
Setelah sesi terapi dengan dokter Kevin selesai dan Arnold menebus obat untuk Rara, mereka memutuskan makan dulu di sebuah restauran sekalian mampir ke mall terdekat.
Arnold memesan makanan untuk mereka dan kembali fokus pada Rara. Entah kenapa setelah selesai ikut terapi, wajah Rara terlihat lebih berseri dan itu mengundang hasrat Arnold.
Arnold : "Sayang, coba jangan senyum."
Rara : "Kenapa?"
Arnold : "Cantikmu kebangetan, aku..."
Kata-kata Arnold diinterupsi dengan kedatangan minuman yang mereka pesan.
Rara : "Kakak kenapa?"
Arnold : "Aku pengen makan kamu..."
Wajah Rara memerah, membuat Arnold semakin gemas dibuatnya. Arnold menarik tangan Rara, mempermainkan jemarinya. Kemesraan mereka membuat beberapa pengunjung restauran senyum-senyum sendiri melihatnya.
Rara : "Kak, aku malu. Ini tempat umum."
Arnold : "Emang kenapa? Kita gak melakukan hal mesum. Aku cuma ingin menunjukkan pada dunia kalau aku sangat mencintaimu."
Rara : "Kakak gombal..."
Hati Rara berbunga-bunga mendengar kata-kata Arnold, tidak pernah sekalipun Arnold menyakiti perasaannya. Rara baru benar-benar merasakan dicintai dengan tulus.
-------
Saat pesanan makanan mereka diantarkan ke meja, ponsel Arnold berdering,
Arnold : "Ya, halo pah..."
Ronald : "Arnold kamu dimana? Kenapa gak ada di kantor?"
Arnold : "Ah, Arnold lupa kasi tahu papa. Arnold di kota J sama Rara, ada sesi terapi disini."
Ronald : "Kamu gimana sich? Uda mau nikah masih sempat terapi, urusan kantor juga gak beres."
Arnold : "Maaf, pah. Tapi Arnold selalu pantau kantor, kok. Ada masalah apa?"
Ronald : "Salah satu client kita, Pak Anton memutuskan kerja sama tanpa penjelasan. Kamu tahu apa masalahnya?"
Arnold : "Maksud papa, pak Anton Arijaya pemilik group Mahkota?"
Ronald : "Iya, kamu tahu kan itu salah satu perusahaan besar."
Arnold : "Biarkan saja, pah. Dia yang memutuskan kontrak, dia yang harus bayar ganti ruginya..." suara Arnold terdengar enggan dan dingin.
Ronald : "Apa yang terjadi Arnold?" Arnold beranjak dari duduknya sambil memberi tanda pada Rara kalau ia akan bicara di tempat lain. Rara hanya mengangguk dan mulai makan karena perutnya sudah kelaparan.
Arnold : "Anaknya hampir memperkosa Rara, pah..."
Ronald : "Apaa??!!"
Arnold : "Papa gak baca beritanya? Tapi mungkin beritanya sudah di cut dari sosial media. Secara mereka punya kekuasaan dan uang. Tapi proses hukum tetap berjalan, pah. Bahkan mama Rara dipukuli dan hampir diperkosa juga waktu mau menyelamatkan Rara."
Ronald : "Bagaimana kondisi Rara sekarang?"
Arnold : "Rara sudah baikan, pah. Habis terapi tadi, sikapnya lebih tenang dan rileks. Mama Rara juga sudah membaik."
Ronald : "Ya sudah kalau begitu, papa akan urus pelanggaran kontrak ini. Papa gak nyangka kalau anaknya Pak Anton bisa sebejat itu."
Arnold : "Ya, pah. Kita gak tahu ada apa dibalik kekuasaan dan uangnya yang banyak. Arnold tutup telponnya dulu ya, pah. Sampai ketemu."
Arnold menutup telponnya dan kembali duduk di depan Rara. Tapi bukannya makan, ia malah menatap Rara yang asyik mengunyah makanannya.
Rara : "Kakak gak makan? Tadi om bilang apa?"
Arnold : "Om? Papaku juga papamu, Ra. Panggil papa."
Rara : "Hehe... Iya, tadi papa bilang apa?"
Arnold : "Biasa, urusan kerjaan, aku lupa bilang kalau kita ke kota J. Tapi uda beres kok. Ra, suapin aku makananmu."
Rara : "Kakak kan bisa ambil sendiri."
Arnold : "Dikit aja, cepetan."
Mau gak mau Rara menuruti permintaan Arnold dan menyuapinya makanan dari piringnya.
Arnold : "Enak... lagi dong..."
Akhirnya makan siang mereka berakhir dengan Rara menyuapi Arnold makan, di bawah tatapan pengunjung restauran.
------
Rara merebahkan tubuhnya di atas sofa kamar apartment Arnold. Mereka baru kembali dari makan siang dan belanja keperluan mereka. Arnold membelikan Rara dua set pakaian simpel untuk jalan-jalan, pakaian dalam dan juga piyama tidur. Arnold juga membelikan make up dan beberapa keperluan Rara lainnya.
Sementara Arnold hanya membeli pakaian dalam dan pakaian simpel saja. Rara tersenyum malu mengingat kejadian di mall tadi,
Flash back...
Rara sempat menolak saat Arnold ingin ikut ke dalam toko pakaian dalam untuk memilihkan pakaian dalam dan piyama tidur. Tapi Arnold cuek saja menarik tangan Rara masuk.
Wajah Rara memerah saat Arnold menunjuk pakaian dalam yang ia inginkan dan memberitahu pelayan toko berapa ukuran Rara.
Rara : "Kakak kok bisa tahu ukuranku?"
Arnold : "Kenapa gak tahu? Aku sudah pernah melihatnya."
Rara : "Kak, itu terlalu seksi."
Arnold : "Gak juga. Kamu mau pakai pakaian dalam aja buat tidur nanti?"
Rara : "Kan ada yang lebih tertutup, kak."
Arnold : "Iya dech."
Arnold memilih piyama tidur yang cukup menutup tubuh Rara. Tapi diam-diam ia membeli piyama tidur seksi yang dipilihnya tadi.
Flash back end...
Arnold keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi pinggangnya. Ia mendekati paper bag yang tergeletak di samping Rara yang menutup wajahnya dengan tangan saat melihat Arnold.
Arnold : "Kamu gak mandi, Ra? Istirahat. Nanti malam kita keluar lagi."
Rara : "Iya, kak."
Rara masuk ke kamar mandi dengan cepat, jantungnya berdebar kencang. Entah kenapa ia merasakan kalau Arnold akan menerkamnya kalau mereka berduaan saja dalam satu ruangan.
Rara menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi sampai-sampai Arnold menggedor pintu kamar mandi.
Arnold : "Ra? Rara? Kamu gak pa-pa?"
Rara : "Iya, kak."
Arnold : "Kenapa belum keluar juga? Kamu ngapain di dalem?"
Rara : "Aku luluran dulu, kak. Masih belum selesai."
Arnold : "Kamu perlu bantuan...?"
Rara : "..."
Arnold menepuk keningnya, bisa-bisanya ia menawarkan sesuatu seperti itu pada Rara. Tapi ia terkejut saat Rara membuka pintu kamar mandi. Arnold menahan hasratnya melihat penampilan Rara yang sudah belepotan lulur berwarna kuning dan tubuh tertutup handuk.
Harum mangir dan jasmine memenuhi kamar mandi, Arnold melangkah masuk ke kamar mandi dan duduk di pinggir bath up yang baru terisi setengah. Rara menyerahkan botol berisi lulur dan mulai menurunkan handuk yang menutupi tubuhnya sampai ke pinggang.
Rara : "Kak, tolong gosok punggungku ya."
Arnold menggosok tangannya yang gemetar melihat punggung mulus Rara. Ia menuangkan lulur ke tangannya dan mulai menggosokkannya ke punggung Rara.
Arnold : "Ini harus digosok sampai kering?"
Sungguh Arnold sudah hampir kehilangan akal sehatnya dan ia harus mengajak Rara bicara atau pertahanannya akan jebol sekarang juga.
Rara : "Digosok sampai dakinya keluar, kak. Yang warnanya hitam. Ada gak kak?"
Arnold : "Ada sedikit. Ini gak sakit ya?"
Rara : "Gak, kak. Cuma geli..."
Arnold bingung mau bicara apa lagi. Ia mencoba konsentrasi menggosok punggung Rara sampai Rara merasakan sudah cukup.
Rara : "Kak, uda. Makasi ya."
Arnold beranjak ke wastafel dan mencuci tangannya, sementara Rara masuk ke dalam bath up. Ia melepaskan handuknya sambil duduk di dalam bath up.
Wajah Arnold merah padam melihat pemandangan itu. Rara mengusap lulur di bahunya membilasnya dengan air yang sudah dicampur aromatherapy wangi jasmine.
Rara : "Kak, kalau uda selesai cuci tangan, tolong ambilkan bathrobe ya."
Arnold keluar kamar mandi, ia mengambil bathrobe, handuk dan piyama tidur, dan membawanya kembali ke kamar mandi.
Rara sudah berdiri di bawah shower, membilas tubuhnya sementara air di dalam bath up mulai surut.
Arnold tidak bisa menahan dirinya lagi, ia ikut masuk ke dalam shower dan berdiri di belakang Rara.
Rara : "Kak? Kakak mau mandi lagi?"
Arnold : "Ra, boleh sekarang...?"
Rara : "Apa...?"
Rara merasakan Arnold mulai mencium pundaknya, menyudutkannya ke dinding shower. Sambil meraba punggung Rara yang halus.
Rara : "Kak... jangan..."
Arnold tersentak, akal sehatnya perlahan mulai kembali. Ia memejamkan matanya dan balik badan.
Arnold : "Ra, uda selesai? Gantian..."
Rara keluar dari shower dan memakai bathrobe. Ia mengambil piyama tidur, melangkah keluar kamar mandi dan menutup pintu.
Arnold memutar kran air dingin yang langsung menyiram tubuhnya. Mengalirkan hasratnya pada Rara melalui aliran air yang membasahi tubuhnya. Hampir aja ia kebablasan menyentuh Rara.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------