Duren Manis

Duren Manis
Rasa Penasaran


Elo dan Riri


melambaikan tangan pada Rio dan Kaori yang berlalu dengan mobil Rio. Mereka


diantar sampai ke apartment Elo dan diturunkan di lobby apartment.


Elo : “Ri, bentar


ya. Kita mampir bentar ke pengurus apartment.”


Elo menggenggam tangan


Riri mendekati kantor di dekat lift. Elo meminta kartu tambahan untuk Riri.


Setelah mendapatkan kartu itu, Elo memberikannya pada Riri.


Elo : “Ri, simpan


kartu ini ya. Ini kartu untuk membuka apartmentku. Passwordnya nanti kurubah


biar kamu gampang mengingatnya.”


Riri : “Buat apa


aku punya kartu ini, mas. Aku kan selalu datang sama mas.”


Elo : “Siapa tahu,


kamu mau kesini ngambil buku gitu.”


Riri : “Ooo, ok


mas.”


Elo mengajari Riri


cara untuk menggunakan kartu itu di dalam lift hingga bisa sampai di lantai


kamar apartmentnya. Setelah itu Elo merubah password masuk ke kamarnya menjadi


ulang tahun Riri.


Riri : “Mas tau


darimana ulang tahunku?”


Elo : “Kamu lupa


aku kerja dimana?”


Riri : “Oh, iya ya.


Kalau mas tanggal lahirnya berapa?” Mereka masuk ke dalam kamar apartment Elo.


Elo : “Aku tanggal


7 bulan depan.”


Riri : “Itu 2


minggu lagi kan? Aku harus siapkan kado apa ya?”


Elo memeluk


pinggang Riri,


Elo : “Aku mau kamu


yang jadi kadonya.”


Riri : “Mana bisa,


mas?”


Elo : “Bisa aja.


Kakek minta pernikahan kita bersamaan dengan ulang tahunku.”


Riri : “Mas, aku


belum bicara sama kakek masalah pesta pernikahannya. Jangan terlalu mewah.”


Elo : “Kakek sudah


tahu apa maumu, Ri. Kakek bilang pernikahan kita hanya akan dihadiri keluarga


besar dan beberapa relasi dekat saja. Tapi setelah upacara pernikahan, kita


wajib melakukan konferensi pers bersama kakek.”


Riri : “Kayak artis


aja.”


Elo : “Ya, kakek


maunya begitu. Kakek sudah menurut apa maumu, kita kasih saja apa maunya kakek


ya.”


Riri : “Iya, mas.


Mas mau sampai kapan meluk gini?”


Elo : “Eh, iya.


Keasyikan ya. Kamu duduk dulu, aku masak sesuatu untuk kita makan.”


Riri tersenyum


melihat Elo berjalan ke dapur dan membuka kulkasnya. Ia duduk di samping tempat


tidur Elo sambil menikmati pemandangan sore hari.


*****


Rio menghentikan


mobilnya di depan sebuah rumah,


Rio : “Kamu yakin


ini alamatnya?”


Kaori : “Iya,


mapnya berhenti disini. Ayo turun.”


Rio : “Coba telpon


kakakmu. Aku nurunin barang-barangnya dulu.”


Kaori menelpon


Katty yang langsung membuka pintu depan.


Katty : “Kaori!


Sini!”


Kaori : “Bentar,


kak. Belanjaannya banyak nich.”


Katty menutup pintu


lagi, gantian Jodi yang muncul dari dalam rumah.


Jodi : “Hai, Rio,


Kaori.”


Rio : “Hai, kak.”


Kaori : “Hai, kak.”


Rio auto fokus ke


leher putih Jodi yang dihiasi tanda merah bekas ciuman. Jodi memakai kaos


dengan leher yang cukup rendah hingga hasil perbuatan Katty terlihat jelas di


lehernya.


Rio nyengir sambil


menyenggol lengan Kaori,


Kaori : “Apa sich?”


Rio : “Kak Katty


ganas banget.”


Kaori :


“Maksudnya?”


Rio : “Kamu gak liat


lehernya kak Jodi.”


Kaori : “Kenapa


sama lehernya kak Jodi?”


Kaori mulai kepo


dan curi pandang melihat leher Jodi.


Jodi : “Kalian


ngapain bisik-bisik?”


Rio : “Ehee...


kakak digigit nyamuk ya.”


Jodi : “Nyamuk?


Nggak tuch.”


Rio : “Trus kenapa


lehernya merah-merah?”


Jodi : “Hah?!


Mana?”


Jodi melihat


lehernya dari kaca spion mobil Rio.


Jodi : “Oh, ini. Ya


nyamuk yang gede banget. Udah ach, anak kecil gak usah kepo. Belum waktunya.”


Kaori : “Ada


emangnya nyamuk yang gede banget? Segede apa kak?”


Jodi : “Segede


kamu.”


Jodi langsung masuk


membawa sebagian paper bag, sudah cukup ia menjawab pertanyaan kepo dari Rio


dan Kaori.


Kaori : “Ada nyamuk


segede aku?”


Rio : “Kakak kamu


maksudnya.”


Kaori : “Ngapain


kak Katty gigit kak Jodi?”


harus jawab atau tidak. Pikiran Kaori masih terlalu polos untuk dipenuhi


hal-hal mesum.


Rio : “Kita masuk


dulu ya. Kapan-kapan aku jawab pertanyaanmu ya.”


Kaori menurut dan


tidak bertanya lagi. Mereka segera masuk ke dalam rumah Katty dan meletakkan


paper bag di dekat sofa.


Katty : “Kalian


minum dulu ya. Ini sudah semuanya titipan kakak?”


Kaori : “Iya, kak.


Haduh, capek banget. Baru kerasa pegelnya.”


Katty membuka-buka


paper bag di depannya,


Kaori : “Kak,


uangnya aku transfer balik ya.”


Katty : “Loh, masih


ada sisanya?”


Kaori : “Bukan,


belanjaan kakak itu dibayarin kakeknya Pak Elo.”


Katty : “Semuanya?!


Waduh, gimana dong. Jodi, gimana nich?”


Jodi : “Gimana ya?


Kalau sampai gitu, kalau kita maksa mau balikin uangnya pasti tersinggung.


Mungkin kamu bisa tawarin jasamu menjual kalau kita beruntung ketemu


kakeknya... siapa tadi?”


Kaori : “Pak Elo.”


Jodi : “Ya, itu


dia.”


Katty : “Tapi kamu


uda bilang terima kasih, kan?”


Kaori : “Udah sich,


kak. Ini berkat Riri juga sich.”


Katty : “Siapa


Riri?”


Rio : “Riri


kembaran saya, kak. Dia pacaran sama kak Elo. Mau nikah juga 2 minggu lagi.”


Jodi : “Tuch, Riri


aja mau nikah, masa kamu nggak.”


Katty : “Jangan


mulai lagi dech. Lagian papamu juga belum setuju, kan.”


Jodi : “Pemenang


tendernya diumumkan besok, kalau kita dapat, jangan lupa kata-katamu.”


Kaori : “Kakak mau


nikah juga?”


Katty : “Nggak


dalam waktu dekat. Aku masih terlalu muda untuk nikah. Nggak sekarang.”


Jodi : “Tunggu aja,


sebentar lagi kamu bakalan hamil.”


Katty : “Ck.”


Kaori : “Trus ini


uangnya gimana? No. rekening kakak mana?”


Katty : “Transfer


ke rekening Jodi aja. Jodi, kasi no. rekeningmu.”


Jodi : “Ntar aja.


Aku mager. Capek.”


Katty : “Kamu


barusan bangun. Capek darimana?”


Jodi : “Kamu lupa


siapa yang buat aku capek gini?”


Katty : “Ngomong


ngaco.”


Jodi : “Mau lepas


dari tanggung jawab ya.”


Rio saling pandang


dengan Kaori, Kaori berbisik pada Rio,


Kaori : “Mereka


ngomong apa sich?”


Rio : “Seberapa


penasaran kamu?”


Kaori : “Sangat


penasaran sampai aku bisa melakukan apapun untuk mengetahui apa yang mereka


bicarakan.”


Rio : “Oh, aku


mendengarkan. Kalau aku bisa memberimu jawaban yang memuaskan, aku dapat apa?”


Kaori : “Sebuah


ciuman?”


Rio : “Cukup adil,


meskipun gak sepadan.”


Kaori : “Trus aku


harus apa?”


Rio : “Aku mau


kayak papa sama mamaku waktu kamu pergokin di kamarku.”


Kaori : “Apa?!


Nggak!”


Rio : “Ya sudah.”


Rio menjawab dengan


sangat santai. Ia hanya ingin menggoda Kaori. Tidak mungkin ia meminta Kaori


bertindak jauh sebelum mereka menikah. Tapi sepertinya kata-kata Rio masih


dipikirkan oleh Kaori yang masih penasaran.


Kaori : “Kak, trus


uang kakak ini gimana?”


Jodi : “Kamu simpen


aja dulu. Anggap aja aku kasi mahar pernikahan kakakmu.”


Kaori : “Mahar itu


apa? Hadiah pernikahan?”


Jodi : “Semacam


itulah.”


Kaori : “Banyak


amat. Wah, kak Katty nikah sama orang kaya nich.”


Katty : “Omonganmu ngaco.”


Jodi : “Kok ngaco?


Adikmu udah setuju. Kamunya kapan setuju?”


Katty : “Tunggu aku


hamil.”


Jodi : “Beneran ya!”


Katty : “Iya,


cerewet!”


Wajah Kaori memerah


mendengar kata-kata Katty. Ia melirik pada Rio yang cuma nyimak sambil meminum


sirupnya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲