkan tiga jarinya ke hadapan Ken. “Tiga bulan. Dalam tiga bulan, tuan
muda harus bisa lulus pelatihanku. Apa tuan muda sanggup?”
“Ok. Aku sanggup. Tapi ingat tes itu harus keluar
secepatnya. Atau aku tendang kau keluar dari mansion ini,” ancam Ken.
“Hasilnya akan segera keluar, tapi tuan muda baru
bisa mendapatkannya setelah tiga bulan. Deal?” tanya Melisa.
Ken terpaksa menyetujui permintaan Melisa. Kalau
sudah bicara tentang target, Ken yakin kalau Endy menawarkan harga yang
fantastis untuk Melisa. Sampai wanita itu bersedia menukarnya dengan rahasia
Ken.
Malam itu, Melisa mengajari Ken pelajaran dasar
dalam penyamaran. Sedikit pun Ken tidak ingin terlena, semakin cepat ia lulus,
semakin cepat ia akan mengetahui kecemasan yang dialami Mia.
**
Seminggu kemudian, hasil tes DNA yang ditunggu Ken,
akhirnya selesai juga. Melisa menyamar menjadi seorang pasien saat mengambil
hasil tes DNA itu. Ia lebih waspada, karena saat ia menyerahkan sampel DNA itu
ke rumah sakit tempat mengecek DNA, seseorang mengikutinya.
Untung saja, Melisa tidak memberikan semua sampel
DNA itu pada rumah sakit. Ia memberikan sebagian sampel itu pada kenalannya yang bisa membantu mengecek DNA
tapi waktunya lebih lama. Semua itu ia lakukan agar Ken bersungguh-sungguh dengan
pelatihannya dan Melisa akan mendapatkan uang yang banyak dari Endy.
Sejujurnya Melisa sangat penasaran dengan hasil tes
DNA Ken dan Mia. Bagaimana bisa Ken melakukan tes DNA dengan wanita lain yang
bukan ibu kandungnya, kecuali kalau Mia adalah ibu kandung Ken. Dugaan yang
cukup berbahaya mengingat kekuasaan ayah Endy yang sangat besar. Kalau sampai
dugaan itu benar, berarti Endy sudah membohongi papanya sendiri.
Melisa bergidik dengan dugaannya sendiri. Ini jelas
adalah rahasia yang sangat besar. Pantas saja Ken mewanti-wanti untuk menjaga
rahasia itu. Melisa juga tidak ingin berakhir di penjara bawah tanah Endy kalau
ia sampai ketahuan membantu Ken.
Saat Melisa sampai di rumah sakit, ia melihat
suasana rumah sakit seperti biasanya. Ada dokter, suster, dan juga pasien yang
sedang beraktifitas. Mata awas Melisa melihat orang yang mengikutinya muncul di
rumah sakit itu. Melisa terpaksa mengurungkan niatnya mengambil hasil tes DNA
dan melewati ruangan itu dengan berpura-pura pergi ke toilet.
Keluar dari toilet, Melisa sudah berganti
penyamaran menjadi petugas kebersihan. Ia melewati orang yang mengikutinya lalu
masuk ke ruangan tempat pengambilan hasil tes DNA. Melisa berpura-pura
membersihkan ruangan itu sambil mengintip dokumen yang ingin ia ambil.
Kebetulan hasil tes DNA milik Ken ada di tumpukan
paling atas di atas meja. Melisa melanjutkan pekerjaannya membersihkan lalu
keluar dari sana. Ia sengaja meninggalkan sapunya sebagai alasan bisa kembali
nanti. Saat Melisa keluar dari ruangan itu, ia berpapasan dengan orang yang
mengikutinya. Orang itu sama sekali tidak menyadari kalau ia berpapasan dengan
Melisa.
itu untuk mengambil sapu sekaligus mengambil hasil tes DNA milik Ken dan Mia. Setelah
memastikan sekeliling cukup sepi, Melisa berpura-pura menabrak meja dan
menjatuhkan dokumen itu ke lantai.
Sedikit panik, Melisa membereskan dokumen yang
berserakan di lantai. Ia mengambil dan meremas hasil tes DNA Ken dan Mia lalu
melemparkannya ke dalam kantung plastik hitam yang dibawanya. Petugas yang
berjaga disana, kembali masuk ke dalam ruangan dan memergoki Melisa sedang
membereskan dokumen yang berserakan di lantai.
“Haduh, kenapa bisa jatuh? Kamu kerjanya gimana?”
keluh dokter itu.
“M—maaf, dokter. Tidak sengaja saya senggol tadi
waktu ngambil sapu,” kata Melisa sedikit keras. Suaranya sudah berubah dari
suara aslinya.
Melisa buru-buru keluar dengan mimik wajah
ketakutan. Pria yang mengikutinya tidak curiga pada wanita itu, sehingga Melisa
bisa keluar dari rumah sakit dengan aman.
Sampai di mansion, Melisa buru-buru masuk ke
kamarnya. Ia membuka kertas hasil tes DNA itu dan mendapati hasilnya negatif. Kening
Melisa berkerut, sepertinya itu bukan hasil yang diinginkan Ken. Entah ini
memang benar atau seseorang sudah mengubah hasilnya. Melisa masih harus
menunggu hasil tes DNA satunya lagi.
**
Ken berlatih sangat giat, ia banyak menonton film
untuk menambah pemahamannya tentang karakter profesi seseorang. Bahkan ia
sering memperhatikan sikap dan perilaku pelayan dan body guard di mansion Endy.
Ken memaksa dirinya untuk bisa lebih dan lebih. Sampai pelatihannya selesai,
setelah tiga bulan, akhirnya Ken harus berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Sebelum itu, Ken mencoba menyamar dihadapan Alan
dan Ginara. Ia menjadi sopir yang biasa menyetir mobil untuk mengantar mereka
berdua makan malam di luar. Alan sama sekali tidak menyadari kalau Ken yang
menyetir mobil saat itu. Alan bahkan tidak sadar saat Ken menyamar menjadi
pelayan yang mengambil piring kotor bekas makanan mereka berdua.
Melisa mengacungkan dua jempolnya pada Alan saat
pria itu melewatinya setelah kembali dari makan malam. Alan yang kebingungan
menghentikan langkahnya lalu bertanya pada Melisa kenapa melakukan hal seperti
itu. Melisa menunjuk ke belakang Alan dan Ginara, Ken tampak membuka
penyamarannya di depan mereka.
Alan memuji kemampuan Alan yang semakin berkembang.
Pelatihannya tentang IT juga maju sangat pesat. Terakhir kali Ken mencoba untuk
membobol web perusahaannya sendiri. Ia hampir berhasil ketika Endy menelponnya
dan mengatakan kalau Ken tidak boleh melakukan hal itu meskipun untuk latihan.
Sesuai rencana, hari itu kebetulan Endy dan Kinanti
sedang berada di negara A. Mereka akan menghadiri undangan pesta salah satu rekan
bisnis mereka. Tentu saja Ken tidak diberitahu sama sekali. Endy tidak
berencana mengenalkan Ken secara langsung pada relasinya.
Melisa yang mengetahui kedatangan Endy dan Kinanti,
memberi tahu Alan agar bersiap-siap. Wanita itu akan menyamar juga dan
mengambil foto saat Ken berada di dekat Endy dan Kinanti dengan penyamaran. Ken
semula menyamar menjadi pelayan di pesta itu.
Melisa yang menyamar menjadi salah satu tamu undangan,
berhasil mengambil foto Ken saat memberikan gelas sampanye kepada Endy dan
Kinanti. Kemudian Ken menyamar menjadi salah satu tamu undangan muda. Ken
sempat bersalaman dengan Endy dan berbincang sebentar dengannya. Melisa
tersenyum melihat Endy tidak menyadari kehadiran Ken.
Yang terakhir ketika Endy dan Kinanti duduk bersama
di salah satu meja, sambil menikmati makanannya, Ken kembali menyamar menjadi
pelayan yang membersihkan piring kotor dari atas meja. Saat itu Ken mendengar
pembicaraan kedua orang tuanya itu.
“Yank, kenapa kamu nggak ngajak Ken kesini? Kita
seharusnya mampir juga ke mansion kan?” tanya Kinanti sambil menikmati makan
malam mereka.
Ken menghentikan gerakannya, menunggu jawaban Endy.
Ia berpura-pura mengatur piring kotor di atas tray agar tidak jatuh. Endy
sempat menyadari kehadiran Ken yang menyamar menjadi pelayan. Ia menoleh
sebentar, tapi Ken sudah berjalan menjauh dari mereka berdua sambil mendorong tray
yang penuh piring kotor.
“Kamu kan udah tahu, anak itu hanya pion untuk
mendapatkan warisan papa. Siapa yang mengira kalau Ken akan menerima semua
warisan itu setelah berumur duapuluh tahun. Sebentar lagi, impian kita akan
jadi kenyataan, sayang.” Endy bicara tanpa sadar kalau ada seseorang yang
mendengar kata-katanya.
“Tapi bagaimana dengan Ken? Apa kita harus
mengatakan yang sebenarnya?” tanya Kinanti lagi.
“Biarkan dia tetap bersama kita, sampai Kenzo siap
menggantikannya di perusahaan. Alex dan Mia sudah mau mengurus Kaori, anggap
saja kita membalasnya dengan menjaga Ken,” ucap Endy santai.
Ken tampak berjalan cepat keluar dari tempat pesta,
seharusnya ia sudah bersiap untuk penyamaran berikutnya. Tapi apa yang ia dengar
tadi membuat emosinya bergejolak. Melisa yang mengejar Ken, mendapati pria itu
bersembunyi di balik pohon sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
“Tuan muda, apa yang kau lakukan disini? Cepatlah
bersiap. Tinggal selangkah lagi, kau akan lulus ujian ini. Ayolah, bangun!”
panggil Melisa ketika Ken merosot ke atas rumput.
“T—tapi, tadi papa... Apa yang sebenarnya terjadi?”
tanya Ken bimbang.