Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Kembali lagi


DM2 – Kembali lagi


Melda tidak menyahut lagi, ia mengambil


amplop coklat yang tadi diberikan X. Saat ia mulai membacanya sambil meminum


air, Melda tidak sengaja menyemburkan air di mulutnya ke samping. Untung saja X


gak kena.


“Uhuk! Uhuk!”Melda keselek parah. Ia


membutuhkan waktu untuk memulihkan rasa kagetnya ketika melihat isi amplop itu.


“Ini serius? Gak bercanda, kan?”tanya Melda masih belum percaya.


X mengangguk, “Serius. Tapi dengan satu


syarat.”


“Apa?”tanya Melda gak sabaran.


“Kasi aku anak yang lucu dulu.”saut X.


Melda langsung melompat ke atas pangkuan X.


“Sambil jalan ya. Sini sayang.” Saking senangnya, Melda menerjang X duluan. Ia


sudah tidak sabar mulai bekerja besok.


*****


Keesokan harinya, Rio sampai di kantor


lebih pagi dari Alex dan Romi. Ia masih setengah sadar sebenarnya karena


ngantuk luar biasa. Gara-gara Melda keluar, Rio harus lembur di kantor untuk


menyelesaikan pekerjaan Melda dan ia baru pulang jam 1 pagi tadi.


Ketika Rio sampai di lantai ruang kerjanya,


ia tidak melihat seseorang sudah duduk di meja Melda. Rio mencoba masuk ke


ruang kerjanya yang masih terkunci. Dengan mata terpejam, Rio meraba ke dalam


tasnya mencari kunci. Melirik sedikit ke lubang kunci sebelum memasukkan kunci


ke dalamnya. Rio akhirnya bisa masuk, ia langsung duduk lanjut merebahkan


kepalanya diatas meja kerja.


“Selamat pagi, Rio. Dimana kunci ruangan


pak Alex?”tanya Melda yang sejak tadi memperhatikan Rio.


“Pagi, Mel. Tuch, masih nyangkut di pintu.


Hari ini ada meeting gak? Aku mau tidur lagi.”jawab Rio masih belum sadar.


“Ada jam 9 kan. Emangnya kamu lembur


semalam?”tanya Melda menahan tawanya.


“Gara-gara kamu pergi, aku harus kerja


double. Aku baru tidur jam 2, jam 6 sudah harus bangun berangkat ngantor. Mel,


buatin aku kopi dong.”


Hening.


Hening.


Rio mengangkat kepalanya dengan cepat. Ia


terbentur lemari kayu yang dipasang diatasnya.


“Addoowww!!!”pekik Rio kesakitan. “Eh, aku


gak mimpi. Sakit...”rintih Rio memegangi kepalanya yang benjol.


Rio menoleh cepat melihat tempat Melda tadi


berdiri tapi gak ada orang. Ia jadi ragu lagi antara mimpi atau kenyataan. Romi


datang disaat Rio masih linglung.


“Pagi, Rio. Kamu kenapa?”tanya Romi


prihatin melihat lingkaran hitam di bawah mata Rio.


“Pagi, om. Kayaknya aku halu pagi-pagi


dech. Barusan aku denger suaranya Melda. Pasti gara-gara efek tidur sedikit


nich.”kata Rio.


Romi tidak mengatakan apa-apa meskipun dia


sudah tahu apa yang terjadi. Ia duduk di kursinya sendiri dan mulai bekerja. Alex


datang beberapa menit kemudian, ia berdiri di depan meja Melda, menutupi Melda


dari pandangan Rio.


“Papa ngapain berdiri disana?”tanya Rio


pada dirinya sendiri. Ia beranjak dari kursinya, ingin ke pantry membuat kopi.


Saat itu ia melihat Melda sedang bicara dengan Alex. Rio menggelengkan


kepalanya, mengucek matanya. Ia mencoba melihat sekali lagi, kali ini Melda


menoleh padanya.


“Melda?”panggil Rio. Ia mendekati Melda dan


mencubit lengan wanita itu keras-keras.


“Aduuhh! Kamu kenapa sich?”tanya Melda


menepis tangan Rio. Ia memegangi lengannya yang terasa panas menggigit.


“Aku gak mimpi! Ini beneran kamu, Mel.”tanya


Rio.


Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Rio.


“Iya, ini aku, bocah asem. Kalo kamu masih mimpi, cubit dirimu sendiri. Kenapa aku


yang dicubit?!”lengking Melda kesal.


Alex meninggalkan mereka berdua yang mulai


bertengkar. “Hais, balik lagi seperti semula dech. Sudahlah.”gumam Alex.


*****


Enam bulan kemudian, Rio sedang mengantar


Gadis mengikuti kelas senam hamil. Perut Gadis terlihat sangat besar dan terasa


berat baginya untuk berjalan sendiri. Ia harus dibantu untuk berdiri dan duduk


atau tubuhnya akan menggelinding. Untung saja kandungannya cukup kuat kali ini.


Gadis sangat menjaga pola makannya agar


berolahraga dan mengikuti senam hamil.


Setelah mengikuti gerakan dan petunjuk dari


guru senam hamil itu, Gadis merasa sangat lelah. Ia meminta diambilkan air pada


Rio. Saat Rio kembali, Gadis tampak dipegangi seorang wanita hamil lainnya.


“Tolong ini kenapa basah. Ibunya mau


melahirkan!!”teriak wanita itu panik.


Guru senam yang mendengar kepanikan itu


segera menghubungi perawat untuk dibawakan kursi roda.


“Kamu kenapa, sayang?”tanya Rio panik.


“Sa...sakit.”desis Gadis.


Gadis segera dibawa ke ruang pemeriksaan


kandungan. Ia terus mendesis kesakitan ketika suster disana melakukan


pemeriksaan padanya.


“Pak, ibunya akan segera melahirkan.


Silakan mengurus administrasi dulu. Dan perlengkapan ibunya diambil ya.”kata


suster menjelaskan situasi Gadis pada Rio. Suster itu tidak menunggu lagi dan


segera menelpon dokter kandungan Gadis.


Rio mendengar kalau Gadis sudah bukaan


delapan. Air ketubannya juga sudah pecah. Rio tidak mau meninggalkan Gadis


sendirian, ia menelpon Mia untuk mengabari keadaan Gadis dan minta tolong di


bawakan perlengkapan melahirkan Gadis. Rio juga menelpon Aira yang langsung


menyusul ke rumah sakit.


Ketika Rio sedang mengurus administrasi di


loket depan lobby, Aira lewat di dekatnya. “Rio, dimana Gadis?”tanya Aira.


“Di ruang bersalin, mah. Sudah bukaan


delapan. Rio masih ngurus administrasi.”


“Sini, KTP-nya Gadis. Kamu temenin Gadis


sana. Nanti mama nyusul.”kata Aira mengambil alih formulir yang sedang diisi


Rio.


Rio segera kembali ke ruang bersalin, tepat


waktu ketika dokter kandungan yang sudah datang mengatakan kalau bukaan Gadis


sudah sempurna. Saatnya kedua bayi itu keluar. Rio menarik nafas panjang bersiap


menemani Gadis di sampingnya.


“Sayang, kamu pasti bisa.”bisik Rio.


“Hah?! Apa? Ini sakit. Kamu tau!”kata Gadis


galak.


“Pak, ibunya jangan dibikin emosi. Ntar


anaknya kejepit ini kepalanya sudah hampir keluar.”kata dokter kandungan itu


memperingati Rio.


Akhirnya Rio hanya bisa diam. Dirinya


pasrah dicakar, digigit Gadis yang kesakitan. Blesh! Anak pertama mereka


akhirnya keluar. Rio menatap terharu melihat anaknya menggeliat sebelum


akhirnya menangis dengan kencang.


“Oooeeekkkkk... oooooeeekkkk... oooaaaa....!”tangis


bayi itu. Seorang suster menggendong bayi yang masih berlumuran cairan itu.


“Satu lagi ya, bu. Ayo siap-siap, kepalanya


sudah keliatan ini.”kata dokter memberi semangat.


Gadis mengedan sekali lagi dan anak kedua


mereka akhirnya lahir ke dunia.


“Ooooaaakkkkk.... oooooaaaaaaakkkkk!!!!”tangisannya


lebih mirip teriakan histeris.


“Yang ini laki-laki, dokter.”kata suster.


“Oh, kakaknya perempuan ya.”saut dokter itu


sambil melakukan tugasnya mengobras tempat keluarnya kedua bayi itu.


Rio ingin mengintip apa yang sedang


dikerjakan dokter dibawah sana, tapi Gadis mendorongnya agar mengikuti suster


yang membawa bayi mereka. Gadis mulai menutup matanya, ia sangat lelah dan


ingin tidur sebentar.


Saat itu Rio teringat pada kepergian mama


Selvi-nya, Rio mengguncang tubuh Gadis agar tidak tertidur.


“Apa sich?!”bentak Gadis.


“Kamu gak boleh tidur. Aku gak mau seperti


mama Selvi. Kamu gak boleh pergi.”kata Rio memelas.


Gadis tersenyum pada Rio, “Aku gak pa-pa.


Aku cukup kuat kok. Seperti mama Mia. Pergi sana, liat anak kita. Cepat.”


“Janji?”tanya Rio.


Gadis mengangguk, “Aku janji, Rio. Cepat


kejar susternya.”


Rio melangkah mengikuti suster yang menuju ke


ruang bayi, ia sempat menoleh dan  melihat Gadis masih tersenyum kearahnya.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.