
Rara bergantian mandi dengan Arnold yang sudah keluar dari kamar mandi. Arnold segera berpakaian dan memesan sarapan cepat untuk mereka.
Dokter Kevin akan melakukan terapi untuk mereka berdua hari ini untuk memastikan kondisi terbaru mereka.
Pengurus apartment menekan tombol apartment dan Arnold membukakan pintu. Arnold memandang sekilas pada pengurus apartment yang pagi itu berpakaian agak ketat dan pendek.
Ia berjalan sedikit lambat menuju meja makan untuk meletakkan sarapan sambil sesekali melirik Arnold.
Arnold tidak memperhatikan hal itu, ia fokus pada layar ponselnya, mencari tiket untuk mereka pulang nanti sore.
Ceklek! Rara keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk dan rambut basah. Ia tertegun melihat penampilan pengurus apartment dan menatap Arnold yang berpindah fokus menatap dirinya.
Pandangan Arnold membuat Rara malu, ia merasa kalau Arnold sedang menelanjanginya. Rara berjalan ke lemari, ia pura-pura sibuk mengambil baju.
Arnold masih menatapnya dengan intens membuat pengurus apartment pergi tanpa pamit. Kesal karena dicuekin Arnold. Setelah pintu tertutup, Arnold fokus lagi menatap ponselnya.
Rara : "Kak, dia seksi banget ya."
Arnold : "Kamu lebih seksi. Cepetan pake baju, kamu mau kumakan? Hah?!"
Rara nyengir menyadari kalau Arnold kesal padanya. Ia mulai terbiasa mendengar nada suara Arnold meninggi karena dia.
Arnold duduk di meja makan, ia mulai memakan sarapannya sambil mencari tiket pesawat. Rara yang sudah selesai berpakaian, menyusulnya.
Terapi dokter Kevin akan dimulai jam 9 pagi ini dan mereka harus cepat-cepat ke rumah sakit.
-------
Alex sudah bangun sejak jam 5 pagi. Acara siraman akan dimulai jam 8 pagi. Sebelum itu ia ingin v-call dulu dengan Mia.
Mia : "Halo, mas."
Alex : "Sayang, kamu lagi apa?"
Mia : "Lagi ganti baju, mas."
Alex melihat suasana kamar Mia yang sepi tapi Mia tidak kelihatan.
Alex : "Kamu dimana, sayang."
Mia : "Aku masih pakai baju. Mas belum mandi?"
Alex : "Aku mau lihat, kasi liat dikit aja."
Mia : "Iih, mas. Malu tau."
Alex : "Yah, pelit amat."
Mama Mia : "Bukan pelit, Lex. Ini uda tradisi, kamu gak boleh lihat Mia dulu. Malah v-call."
Alex : "Eh, ada mb. Maaf, mb. Saya kangen sama Mia soalnya. Saya tutup dulu telponnya ya, mb. Dah, Mia."
Alex menutup telponnya, tengsin sendiri dipergoki mertuanya mencoba menggoda Mia.
Alex mandi dan mulai bersiap-siap untuk acara siramannya. Tapi sebelum itu ia mengirim chat pada Arnold, menanyakan kabar mereka berdua.
Arnold membalas chat Alex dan mengatakan kalau kemungkinan sore nanti mereka baru bisa pulang ke kota Y.
Alex meletakkan ponselnya diatas nakas. Rio sudah memanggilnya untuk acara siraman di halaman rumah mereka.
Mereka berjalan bersama ke tempat acara, terlihat gagah dan tampan. Beberapa saudara dan kerabat yang diundang dalam acara itu tampak memenuhi halaman rumah Alex.
Acara siraman di rumah Alex selesai dengan cepat, mereka langsung menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Sementara itu di rumah Mia, acara siraman juga berlangsung dengan cepat. Papa Mia yang datang tepat waktu terlihat gagah dengan pakaian tradisional yang sudah disiapkan mama Mia.
Mereka juga melakukan v-call untuk bicara dengan keluarga papanya di negara A, mereka tidak bisa datang karena belum masa liburan sekolah.
Mia terlihat cantik dengan pakaian tradisional yang ia kenakan setelah acara siraman. Ia menyimpan beberapa foto untuk dikirim pada Alex nanti.
Mereka berfoto bersama keluarga yang sudah berkumpul di rumah mereka sejak kemarin sore.
Acara pernikahan Mia cukup dinanti keluarga besar Mia setelah cukup lama tidak ada acara pernikahan di keluarga itu.
Meskipun calon suami Mia berstatus duda anak tiga, kebanyakan dari mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Hanya beberapa kerabat yang punya anak laki-laki single saja yang menyayangkan keputusan Mia.
Tante Neli salah satunya, salah satu sepupu mama Mia ini ingin putranya menikah dengan Mia. Meskipun Mia lebih tua 1 tahun, tapi Tante Neli ini sangat menyukai Mia yang cantik dan pintar.
Tante Neli : "Selamat ya Mia, padahal kamu lebih cocok sama Leo loh."
Mia : "Makasi tante, tapi Leonya kan uda punya pacar. Masa tante gak tau."
Tante Neli : "Leo itu cuma suka sama kamu, gak mungkin punya pacar."
Mia : "Trus yang diajak Leo itu siapa? Dari tadi mesra banget."
Tante Neli mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Mia. Tampak Leo sedang menyuapi seorang gadis makan ice cream.
Mia terkikik geli melihat Tante Neli mendekati Leo dan menjewer telinganya. Mia sudah tahu kalau Leo punya pacar karena Leo sendiri yang memperkenalkan pacarnya tadi.
Mia lantas mengirimkan fotonya pada Rara, yang langsung dibalas,
Rara : "Mama cantik banget. Uda selesai acaranya mah?"
Mia : "Uda, Ra. Rara uda selesai terapi?"
Rara : "Uda, mah. Sekarang giliran Arnold, nanti chat lagi ya mah."
Mia : "Ok, sayang."
-------
Rara meletakkan ponselnya kembali ke tas. Ia melihat Arnold sudah siap berbaring di bed yang barusan ia gunakan untuk terapi.
Entah bagaimana terapi yang ia jalani tadi berjalan sangat lancar dan hasilnya baik. Trauma yang dialaminya sudah benar-benar sembuh.
Sekarang giliran Arnold, Rara sudah siap menggenggam tangan Arnold yang mulai memejamkan matanya. Terapi Arnold dimulai lagi, kali ini tidak ada keringat dingin seperti sebelumnya.
Nafas Arnold juga sangat teratur, dokter Kevin yang tidak mendengar apapun jadi penasaran dan meminta ijin pada Rara untuk membuka sekat yang memisahkan mereka.
Sekat terbuka, dokter Kevin memeriksa dengan lebih seksama dan tersenyum puas.
dr.Kevin : "Luar biasa, saya belum pernah lihat kesembuhan secepat ini. Kalian benar-benar mengagumkan. Cinta kalian bisa saling menyembuhkan seperti ini."
Perlahan Arnold membuka matanya, ia melihat dr.Kevin dan Rara ada di depannya.
Arnold : "Apa yang terjadi, dok? Saya merasa lebih tenang dan nyaman dari sebelumnya."
dr.Kevin : "Kamu sudah sembuh, Arnold. Kalian tidak perlu terapi lagi. Kalian sudah sembuh."
Arnold : "Beneran, dok?"
dr.Kevin : "Kamu sudah masuk daftar mantan pasien saya, sekarang. Tapi kalau kalian masih ragu, kalian bisa datang lagi. Kita bisa ngobrol ringan."
Arnold : "Makasi, dok. Ra, kita sembuh..."
Arnold menatap Rara yang sudah tersenyum manis. Akhirnya mereka bisa menikah dengan tenang, tapi kalau Arnold ketahuan sudah sembuh, apa pernikahan mereka akan diundur?
Rara : "Kak, kalau kakak sembuh, kita gak ada alasan buat nikah sekarang kan?"
Arnold : "Kenapa? Kamu khawatir kita gak jadi nikah?"
Rara : "Bukannya terapi ini yang jadi alasan kita nikah?"
Arnold : "Sejak awal memang begitu, tapi aku berubah pikiran."
Rara : "Maksud kakak?"
Mata Rara mulai berkaca-kaca, sungguh ia sangat mencintai Arnold dan mereka bahkan sudah hampir melakukan sesuatu yang lebih intim.
Dokter Kevin masih menikmati drama di depannya. Ia masih belum mengirimkan hasil test hari ini ke orang tua masing-masing.
Ia menunggu keputusan mereka berdua untuk membantu kedua pasangan muda ini.
-------
Ronald membuka chat yang dikirimkan dokter Kevin tentang terapi Arnold. Ia mengucapkan terima kasih dan tersenyum senang.
Ia memanggil Alex yang berdiri tidak jauh darinya.
Ronald : "Akhirnya Arnold dinyatakan sembuh. Ia tidak perlu terapi lagi."
Alex : "Tunggu, maksudmu Arnold tidak perlu melakuka terapi bersama Rara lagi?"
Ronald : "Iya, Lex. Mereka berdua saling menyembuhkan. Tapi aku mohon tetap nikahkan mereka berdua."
Alex : "Berarti pernikahan mereka bisa ditunda kan? Alasan mereka menikah kan untuk terapi."
Ronald : "Tolong jangan lakukan itu, Lex. Kau akan menghancurkan mereka. Dokter Kevin berpesan satu hal lagi, kau bisa baca sendiri."
Alex membaca chat dari dokter Kevin dan tersenyum.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------