
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 24
“Ken, jangan gitu lagi. A—aku takut.” Kaori bicara
dengan suara tercekat.
“Iya, Kaori. Maaf. Sebentar, aku tarik retsletingmu
ya. Kamu percaya sama aku kan?” tanya Ken.
Kaori mengangguk, wajahnya masih penuh bekas air
mata yang belum mengering. Kaori membiarkan Ken membantunya merapikan
penampilannya kembali.
“Kaori, kita makan dulu ya. Aku gendong ke meja
makan ya,” ucap Ken sambil mengangkat Kaori dari atas tempat tidur lalu membawa
gadis itu ke meja makan. Pria itu berlutut di depan Kaori, lalu mengusap wajah
Kaori dengan tisu hingga kembali kering.
“Kamu kok bisa kesini? Kamu dateng sama Melisa?”
tanya Ken.
“Tadi aku kesini sama kak Reynold dan aunty Renata.
Mereka bilang mau ngajak aku makan malam sama dengerin live musik. Kami ketemu
kak Melisa, trus aku disuruh duduk di kursi yang tadi. Disuruh nunggu aja
disini. Taunya mau ngasih kejutan buat kamu ya. Tapi malah aku yang terkejut,”
ucap Kaori lalu tersenyum manis.
“Kita sama-sama terkejut, Kaori. Entah siapa yang
merencanakan ini, tapi aku sangat berterima kasih karena kejutan ulang tahunku
adalah kamu. Aku sangat merindukanmu, Kaori. Rasanya beban berat ini bisa lebih
ringan ada kamu disini,” ucap Ken senang.
“Aku juga kangen banget sama kamu, Ken. Untuk
sesaat sepertinya aku tidak percaya kalau kamu ada di depanku. Waktu membuatmu
berubah Ken. Sekarang lenganmu lebih kekar, trus otot dadamu lebih keras. Eh,
aku ngomong apa sich,” ucap Kaori malu sendiri. Ia merasa seperti gadis nakal
yang menggoda laki-laki.
“Apa lagi? Apa ciumanku lebih hebat?” tanya Ken
mulai iseng.
Wajah Kaori merona merah, ia memukul tangan Ken
dengan kesal dan menuduh pria itu sudah berlatih dengan wanita lain. Ken
berkilah, ia tidak perlu melakukan itu untuk menunjukkan cintanya pada Kaori.
Ciumannya tadi adalah murni karena hasratnya pada calon istrinya itu.
“Siapa yang tahu kalau kamu sudah punya pacar lain
diluar sana. Kamu kan sangat tampan, kaya raya, dan berkuasa. Aku....”
Kata-kata Kaori terhenti saat Ken mulai bicara.
“Apa kamu sedang cemburu, sayang?” tanya Ken
menyeringai jahil.
“Aku, nggak! Aku cuma... Kamu nyebelin!!” pekik
Kaori semakin malu.
“Aku akan melamarmu malam ini juga,” ucap Ken
nekat.
“Ja—jangan, Ken. Nanti opa marah. Besok pesta ulang
tahun aunty Renata. Jangan merusak suasana. Aku mohon,” kata Kaori gugup.
Ken memeluk Kaori lagi, memohon persetujuan Kaori
agar ia bisa melamar gadis itu malam ini juga. Setidaknya lamaran itu bisa
meyakinkan Kaori, kalau Ken hanya mencintainya seorang.
“Tolong pikirkan lagi, Ken. Kita masih muda, lagian
aku lebih tua dari kamu. Aku nggak mau jadi beban untuk kamu, Ken,” kata Kaori
mencoba mengulur waktu.
Tapi Ken tidak mau menurutinya, pria itu berkeras
akan menemui Rio malam ini juga. Akhirnya Kaori mengangguk menyetujui lamaran
Ken. Mereka menghabiskan makan malam dengan cepat sebelum pergi ke mansion
Steven menggunakan helikopter. Ken tentu saja menyuapi Kaori makan sambil
sesekali menggoda gadis itu.
Melisa yang melihat kepergian Ken dan Kaori,
menghubungi Renata dan Reynold agar segera menyusul mereka berdua kembali ke
mansion Steven. Perjalanan selama kurang lebih tigapuluh menit itu, membuat Ken
sangat bahagia karena Kaori terus bersandar padanya. Ken memeluk Kaori sangat
erat dan berharap mereka akan menikah secepatnya.
Saat Ken dan Kaori sampai di mansion Steven, Rio
yang duluan bertemu dengan mereka. Rio menatap Ken dan Kaori bergantian.
Matanya tertuju cukup lama pada tautan tangan Ken dan Kaori. Mereka berdua
memasuki mansion Steven dengan berpegangan tangan dan terlihat sangat mesra.
“Ken, kenapa kamu pegang tangan Kaori seperti itu?
Kaori, sini sama papa,” panggil Rio pada Kaori.
“Pah, Ken mau bicara penting sama papa,” ucap Kaori
malu-malu.
“Bicara apa, Ken?” tanya Rio sambil mempersilakan
Ken duduk di sofa. Kaori juga duduk di samping Ken, ia merasa sedikit cemas.
Perasaannya mengatakan akan terjadi sesuatu yang besar.
“Om, maaf sebelumnya kalau ini terkesan mendadak. Seharusnya
saya datang bersama orang tua saya. Saya sudah sempat mengatakannya pada orang
tua saya kalau saya ingin melamar Kaori untuk menjadi istri saya,” ucap Ken
tanpa basa-basi dan keraguan sedikitpun.
Rio langsung berdiri dari duduknya, lalu menuding
Ken. “Apa kamu sudah gila?!!” teriak Rio murka.
Direnggutnya tangan Kaori dari genggaman tangan
Ken, memaksa putrinya itu bangun dari duduknya. Rio menarik Kaori menjauh dari
Ken dan ketika Ken bermaksud mengejar, Rio merentangkan tangannya ke depan
menahan langkah Ken untuk mendekat.
“Kamu tidak boleh menikahi Kaori!” bentak Rio
membuat Ken tidak terima.
“Tapi kenapa, om? Kenapa nggak boleh? Aku mencintai
Kaori, om Rio,” ucap Ken masih belum menyerah.
“Itu karena....” Suara Rio tertahan saat melihat
Alex menggeleng. Semua orang mendengar kedatangan helikopter milik Ken dan
mulai berkumpul di ruang tamu termasuk Renata dan Reynold yang baru datang.
Ken menatap Kaori yang kebingungan dalam pelukan
Rio. Wajah Rio yang memerah menahan amarahnya. Bahkan Alex dan Mia menatapnya
dengan sedih. Ken bingung memikirkan alasan penolakan Rio. Apa karena dia anak
kakek Martin yang tahu. Atau karena orang tuanya adalah Endy dan Kinanti. Ken
sedikit memahami kalau diantara Rio dan Endy memang tidak akur.
Ken benar-benar kebingungan dengan apa yang sedang
terjadi. Ia bisa saja mengatakan kalau Renata dan Ken ditukar ketika mereka
baru dilahirkan. Secara garis keturunan, Ken adalah paman Kaori. Tapi Ken lebih
tidak bisa mengatakan hal itu. Ia beralih menatap Renata yang sudah berjalan
mendekati Kaori. Ken merasakan dilema yang sangat berat. Ia harus memilih
antara tetap bertahan sebagai anak Endy dan Kinanti atau menyakiti hati Renata
dengan mengatakan kebenaran.
“Renata, bawa Kaori ke kamarnya. Cepat!” perintah
Alex tegas. “Rio, Gadis, Ken, Mia, ikut aku. Yang lain, kembali ke kamar kalian,”
pinta Alex lagi.
Mereka berlima berjalan masuk ke ruang baca lalu
duduk di sofa besar yang ada disana. Suasana hening, mereka semua larut dalam
pikiran masing-masing untuk sejenak.
“Ken, apa yang kamu lakukan disini? Kamu mau
melamar Kaori?” tanya Alex memulai pembicaraan.
“Iya, om. Aku ingin melamar Kaori untuk jadi
istriku,” sahut Ken tegas.
“Dasar gila! Pah, ini nggak boleh! Papa harus
melarangnya,” bentak Rio yang masih emosi.
“Iya, pah. Pernikahan ini nggak boleh terjadi,”
proter Gadis. Alex meminta Rio untuk tenang, ia juga menahan Gadis yang bicara
hal yang sama dengan Rio.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku nggak
boleh menikah dengan Kaori? Apa alasannya?” tanya Ken bingung. Ia terus-menerus
memikirkan alasan penolakan Rio, tapi tidak bisa menemukan jawaban yang masuk
akal.
“Pah, ini memang rahasia. Tapi kalau sampai sejauh
ini, aku nggak bisa diam saja. Ini salah, pah. Kaori tidak boleh menikah dengan
Ken!” ucap Rio tegas.
“Tapi kenapa? Apa alasannya?!” teriak Ken frustasi.
Ken menatap empat orang dewasa di ruang baca itu.
Hatinya tidak terima dengan penolakan Rio. Ia butuh jawaban sekarang juga. Alex
memejamkan matanya sebelum mengangguk pada Rio.
“Ken, apa yang akan kamu dengar ini adalah sebuah
rahasia yang tidak boleh diketahui siapapun. Rahasia ini bisa menghancurkan
Kaori jika dia tahu yang sebenarnya. Apa om bisa pegang janjimu untuk menyimpan
rahasia ini?” tanya Alex.
“Kalau memang rahasia ini untuk kebaikan Kaori, aku
berjanji akan menjaganya,” sahut Ken mantap.
Alex menghela nafa sekali lagi. Putra itu memang
sangat mirip dengan dirinya yang tidak pernah ragu sedikitpun. “Ken, Kaori
adalah anak kandung Endy dan Kinanti,” ucap Alex sambil menatap dalam mata Ken.
“Dengan kata lain, kamu dan Kaori adalah kakak beradik.
Hubungan kalian terlarang!” teriak Rio kesal.
Ken bersandar pada sofa, ia mulai paham dengan
penolakan Rio dan Gadis. Tapi tetap saja rahasia itu mengejutkan Ken. Alex dan
Mia saling pandang sebelum menatap Ken lagi. Mereka berdua menunggu Ken bicara
lagi.
“Tapi bagaimana bisa, om? Kalau memang Kaori adalah
anak kandung papa dan mamaku, kenapa dia tinggal bersama kalian? Apa yang
terjadi sebenarnya?” tanya Ken masih belum bisa percaya dengan apa yang
didengarnya.
Gadis dan Mia mulai bercerita tentang masa lalu
Kinanti dan Endy. Tentang kenangan buruk yang ingin dilupakan Rio dan Gadis, sampai
Rio tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ken juga terdiam mendengar bagaimana
Kinanti tega meninggalkan Kaori yang buta dan malah mengejar harta kekayaan
untuk dirinya sendiri. Ia tahu kalau Kinanti memang matre, tapi ia tidak
menyangka kalau Kinanti tega berbuat hal jahat seperti itu.
“Ken, cerita ini adalah kenangan yang buruk bagi
kami. Tapi kami tidak pernah menganggap kehadiran Kaori dalam hidup kami adalah
sebuah kesalahan. Dan kami ingin Kaori tetap menjadi putri sulung kami, Ken. Aku
harap kamu bisa menjaga rahasia ini selamanya,” ucap Gadis mengakhiri ceritanya.
“Kamu sudah ngerti kan? Lupakan Kaori. Kalian tidak
boleh bersama, apalagi sampai menikah,” ucap Rio berusaha mengontrol emosinya.
Ken tersenyum miris, takdir mempermainkan hidupnya
seperti gasing yang berputar, sangat memusingkan. Kenyataan kalau Kaori adalah
putri sulung Endy dan Ken, sedangkan Renata adalah putri kedua mereka juga,
membuat Ken memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Rio dan Gadis
juga.
“Kalau kak Rio kuatir tentang hubungan sedarah,
kakak tidak perlu merasa kuatir sama sekali.” Ken menatap Alex dan Mia sebelum
melanjutkan kata-katanya. “Kak Rio mengatakan tentang rahasia kelahiran Kaori,
maka aku akan membuka rahasia tentang kelahiranku.”
“Apa maksudmu, Ken?” tanya Rio penasaran.
“Aku bukan anak kandung papa Endy dan mama Kinanti,”
sahut Ken tenang.
“Ken...,” panggil Mia.
Ken tersenyum pada Mia sebelum bicara lagi, “Duapuluh
dua tahun yang lalu, papa Endy dan mama Kinanti mengangkatku sebagai anak
karena mereka memerlukan seorang bayi laki-laki sebagai syarat untuk bisa
mengambil alih harta kekayaan kakek Martin. Mereka mengatur seolah mama Kinanti
hamil dan melahirkan di rumah sakit. Mencantumkan nama mereka sebagai orang tua
kandungku. Padahal orang tuaku yang sebenarnya entah berada dimana,” ucap Ken
tanpa keraguan sedikitpun.
Mia dan Alex terhenyak, Ken tidak mengakui mereka
berdua sebagai orang tua kandungnya. Tangan Alex terkepal merasakan cengkeraman
kuku Mia di lengannya. Jelas istrinya itu sedang menahan air matanya agar tidak
jatuh dan mulutnya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada Rio dan Gadis.