Duren Manis

Duren Manis
Mengunjungi kantor


Mengunjungi kantor


“Kecuali apa?”tanya Rio penasaran.


“Kecuali dia alergi sama bunga.”kata Alex asal.


Rio memikirkan akan mengirim bunga mawar untuk


Gadis ke kantor. Alex mengatakan lagi kalau wanita suka diajak ke tempat yang


membuatnya nyaman.


“Gak harus keluar rumah, mungkin candle light


dinner di halaman sambil melihat bintang bisa jadi alternatif bagus.”kata Alex


lagi.


Rio manggut-manggut, emang tepat kalau ia minta


saran dari papanya tentang hal yang beginian. Papanya paling bisa kalau


menyangkut wanita. Mereka berdua menoleh saat Gadis dan Mia kembali ke ruang


keluarga.


Gadis sudah berganti pakaian dengan baju tidur yang


membuat Rio tidak berhenti menatapnya. Mia memberi kode pada Alex agar


meninggalkan mereka berdua saja. Rara dan mb Minah sudah masuk ke kamar mereka


masing-masing.


“Ach, papa sudah ngantuk. Kalian cepat tidur


ya.”kata Alex sambil berdiri.


“Kalau mau tidur disini, ini selimutnya ya. Jangan


sampai masuk angin.”kata Mia sambil menunjuk dua tumpuk selimut diatas bantal.


“Iya, mah. Makasih.”kata Gadis.


Gadis duduk dengan gugup di depan Rio yang masih


menatapnya. Ia jadi salah tingkah sendiri dan berusaha menutupi sebagian


pahanya yang terlihat jelas.


“Kamu cantik.”


Dua kata meluncur dari mulut Rio, membuat Gadis


merona.


“Rio, cepat cerita, gimana bisa sampai kamu luka


gini?”tanya Gadis.


Rio meminta Gadis mengambil selimut dan berbaring


dengan nyaman diatas karpet tebal. Gadis membuka selimut itu dan menyelimuti


Rio dan dirinya. Mereka berbaring berdampingan dan ada bantal yang diletakkan


Gadis diantara mereka.


Rio mulai bercerita tentang reaksi Katty, ia ngebut


bersama ojol sampai kecelakaan, dan ujung-ujungnya ke rumah sakit juga. Selesai


Rio cerita, Gadis sudah tertidur lelap. Rio mengelus kepala Gadis dan mencium


keningnya.


“Sekarang aku mulai tidak bisa mengendalikan


diriku kalau dekat denganmu. Tapi kenapa aku belum bisa mengatakan aku


mencintaimu. Aku dengan mudahnya mengatakan pada Kaori kalau aku mencintainya.


Apa karena aku takut? Sama seperti papa yang kehilangan cinta pertamanya. Apa


ini takdirku?”


*****


Lili baru saja masuk ke gedung kampus untuk


menjemput Riri yang baru selesai kuliah. Seperti biasa Riri menunggu Lili di


kantin kampus. Beberapa senior yang sedang makan disana, memperhatikan Riri


yang duduk sendirian. Teman-teman Riri sedang mengikuti kelas lainnya.


Dirinya termasuk dalam mahasiswa jenius yang bisa


menyelesaikan beberapa mata kuliah sekaligus dalam waktu kurang dari setahun.


Riri menyalip teman-teman satu angkatannya dan sedang bersiap untuk


penelitiannya.


Saat Lili tiba di kantin, ia melihat Riri sedang


bicara dengan beberapa seniornya. Salah satu dari mereka mendekati Riri dan


hampir menyentuh tangannya. Lili segera berlari menghampiri Riri dan menepis


tangan senior itu.


”Anggap saja percakapan mereka ini dalam bahasa


asing ya.”


“Tolong jangan sentuh sembarangan.”kata Lili.


“Kami hanya bicara. Jangan terlalu serius.”kata senior


yang mendekati Riri.


Senior-senior itu berjalan kembali ke meja mereka


tapi masih sesekali menatap kearah Riri dan Lili.


“Nona, tidak apa-apa? Maaf saya datang terlambat.”sesal


Lili.


“Aku gak apa-apa, Li. Kita pulang sekarang?”tanya


Riri.


“Kita mampir ke kantor tuan muda dulu ya, nona.


Tadi Dion memintaku membawakan berkas tuan muda yang ketinggalan di rumah.”kata


Lili.


“Apa aku boleh kesana? Nanti mas Elo marah.”kata


Riri sedikit ragu.


“Ayo, nona. Kita harus mengejar kereta.”kata Lili.


Mereka berdua berjalan mendekati stasiun kereta


bawah tanah. Jarak antara rumah dengan kampus Riri dan Elo sangat dekat. Biasanya


berangkat dengan menumpang bis bersama Lili. Lili akan kembali ke rumah sambil


berbelanja dan mempersiapkan masakan untuk mereka semua.


Karena mereka akan ke kantor Elo sekarang, mereka


harus menumpang kereta. Riri sudah beberapa kali naik kereta tapi ia tetap saja


terkagum-kagum pada kecanggihan semua alat di stasiun kereta itu. Lili mengisi


kartu akses untuk mereka berdua, Riri memperhatikan tombol apa saja yang di tekan


Lili dan mengingatnya.


“Ayo, nona. Kita masuk.”ajak Lili saat kereta


berhenti di depan mereka.


“Kita akan melewati berapa stasiun, Lili?”tanya


Riri setelah mereka mendapat tempat duduk.


“Sekitar 3 stasiun kalau kita mau berhenti di depan


kantor tuan muda dan 4 stasiun kalau mau berhenti di belakang kantor. Nona mau


yang mana?”


“Lewat belakang saja ya. Aku malu kalau lewat


depan.”kata Riri dengan wajah polosnya.


Lili sudah jatuh cinta berkali-kali setiap melihat


wajah polos nona Riri yang sangat cantik. Setiap ia bertingkah menggemaskan, Lili


akan menatapnya dan tersenyum senang. Mereka melewati stasiun ketiga dan


bersiap turun di stasiun berikutnya.


Udara dingin berhembus saat mereka tiba di pinggir


jalan lagi. Lili menunjuk gedung tinggi di depan mereka.


“Itu kantornya tuan muda, nona.”kata Lili.


“Wah, kantornya tinggi sekali. Apa kita boleh masuk


kesana?”tanya Riri.


“Ayo, nona. Kita masuk.”ajak Lili.


Mereka masuk melewati pintu yang didorong Lili.


Seorang penjaga menghentikan mereka.


“Nona-nona mau kemana? Apa sudah membuat janji?”tanya


penjaga itu.


“Saya Lili, pengawal tuan muda Angelo.”kata Lili


sambil memperlihatkan ID pengawalnya.


“Dan siapa nona ini?”


“Apa kau tidak tahu kalau dia istri tuan muda


Angelo? Kau tidak pernah melihat fotonya bersama tuan muda?”tanya Lili.


Penjaga itu menatap Riri yang bersembunyi di


belakang Lili. Tepatnya Lili yang menyembunyikan Riri di belakang tubuhnya.


“Sedang apa kalian?”tanya Dion yang tiba-tiba


muncul di belakang penjaga.


“Tuan Dion. Saya hanya memeriksa tamu yang dibawa nona


Lili.”jelas penjaga itu.


“Nona Riri, silakan masuk. Kalian boleh pulang. Jangan


datang lagi besok. Kalian dipecat!.”teriak Dion pada kedua penjaga itu.


“Kak Dion, mereka belum mengenalku. Jangan pecat


mereka. Aku rasa mereka sudah menjalankan tugasnya dengan baik.”pinta Riri


sambil melewati mereka berdua.


“Terima kasih, nona muda. Maafkan kami.”kata kedua


penjaga itu sambil membungkuk.


“Tetap ada hukumannya. Pergi melapor pada ketua tim


kalian.”


Riri berjalan bersama Dion dan Lili mendekati lift


khusus CEO. Semua orang di lobby menatap mereka bertiga termasuk beberapa tamu


yang saat itu menunggu di sofa.


“Kenapa mereka semua menatap kita? Apa ada yang


salah disini?”tanya Riri.


“Mereka hanya kepo karena tidak semua orang bisa


memakai lift CEO dengan mudah.”jelas Dion.


Sebelum pintu lift terbuka, seorang pria paruh baya


bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik dan seksi berjalan mendekati


mereka.


“Lihat ini. Ada tuan Dion. Apa kabar?”sapa Tuan


Steve pada Dion.


“Tuan Steve. Apa kabar?”balas Dion dengan malas.


Tuan Steve bahkan tidak memandang Lili dan Riri


yang jelas-jelas ada di depannya. Dion tidak suka dengan salah satu client Elo


ini. Ia sudah sekali melemparkan anak gadisnya pada Elo, meskipun dia tahu


kalau Elo sudah punya istri.


“Apa kau akan naik? Kami juga akan bertemu tuan


muda Angelo. Bolehkan kami naik bersamamu?”tanya tuan Steve dengan tidak tau


malu.


*****


Maaf ya up-nya lama. Author sibuk dengan upacara agama yang baru saja selesai. Nanti malam up lagi. Ditunggu kk.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.