
Kemana Rio dan Kaori pergi setelah mereka misah dengan rombongan? Kaori ingin membeli kaos kaki dan mereka pergi ke salah satu toko branded di mall itu.
Kaori memilih beberapa pasang kaos kaki dengan warna netral yang biasa ia gunakan. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Kaori mengedarkan pandangannya.
Ia melihat Rio berdiri di dekat pajangan kemeja. Ia memilih satu, dan menaruhnya lagi. Kaori menghampiri Rio,
Kaori : "Kamu ngapain?"
Rio : "Aku mau beli kemeja, tapi kayaknya gak ada yang cocok."
Kaori : "Itu yang biru bagus?"
Rio : "Masa? Aku gak pinter milih baju."
Kaori memilih tiga warna kemeja untuk Rio dan memintanya untuk mencoba. Rio mengikuti permintaan Kaori dan mencoba kemeja itu.
Kemeja pertama warna biru muda, Rio menunjukkannya pada Kaori.
Kaori : "Lucu juga. Ambil aja."
Kemeja kedua warna merah maroon, Rio tampak lebih macho memakainya.
Kaori : "Ini terlalu resmi kelihatannya. Cocok untuk ke undangan. Kalau kuliah, gak cocok."
Rio : "Aku memang mau beli untuk kundangan pernikahan asisten kak Arnold dan asisten mamaku."
Kening Kaori mengkerut, ia sedikit bingung dengan banyaknya asisten yang disebutkan Rio.
Kaori : "Jadi asisten berjodoh dengan asisten?"
Rio : "Iya."
Kaori : "Oh, kapan acaranya?"
Kaori bertanya sambil merapikan rambut Rio yang sedikit berantakan. Ia mengaturnya tanpa kesulitan karena Rio selalu memakai pomage.
Kaori : "Nah, kan ganteng. Tambah celana hitam dan sepatu. Keren dech."
Rio tidak mendengarkan kata-kata Kaori, ia sibuk menatap wajah gadis itu. Caranya bicara, berperilaku, dan tersenyum. Rio sangat menyukainya.
Kaori : "Kapan acaranya? Rio? Halo?"
Kaori melambaikan tangan di depan wajah Rio. Rio menangkap tangan Kaori dan menggenggamnya.
Rio : "Temenin aku ya."
Kaori : "Kemana?"
Rio : "Ke undangan itu."
Kaori : "Kamu gak pergi sama kakakmu?"
Rio : "Ya kali cuma pergi sama mereka. Ntar gak ada yang kuajak ngobrol."
Kaori : "Kan ada Riri. Masa Riri gak ikut?"
Rio cemberut, ia berbalik masuk lagi ke ruang ganti dan mengganti bajunya. Rio berjalan keluar kamar ganti dan berjalan keluar toko dengan kesal.
Kaori : "Rio! Tunggu dong."
Kaori belum membayar kaos kaki yang tadi dipilihnya. Ia bergegas ke kasir yang sepi dan membayar belanjaannya.
Ketika ia keluar toko mencari Rio, orangnya uda gak ada dimanapun. Kaori mengedarkan pandangannya ke sekeliling mall, ia tidak menemukan sosok Rio dimanapun.
Kaori mengambil ponselnya, ia ingin menelpon Rio. Tapi saat ia melewati mesin penjual minuman otomatis, seseorang menariknya ke samping mesin itu.
Kaori : "Rio??!! Kamu kemana aja sich? Kenapa marah?"
Rio mendekatkan wajahnya, membuat Kaori memejamkan matanya. Rio hampir mencium gadis itu dan berhenti tepat waktu.
Rio melepaskan tangannya dari bahu Kaori. Beberapa orang lewat di dekat mereka dan berbisik-bisik. Rio menarik tangan Kaori menuju parkiran mall.
Sampai di mobil, Rio membuka pintu untuk Kaori dan menunggu gadis itu masuk kesana. Ia memutari mobilnya dan duduk di belakang kemudi.
Kaori : "Kamu kenapa sich? Marah sama aku? Apa salahku?"
Rio : "Kamu gak peka."
Kaori : "Gak peka? Peka untuk apa?"
Kaori bingung dengan sikap Rio, mereka baik-baik saja tadi. Sekarang dia seperti ngambek dan marah pada Kaori.
Rio : "Aku mau kamu temenin ke undangan itu."
Kaori : "Oh gitu. Aku kan uda nanya kapan undangannya? Belum kamu jawab juga."
Rio : "Hari minggu depan."
Kaori : "Iya, aku temenin. Tapi aku gak diundang, gak masalah tuch?"
Rio : "Riri bilang dia malas datang ke pesta begitu. Tapi aku harus mewakili papaku kesana. Kalau cuma pergi sama kak Arnold dan kak Rara, nanti aku jadi obat nyamuk."
Kaori : "Trus aku mesti pake baju apa? Dress? Kebaya?"
Rio : "Nanti aku tanya Riri bagusnya pake apa ya."
Rio tersenyum menatap Kaori, mereka bersiap pulang tapi Rio belum juga menjalankan mobilnya.
Kaori : "Kenapa?"
Kaori : "Aku lupa. Hehe... Sory..."
Rio menjalankan mobilnya pulang ke rumah karena Kaori akan dijemput keluarganya disana.
π²π²π²π²π²
Hari pernikahan Bianca akhirnya tiba juga. Kedua mempelai sedang bersiap-siap di dalam kamar hotel yang sudah disiapkan untuk mereka. Bianca dirias sedemikian cantiknya oleh MUA profesional yang disewa khusus oleh papa Bianca.
Ilham terlihat tampan dengan baju putih yang dipenuhi ornamen ukiran emas. Ia sudah siap duluan dan diminta turun ke ballroom tempat acara ijab dan resepsi akan berlangsung.
Ilham ditemani kedua orang tuanya duduk di meja yang sudah lengkap dengan saksi dan penghulu. Mereka tinggal menunggu kedatangan mempelai wanita.
Bianca berjalan bersama papanya mendekati meja ijab. Ia duduk di sebelah Ilham yang menatapnya sambil tersenyum.
Penghulu : "Pengantin laki-laki sudah siap?"
Ilham : "Siap, pak."
Ilham menjabat tangan papa Bianca yang menyebutkan satu kalimat dengan tegas di depannya. Ilham menarik nafas,
Ilham : "Saya terima nikahnya Bianca Irawan binti Jonathan Irawan dengan mas kawin perhiasan emas seberat 20 gram dibayar tunai."
Penghulu : "Bagaimana saksi? Sah?"
Saksi : "Sah! Sah!"
Bianca dan Ilham menarik nafas lega. Akhirnya mereka sah menjadi suami istri.
Setelah rentetan upacara berikutnya, mereka siap menerima ucapan selamat dari para undangan. Arnold dan Rara naik ke pelaminan, mereka termasuk dalam tamu VIP dan mendapat kesempatan berfoto duluan.
Tamu undangan perempuan mulai heboh melihat visual Arnold yang lebih tampan dari pengantin pria. Sampai ada permintaan ke MC agar beberapa tamu perempuan bisa berfoto dengan Arnold.
MC : "Tuan Arnold, sepertinya ada beberapa request dari beberapa tamu perempuan disini untuk berfoto bersama. Apa tuan bersedia?"
Arnold hanya menanggapinya dengan mencium tangan Rara dan merangkul pinggang istrinya itu.
MC : "Aa... Sepertinya kita harus meminta ijin pada Nyonya Arnold. Girls jangan coba-coba."
Rara tersenyum pada semua orang. Ia merasa sedikit tidak enak apalagi Arnold semakin lengket padanya, menunjukkan kemesraan mereka pada semua orang.
Rara : "Sayang, bukankah mas terlalu dekat."
Arnold : "Kalau disini tidak ada orang tua, akan kucium kamu."
Rara : "Maass..."
Bianca menyikut Ilham, ia berbisik pada suaminya itu,
Bianca : "Tuch liat. Mas bisa gak kayak gitu."
Ilham : "Mas? Kamu manggil aku mas?"
Bianca : "Emang gak boleh? Berani gak gitu?"
Ilham menarik tangan Bianca dan mencium keningnya. Bianca sedikit terkejut dan Ilham berbisik padanya.
Ilham : "Aku berani melakukan hal lebih dari ini sekarang, tapi apa kau sanggup menahan malunya?"
Bianca : "Maass..."
Bianca merona saat Ilham menggodanya. Kemesraan mereka mendapat godaan dari teman-teman mereka yang sudah datang memberikan restu dan ucapan selamat.
πππππ
Bagaimana dengan calon pasangan kita?
Disudut ruang pesta yang cukup sepi, Rio sedang menatap Kaori yang bersandar di dinding dengan wajah merona. Kaori tampak sangat cantik dengan dress selutut warna merah maroon, serasi dengan Rio yang memakai kemeja maroon.
Rio : "Kamu cantik..."
Kaori : "Boong... Jangan ngomong gitu dech."
Rio : "Lihat aku. Apa aku bohong?"
Kaori menatap mata Rio. Deg! Deg! Kaori bingung kenapa dadanya berdebar kencang.
Rio : "Apa aku bohong?"
Kaori : "Gak..."
Rio menunduk mendekatkan wajahnya pada Kaori yang memalingkan wajahnya dengan cepat. Rio memberanikan dirinya mencium pipi Kaori.
Mata Kaori terbelalak lebar, terkejut mendapat kecupan dari Rio. Ia memejamkan matanya saat Rio memeluk pinggangnya.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²