
Extra part 35
Keira tidak bisa bergerak, bahkan ketika mobil
sudah berhenti. Seseorang membukakan pintu untuknya dan tubuh Keira nyaris
terjengkang ke belakang karena masih ditimpa Bilar. Beberapa orang pria
berpakaian hitam itu dengan sigap menahan tubuh Keira dan Bilar. Terlalu lama
ditimpa, membuat sebagian tubuh Keira kesemutan. Ia hanya bisa bersandar di
badan mobil, menunggu kakinya bisa berjalan normal.
Melihat rumah mewah di depannya, Keira sebenarnya
cukup keder juga. Entah apa yang menunggunya di dalam sana. Yah, meskipun rumah
itu hampir sama besarnya dengan rumah papanya, tapi Keira hanya berurusan
dengan Bilar saja.
“Nona, silakan masuk. Mari saya bantu,” kata pria
yang sejak tadi sibuk bicara di telpon entah dengan siapa.
Belum sampai di depan tangga, Keira mendongak
melihat X berdiri di ujung tangga.
“Om X? Om ngapain disini?” tanya Keira keceplosan.
Keira bingung melihat suami Melda ada di rumah itu juga. Pria yang tadi
memapahnya langsung membungkuk hormat melihat X.
“Keira? Oh, tuan muda pergi sama kamu toh. Ayo,
masuk.” X ganti memapah Keira yang berjalan tertatih-tatih. Sampai di dalam
rumah, tidak terlihat siapapun disana. Bilar juga entah dibawa kemana.
“X, siapa gadis itu?” tanya seorang wanita paruh
baya yang ternyata berdiri di dekat sofa besar.
Keira menoleh menatap sosok Bianca yang tampak
anggun dan sangat cantik. Sekilas Keira melihat sosok mamanya yang
penampilannya mirip dengan Bianca. Tipe emak-emak sosialita kelas tinggi.
Firasatnya mengatakan kalau nyonya ini tidak mudah dihadapi.
“Nyonya Besar, ini nona Keira. Dia....” Belum
selesai X bicara, Bianca sudah menyembur Keira dengan omelan pedas.
“Kamu berani mengajak anak saya ke club malam! Kamu
tahu, dia tidak suka ke tempat seperti itu. Apalagi bergaul dengan gadis
seperti kamu! Lihat pakaian kamu! Orang tuamu tidak pernah mengajari sopan
santun berpakaian ya! Kamu terlihat seperti gadis murahan!” semprot Bianca di
wajah Keira.
Dasarnya Keira memang urat malunya sudah putus,
nggak bisa disambung lagi. Mendengar omelan Bianca, Keira jelas emosi tingkat
tinggi.
“Tante, seharusnya tante bisa mengontrol anak
tante! Bilar yang memaksa ikut dengan saya. Saya sudah usir tapi dia nggak mau
pergi. Bukan salah saya kalau anak tante tergoda melihat saya. Saya punya tubuh
seksi yang nggak mungkin ditolak Bilar. Urusan sopan santun, tante nggak usah
sebut-sebut orang tua saya. Ini hidup saya, terserah saya. Saya kira kenapa
saya dipanggil kesini, kalau cuma untuk mendengar omelan tante, saya permisi.
Om X, mana kunci mobilku?” omel Keira balik.
“Kamu nggak sopan! Gadis liar!” jerit Bianca kesal.
“Anak tante yang liar. Suruh dia jauhin saya. Atau
saya tendang anak tante!” balas Keira menyebalkan sambil balik badan.
Keira berjalan keluar dari rumah itu, ia celingukan
mencari mobilnya dan melihat mobil itu terparkir di samping pos penjaga. X yang
berusaha mengejar Keira, menahan gadis itu. X menarik tangan Keira.
“Lepasin, om! Harusnya tadi om bawa anak mama itu
pulang sendiri. Aku nggak ada urusan sama emaknya. Enak aja dia ngomelin aku!”
omel Keira sambil menampik tangan X.
“Kei, kamu bisa pulang sendiri?” tanya X.
Sepertinya ia mencemaskan gadis itu kalau harus pulang sendirian.
“Aku nggak mabuk, om. Aku bisa pulang sendiri. Mana
kunci mobilku?” tanya Keira dengan nafas ngos-ngosan menahan emosinya.
“X! Usir dia keluar! Siapapun! Gadis liar ini nggak
boleh masuk lagi ke rumah ini. Kalian mengerti!” sembur Bianca yang malah
mengejar Keira keluar dari rumah itu.
“Siapa juga yang mau disini lama-lama. Bleeh! Week!”
ejek Keira sambil memeletkan lidahnya kearah Bianca dengan kurang ajarnya.
“Kamu!! Gadis kurang ajar!” jerit Bianca emosi.
“Jangan marah-marah, tante. Ntar keriput, tambah
tua, cepetan jadi nenek-nenek,” ejek Keira lagi.
Bianca seperti kesetanan, ia mengejar Keira ingin
menjambak rambut gadis itu. Keira yang lebih lincah, bisa mengelak dengan
mudah. Keduanya berkejar-kejaran di halaman seperti anak kecil. X mencoba
melerai tapi malah mendapat tendangan dari Keira.
Saat Bianca hampir menangkap Keira, ia tidak
sengaja menginjak baju. Keseimbangan Bianca goyah membuatnya meluncur jatuh.
Keira yang melihat kepala Bianca hampir membentur kursi taman, spontan berbalik
dan menahan tubuh Bianca. Akibatnya kaki Keira yang sudah membaik, sekarang
benar-benar terkilir dan lututnya juga terluka.
“Aduch!” pekik Keira kesakitan di lantai.
Bianca tertegun melihat gadis nakal yang tadi
mengejeknya, malah berbalik menolongnya. X dengan sigap membantu Bianca
berdiri. Keira yang di tolong bodyguard yang lain, juga ikut berdiri meskipun
kakinya gemetar menahan sakit.
Tanpa bicara apa-apa, Keira melepas heels-nya. Ia
berjalan terpincang-pincang menuju mobilnya. Untung saja mobilnya matic, ia
masih bisa mengendarai mobilnya hanya dengan satu kaki.
menahan Keira.
Keira melihat kakinya, darah memang mengalir dari
lututnya, tapi nggak parah. Daripada ia minta diobati di rumah Bilar, lebih
baik Keira pulang saja ke apartmentnya.
“Cuma luka kecil. Nggak mati juga, kan, om. Aku mau
pulang, udah ngantuk. Bye, om.” Keira hampir beranjak dari berdirinya ketika
tubuhnya terangkat keatas.
“Om!!” pekik Keira kaget ketika X menggendongnya
ala bridal style.
Pria itu membawa Keira ke dalam rumah Bilar lalu
mendudukkannya di sofa. Keira hampir bangkit lagi, tapi X meminta dua bodyguard
menahan tangan Keira.
“Om! Aku mau pulang! Adooww!!” pekik Keira ketika X
dengan sadisnya menyiram luka Keira dengan alkohol.
Keira mengomeli X yang berusaha mengobati kaki
gadis itu. Butuh empat orang untuk menahan tangan dan kaki Keira agar tetap
diam sementara X mengobati lutut dan juga pergelangan kakinya yang terkilir.
Tangisan Keira terdengar lirih saat X memijat
pergelangan kakinya dan menggerakkannya seperti tukang urut profesional.
“S—sakit, om... Ach!! Pelan-pelan...!” suara seksi
Keira terdengar manja membuat siapapun yang mendengarnya salam paham.
“Berisik sekali. Kei, diem. Kamu mau sembuh atau
nggak.” X berusaha mengobati Keira dengan cepat.
“Tapi sakit, om. Pelan-pelan dong,” sahut Keira
manja menggoda.
X geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis
sableng di depannya itu. Keira sempat menggoda X meskipun kakinya sudah babak belur seperti itu. X
menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, ia melihat Keira sudah tertidur pulas
setelah X memasang plester dan membalut pergelangan kaki Keira.
Bianca yang masih penasaran dengan Keira, kembali
ke ruang tamu untuk melihat gadis itu.
“Nyonya, lukanya sudah saya obati. Saya permisi mau
mengantar Keira pulang dulu,” kata X yang melihat Bianca di sampingnya.
“Siapa dia, X? Kenapa kurang ajar sekali?” tanya
Bianca masih menyimpan emosi untuk Keira. Tapi hatinya cukup tersentuh melihat
gadis itu mau menolongnya.
“Dia asisten tuan Rio di kantor tuan Alex, Nyonya. Sepertinya
tuan muda jadi akrab dengan Keira karena masalah pekerjaan.” X tidak
menyebutkan asal usul Keira yang anak pengusaha kaya.
Bianca tampak berpikir sejenak. Kalau pun Bilar
menyukai gadis itu, ia tidak mau punya menantu yang liar dan kurang ajar pada
orang tua. Bisa-bisa setelah menikah, Bianca akan dikirim ke panti jompo oleh
Keira. Bianca bergidik ngeri membayangkan hal yang belum tentu akan terjadi.
“Bawa dia pulang, X. Sebaiknya mereka tidak ketemu
lagi. Bilar akan bekerja di perusahaanku saja,” putus Bianca akhirnya.
X menggendong Keira masuk ke mobilnya, lalu
mengantar gadis itu ke rumah Jodi. Iring-iringan mobil yang membawa Keira dan
mobilnya, tampak berhenti di depan gerbang rumah Jodi setelah setengah jam
perjalanan. Security yang melihat mobil Keira dan nona mudanya tertidur pulas
di mobil X, segera membangunkan Pak Jang, kepala pelayan di rumah Jodi.
Pak Jodi membukakan pintu untuk X yang menggendong
Keira turun dari mobilnya. Keira langsung dibawa ke kamarnya dan dibaringkan di
atas tempat tidur. Pelayan wanita dengan sigap mengganti pakaian Keira setelah
X dan Pak Jang keluar dari sana.
X sedikit berbasa-basi dengan Pak Jang. Ia
menceritakan apa yang terjadi pada Keira dan Bilar. Sebelum berpamitan pulang.
**
Keesokan harinya, Keira terbangun seperti biasanya.
Ia membuka matanya dan terduduk di tempat tidur. Sedikit linglung, Keira mencoba
mengingat keberadaannya.
“Kenapa gue bisa pulang kesini?” tanya Keira pada
dirinya sendiri.
Tok, tok, tok. Pintu kamar Keira terbuka dan Pak
Jang masuk membawa sarapan untuknya.
“Nona muda, selamat pagi. Silakan sarapan dulu,”
sapa Pak Jang.
“Opa Jang!” seru Keira heboh. Sejak kecil ia
memanggil pak Jang dengan sebutan opa karena kumis pria paruh baya itu berwarna
putih. Ia juga lebih dekat dengan Pak Jang setelah kedua orang tuanya lebih
sering tinggal di luar negeri bersama Jordan.
Keira hampir beranjak dari duduknya tapi mengaduh
karena kakinya sakit. Disingkapnya selimut yang menutupi kakinya. Lutut dan
pergelangan kakinya memang terasa sakit.
Pak Jang memberitahu Keira kalau semalam X yang
mengantarnya ke rumah Jodi. Keira hanya mengangguk tanpa bicara apa-apa. Ia
tidak mau mengingat kejadian semalam. Setelah sarapan, Keira bersiap pergi ke
kantor Alex. Meskipun terluka, ia merasa sudah lebih baik dan tidak ingin
alasan sakit membuatnya tidak masuk kerja.
Pak Jang yang masih kuatir, meminta sopir mengantar
Keira. Untuk alasan apapun, Keira tidak bisa menolak permintaan Pak Jang.