
Extra part 33
Keira membelai pipi Bilar yang berhias surai tebal.
Gadis itu sangat pro kalau soal merayu dan memikat. Tapi Bilar jadi takut
melihat kelakuan Keira. Pria itu hampir bangun dari duduknya, tapi Keira
mengaduh dengan cepat.
“Aooww! Kakiku sakit, Bilar. Kamu nggak asyik, ach.”
Keira turun sendiri dari pangkuan Bilar. Daripada dirinya terjatuh lagi, Keira
memilih jalan aman.
Keira mengambil ponselnya lalu menelpon teman-teman
yang biasa ia ajak clubbing. “Nggak ada Reynold. Dia blum balik. Gimana? Ikut
nggak lo?” tanya Keira bicara di telpon.
*”Ikutlah. See you there. Bye\,”*
Keira masih menelpon orang lain lagi dan jawaban
mereka rata-rata sama, ikut clubbing dengan Keira. Bilar semakin geleng-geleng
kepala melihat tingkah Keira. Jangankan clubbing, ke pesta aja, Bilar tidak
pernah lagi setelah pesta ulang tahunnya yang ke tujuhbelas tahun.
“Kamu mau clubbing?” tanya Bilar.
Keira mengangguk tanpa menoleh dari layar
ponselnya. Sepertinya ia mengirimkan chat pada seseorang yang penting.
“Kakimu belum sembuh gitu, emang bisa clubbing?”
tanya Bilar lagi.
Keira menoleh menatap Bilar, “Sejak kapan kita
deket sampe lo mulai kepo sama urusan gue,” sembur Keira. “Jangan
mentang-mentang gue bilang gue jatuh cinta sama lo, trus lo berhak ikut campur
ya. Pergi lo, gue mau sendiri,” usir Keira emosi.
Setelah Bilar keluar dari pantry, Keira meletakkan
ponselnya diatas meja. Ia bersandar di kursi, menangisi semua yang akan ia
tinggalkan disini. Tapi Keira sudah harus pergi, ia sudah tidak diterima lagi
disini. Padahal sesungguhnya ia hanya ingin sedikit saja perhatian. Tingkahnya
memang menyebalkan tapi Keira sangat rapuh. Ia juga seorang wanita yang mudah
menangis.
“Ach, menyebalkan! Aku harus pergi dari sini.
Padahal pengen stay lebih lama,” gumam Keira sedih.
Gadis itu kembali menangis sendirian sampai tidak
sadar ketiduran dengan mulut sedikit terbuka.
**
Bilar duduk di samping Keira. Sudah berlalu satu
jam sejak jam pulang kantor. Semua orang pulang begitu saja, tanpa ada yang
menyadari kalau Keira tidak terlihat lagi. Bilar kembali ke pantry, ia melihat
Keira tertidur dengan kepala bersandar di kursi pantry.
Saat kepala Keira hampir jatuh, Bilar dengan cepat
menahannya lalu ikut duduk di samping gadis itu.
“Om... Rey... jangan usir aku....” Keira mengigau
sesuatu yang tidak jelas. Jelas terlihat oleh Bilar, gadis yang baru dikenalnya
itu menangis dalam tidurnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu kayak
gini, Kei. Bagaimana bisa kamu terlihat sangat menderita begini?” gumam Bilar sambil
mengelus kepala Keira.
Tiba-tiba gadis itu terbangun, ia menyadari kalau
sedang bersandar pada pundak Bilar. Keira cepat-cepat menegakkan tubuhnya lalu
merentangkan kedua tangannya ke atas.
“Lo ngapain disini? Nggak kerja, lo?” tanya Keira
cuek.
Bilar tidak menjawab, saat Keira merentangkan
tangannya keatas, Bilar tidak sengaja melihat sesuatu mengintip dari celah di
kemeja ketat Keira. Gadis itu bahkan tidak berusaha menutupi tubuhnya.
“Lo suka sama apa yang lo lihat barusan? Mau lebih
jelas? Gue bisa buka sekarang,” tawar Keira kembali ke sifat aslinya.
“K—kamu nggak tahu malu. Itu kan sesuatu yang
private,” ucap Bilar membuat Keira tertawa keras.
“Private? Harusnya nggak lo lihat. Tapi lo lihat
juga kan? Lo nggak tahu gimana enaknya, makanya dicoba. Sama gue,” ajak Keira
mulai jadi setan.
Wajah Bilar merona merah, ia sangat malu mendengar
kata-kata Keira yang sangat berani. Dalam pikiran Bilar, ia merasa kalau Keira
adalah gadis murahan yang dengan gampangnya memperlihatkan tubuhnya pada orang
asing.
Keira tertawa melihat reaksi Bilar, ia memang suka
mencari kepuasan, tapi masih pilih-pilih orang. Sejauh ini baru Reynold yang
bisa mengerti perasaannya. Mereka berdua bisa jadi partner yang saling
memuaskan satu sama lain tanpa merusak Keira seutuhnya.
Bilar meremang saat Keira berpindah duduk di pangkuannya.
Tubuh gadis itu menghadap padanya. Keduanya saling menatap dan sedikit
terhanyut oleh suasana yang cukup sepi di dalam pantry. Lagi-lagi Bilar
memejamkan matanya, membuat Keira tidak bisa menahan tawanya .
“Huahahahaha...!! Dasar cowok culun! Polos amat lo.
Udah ach, gue mau pulang. Besok gue telat ke kantor ya,” kata Keira sambil
beranjak dari pangkuan Bilar.
Saat Keira sampai di depan pintu pantry, Bilar
dengan nafas memburu.
“Kamu ke club yang mana?” tanya Bilar cepat.
“Bukan urusan lo!” sahut Keira ketus.
Bilar memaksa Keira memberitahu club tempat ia akan
datang malam ini. Pria itu mengukung Keira dengan kedua lengannya. Keira baru
sadar kalau tubuh Bilar cukup proporsional. Dengan sengaja ia menyentuh perut Bilar,
membuat pria itu berjengit geli.
“Otot perut yang bagus. Apa ini yang kamu lakukan
di dalam kamar seharian? Sibuk membuat otot perut yang bagus,” kata Keira masih
ingin menyentuh tubuh Bilar.
Melihat tangan terulur ingin menjamahnya, Bilar
auto mundur lima langkah. Keira berdecih lalu membuka pintu pantry dan keluar
dari sana menuju ruang kerja Rio. Bilar yang mulai penasaran, ingin mengikuti
gadis itu. Meskipun nanti mamanya akan marah karena dia terlambat pulang, Bilar
ingin tahu apa yang dilakukan Keira saat clubbing.
“Keira, aku ikut ke club ya,” pinta Bilar.
Keira tertawa saja, ia mengemasi tasnya lalu keluar
dari ruang kerja Rio. Bilar mengejar Keira, mengikutinya turun memakai lift.
Pria itu terus mengikuti Keira sampai ke mobilnya.
“Apa lo udah gila! Keluar dari mobil gue!!” usir
Keira kesal. Bilar ikut masuk ke mobilnya, duduk di kursi penumpang.
Bilar tetap kekeh nggak mau keluar dari mobil Keira,
ia ingin ikut Keira ke club. Setidaknya sekali saja ia ingin tahu apa yang
dilakukan Keira di club. Keira terpaksa membawa pria berkacamata itu ke apartmentnya.
**
Apartment Keira.
Gadis itu membuka pintu setelah menekan beberapa
angka di panel yang ada dipintu. Bilar ikutan masuk juga membuat Keira makin
kesal. Keira tidak pernah membawa seorang pria ke apartmentnya. Bahkan Reynold
juga belum pernah kesana. Bagi Keira, apartmentnya adalah tempat ia menyendiri
dan menenangkan diri. Ia bisa bebas melakukan apa saja yang menyenangkan
disana.
Tanpa dipersilahkan, Bilar duduk di sofa ruang TV.
Satu-satunya cara membuat Bilar pergi adalah melakukan hal yang biasanya
dilakukan Keira setelah pulang dari kantor. Gadis itu melepaskan alas kakinya,
melempar tasnya diatas sofa, lalu mulai membuka kemeja dan rok ketatnya di
hadapan Bilar.
“Kamu! Ganti baju di kamar sana!” pekik Bilar
sambil menutup matanya dengan tangan.
“Heh! Ini apartment gue. Gue nggak maksa lo ikut
gue kesini. Suka-suka gue mau buka baju dimana aja.” Keira menatap sengit Bilar
yang tidak mau keluar juga dari apartmentnya.
Akhirnya Keira berkeliaran di apartmentnya dengan
hanya memakai lingerie tipis. Bilar menelan salivanya melihat penampilan Keira.
Mau nggak ngeliat, tapi Bilar tidak bisa menutup matanya terus. Apalagi saat
Keira memakai apron untuk memasak makan malam.
“Kei, aku juga laper nich. Minta makan ya.” Bilar
ngiler mencium wangi ayam goreng yang baru selesai digoreng Keira.
“Kamu nyusahin ya, tuan Superman. Kenapa kamu nggak
pulang aja? Itu, pintunya disana,” tunjuk Keira ke pintu keluar.
Bilar tidak menyahut Keira, ia mengelus perutnya
yang lapar. Seharusnya ia sudah duduk di meja makan bersama keluarganya. Bilar
mengeluarkan ponselnya, ia melihat panggilan tidak terjawab dari Bianca.
Cepat-cepat Bilar menekan ikon chat lalu mengirimkan chat kepada Bianca kalau
ia sedang berkunjung ke rumah teman kerjanya.
Bilar terlalu fokus pada ponselnya sampai ia tidak
melihat makanan yang disajikan Keira di atas meja makan. Ada ayam goreng, nasi
putih yang mengepul, tumis buncis, dan sambal terasi. Dua piring dan dua gelas
sudah ada juga diatas meja makan itu.
“Lo kalo mau makan, cuci tangan sana,” kata Keira
yang membuat Bilar langsung menoleh dari ponselnya.
“Aku boleh makan? Dimana wastafelnya?” tanya Bilar
sambil berdiri.
Keira menunjuk tempat cuci piring karena wastafel
hanya ada di kamar mandinya. Bilar mencuci tangannya dengan sabun cuci tangan
yang ada disana, lalu mengeringkannya dengan tisu dapur. Keira sudah lebih dulu
duduk di meja makan. Ia sudah melepas apronnya, menyisakan lingerie seksi di
tubuhnya.
Keduanya makan tanpa banyak ngobrol, Keira hanya
bersedia menjawab pertanyaan Bilar seputar pekerjaan di kantor. Diluar itu, Keira
hanya diam.
“Masakanmu enak. Terima kasih makan malamnya.”
Bilar menatap Keira dan tersenyum tulus pada gadis itu. Keira tersenyum sinis,
ia mengatakan kalau semua makanan tadi sudah disiapkan kepala pelayannya. Keira
tinggal memanaskannya saja.
“Gue nggak bisa masak. Lo bisa cuci piring, kan? Gue mau
mandi. Kalau lo mau pulang, tutup pintunya lagi.” Keira beranjak ke dalam
kamarnya, meninggalkan Bilar yang sibuk mencuci piring sendirian.