
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 8
“Sayang, jangan marah. Ini tentang tes DNA. Kalau
memang benar positif, artinya Ken adalah anak kandung kita,” jawab Alex sabar.
Mia menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia
menatap Ken yang sudah tersenyum padanya. Mia malah memukul lengan Alex dengan
keras.
“Aku sudah bilang dia anakku! Kan, mas?! Ken anakku
kan?!” tanya Mia sedikit mengancam.
Alex hanya bisa pasrah mengangguk melihat wajah
seram Mia. Pria paruh baya itu mengelus lengannya, Mia tidak pernah memukulnya
sekeras itu. Melihat suaminya seperti kesakitan, Mia memeluk pria itu dengan
sayang.
“Maaf, mas. Aku terlalu senang karena perasaanku
benar. Setiap melihat dia, hatiku berkata ada yang tidak benar. Dia bukan orang
lain, mas. Ken anak kita,” ucap Mia mulai melo.
Wanita cantik itu menangis dengan keras seperti
anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang ia mau. Alex hanya mengelus punggung
Mia, menenangkannya dengan mata tetap menatap Ken.
“Kalau memang benar begitu, kenapa tes DNA yang
kita lakukan disini hasilnya negatif, mas?” tanya Mia tiba-tiba kembali cerdas.
Mia cepat-cepat mengusap air matanya.
“Apa tante melakukan tes di rumah sakit X?” tanya
Ken.
Alex mengangguk, memang hanya disana tempat tes DNA
yang paling terkenal dan akurat. Ken mengatakan kalau rumah sakit itu milik
Endy. Apapun bisa ia lakukan disana termasuk menukar informasi tentang informasi
kelahiran bayi. Mia menutup mulutnya lagi dengan kedua tangan.
“Tapi, kenapa Endy melakukan itu? Kita tidak pernah
mengusik dia, sejak....” Mia menghentikan ucapannya ketika melihat ekspresi
Alex. Rahasia tentang kelahiran Kaori sudah ditutup rapat-rapat. Kaori adalah
anak Rio dan Gadis, tidak ada yang bisa membuktikan sebaliknya kecuali lewat
tes DNA. Semua surat-surat kelahiran Kaori sudah atas nama Rio sebagai ayah
kandungnya dan Gadis sebagai ibu kandungnya.
“Sejak apa, tante?” tanya Ken penasaran.
Alex menarik nafas panjang, cepat atau lambat Ken
harus tahu kebenaran yang sudah lama Alex sembunyikan dari anak dan cucunya.
Hanya Rara, Riri, Rio, Gadis, Mba Minah, Mba Roh yang tahu kalau Kaori anak kandung
Endy dan Kinanti. Tapi ia ingin melihat bukti tertulis dulu kalau Ken memang
benar adalah anak kandungnya.
“Dengar, Ken. Bukannya om tidak percaya dengan apa
yang kamu katakan. Om juga tidak bisa menyangkal perasaan seorang ibu pada
anaknya. Tapi tidak semua rahasia bisa kamu ketahui sekarang. Kalau benar kamu
adalah anak kandung kami, artinya kamu dan Renata tertukar saat kalian
dilahirkan atau sengaja ditukar.” Alex menatap Mia dan Ken bergantian sebelum
melanjutkan kata-katanya.
“Terlepas dari apapun alasan Endy melakukannya,
menukar kalian berdua, om lebih ingin memastikan kalau hubungan antara kamu dan
Kaori adalah hubungan paman dan keponakan. Kamu ngerti maksud, om?” tanya Alex
sambil menatap mata Ken.
“Apa maksud, om?” tanya Ken pura-pura nggak ngerti.
“Om juga laki-laki, Ken. Om tahu apa arti tatapan
kamu untuk Kaori. Awalnya om kira kamu sukanya sama Renata, tapi makin kesini,
kenapa om merasa kalau kamu juga suka sama Kaori. Apa om salah?” tanya Alex
membuat Ken diam.
Ken menimbang jawabannya, benar juga kalau memang
dirinya adalah anak kandung Alex dan Mia. Artinya Kaori adalah keponakannya.
Artinya Ken tidak boleh memiliki perasaan suka pada Kaori. Untuk sesaat Ken
mengutuk Reynold dalam hatinya. Pria itu lebih beruntung karena Renata bukan
anak kandung Mia dan Alex. Hubungan mereka berdua sah-sah saja.
“Om, boleh nego tipis nggak? Saya baru sekalinya
suka sama cewek, om. Susah kalo dilarang,” kata Ken memelas.
Mia yang geregetan melihat ekspresi wajah Ken,
menepuk lengan Alex lagi. Alex tidak peduli, ia tidak akan membiarkan siapapun
menyakiti Kaori termasuk anak kandungnya sendiri.
“Apa kamu serius suka sama Kaori? Atau kamu hanya
main-main dengan cucuku?” tanya Alex mulai serius.
“Serius, om. Tapi apa boleh om suka sama
keponakannya sendiri,” sahut Ken merasa nyeri di tangannya.
Mia melihat Ken meringis memegangi tangannya. Infus
Ken sudah habis, Mia cepat-cepat mencabut jarum infus lalu menempelkan plester
ke bekas luka pria itu. Mia mengelus kepala Ken dengan sayang. Alex melihat
penampilan Ken dengan pakaian miliknya, ia tersenyum samar, masih ingin
mengerjai Ken.
“Kamu sudah tahu kalau itu nggak boleh. Jadi gimana?”
tanya Alex.
“Yah, om. Saya beneran suka sama Kaori. Nggak boleh
ya?” pinta Ken masih kekeh.
“Kaori itu buta, Ken. Dia bukan gadis normal yang
bisa mandiri. Seseorang harus selalu menjaganya dimanapun dia berada,” kata
Alex.
Ken tersenyum, ia sangat tahu mengenai kelemahan
Kaori yang satu ini. Tapi tetap saja, Ken tidak bisa melepaskan Kaori begitu
saja. Saat membayangkan dirinya bisa bersama dengan Kaori, Ken teringat dengan
mimpinya tadi. Ken menunduk, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia
berusaha menenangkan diri sebelum bicara lagi dengan Alex.
Mia menatap Alex dan Ken bergantian, ia melirik jam
lalu teringat kalau makan malam belum siap. Wanita itu berdiri dari duduknya
lalu melangkah mendekati pintu. Ken dan Alex kompak menatap Mia sampai wanita
itu menghilang di balik pintu. Keduanya saling menatap lagi, kali ini Ken
bicara lebih serius.
“Om, kalau saya bisa lebih kuat dari sekarang ini.
Apa saya boleh bersama Kaori?” tanya Ken.
“Kita lihat sampai sekuat apa kau bisa. Jangan cuma
“Tapi saya perlu waktu, om. Setidaknya dua sampai
tiga tahun lagi. Apa om bisa menjaga Kaori selama itu?” tanya Ken.
“Apa maksud kamu? Om sudah menjaga Kaori sejak dia
masih dalam kandungan ibunya. Dan sampai kapanpun, om akan tetap menjaga Kaori,”
kata Alex tegas.
“Yah, om. Saya kan juga anak kandung, om. Tolong
kasih saya keringanan sedikit. Saya cuma minta Kaori, nggak minta yang lain,”
bujuk Ken ngeyel.
Alex ingin tertawa dalam hati. Biar bagaimanapun
hubungan Ken dan Kaori memang boleh saja terjadi. Tapi apakah Endy akan setuju
dengan hal itu. Ken memang benar, ia harus jadi kuat untuk bisa melindungi
Kaori dari apapun.
Sekali lagi Alex menatap sosok Ken, ia tidak
menyangka kalau bocah gembul yang dulu bertemu dengannya sudah tumbuh besar
menjadi pria tampan dan gagah. Ken juga terlihat sangat bertanggung jawab dan
sopan. Setidaknya Endy dan Kinanti merawat putranya dengan baik. Alex akan
mencoba bersabar untuk menghadapi masalah ini.
Ken mulai bicara tentang warisan dari papa Endy
atau kakek Ken secara hukum. Ia sempat mendengar kalau warisan itu akan jatuh
ke tangannya disaat usianya menginjak duapuluh tahun. Sedangkan kakek Ken masih
hidup dan sehat. Semua hal yang masih belum jelas dan potongan-potongan puzzle
berusaha Ken satukan tapi ia belum tahu alasan yang sebenarnya. Alex juga ikut
berpikir alasan Endy melakukan hal seberani itu.
Saat mereka hampir bicara lagi, Mia memanggil
keduanya untuk ikut makan malam. Alex langsung ngibrit keluar ruang kerja
karena ia belum mandi. Ken juga ingin melakukan hal yang sama, tapi ia bahkan
tidak membawa baju ganti. Mia lagi-lagi memberikan pakaian Alex yang sudah
tidak dipakai suaminya itu dan mengatakan akan mengajak Ken belanja besok.
“Makasih, tante,” ucap Ken tulus. Ia sangat
bersyukur punya orang tua kandung sebaik mereka berdua.
“Bisakah sekali saja. Kamu panggil mama. Hanya
sekali,” pinta Mia.
“Mama...,” panggil Ken.
Mia merentangkan tangannya memeluk Ken dengan erat.
Ken menahan dirinya untuk tidak menangis lagi. Biar bagaimanapun, ia harus
menunjukkan wajahnya di depan anggota keluarga Alex yang lain. Tapi meskipun
tes DNA itu sudah mengatakan kebenarannya, tetap saja Ken harus merahasiakan
identitasnya sampai semuanya jelas.
Ken meminta Mia untuk tidak mengatakan apa-apa
tentang tes DNA dan rahasia kelahiran Ken. Ia tidak ingin Renata merasa
terpukul sama seperti dirinya. Cepat atau lambat kebenaran harus terungkap,
tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Malam itu untuk pertama kalinya, Ken merasakan
kehangatan makan malam bersama keluarga yang lengkap. Ken melihat Alex dan
Kaori ngobrol dengan akrab. Mia yang selalu sibuk memotong-motong makanan untuk
dibagikan. Rio dan Gadis yang sibuk membantu anak-anak mereka. Ada Reymond,
Reyna, Roy, Riani, dan Riana. Reva dan Flora yang selalu tampak mesra meskipun
belum dikaruniai seorang anak. Rava, Diva, dan Varrel yang kebetulan sedang
berkunjung ke rumah Alex. Dan si cantik Renata yang selalu mempesona.
Ken memperhatikan satu persatu wajah setiap orang
yang tampak bahagia. Ia mungkin tidak akan bertemu dengan mereka lagi untuk
tiga tahun ke depan. Ken ingin menyimpan memori wajah bahagia yang ia lihat
dari keluarganya yang sebenarnya. Di dalam hatinya berjanji akan menjaga mereka
semua, apapun yang terjadi.
“Ken, mau tambah lagi? Makanannya masih banyak loh,”
kata Mia sambil meletakkan sepotong daging lagi ke piring Ken.
Renata juga mengambilkan sayuran untuk Ken. “Harusnya
kamu makan sayur lebih banyak. Lihat tuch kulitmu pucat sekali.” Renata
menasihati Ken yang hanya bisa tersenyum.
Dalam hatinya Ken ingin sekali mengambil foto
dirinya saat Renata menuangkan sesendok besar sayur ke piringnya, lalu
mengirimkannya pada Reynold. Setelah mengetahui hubungannya dengan pria itu,
Ken semakin ingin mengerjai Reynold. Ia akan menutupi perasaannya pada Kaori
dengan cara mendekati Renata lagi. Meskipun pernah ditolak, setidaknya Kaori
akan aman dari perhatian Endy.
Ken malah asyik menatap Kaori yang duduk di
depannya. Meskipun buta, Kaori bisa makan sendiri dengan normal. Sesekali Alex
memang membantunya untuk menusuk daging. Tapi selebihnya, Kaori bisa
melakukannya sendiri. Alex yang menyadari tatapan mata Ken, berdehem untuk
menyadarkan pria itu. Ken segera menghabiskan makanan di piringnya.
Usai makan malam, Ken bergabung dengan anggota
keluarga Alex yang duduk di ruang keluarga. Mereka akan menonton film
bersama-sama atau sekedar bermain kartu. Ken duduk disamping Kaori saat Renata
mulai membagikan kartu untuk mereka. Reymond, Reyna, Renata, dan Ken bermain
kartu berempat. Kaori hanya duduk sambil mendengarkan mereka bermain.
“Ken, kamu dapet kartu apa?” tanya Kaori.
“Kalau aku sebutkan, nanti aku kalah, Kaori. Kamu
mau tanggung jawab kalau sampai aku kalah?” tanya Ken ingin menggoda Kaori.
“Kamu yang kalah, kok aku yang harus tanggung jawab
sich. Sini bisikin,” kata Kaori sambil menunjuk telinganya.
Bukannya berbisik di telinga Kaori, Ken malah
menghembuskan nafas panasnya di leher gadis itu. Kaori jadi geli sendiri, lalu tidak
sengaja menepuk tangan Ken sampai kartunya berhamburan jatuh ke atas karpet.
“Yah, aku kalah dech,” keluh Ken pura-pura
frustasi.
Reaksi Kaori tentu saja langsung panik, “Aduh,
maaf, Ken. Ulangi lagi dech mainnya. Aku kan nggak sengaja.”
Renata, Reymond, dan Reyna tentu saja protes karena
Ken sudah kalah. Wajah Ken harus diolesi bedak bayi. Tugas Kaori adalah
mengoleskan bedak ke wajah pemain yang kalah. Kedua tangan Kaori langsung putih
dengan bedak yang menempel disana. Ia meraba-raba ke depan sampai Ken menarik
tangannya agar Kaori bisa menyentuh wajahnya.