Duren Manis

Duren Manis
Lupa pulang


Manta mendudukkan


Linda dengan kasar diatas ranjang. Ia merenggangkan otot punggungnya yang kaku


karena menggendong Linda.


Linda : “Aduh,


sakit ****!”


Manta : “Lo berat


tau.”


Linda : “Sialan


lo.”


Manta : “Apa yang


barusan terjadi? Kenapa lo bisa dilempar keluar kamar gitu?”


Linda : “Gue mau


jebak malah kejebak. Mia ternyata pinter juga.”


Manta : “Namanya


Mia? Itu baru beneran cewek hot.”


Linda : “Lo suka


dia?”


Manta : “Bikin


penasaran aja. Kapan-kapan aku mau main sama dia.”


Linda : “Tunggu aja


yang berikutnya. Gue harus dapetin Alex.”


Manta : “Lo kenapa


jadi terobsesi sama laki orang sich? Kan ada yang lain. Gue misalnya.”


Manta menatap tubuh


Linda penuh minat, ia sudah menahannya sejak tadi.


Linda : “Lo gila


apa! Cowok kayak Alex tuch langka, punya tanggung jawab dan gak playboy kayak


lo.”


Manta : “Gue udah


gak tahan, gue uda jauh-jauh kesini. Kita main yuk.”


Linda : “Stress lo


ya. Gak mau!”


Manta bahkan gak


mendengar teriakan Linda, ia langsung menggarap teman bejatnya itu tanpa ampun.


*****


Di kamar 307,


suasana hening saat Mia menutup pintu tadi. Ia mendekati Alex dan melihat


keadaannya.


Mia : “Mas? Mas


Alex bangun.”


Alex : “Hmm...


Mia...”


Mia : “Ini aku,


mas. Mas gak pa-pa?”


Alex : “Panas,


sayang...”


Tangan Alex memeluk


Mia, mengangkat gaunnya dan menyusupkan tangannya masuk ke dalam gaun Mia.


Mia : “Ma... Mas


tunggu...”


Alex sudah


terpengaruh dengan obat perangsang yang diminumnya, ia melucuti pakaian Mia dan


mulai menyalurkan hasratnya pada istrinya itu. Ponsel keduanya tergeletak di


atas sofa dan bergantinya berdengung.


*****


Di rumah Alex, Rara


terus mencoba menghubungi Alex dan Mia yang tidak pulang-pulang. Padahal sudah


jam 10 lewat, Bianca dan Ilham sudah ingin berpamitan sebenarnya tapi memilih


tetap di sana, menunggu Alex dan Mia pulang.


Bianca : “Gimana?


Diangkat gak?”


Rara : “Nggak loh.


Mama sama papa gak angkat telpon. Apa terjadi sesuatu sama mereka?”


Bianca : “Mas, coba


telpon X suruh ngecek signal HP mereka dimana ya.”


Ilham meraih ponsel


Bianca dan menelpon X sambil berjalan keluar. Pengawal keluarga Bianca itu


segera melacak signal ponsel Mia dan Alex.


Rara : “Kalo bisa


sekalian cek mereka lagi ngapain. Perasaanku kok gak enak ya.”


Arnold memegang


tangan Rara, menenangkannya. Mereka menoleh menatap Ilham yang masuk kembali.


Ilham : “Mereka


masih di hotel X, kamar 307. Dan sepertinya lagi itu.”


Bianca : “Itu apa?


X bilang apa?”


Ilham : “X bilang


gerakan mereka seperti orang yang lagi bercinta.”


Bianca : “Oh,


astaga. Sempat-sempatnya ya. Padahal kita lagi nungguin mereka.”


Rara : “Tumben mama


begini, kayaknya ada yang aneh. Coba tanya lagi, sebelumnya ada insiden gak


disana?”


Ilham mengetik chat


kepada X dengan cepat,


Bianca : “Kenapa


sich mas selalu pakai HP-ku kalau menghubungi X?”


Ilham : “Males ach,


ntar dia chat aneh-aneh.”


Bianca : “Emangnya


pernah X chat mas?”


Ilham : “Gak sich.


Palingan nelpon kalo ada perlu. Aku gak mau lihat profilnya, serem.”


Bianca : “Profil


yang mana? Gelap gitu.”


Ilham : “Justru


karena gelap gitu. Dia itu manusia apa bukan sich?”


Bianca : “Setahuku


masih manusia sich, kalo ditonjok dia berdarah kok. Tapi ya itu kayak gak punya


ekspresi.”


Rara dan Arnold


saling pandang mendengar pembicaraan Ilham dan Bianca. Mereka tahu kalau Bianca


berasal dari keluarga terpandang dan sedikit misterius. Apa keluarga Bianca


termasuk keluarga mafia ya?


Tring! Suara


Linda dan melemparnya keluar dari kamar. Jelas sekali itu Mia dengan gaun yang


sama dipakainya berangkat tadi.


Bianca : “Wih, Mia


bisa galak gitu ya. Untung dulu aku gak dijambak.”


Ilham : “Emang


kenapa?”


Bianca : “Ehee...


aku belum cerita ya. Masa mas gak tau kalo dulu aku suka sama Alex.”


Ilham : “Oh ya?”


Bianca : “Tapi


beneran gak sampai parah banget kok. Lagian waktu tahu Alex udah nikah lagi,


aku mundur teratur kok.”


Ilham : “Hmm...”


Rara juga ternganga


melihat mamanya galak sekali. Mana wanita yang diseretnya itu hampir bugil


lagi.


Rara : “Tuch, kan.


Pasti ada apa-apa dech. Fillingku gak salah, mas.”


Arnold : “Iya, Ra.


Kalau gitu biarin aja mama sama papa di hotel dulu. Kita aja yang jagain si


kembar.


Bianca : “Aku bantu


juga ya. Itung-itung latihan punya baby ntar.”


Ilham hanya


tersenyum menanggapi kata-kata Bianca. Gimana mau hamil kalo mereka berdua


sibuk terus.


Rara : “Beneran gak


ngerepotin kakak nich?”


Bianca : “Nggak. Paling


cuma ganti popok, kasi susu. Stok ASI-nya masih banyak kan?”


Rara : “Iya, kak.”


Arnold : “Kita bisa


tidur disini rame-rame. Jadi bisa gantian ngurus baby twin. Boksnya bisa kita


bawa kesini juga.”


Ilham dan Arnold


mengambil boks baby twin dan meletakkannya di tengah ruang keluarga yang sudah


disulap jadi tempat tidur massal. Rara mengambil foto selfie dirinya bersama


semua orang yang ada di ruang keluarga dan mengirimkannya pada Mia.


Rara : “Mah, tenang


aja, semua yang disini masih jagain baby twin.” Begitu yang diketik Rara di


foto itu.


*****


Kembali lagi ke


hotel kamar 307, Mia mendorong tubuh Alex yang barusan menimpa dirinya. Mia


sedikit memegangi kepalanya, sepertinya ia minum sedikit lebih banyak dari yang


seharusnya.


Mia : “Aduch, jam


berapa ini?”


Mia ingin mengambil


ponselnya, ia mengedarkan pandangan dan melihat ponselnya tergeletak di atas


sofa. Mia mencoba bangkit tapi ia terbaring lagi. Seluruh tubuhnya terlalu


sakit untuk digerakkan.


Alex benar-benar


melakukannya dengan kasar dan lama. Obat perangsang yang diminumnya membuat


Alex menggila dan melampiaskan semuanya pada Mia.


Mia meraba kepala


Alex yang tertidur lelap, ditangan Alex masih ada jam tangannya dan Mia melihat


sudah jam 12 malam.


Mia : “Oh, sudah


larut sekali. Gimana kabar baby twin?”


Mia memaksakan


dirinya untuk bangun dan berjalan ke sofa. Tertatih-tatih menahan sakit dan


perih, Mia mengambil ponselnya.


Mia : “Kok sakit


banget ya?”


Saat kembali ke


ranjang, Mia melihat bercak darah di seprai.


Mia : “Masa sich


aku mens? Perasaan baru dua minggu yang lalu selesai.”


Mia bergerak


sedikit dan merasakan perih di bagian bawah tubuhnya.


Mia : “Aduch,


sakit. Sss...”


Mia mengambil tas


tangannya dan mengeluarkan tisu basah dari sana. Ia meraba bawah tubuhnya


dengan tisu dan melihat bercak darah di tisu yang dipegangnya.


Mia : “Jahitanku


robek! Gimana nich?!”


Mia melirik Alex


yang tertidur lelap, ia memukul-mukul lengan dan punggung Alex dengan kesal. Ia


juga mencubiti lengan Alex saking kesalnya.


Mia : “Gara-gara


kamu, maass!!”


Yang dianiaya tetap


lelap tertidur sampai lupa pulang ke rumah. Mia membuka ponselnya yang


berkedip-kedip setelah puas memukul Alex. Ia berbaring perlahan agar tidak


kesakitan lagi. Dilihatnya beberapa panggilan tak terjawab dari Rara dan chat


masuk darinya.


Mia tersenyum


melihat sudah banyak orang yang menjaga baby twin. Ia benar-benar tidak bisa


bergerak sekarang, tubuhnya juga mulai menggigil kedinginan. Mia teringat saat


malam pertamanya dengan Alex. Kini dia harus merasakan kesakitan yang sama


seperti waktu itu.


Sekali lagi Mia


tersenyum, banyak hal yang ia syukuri malam ini. Mereka bisa selamat dari


jebakan Linda dan baby twin punya pengasuh dadakan. Sekali lagi Mia memukul


punggung Alex sebelum akhirnya tertidur lelap di sisinya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Neh, kan. Gak ketebak alur ceritanya. Hehe, author


sengaja bikin cerita yang gak bisa ketebak endingnya. Konflik boleh sama, tapi


endingnya terserah author dong.


Klik profil author buat lihat karya author yang


lainnya ya.