
DM2 – Kaori, putriku
“Tolong, jangan pergi, Kinanti. Aku
mohon.”pinta Gadis. “Bawa juga Kaori kalau kamu mau pergi. Aku akan membujuk
semua orang untuk tidak menaruh dendam padamu dan Endy. Tolong jangan
tinggalkan Kaori disini.”pinta Gadis.
Kinanti berlutut di depan Gadis, “Aku mohon
biarkan aku juga bahagia, Gadis. Seperti kau bahagia memiliki Rio dan Kaori.
Aku juga berhak bahagia, kan?”tanya Kinanti.
“Tapi Kaori... Kau tega sekali, Kinanti.”
“Dia sudah memiliki ibu yang terbaik di
dunia. Aku akan memiliki anak lain bersama Endy. Tolong kau jaga dia seperti
anak kandungmu sendiri. Aku yakin suatu saat nanti kamu juga bisa menggendong
bayimu sendiri.”
Gadis bersimpuh di depan Kinanti, keduanya
menangis bersama mendekap Kaori yang masih menangis kencang. Gadis tidak
menahan Kinanti lagi, ia membiarkan wanita itu berjalan menuruni tangga
menyeret kopernya.
Tinggallah Gadis bersama Kaori yang mulai
tenang. Gadis bangkit berdiri, ia mengambil botol susu Kaori, dengan air mata
yang terus mengalir, ia menyusui baby Kaori sampai tenang kembali.
Pintu kamar terbuka lagi, Mia masuk bersama
Alex.
“Ada apa, Gadis? Kenapa Kinanti pergi bawa
koper?”tanya Mia. “Dia bahkan gak ngomong apa-apa, pergi gitu aja sambil
nangis. Benar-benar gak sopan.”
“Dia pergi, mah. Dia pergi untuk selamanya,
katanya sudah gak kuat begini terus. Gadis harus apa, mah? Dia ninggalin Kaori
gitu aja. Padahal Kaori anak...”Gadis terdiam, hampir keceplosan mengatakan
yang sebenarnya.
“Padahal Kaori anak kandung Endy, maksudmu?”tanya
Mia.
Gadis menatap Mia tak percaya mertuanya itu
sudah tahu apa yang selama ini ia sembunyikan dari mereka semua.
“Mama... tau darimana?”tanya Gadis
terbata-bata.
“Papa sama mama yang cari tau lewat bantuan
semua orang. Mama juga tahu Endy ngancem kamu lewat Reynold. Sekarang kamu gak
perlu takut lagi, Arnold sudah siapkan body guard khusus untuk menjaga Reynold.
Dia sudah aman, Gadis.”
“Aku gak bisa biarin Reynold celaka, mah.
Aku bisa mati kalau anakku sampai terluka gara-gara orang itu.”
“Oh, sayang.”Mia memeluk Gadis sejenak.”Kamu
memang wanita yang sangat baik, Gadis. Ayo, kita lihat Rio.”
Mereka pindah ke kamar Rio, posisi pria itu
masih saja sama. Tapi Gadis melihat badan Rio sepertinya agak miring. “Mah,
kayaknya Rio mau minum.”
Mia mengambil baby Kaori dalam gendongan
Gadis dan menidurkan bayi mungil itu disamping Rio. Air mata juga tampak
mengalir dari mata Rio. Entah ia dengar atau tidak tentang kepergian Kinanti. Gadis
mengambil gelas berisi sedotan, ia mendekatkan sedotan itu ke mulut Rio yang
langsung menyedotnya sampai habis. Gadis mengusap wajah Rio yang basah kena air
matanya.
“Aku yang salah, mah. Kalo saja aku gak
egois minta Rio nikah lagi sama Kinanti, mungkin kejadian kayak gini gak akan
terjadi.”sesal Gadis. “Aku hanya ingin seorang bayi, tapi lihat apa yang
kudapatkan, mah. Dua bayi yang harus kujaga. Bukan gini mauku, mah.”
“Gadis! Tenangkan dirimu. Kamu harus kuat.
Rio sama Kaori membutuhkan dukunganmu sekarang. Mama yakin, cepat atau lambat
Rio akan kembali seperti dulu.”
Gadis memeluk Mia, menangis dengan sangat
keras dipelukan mertuanya itu. Sungguh hatinya benar-benar sakit, hancur
melihat keadaan Rio dan juga Kaori yang ditinggalkan Kinanti begitu saja.
“Dengar Gadis, sekarang bukan hanya Rio
yang harus kamu jaga tapi juga Kaori. Apa kamu sanggup menjaga mereka berdua?”tanya
Alex. “Papa bisa minta mb Roh untuk membantumu menjaga Kaori.”
Gadis mengangguk, “Iya, pah. Tapi kalo
malem, Gadis masih sanggup jagain sendiri kok.”
Pergilah ke salon sekali-kali. Kamu perlu kesana seperti mamamu.”kata Alex
melirik Mia.
“Papa nich, salonnya kan bisa dipanggil
kesini.”saut Mia mencubit lengan Alex.
Mia dan Alex menatap Gadis bersamaan, “Kenapa
mah, pah?”tanya Gadis bingung.
“Selamat ya, sayang. Sekarang Kaori resmi jadi putrimu.”kata Mia sambil tersenyum
lebar.
“Kita bisa urus akta kelahirannya, kamu
jadi ibunya dan Rio ayahnya.”
“Kaori, putriku?”
“Iya, sayang. Mantuku yang cantik. Kita
harus rayakan ini, ayo undang semua orang. Kita barberque seperti di rumah Elo.”ucap
Mia.
“Mama semangat sekali.”kata Gadis.
“Apalagi yang kita syukuri, setelah
berbulan-bulan dibayangi wanita itu. Sekarang dia sudah pergi dengan
sendirinya. Mama akan pastikan dia tidak akan menemui kita lagi. Dan kamu...Gadis,
kalau sampai dia mencoba menemuimu, kamu harus bilang sama mama. Ngerti.”
“Iya, mah. Aku janji gak ada rahasia lagi.”ucap
Gadis.
Mia mengirimkan chat di grup, mengundang semua
orang datang saat weekend. Mereka harus merayakan kebersamaan mereka lagi, kali
ini dengan baby Kaori.
Saat weekend tiba, rumah Alex sudah penuh
dengan kedatangan semua orang yang diundang Mia dan Alex. Anak-anak asyik
bermain di ruang keluarga yang sudah disulap jadi ruang bermain. Para wanita
sibuk di dapur kecuali Gadis yang menjaga Rio dan Kaori. Rio sudah dipindahkan ke
lantai bawah, ia di dudukkan di sebelah kamar Mia, boks bayi Kaori juga diletakkan
di sampingnya.
Para pria sibuk memanggang daging di
halaman depan. Mereka ngobrol dengan suara keras dan tertawa kencang.
Rio yang melihat asap mengepul dari
panggangan, mencodongkan tubuhnya ke depan. Ia mencoba mengulurkan tangannya, “Rio,
kamu mau apa?”tanya Gadis. Ia melihat Rio bergerak sendiri tanpa dibantu. Gadis
melihat arah pandangan Rio, “Kamu mau keluar?”tanya Gadis lagi.
Gadis membantu Rio berdiri, ia berusaha
menahan tubuh Rio sambil melingkarkan lengan Rio ke lehernya. Gadis “Ayo, jalan
pelan-pelan. Kamu pasti bisa, Rio.”ucap Gadis memberi semangat pada Rio.
Pelan tapi pasti, Rio mulai melangkahkan
kakinya. Meskipun terseok-seok karena sudah berbulan-bulan ia tidak berjalan,
Rio berusaha melangkah sampai ke pintu keluar. Alex yang melihat Rio sudah bisa
berjalan lagi, memeluk putranya yang terlihat kurus.
“Akhirnya kamu bisa jalan lagi, Rio. Papa harap
kamu segera sembuh.”
Elo, Arnold, dan Jodi tersenyum menatap Alex
memeluk Rio. Alex membantu Rio duduk di teras dekat pintu keluar. Mia, Rara,
Riri, dan Katty ikut bergabung dengan mereka. Mia terlihat gembira melihat Rio
akhirnya bisa berjalan meskipun masih dibantu.
“Banyak hal yang kita rayakan hari ini.
Kaori akan jadi anak angkat Gadis dan Rio, meskipun statusnya bukan anak
kandung Rio.”Tidak ada yang terkejut mendengar kata-kata Alex. Gadis menunduk
malu melihat reaksi semua orang yang hadir disana. “Kita juga lihat, Rio sudah
bisa berjalan sendiri. Dan yang paling penting Kinanti sudah pergi dari sini
dengan sukarela.”
Gadis masih menunduk merasa tidak enak
dengan semua orang disana, “Gadis...”panggil Alex. Gadis menegakkan kepalanya,
menatap Alex. “Papa tahu kamu sangat sayang dengan keluarga kita. Tapi kamu
harus ingat ini, kita sudah jadi keluarga. Dan keluarga kita sangat kuat.”
Gadis mengedarkan pandangannya ke semua
orang. Elo dan Riri, Rara dan Arnold, Jodi dan Katty, terakhir Mia dan Alex.
Mata Gadis berkaca-kaca, ia sudah memendam semua rahasia itu sendirian hanya
karena takut dengan ancaman Endy.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.