
Extra part 17
Rio memesan makanan yang diminta Gadis, ada sate kambing, tongseng kambing, gulai kambing, dan minumannya jus jeruk. Pesanan mereka akan datang sekitar lima belas menit lagi.
“Yank, aku udah chat Keira, nanti biar dia yang bilang sama kamu, apa yang sebenarnya. Tapi kayaknya dia masih nonton sekarang. Belum dibales,” kata Rio hati-hati.
Gadis terlihat tidak peduli, ia malah asyik mematutkan dirinya di depan cermin dengan pakaian yang dibelinya. Rio mengusap wajahnya kasar, lebih baik ia masuk ke kamar mandi dan menenangkan dirinya
daripada terus menatap Gadis. Kalau tidak, ia tidak akan bisa menahan dirinya.
Rio masuk ke kamar mandi, ia menghidupkan shower yang langsung memancarkan air dingin ke kepala dan tubuhnya. Rio berusaha mendinginkan kepalanya dan tidak memikirkan apa-apa saat ini.
Tiba-tiba Rio mendengar suara pintu apartment diketuk seseorang. Rio buru-buru mematikan kran shower dan menyambar handuk. Ia keluar dengan terburu-buru, masih basah kuyup.
“Ada orang datang ya?” tanya Rio pada Gadis yang hampir berjalan ke pintu. “Biar aku aja.”
Rio mendekati pintu kamar dan membuka pintunya sedikit. Pesanan makanan mereka sudah datang. Rio mengambil bungkusan makanan itu lalu meletakkannya di atas meja makan. Ia juga mengambil dompetnya untuk membayar pesanan makanan itu.
Tetesan air dari tubuh Rio membuat lantai apartment agak licin. Rio hampir terpeleset ketika ia ingin berjalan kembali ke kamar mandi. Gadis yang melihat hal itu, dengan cekatan mengambil lap handuk dan mulai
mengeringkan lantai basah.
“Biar aku aja, yank,” kata Rio sambil mengambil alih lap handuk. Ia melepaskan tangannya dari handuk yang melingkar di pinggangnya dan handuk itu langsung terlepas jatuh ke lantai. Rio dan Gadis saling pandang lalu melihat ke bawah bersama-sama. Rio tidak bisa menyembunyikan hasrat yang sudah terlanjur menunjukkan dirinya itu.
Gadis tersenyum geli melihat Rio berusaha menutupi bagian tubuhnya yang paling berbahaya. Nggak berguna juga karena mereka sudah saling melihat tubuh masing-masing selama ini. Tapi sepertinya Rio malu sendiri
dengan kondisinya saat ini.
Rio mengambil handuknya, lalu melanjutkan mengepel dengan kakinya. Ia cepat-cepat masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan menenangkan diri. Sementara Gadis membuka bungkusan makanan lalu
menghidangkannya di meja makan.
Gadis terus melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup. Ia hampir selesai makan, tapi Rio belum keluar juga. Kalau biasanya, Gadis akan menggedor pintu kamar mandi, kali ini Gadis mendiamkan Rio. Sejujurnya
jauh di lubuk hatinya, Gadis masih mempercayai Rio. Pernikahan mereka sudah berjalan bertahun-tahun dan selama itu tidak pernah kesandung masalah orang ketiga.
Gadis memikirkan kata-kata Rio tadi, suaminya itu sedang mencari perhatiannya. Gadis mengingat bagaimana sibuknya dia mengurus anak-anak karena si kembar Reymond dan Reyna sedang sibuk mempersiapkan diri
untuk ulangan. Kaori juga sibuk menemui dokter mata dan juga belajar. Roy juga sibuk dengan persiapan ulangan. Belum lagi si kembar Riana dan Riani yang baru masuk PG.
Pantas saja Rio merasa diabaikan olehnya. Gadis memang jarang meminta bantuan Rio untuk membantu anak-anaknya. Gadis sadar kalau Rio juga capek sepulang bekerja. Jadi ia berusaha sendiri untuk membantu
anak-anaknya. Tapi rupanya kesibukannya mengurus anak-anak membawa masalah dalam hubungannya dengan Rio.
Gadis menghela nafasnya, permasalahan mereka sebenarnya hanya komunikasi. Tapi jadi panjang karena keduanya tidak sadar.
Pintu kamar mandi terbuka, Rio keluar dari sana masih berbalut handuk. Gadis melihat bibir suaminya itu sudah membiru karena terlalu lama berdiri di bawah kucuran air dingin. Rio cepat-cepat membuka lemari pakaian, ia mengambil sweater dan juga celana pendek.
Tubuh Rio tampak menggigil terkena AC kamar. Gadis melirik Rio yang berjalan ke tempat tidur lalu masuk ke bawah selimut.
“Y—yank, aku kedinginan. Tunggu bentar ya. Habis ini kita pulang,” kata Rio sedikit gemetar.
Pria itu menarik selimut menutupi tubuh sampai ke kepalanya ikut tertutup. Suara ponsel Rio menarik perhatian Gadis, ia langsung mengambil ponsel itu dan membuka kuncinya. Kening Gadis mengkerut melihat chat masuk dari Keira.
“Om berantem ya?”
“Makanya, om. Kalo ada masalah tuch diomongin aja. Bukan pake prank.”
“Takut, om. Tante Gadis kalo marah, serem om. Aku pernah liat tante Gadis marahin si kembar.”
“Keluar tanduk, om. Apalagi oma Mia. Sumpah aku merinding, om.”
“Yah, jangan pecat aku, om. Kerja disana asyik, banyak cowok gantengnya. Jangan pecat ya, om. Bentar lagi aku pergi, kok.”
“Om? Halo?”
“Om marah ya? Om kalo punya pesan terakhir, kirimin aku ya. Nanti aku sampein ke orangnya.”
“Om? Jangan mati dulu, om.”
Gadis tidak bisa menahan senyumnya melihat chat panjang dari Keira. Gadis itu menyadari kalau Rio sudah online dan malah menelpon. Gadis menekan tombol hijau dan mendekatkan telinganya.
“Halo? Om Rio? Om masih hidup kan?” tanya Keira dari seberang sana.
“Halo, Keira. Ini tante Gadis,” kata Gadis tenang.
Hening. Tidak ada suara dari seberang sana. Gadis menatap layar ponsel Rio, sambungan masih ada.
“Halo? Kei? Kamu masih disana?” tanya Gadis lagi.
“Ampun, tante. Itu om Rio yang salah! Aku minta maaf juga, tante. Tapi beneran nggak ada apa-apa kok,” rengek Keira dari seberang sana.
“Jadi cuma prank ya? Emangnya kamu nggak suka sama om Rio?” tanya Gadis ingin tahu.
“Suka, tante. Tapi banyakan nggak sukanya. Om Rio bawel banget. Tapi dia bucin sama tante Gadis. Suwer. Beneran, aku nggak bohong, tante,” kata Keira jujur.
“Kei, lebih baik kamu cari pacar atau minimal berhenti godain suami orang. Ini masih tante loh, kalau kamu ketemu istri lain yang lebih sakit hati, gimana?” nasihat Gadis bijak.
“Maaf, tante. Kei, janji akan berusaha berubah. Tapi masih boleh kerja, kan?” tanya Keira penuh harap.
Gadis menghela nafasnya, ia berusaha mempercayai Rio dan juga Keira. Setidaknya ia punya Reva dan Melda yang bisa dimintai tolong untuk mengawasi keduanya.
“Iya, tapi ini kesempatan terakhir. Tante nggak mau denger hal kayak gini lagi. Ya, Kei?” tanya Gadis meyakinkan Keira.
“Iya, tante. Kei, janji. Makasih ya tante. Eh, tan, itu si om mana? Udah mati?” tanya Keira tanpa filter.
“Kamu nich, mau nyumpahin tante jadi janda ya?” kata Gadis sedikit kesal.
“Ng—nggak! Bukan gitu maksudku, tante. Maafin. Maaf, tante. Aku cuma mau tahu,” kata Keira masih kepo.
“Om Rio lagi tidur. Tadi tante hukum sampai kecapean,” kata Gadis santai.
Otak Keira langsung traveling memikirkan hukuman yang membuat seorang pria kekar seperti Rio, kecapean.
“Tante gituan ya? Hehehe.... Berapa ronde, tan?” tanya Keira mulai kurang ajar.
“Kepo sekali. Kamu tuch masih kecil. Ntar ada waktunya tahu sendiri. Sudah ya. Tante juga mau istirahat,” kata Gadis ingin menyudahi pembicaraan.
Keira langsung mengeluh, ia masih ingin tahu apa yang dilakukan Gadis dan Rio. Gadis keburu menutup telponnya dan beralih menatap Rio yang rupanya sudah tertidur.
**
Kira-kira dimaafin nggak ya?