
DM2 – Capek banget
*****
Spoiler setelah negara api menyerang
lagi,
Gadis melihat test pack di tangannya, ia
melihat garis merah muncul dengan sangat jelas disana.
“Mah, ini artinya apa?”tanya Gadis pada
Mia. Padahal ada dokter disana.
“Coba saya lihat dulu.”dokter itu mengambil
testpack di tangan Gadis. Ia tersenyum, lalu meminta Gadis berbaring di bed
rumah sakit. “Sebentar saya cek ya.”
Mia dan Gadis sama-sama menatap layar
monitor saat dokter itu menempelkan alat di perut Gadis. Sebuah bulatan hitam
yang sudah cukup besar, tampak di layar itu.
“Gadis, selamat ya!!”pekik Mia sangat
gembira. “Kamu hamil.”
“Aku? Hamil?”kebingungan muncul di wajah
Gadis, Mia yang masih menimang baby Kaori, terpaksa keluar karena bayi itu
kaget mendengar teriakan Mia. “Beneran, dokter?”
“Iya, bu. Disini umurnya sudah sekitar 8
minggu. Memangnya ibu tidak merasakannya? Ngidam? Mual?”
Gadis menggeleng.
Segitu aja ya. Uda tau kan jalan
ceritanya? Komen dong.
*****
Darah mengucur keluar hampir jatuh ke
lantai. Gadis sigap membawa tangannya ke bawah kran air.
Ia memegang dadanya yang terasa sesak dan
tidak nyaman.
”Ya Tuhan, tolong jaga Rio, jaga keselamatan
suamiku.”
Sementara itu Rio baru sampai di kantor, ia
melihat Ilham dan Kinanti sudah menunggu di lobby kantor. Ilham memberikan
berkas untuk ditanda tangani Rio sebelum dia pergi bersama Kinanti. “Kalian
hati-hati di jalan ya. Kabari aku kalau ada apa-apa.”
Rio mengangguk, mereka masuk ke mobil yang
sama. Rio duduk di belakang, sementara Kinanti duduk di samping sopir.
Perjalanan itu tidak terlalu panjang karena hotel tempat client mereka menginap
terletak di pinggir kota. Sepanjang perjalanan, Rio tidak bicara apa-apa. Ia
hanya menatap foto-foto Gadis yang sedang tersenyum memakai kemejanya. Sesekali
ia tersenyum mengingat kelakuan nakal Gadis padanya.
Senyuman Rio tidak lepas dari pengamatan
Kinanti yang terus meliriknya dari kaca spion samping mobil. Senyum mempesona
yang ingin dimiliki Kinanti juga. Rio baru mengalihkan pandangannya dari
ponselnya saat mereka memasuki halaman hotel.
Sopir menghentikan mobil di depan lobby. Rio
turun bersama Kinanti, “Pak Rio, clientnya sudah menunggu di kamar 361. Disana
lift-nya.”
Rio mengangguk, mereka berjalan masuk ke
dalam lift dan Kinanti menekan nomor 3. Lift merangkak naik, membawa mereka ke
lantai tempat kamar yang disebutkan Kinanti tadi. Setelah keluar dari lift,
keduanya berpencar mencari kamar yang dimaksud. “Pak, sebelah sini.”panggil
Kinanti.
Rio bergegas mendekati Kinanti, ia mengetuk
pintu kamar itu dan pintu terbuka. Keduanya tampak masuk ke kamar hotel menemui
client perusahaan Arnold.
Gadis menanti dengan gelisah, sesekali ia
melihat keluar ke halaman rumah Alex. Ia sedang menunggu Rio pulang. Sejak
kepergian Rio tadi pagi, belum sekalipun suaminya itu mengirimkan pesan padanya
atau menelpon. Gadis teringat perasaan tidak nyamannya tadi pagi sebelum
berangkat ke kantor.
“Gadis, Rio belum pulang juga?”tanya Mia.
Gadis menoleh ke belakang, lalu menggeleng. Mia melirik jam
dinding sudah hampir waktunya makan malam. Brmm! Suara mobil masuk ke garasi
membuat Mia dan Gadis menoleh ke pintu depan. Ceklek! Rio masuk dengan wajah kusut,
ia terlihat sangat lelah.
“Rio.”panggil Gadis sambil berjalan
mendekati suaminya itu.
“Sayang...”Rio merengkuh Gadis dalam
pelukannya. “Aku capek banget, sayang. Mandiin dong.”bisik Rio di telinga
Gadis.
“Ehem... Sudah sana mandi dulu, kita makan
sama-sama, Rio.”ajak Mia.
berjalan menaiki tangga. Gadis menatap khawatir Rio yang tampak sangat lelah.
“Mandi dulu ya. Nanti aku pijat.”
“Pijat plus-plus ya.”pinta Rio sambil
mencium leher Gadis.
“Kamu gak capek?”
Rio mengangguk, ia memang lelah, lelah
dengan pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Gadis mendorong Rio masuk ke kamar
mandi. “Mandi sana.”
“Mandiin, sini.”Rio menarik Gadis masuk ke
kamar mandi.
Ia sangat manja, tidak mau lepas dari
Gadis. Gadis sudah hafal sifat Rio kalau dia lagi capek, pasti manjanya kumat.
Rio tidak mau melepaskan pakaiannya sendiri, Gadis yang melakukannya. Ia juga
melepas pakaiannya agar tidak basah. Keduanya masuk ke dalam shower.
Sepuluh menit kemudian, Rio keluar dari
kamar mandi memakai handuk menutupi bawah pinggangnya. Ia mengambilkan handuk
lagi untuk Gadis yang menyusul keluar dari kamar mandi. Sampai di dalam kamar
mereka, Rio tidak mau memakai pakaiannya sendiri. Gadis memakaikan celana
piyama Rio, ketika ia hampir menarik celana itu sampai ke pinggang Rio, handuk
Gadis terlepas.
Rio memungut handuk itu, melemparkannya
jauh-jauh ke samping tempat tidur. Gadis merasakan pelukan hangat Rio lagi
merengkuh tubuhnya. “Sayang, aku pake baju dulu. Dingin.”
“Hmm...” Rio tidak mau melepaskan
pelukannya, ia bersandar pada tubuh Gadis. “Diem sebentar.”
Gadis balas memeluk Rio, membagi rasa
lelahnya. “Kamu kenapa kecapean gini? HP-mu kenapa gak aktif? Aku sampe nelpon
om Ilham buat nanyain kamu dimana.”
“HP-ku rusak. Tadi jatuh, gak bisa hidup. Habis
meeting tadi aku ngerasa capek banget, sempat ketiduran di hotel. Pegel semua
badanku.”
“Ketiduran dimana?”tanya Gadis mengelus
kepala Rio.
“Di lobby. Nunggu sopir kelamaan.”
“Cep, sayang. Kasian banget sich. Aku pijet
ya. Tapi kamu jangan tidur dulu. Belum makan malem.”
Rio hanya mengangguk, ia melepaskan
pelukannya pada Gadis, berbaring tengkurap di atas tempat tidur. Gadis
membalurkan minyak kayu putih ke punggung Rio, tampak punggung putih itu mulai
memerah. “Kamu masuk angin nich. Punggungmu merah. Sakit gak?”
Grook!! Gadis melongok melihat Rio yang
sudah tertidur lelap. “Ya, ampun. Dia malah tidur. Ya, sudahlah.”
Gadis menarik selimut menutupi tubuh Rio,
dikecupnya kening Rio sebelum beranjak keluar dari kamar turun ke lantai bawah.
Makan malam baru saja dimulai, Gadis bergabung bersama keluarganya.
“Loh, Rio mana, Gadis?”tanya Mia yang
sedang menyendok nasi untuk Alex.
“Uda tidur, mah. Capek banget kayaknya. Dia
masuk angin tuch.”
Mia tidak bertanya apa-apa lagi. Mereka
makan malam bersama sambil sesekali mendengarkan cerita si kembar tentang
sekolah mereka. Alex juga nimbrung menceritakan perusahaannya yang sedang
melejit karena kebanjiran client.
“Papa harap Rio segera balik ke perusahaan.
Lagi banyak client baru yang gabung. Kamu liat sendiri kan, Gadis.”
Gadis hanya mengangguk, memang pekerjaannya
tadi menumpuk banyak. Tapi ia tidak bisa menyelesaikannya karena Alex
mengajaknya pulang tepat waktu. Alex tidak mau Gadis terlalu capek bekerja.
“Bukannya Rara udah balik ya? Ada Arnold
juga. Belum serah terima ya?”tanya Mia kepo.
“Sepertinya belum, mah. Rio bilang masih
sibuk beresin berkas, tapi harusnya udah beres sich.”
“Sepertinya Rara masih sibuk sama Rey.”ucap
Gadis sendu.
Mia melihat Gadis bersedih lagi, ia menepuk
bahu Gadis, menambahkan lauk lagi di piringnya, “Makan yang banyak. Besok jadi,
kan?”
“Iya, mah.”
“Jadi kemana?”tanya Alex kepo.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.