
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 32
Ken mencoba membujuk Kenzo untuk membawanya pada
Kaori dengan iming-iming games mahal keluaran terbaru. Kenzo sempat ragu
sejenak karena Ken tidak pernah berbohong kalau ia sudah menjanjikan sesuatu.
Varrel yang juga tertarik dengan games, mulai berpihak pada Ken.
Akhirnya dua lawan dua. Kenzo dan Varrel membantu
Ken, sementara Reymond dan Reyna menghalangi mereka. Kenzo sempat memberitahu
kalau Kaori duduk di tangga. Ken mulai berjalan sambil meraba-raba ke depan. Ia
mengingat letak tangga itu ada di depan ruang keluarga.
Setiap kali Ken berjalan ke arah yang benar,
Reymond atau Reyna bergantian membelokkan arah jalannya. Kehebohan permainan
mereka menarik perhatian para orang tua yang masih ada di ruang kerja. Anggota
keluarga yang lain juga asyik menonton Ken yang harus berjuang menemukan Kaori.
Perlahan tapi pasti, Ken akhirnya bisa sampai di
depan tangga. Kaori memanggil Ken, ketika merasakan kehadiran pria itu di
depannya.
“Ken. Aku disini,” panggil Kaori.
“Kaori. Ulurkan tanganmu,” pinta Ken.
Kaori mengetukkan tongkatnya ke tangga, sambil
mengulurkan tangannya ke depan. Ken mencari asal suara ketukan itu dan langsung
menemukan Kaori. Ken tersenyum senang bisa menemukan Kaori dengan mudah. Ia
membuka ikatan kain di matanya dan memicingkan mata melihat semua orang,
keluarga Alex ada di sekelilingnya.
Ken merasa sangat bahagia bisa kembali berkumpul
dengan keluarganya. Kehangatan keluarga seperti ini adalah dambaannya sejak
dulu. Meskipun tidak bisa mendapatkannya dari Endy dan Kinanti, Ken sudah cukup
bahagia. Terlebih sekarang ada Kaori yang bisa menemaninya seumur hidup.
“Kaori, aku mencintaimu,” bisik Ken sambil mengecup
punggung tangan Kaori.
“Aku juga, Ken,” balas Kaori tersipu malu.
Untuk membicarakan pernikahan keduanya, mereka
pindah duduk ke ruang tamu. Alex, Mia, Rio, Gadis, Alan, Ginara, Ken, dan
Kaori. Ken mengatakan dengan tegas kalau ia serius ingin menikahi Kaori dan
menanyakan kapan tepatnya Kaori ingin menikah.
Alex bertanya pada Kaori tentang jawaban pertanyaan
Ken. Gadis itu menunduk malu-malu dan mengatakan kalau ia bersedia menikah
kapan saja. Ken mengusulkan pernikahan dilakukan dua minggu lagi tapi Rio tidak
setuju. Persiapan pernikahan tidak bisa dilakukan dalam dua minggu. Mereka
harus menyiapkan prewedding, gaun pernikahan, catering, undangan, dan banyak
lagi yang dibeberkan Rio.
Kaori mengangkat tangannya, ia ingin bicara pada
mereka semua. Alex meminta semua orang mendengarkan apa yang ingin dikatakan
Kaori.
“Papa, aku ingin pernikahan yang sederhana. Kalau
mengundang banyak orang, aku juga tidak kenal dengan mereka semua. Kalau
teman-teman dekat opa seperti opa Romi, om Jodi, om Guntur, aku tahu semuanya.
Nggak apa-apa mereka diundang. Tapi kalau yang lainnya, Kaori nggak nyaman,
pah.” Kaori berkata dengan sangat lembut.
“Aku juga ingin tetap tinggal disini karena ada oma
Mia dan mama Gadis yang bisa nemenin aku. Seharusnya aku ikut bersama Ken, tapi
Ken bilang kalau kadang-kadang dia harus keluar kota untuk meeting. Rumah besar
kakek Martin terlalu besar kalau aku harus tinggal disana, pa.” Kaori menarik
nafas sebentar sebelum melanjutkan yang ketiga.
“Masih ada lagi? Tolong jangan minta menunda malam
pertama. Aku bisa mati, Kaori,” celetuk Ken membuat Alan dan Ginara tidak bisa
menahan tawanya.
Wajah Kaori merona merah mendengar rengekan Ken. Ia
jadi bimbang mengatakan permintaannya yang ketiga. Padahal gadis itu ingin
menanyakan restu dari orang tua Ken.
“Bisa nggak kamu nggak mikirin itu dulu. Masih jauh
kalau malam pertama,” sahut Rio.
“Ehem...! Gitu ya, masih jauh. Tapi kalau Ken nggak
sabaran, boleh-boleh aja kok,” balas Gadis menyindir Rio.
“Oho... ini beneran boleh?” tanya Ken sambil
menyeringai jahil.
Rio dan Alex saling melirik lalu diam seribu
bahasa. Mereka tidak berhak bicara karena malam pertama sudah mereka lakukan duluan
sebelum pernikahan. Ken langsung semangat karena tidak ada yang melarangnya. Hanya
Ginara yang berani bicara, “Ken, nggak boleh maksa ya. Harus sama-sama mau.
Kalau Kaori keberatan, kamu nggak boleh maksa malam pertama duluan. Lagian,
malam pertama setelah menikah itu lebih tenang rasanya.”
Rio dan Alex kompak manggut-manggut membuat para
istri mereka mencubit keduanya dengan gemas. Ken tersenyum geli melihat Rio dan
Alex kewalahan sendiri. Kaori akhirnya mengatakan permintaannya yang ketiga.
“Ken, aku belum kenal dengan orang tuamu secara
pribadi. Maksudku, apa mereka merestui hubungan kita? Aku tidak mau mereka
kecewa karena calon menantu mereka, buta,” ucap Kaori.
Ken bangkit dari duduknya, ia berlutut di depan
Kaori dan menggenggam kedua tangannya. Pria itu mengatakan kalau orang tuanya
sudah setuju dengan rencana pernikahan mereka dan tidak sabar menunggu hari
pernikahan mereka tiba. Saat Kaori meminta untuk bertemu dulu dengan orang tua
Ken, pria itu menoleh pada Alex. Wajah bingung Ken jelas menunjukkan kalau ia
tidak bisa menjawab permintaan Kaori.
“Kaori, opa mau bicara sebentar dengan Ken ya.
Tunggu sebentar,” pinta Alex sambil bangkit dari duduknya.
Mereka berdua termasuk Rio bicara di dekat tangga. Ken
bertanya apa yang harus ia katakan pada Kaori. Takutnya Kaori tidak mau menikah
karena tidak yakin dengan restu dari Endy dan Kinanti. Alex dan Rio terpaksa
mengalah demi Kaori. Tapi mereka minta agar Ken tidak meninggalkan Kaori
Ketika mereka kembali ke posisi masing-masing, Ken
mengatakan pada Kaori kalau Kinanti sedang sakit saat ini dan mungkin akan
sulit menemui mereka karena proses pengobatan sedang berlangsung.
“Oh, mamamu sedang sakit? Apa parah? Seharusnya
kamu menemani mamamu, Ken. Pernikahan ini tidak bisa kita lakukan kalau mamamu
masih sakit,” ucap Kaori.
Rio sudah hampir bicara, tapi Ken memberi tanda agar
tenang dulu. Ken membujuk Kaori dengan mengatakan kalau Kinanti menantikan
pernikahan mereka.
“Mama bertanya tadi siang, kapan kita akan menikah.
Mungkin pernikahan kita bisa mempercepat kesembuhan mama,” ucap Ken.
“Kalau gitu, aku mau jenguk mamamu dulu, Ken. Apa
boleh?” tanya Kaori.
“Boleh. Mau sekarang? Kamu bisa nginep di rumahku,”
putus Ken tanpa minta ijin dulu pada Alex dan Rio.
Ehem! Kedua pria itu berdehem, menyadarkan Ken
kalau ia belum berhak atas Kaori. Ken menggaruk kepalanya dengan cengiran lebar.
Ia mengatakan kalau Kenzo juga ingin bertemu Endy dan Kinanti. Jadi mereka bisa
ke rumah besar kakek Martin bersama-sama.
“Tapi Ken, ini sudah malam. Apa tidak sebaiknya
besok saja?” tanya Kaori.
“Semakin cepat, semakin baik kan? Kamu nggak
percaya sama aku?” tanya Ken sambil menggenggam tangan Kaori.
“Bu—bukan gitu. Tidak sopan kalau bertamu terlalu
malam, Ken,” ucap Kaori lagi.
“Kamu akan jadi nyonya di rumah besar itu. Kamu
bukan tamu, Kaori,” bujuk Ken lagi.
Ken mengatakan kalau ia hanya punya waktu malam ini
sampai besok pagi. Siangnya, ia sudah harus kembali bekerja di perusahaan kakek
Martin. Alex dan Rio saling lirik lagi, kalau Kaori terus menolak, mungkin Ken akan
mulai mengancam seperti kakek Martin dan itu tidak baik untuk kelangsungan
perusahaan Alex.
Sebenarnya Alex lebih kuatir pada Kaori kalau harus
bertemu Kinanti malam ini juga, tapi gadis itu akan memilih pergi kalau sampai
Ken berbuat nekat. Alex akhirnya meminta Kaori ikut dengan Ken. Setidaknya ada
Ginara yang bisa menemani Kaori di rumah besar itu.
Malam itu juga, Ken membawa Kaori ke rumah besar
kakek Martin. Saat mereka sampai di rumah besar, Endy dan Kinanti sudah berada
disana. Mereka belum tidur dan sepertinya baru selesai makan malam. Endy dan
Kinanti menoleh ketika Ken menuntun Kaori masuk ke rumah besar.
“Kaori, papa sama mamaku ada disini. Duduk di sofa.
Ayo, kita duduk juga,” ajak Ken pada Kaori.
Endy dan Kinanti saling menatap lalu tersenyum
tipis satu sama lain. Ken ikut duduk di samping Kaori, ia memulai pembicaraan
mereka setelah Alan dan Ginara masuk lebih dulu.
“Pah, mah, Kaori datang untuk mengucapkan salam
secara langsung. Kami juga ingin meminta restu untuk pernikahan kami,” ucap Ken
lugas.
“Om, tante, perkenalkan nama saya Kaori. Saya
memiliki kekurangan pada mata saya. Tapi saya akan berusaha menjadi istri yang
baik untuk Ken,” ucap Kaori dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari
bibirnya.
Sejujurnya, Kaori sangat gugup, tapi ia mendapat kekuatan
untuk bicara dari Ken yang terus menggenggam tangannya. Ken menarik tangan
Kaori lalu mengecup punggung tangan gadis itu. Wajah keduanya merona merah dan
terlihat sangat menggemaskan.
Melihat Endy hanya diam melihat kemesraan keduanya,
Kinanti bicara lebih dulu. “Kaori, kedepannya kamu bisa panggil mama saja ya.
Kalian kan akan menikah dan mama akan jadi mama... mertuamu.” Kinanti tampak
tercekat sesaat, matanya sudah berkaca-kaca hampir menangis.
“Ya, papa juga akan jadi papa mertuamu, Kaori. Tapi
mungkin papa dan mama tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Mama Kinanti
sedang tidak enak badan, kami akan menonton dari v-call ya,” ucap Endy yang
berusaha menenangkan Kinanti.
“Kaori, mamaku perlu istirahat. Tidak apa-apa kan
kalau bicaranya sebentar saja?” tanya Ken yang mengerti kode dari Endy.
“Iya, Ken. Papa, mama, selamat beristirahat,” ucap
Kaori dengan sopan.
Kinanti sudah banjir air mata mendengar Kaori
memanggilnya mama. Meskipun Kaori menganggapnya sebagai mama mertua, tapi bagi
Kinanti yang sedang sakit, panggilan itu sangat berarti baginya. Endy memeluk
Kinanti yang menangis tanpa suara. Keduanya masih ada disana, menatap Kaori
yang sudah dewasa.
“Ken, apa papa dan mamamu sudah pergi?” tanya
Kaori.
“Iya, Kaori. Kenapa? Kamu masih nggak nyaman?”
tanya Ken sambil melirik Endy dan Kinanti.
“Sepertinya mamamu sangat sedih. Suaranya terdengar
lemah dan sepertinya mamamu menangis. Apa benar? Ken, mamamu sakit apa?” tanya
Kaori lagi.
“Mama Kinanti tidak mau cerita, Kaori. Mungkin
mereka tidak mau aku kepikiran tentang penyakit mama. Tapi mama sudah ditangani
dokter terbaik. Jadi, kamu tenang saja ya,” sahut Ken.
“Kalau kita hanya mengundang beberapa orang yang
dekat, mereka seharusnya bisa datang kan? Meskipun cuma sebentar, tapi cukup
untukku. Atau papamu masih salah paham sama papaku?” tanya Kaori membuat Endy
terkejut.