Duren Manis

Duren Manis
Secepatnya


Jodi tampak berlari mendekati kedua orang itu.


Jodi : "Astaga! Dicariin kemana-mana, kalian


malah mesra... Aduh, nafasku..."


Jodi duduk di sebelah Rara, ia mengatur nafasnya


yang ngos-ngosan. Arnold tersenyum menatap Jodi,


Jodi : "Kenapa senyum-senyum?"


Arnold : "Maafin ya."


Jodi : "Jangan ngomong maaf pake nada gitu


napa?"


Arnold : "Ya, abang... Maafin..."


Jodi : "****... Geli dengernya. Ayo,


pulang."


Jodi sudah beranjak duluan ingin mengambil


mobilnya.


Rara : "Mas kuat jalan?"


Arnold : "Ya, Ra. Gak pa-pa."


Jodi : "Sini."


Jodi merangkul bahu Arnold, membantunya berjalan.


Arnold : "Suka dech."


Jodi menggigil melihat Arnold menatapnya dengan


sayang. Oh tidak, dirinya masih normal. Rara tertawa melihat kedua sahabat itu.


🌸🌸��🌸🌸


Mereka bertiga sampai di rumah Alex, Jodi melihat


ke bagian belakang. Dirinya garuk-garuk kepala melihat Arnold bermesraan dengan


Rara seolah dirinya gak ada di dalam mobil yang sama.


Jodi : "Uda nyampe, buruan keluar."


Arnold : "Jangan ngusir gitu dong."


Jodi : "Keluar cepat. Aku buru-buru."


Rara : "Emang kakak mau kemana? Buru-buru amat


sich."


Mereka berdua keluar dari dalam mobil Jodi.


Jodi : "Gara-gara kalian aku jadi pengen makan


Katty. Arnold, kunci mobilmu."


Arnold : "Buat apa?"


Jodi : "Nebus mobilmu lah."


Setelah menunggu Rara dan Arnold masuk ke dalam,


Jodi melajukan mobilnya pulang ke rumah Katty.


🌸🌸🌸🌸🌸


Rara dan Arnold masuk ke dalam rumah. Alex yang


sejak menelpon Rara belum juga mendapat kabar dari Rara, tampak gelisah di


ruang keluarga. Sementara Mia duduk di samping si kembar yang tertidur.


Mia : “Itu mereka datang, mas.”


Alex menoleh ke ruang tamu dan segera menghampiri


mereka.


Alex : “Kalian gak apa-apa kan?”


Rara : “Gak pa-pa, pah. Kami masuk ke kamar dulu


ya. Mas Arnold mau mandi.”


Alex bengong ditinggalkan Rara dan Arnold masuk ke


dalam kamar mereka.


Mia : “Sudah, biarin aja, mas. Yang penting mereka


sudah baikan. Sini dong duduk.”


Alex menuruti Mia, ia duduk di samping Mia dan


mulai mencolek si kembar.


Mia : “Jangan diganggu, mas. Mereka barusan tidur.”


Alex : “Terus aku harus gangguin siapa?”


Mia : “Aku... eh...”


Alex tersenyum manis, ia mulai mendekati Mia ingin


mencium bibirnya. Tapi belum kesampaian, nenek sudah muncul di belakang mereka.


Nenek : “Hayo, mau ngapain?!”


Mia : “Bu? Gak ada kok.”


Alex : “Bu, tolong jagain si kembar bentar. Bentar


aja.”


Alex sudah bangun dan menarik Mia bangun juga. Alex


membawa Mia masuk ke kamar mereka dan gak kunjung keluar juga. Nenek mengomel


sambil menjaga si kembar karena selain dari kamar Rara, nenek juga mulai


mendengar suara gak jelas dari kamar Alex.


🌸🌸🌸🌸🌸


Elo sedang bekerja di ruang TU kampus saat ia


mendapat pesan singkat dari orang kepercayaan kakeknya. Ia beranjak ke balkon


dan menelpon disana.


Elo : “Halo, ada apa?”


Rebecca : “Tuan muda, tuan besar ingin bertemu.”


Elo : “Tapi kenapa harus keluar negeri sich?”


Rebecca : “Ada hal penting menyangkut keberangkatan


tuan muda untuk kuliah lagi.”


Elo : “Aku sudah bilang sama kakek mau berangkat


kapan kan?”


Rebecca : “Kalau sesuai dengan keinginan tuan muda,


takutnya cabang kita disana tidak akan bertahan.”


Elo : “Apa maksudmu?”


Rebecca : “Ada beberapa kasus yang harus segera dibereskan.”


Elo : “Kirim saja petugas yang biasanya. Aku gak


akan kemana-mana.”


Rebecca : “Tuan muda sebaiknya ketemu dulu dengan


tuan besar. Tuan besar berpesan untuk mengajak nona Riri juga.”


Elo : “Baiklah.”


Elo menutup telponnya, ia menatap jauh ke gedung


asrama yang ada di seberangnya. Elo mencoba menelpon Riri,


Elo : “Halo, Ri.”


Riri : “Halo,... mas.”


Elo : “Kenapa bisik-bisik? Kamu lagi kuliah?”


Riri : “Uda selesai sih. Aku cuma gak enak didenger


manggil mas.”


Elo : “Emangnya kamu dimana?”


Riri : “Masih di kelas, baru mau ke kantin buat


makan siang.”


Elo : “Oh, udah jam makan siang ya. Kita ketemu di


kantin ya. Aku juga mau makan.”


Riri : “Iya,... mas.”


Lagi-lagi Riri berbisik membuat Elo geli sendiri.


Elo : “Yang keras gitu manggil mas.”


Riri : “Malu... mas.”


Elo : “Kamu nggemesin banget sich.”


Riri : “Udah ach, kak.”


Elo : “Iya, sayang...”


Riri : “Kak...”


Elo : “Apa, sayang...”


Riri : “Jangan manggil gitu.”


Riri : “Sayang...”


Elo : “Iya, sayang.”


Riri : “Iihhh... kakak!”


Elo : “Hahahahaha...!”


Elo tertawa mendengar suara manja Riri yang mulai


kesal padanya.


Riri : “Kak, tutup telponnya.”


Elo : “Kamu yang tutup.”


Riri : “Kan kakak yang telpon.”


Rio : “Aku aja yang tutup.”


Tut! Tut! Tut!


Riri : “Kamu kok gitu sich, Rio!”


Rio : “Aku kesel denger kalian sok mesra gitu.


Bucin.”


Riri : “Kamu juga bucin. Berapa kali kamu mau


ngeliatin HP trus? Kaori gak akan nelpon kamu duluan.”


Rio : “Aku salah apa sich?”


Riri : “Kamu yang kasi tau aku. Apa yang kamu


lakuin sama Kaori kemarin?”


Rio : “Aku... biasa, mungkin aku agak kebablasan.”


Riri : “Kamu ngapain dia? Bilang gak?!”


Rio : “Galak banget sich. Aku... kami kan biasa


ciuman, tapi aku kebawa suasana. Itu... aku gak sengaja gigit...”


Riri : “Gigit apanya? Bibirnya?”


Rio : “Gigit dadanya...”


Pengakuan Rio mendapat pukulan bertubi-tubi dari


Riri. Pantas saja sahabatnya itu kembali tadi malam sambil menangis sesegukan.


Kaori tidak mau cerita dan terlihat ketakutan.


Riri : “Kamu gak boleh ketemu Kaori. Dia trauma


gara-gara kamu.”


Rio : “Tapi aku beneran gak sengaja. Bantuin, Ri.


Aku harus ketemu Kaori. Aku mau minta maaf.”


Riri : “Nggak! Pokoknya kamu jauh-jauh dulu dari


Kaori. Kasi dia waktu menenangkan diri dulu. Dasar kamu!”


Elo : “Ada apa? Kenapa kamu marah-marah, Ri?”


Elo sudah sampai di kantin dan mendekati Riri dan


Rio.


Riri : “Nich anak, bikin kesel.”


Riri masih melanjutkan memukul Rio yang pasrah aja


dipukuli kembarannya.


Elo : “Udah dong, kasian Rio-nya. Emang kenapa


sich?”


Riri : “Terlalu vulgar untuk diceritakan, kak. Apa


kakak juga akan gitu?”


Elo jadi bingung, kenapa tiba-tiba kena imbas


kekesalan Riri. Sedangkan dia baru saja datang.


Elo : “Rio, cerita dong. Aku gak paham nich.”


Rio bisik-bisik cerita pada Elo yang cuma melongo


mendengarkan.


Elo : “Astaga! Kamu berani banget. Aku aja sampe umur


segini belum berani sejauh itu.”


Riri : “Apa kakak berani?”


Riri menatap Elo sambil memicingkan matanya, ia


bersiap melayangkan pukulan berikutnya.


Elo : “Dengan resiko dipukulin, gak dech. Makasih. Mending


aku nikahin kamu dulu, baru...”


Elo menyeringai dengan senyum mesum pada Riri. Riri


bergidik melihat tatapan Elo.


Riri : “Apa sich, mas.”


Riri yang keceplosan memanggil Elo ‘mas’ langsung


membekap mulutnya sendiri. Ia melihat beberapa orang menoleh menatap mereka. Elo


tersenyum manis mendengar panggilan Riri padanya.


Elo : “Eh, kalian uda pesan makanan? Mau makan apa?


Aku lapar.”


Mereka bertiga menoleh kearah pelayan dan


memanggilnya. Pelayan mencatat pesanan mereka dengan cepat dan menscan kartu


mahasiswa Riri dan Rio. Elo juga mengeluarkan kartu untuk membayar pesanan


mereka.


Riri : “Kakak tadi bilang mau ngomong sesuatu,


ngomong apa?”


Elo : “Aku ada ngomong gitu ya?”


Elo senyum-senyum menatap Riri.


Rio : “Pasti mikir jorok tuch.”


Elo : “Ngawur. Itu, aku baru ingat. Akhir pekan


besok kalian libur kan dari Jumat, ikut aku yuk.”


Riri : “Kemana, kak?”


Elo : “Kakek mau ketemu aku dan harus ngajak kamu. Kita


pergi naik jet pribadi kakek. Kayaknya gak mungkin dikasi ijin sama papamu


kalau kita cuma pergi berdua. Jadi ajak Rio juga.”


Rio : “Aku gak mau ikut kalau Kaori gak ikut.”


Riri : “Ya udah kamu gak usah ikut-ikut. Aku bisa


bujuk mama, papa pasti gak bisa berkutik lagi.”


Riri memeletkan lidahnya pada Rio.


Rio : “Yah, kok gitu sich. Ajak aku, Ri. Aku kan


juga perlu refreshing. Ini gratis kan, kak Elo?”


Elo : “Seratus persen dibayarin kakek. Aku juga


perlu liburan, kan. Mau ya, Ri.”


Rio : “Maulah, Ri. Minggu depan kita ujian


semester. Mumet nich.”


Riri : “Kok tumben kakek ngajak ketemu diluar kota?


Sebenarnya ada apa?”


Elo : “Itu... sepertinya aku harus berangkat ke


luar negeri dan melanjutkan kuliah disana secepatnya.”


Riri : “Apa??!!”


Riri memegang pipinya karena terkejut. Kalau


beneran terjadi, berarti mereka akan LDR dong.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para


reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲