Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 3


Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 3


Ken mengecup punggung tangan Kaori, tercium aroma


lavender dari kulit lembut itu. Kaori mencoba menarik tangannya, ia tidak


terbiasa dengan perlakuan seperti itu.


“Ken, jangan gini. Meskipun aku lebih tua dari


kamu, tapi umur kita kan nggak jauh beda sampai kamu harus cium tangan sama


aku,” kata Kaori polos.


Ken terkikik geli mendengar kata-kata Kaori, gadis


itu benar-benar sudah memporak-porandakan hati Ken sampai hampir gila setiap


bertemu dengan Kaori. “Bisa gitu ya, kamu. Bikin perasaanku kacau gini,” kata


Ken spontan.


Kaori terbelalak, senyuman manisnya tiba-tiba surut


berganti ekspresi kuatir. “Oh, aku salah ya. Maaf, Ken. Aku salah ngomong ya?


Harusnya aku nggak bilang gitu. Kamu marah ya?” tanya Kaori dengan ekspresi


yang membuat Ken menelan salivanya.


Sungguh banyak kejutan yang ia dapatkan hari itu.


Sejak pagi sudah dihadapkan dengan misi menyelamatkan Kaori palsu. Sekarang


ketika ia bertemu dengan aslinya, banyak sekali kejutan yang ia dapatkan. Dan


Ken menyukai apa yang ia alami sekarang bersama Kaori.


Kaori terdiam saat Ken mengelus pipinya. Gadis itu


memalingkan wajahnya dengan cepat. “Maaf, Kaori. Aku kira ada bekas makanan di


pipimu.” Ken menyadari keengganan Kaori.


“Lain kali bilang aja ya, Ken. Omaku bilang


sebaiknya aku menghindari kontak fisik dengan orang lain. Maaf kalau kamu


tersinggung. Soalnya aku kan buta, nggak bisa lihat kalau ada orang yang mau


pegang-pegang aku. Opa juga bilang gitu agar aku waspada,” kata Kaori sambil


tersenyum.


Ken meminta maaf sekali lagi agar Kaori tidak marah


padanya, tapi Kaori memaklumi Ken karena mereka baru akrab. Kaori mengeluh


masih lapar dengan tangan mengelus perutnya. Ia ingin mencairkan suasana yang


sedikit canggung karena kata-katanya tadi.


Saat Ken hampir menurunkan Kaori dari atas balkon,


ia melihat Alex dan Mia berjalan mendekati mereka. “Kaori, opa dan oma-mu ada


disini. Aku ambilkan makanan lagi ya. Kamu disini saja,” kata Ken.


“Ken, makasih sudah menemani Kaori. Kamu mau


kemana?” tanya Mia sambil menyikut lengan Alex agar diam saja.


“Saya mau ambil makanan lagi untuk Kaori, tante.


Sebentar saya kembali,” kata Ken cepat sambil mengangguk pada Alex.


Alex dan Mia mengikuti langkah Ken yang menjauh


dari mereka. Alex segera mendekati Kaori lalu melihat cucu kesayangannya itu


lecet atau tidak.


“Kaori, kamu diapain sama dia?” tanya Alex sambil


membolak-balik tangan Kaori.


“Opa, Kaori nggak diapa-apain. Ken cuma jagain aja.


Opa kenapa nanya gitu?” tanya Kaori mulai pusing karena ulah Alex.


Mia menghentikan suaminya tepat waktu karena Ken


sudah kembali mendekati mereka. Ditangannya ada sepiring makanan lagi dan


segelas air minum.


“Kaori, kamu mau canape lagi? Ini ada canape ayam. Atau


mini pizza?” tanya Ken tanpa canggung pada Alex dan Mia.


“Mau canape-nya, Ken. Kamu juga makan dong,” pinta


Kaori.


Mia menarik lengan Alex agar menjauh dari mereka


berdua. Ken berdiri di depan Kaori lagi, menyodorkan canape ke depan bibir


Kaori yang langsung membuka mulutnya. Alex mendengus kesal, seharusnya dia yang


menyuapi Kaori makan. Untuk mengalihkan perhatian Alex, Mia menyudutkannya ke


dinding lalu mencium pria posesif itu dengan lembut.


Tanpa disadari Alex dan Mia, Reynold dan Renata ada


di dekat mereka. Keduanya merona melihat Mia dan Alex berciuman sedikit panas.


Reynold terus menatap Renata yang fokus melihat papa dan mamanya, sampai gadis


itu memalingkan wajahnya karena malu. Renata menyusupkan wajahnya ke dada


Reynold.


“Kak Rey, gitu ya namanya ciuman?” tanya Renata


sambil mendongakkan kepalanya.


Sejujurnya Reynold hampir ambyar karena melihat


adegan ciuman Alex dan Mia, tapi ia berusaha mati-matian menahan dirinya agar tidak


menyosor Renata. Gadis itu mengintip orangtuanya sekali lagi, ia makin malu


melihat tangan Alex mulai kemana-mana.


“Kak, itu tangan papa kenapa nggak bisa diem ya?”


tanya Renata lagi sambil menatap wajah tampan Reynold.


Pria dihadapannya melirik opa dan omanya yang sibuk


sendiri. Tangan Reynold gemetar seiring detak jantungnya yang bergemuruh. Keringat


dingin mulai membasahi tangannya, mata Reynold mulai tidak fokus antara menatap


Renata atau melihat Alex dan Mia.


Renata yang masih menunggu jawaban Reynold,


tersentak saat pria itu menariknya ke tempat yang lebih gelap karena tertutup bayangan


bangunan mewah yang menjulang tinggi di samping mereka. Reynold mengukung tubuh


Renata dengan kedua tangannya. Gadis itu masih menatap Reynold yang tampak


berkeringat.


“Kak Rey kenapa keringetan gini? Udaranya dingin


loh. Kakak nggak apa-apa kan? Demam ya?” tanya Renata kuatir.


Reynold memejamkan matanya saat tangan lembut


Renata menyentuh kening dan dagunya. Pria itu menahan tangan Renata agar tetap


diam di dagunya lebih lama. Setidaknya kalau tidak bisa mencium Renata, Reynold


bisa mencium tangan gadis itu.


Renata menatap Reynold yang sudah mengecup telapak


tangannya. Pria itu juga memeluk pinggangnya dengan erat sampai mereka berdua


menempel sangat dekat.


“Kak Rey,” panggil Renata yang bingung dengan


tingkah Reynold.


itu mereka berada di sebuah restauran yang pengunjung wanitanya menatap Reynold


seperti kucing kelaparan melihat ikan asin. Renata tentu saja tidak merasakan


apa-apa saat itu. Tapi entah kenapa, saat ini Renata merasa kalau tindakan Reynold


sedikit berlebihan.


“Kak Rey!” teriak Renata sedikit kencang di telinga


Reynold.


Pria itu belingsatan, menyadarkan dirinya yang


hampir khilaf memakan Renata. Teriakan Renata cukup menarik perhatian Alex dan


Mia yang mulai pendinginan. Reynold memasang wajah jahil sambil menatap Renata.


Ia menarik-narik dress yang dipakai Renata, mempermainkan gadis itu seperti


boneka barbie.


“Iihh!! Kak Rey! Mulai deh jailnya!” jerit Renata


sambil memukul lengan ponakannya itu.


Reynold tertawa cengengesan membuat Alex dan Mia


tersenyum melihat keduanya. Reynold berjalan mendekati Mia, melarikan diri dari


kejaran Renata yang masih ingin memukulnya. Keseruan mereka menarik perhatian


Kaori yang sudah selesai makan.


“Ken, apa yang terjadi? Kenapa aunty Renata


berteriak seperti itu?” tanya Kaori.


“Sepertinya kak Reynold mengerjai Renata, Kaori.


Kamu mau turun? Pegangan sama aku ya,” kata Ken sambil memegang pinggang Kaori.


Sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Ken, Kaori


perlahan diturunkan dari atas balkon. Saat kedua kakinya sudah menginjak lantai


lagi, Kaori belum melepaskan tangannya dari pundak Ken.


“Oh, aku suka lagu ini. Apa kamu bisa dansa, Ken?


Biasanya aku dansa dengan opa,” pinta Kaori penuh harap.


“Iya, aku bisa dansa, Kaori. Ayo kita mulai,” kata


Ken.


Keduanya bergerak diiringi musik dari dalam ruangan


pesta. Pintu ke arah balkon sudah dibuka lebar untuk para tamu undangan yang


ingin melihat pemandangan malam dari balkon. Ken bergerak mengikuti Kaori yang


tampak lincah berdansa meskipun tidak bisa melihat. Sesekali Kaori berputar


dengan anggun. Tatapan Ken tidak sekalipun berpaling dari wajah cantik Kaori.


Melihat cucu kesayangannya berdansa dengan pria


lain, Alex mulai merasa kesal lagi. Ia mengajak Renata berdansa sambil


mendekati Ken dan Kaori. Reynold tidak punya pilihan dan ikut berdansa dengan


Mia. Sekali putaran, Alex meminta bertukar pasangan dansa dengan Ken. Renata


berpindah pasangan, melanjutkan berdansa dengan Ken. Sesekali mereka terkikik


geli entah karena apa.


Jangan tanya bagaimana cemburunya Reynold melihat


Renata tertawa bersama Ken. Pria itu cepat-cepat meminta bertukar pasangan


sampai akhirnya Ken berdansa dengan Mia.


“Tante, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu


ya,” kata Ken sopan.


Mia tersenyum menatap Ken. Jauh di dalam lubuk


hatinya mulai merasa tidak tenang. Setiap kali bertemu dengan Ken, seolah ada


sesuatu yang belum selesai ia kerjakan.


“Baik, Ken. Kamu sudah lebih tinggi sekarang ya.


Tambah ganteng juga,” ucap Mia.


“Bagaimana hasil test DNA-nya, tante?” tanya Ken


yang masih menunggu tentang hasil test DNA yang dulu pernah dikatakan Mia.


“Hasilnya negatif, Ken. Tapi entah kenapa perasaan


tante mengatakan sebaliknya,” kata Mia.


Ken menatap wajah Mia yang keibuan banget. Ia


selalu merasa nyaman dekat dengan wanita itu. Mia selalu memancarkan kasih


sayang yang selalu Ken dambakan dalam satu keluarga. Ken merindukan


keluarganya, merindukan papa, mama dan juga adiknya, Kenzo. Tapi sudah


bertahun-tahun, mereka tidak pernah datang menjenguknya. Ken juga tidak


diijinkan pulang sebelum menyelesaikan sekolah dan pelatihannya.


“Tante, boleh nggak Ken meluk tante?” tanya Ken


dengan mata berkaca-kaca.


Mia langsung memeluk Ken dengan hangat. Pria itu


menyusupkan kepalanya ke cerukan leher Mia. Hatinya menghangat dan senyum


mengembang di bibirnya.


“Mah, aku kangen mama,” bisik Ken tapi bisa didengar


Mia dengan jelas.


Mia jadi emosional mendengar bisikan Ken. Ia ikut


menangis terharu merasakan kesedihan Ken. Alex yang melihat Mia memeluk Ken,


ingin memisahkan keduanya. Tapi melihat Mia dan Ken sama-sama menangis,


membuatnya ikut terharu juga.


“Ken kangen sama mama ya?” tanya Mia dalam isak


tangis keduanya. Kepala Ken terangguk, pria itu semakin kuat memeluk Mia sampai


keduanya hampir terjatuh ke lantai. Reynold dan Renata menahan tubuh keduanya


sebelum Ken melepaskan pelukannya.


Ken menatap Mia lagi sebelum akhirnya tersenyum dan


berjalan mundur beberapa langkah. Diusapnya matanya yang basah dengan punggung


jas-nya. Ken tersenyum juga pada Alex lalu membungkuk pada Mia dan Alex yang


sudah menenangkan istrinya itu. Sedetik kemudian, Ken berjalan cepat menuju


ruangan pesta lalu pergi dari sana tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Alan.


“Ken?!” panggil Mia, tapi tetap melangkah tanpa


menoleh lagi.


“Kenapa kalian menangis? Mia, ada apa?” tanya Alex


bingung. Renata, Reynold, dan Kaori juga bingung dengan apa yang terjadi. Tapi


Mia tidak bisa mengatakan apa-apa di depan anak dan cucunya.


Ken yang berada di dalam mobil, menatap keluar


jendela setelah mobil yang membawanya pergi dari sana. Ia menunduk menatap tangannya


yang terus terkepal setelah perpisahan dengan Mia. Ketika Ken mengendurkan


kepalannya, ia melihat beberapa lembar rambut panjang berwarna hitam di dalam


genggaman tangannya itu.