Duren Manis

Duren Manis
Extra part 45


Extra part 45


“Lo bener-bener cewek licik. Lo ngapain ngerekam


kayak gini? Sakit jiwa lo! HP lo gue sita. Cepetan pergi lo! Mau gue hajar lagi


muka lo?!” ancam Keira sadis.


Pintu kamar ditutup Keira dengan cepat, ia segera


memeriksa keadaan Bilar yang masih terbaring di atas tempat tidur.


“Bilar... sadar... Bilar,” panggil Keira sambil


menepuk-nepuk pipi Bilar.


Keira ingin menelpon X untuk minta bantuannya


menjemput Bilar, tapi Keira tersadar kalau ia meninggalkan tas dan ponselnya di


meja restaurant.


“Aduch, **** banget. Gimana caranya nelpon om X


sekarang?” gumam Keira bingung sendiri padahal di tangannya ada dua ponsel.


Keira meraih tangan Bilar, menempelkan jempol pria


itu ke scan finger di ponsel Bilar. Ponsel itu langsung terbuka kuncinya, Keira


segera mencari kontak X di ponsel itu. Setelah mendapatkan nomor ponsel X,


Keira segera menelpon pengawal Bianca itu.


Terdengar sambungan telpon dari seberang sana.


Keira duduk di pinggir tempat tidur, disamping Bilar yang masih terbaring. X


tidak mengangkat telponnya, Keira mencoba sekali lagi. Tanpa Keira sadari,


Bilar sudah duduk di belakangnya. Pria itu langsung memeluk tubuh Keira dari


belakang.


“Bilar, kamu udah bangun. Tunggu, aku telpon om X


dulu ya,” kata Keira kembali fokus ke ponsel Bilar.


“Halo, tuan


muda,” sapa X dari seberang sana.


“Om X, ini Keira. Om tolong datang ke hotel XX, ini


Bilar dikasi minum sesuatu sama Silvia,” jelas Keira.


Entah apa yang terjadi pada Bilar, pria itu menarik


kemeja yang dipakai Keira sampai kancingnya terlepas dan kemeja itu terbuka


lebar.


“Ach! Bilar, jangan!” pekik Keira panik.


Keira berusaha melepaskan dirinya dari pelukan


Bilar, ia berteriak di telpon meminta bantuan X dan memberitahu tentang letak


kamar itu di lantai enam. Ponsel Bilar terjatuh ke samping bantal ketika pria


itu menyeret tubuh Keira lalu mendorongnya hingga terlentang diatas tempat


tidur.


“Bilar, jangan! Aku nggak mau!! Ach!” jeritan Keira


terdengar X yang terburu-buru menyusul keduanya.


Keira berusaha mempertahankan kehormatannya,


satu-satunya harta paling berharganya yang masih ia jaga sampai saat ini. Bilar


menggeram kesakitan saat Keira menggigit tangannya sampai berdarah. Keira


mencoba menyakiti Bilar agar pria itu sadar. Tapi sepertinya pengaruh obat yang


diberikan Silvia masih lebih kuat.


“Bilar, please jangan! Mmmphhhh!!” Keira menggigit


bibir Bilar yang balas menggigitnya. Gadis itu mendesis kesakitan, rasa amis


darah membuatnya ingin muntah.


Pakaian Keira mulai berserakan di sekitar tempat


tidur setelah Bilar menarik satu persatu pakaian gadis itu. Tubuh Keira gemetar


merasakan nyeri di lehernya yang digigit Bilar. Dibeberapa bagian tubuh Keira


juga terdapat bekas ciuman yang mulai memerah.


“Bilar...,” lirih Keira masih mencoba menyadarkan


pria itu.


Bilar terus mencumbu tubuh Keira hingga gadis itu


tidak berdaya menahan rasa yang hampir meledak di tubuhnya. Keira menegang,


menjambak rambut Bilar dengan keras. Kabut gairah memenuhi mata kedua insan


yang hampir polos itu, menggelapkan kenyataan kalau mereka belum boleh


melakukan hal itu.


Keira menggelengkan kepalanya, akal sehatnya masih


tersisa sedikit berusaha menepis tangan Bilar. Tangan Bilar menarik penutup


terakhir tubuhnya. Kini tidak ada batasan diantara mereka berdua.


“Bilar, jangan...,” pinta Keira dengan sisa-sisa


tenaganya, mencegah Bilar melanjutkan apa yang ingin dilakukannya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan cepat, X masuk


terburu-buru bersama beberapa body guard. Bilar ditarik dari atas tubuh Keira


yang sudah lemas. X dengan cepat menutupi tubuh Keira dengan selimut.


“Cepat telpon dokter,” perintah X sambil memeriksa


tanda-tanda vital di tubuh Keira. “Kei! Keira!” panggil X tapi gadis itu tidak


bisa menjawab X.


Dokter datang dengan cepat, langsung memeriksa


Bilar dan Keira. Sementara X memeriksa apa yang terjadi sebenarnya dan


mendapati laporan kalau tas dan ponsel Keira tertinggal di meja restaurant. X


memerintahkan seseorang untuk mengambil tas dan ponsel Keira.


Mata awas X melihat sekeliling kamar dan mendapati


ada ponsel terjatuh di samping tempat tidur. Ada satu lagi di dekat kepala


Keira yang masih belum sadar. X memegang dua ponsel yang berbeda di tangannya.


Salah satunya milik Bilar, jelas ada foto Keira disitu. Ketika X melihat


wallpaper ponsel satunya, X memerintahkan seseorang untuk mengambilkan


laptopnya di mobil.


Sambil menunggu dokter selesai memeriksa keduanya,


X merentas ponsel milik Silvia. Ia menemukan rekaman yang tadi direkam gadis


itu. X hampir keceplosan tertawa ketika melihat Keira menjambak Silvia dan


menyeretnya. Terdengar suara Keira berteriak entah pada siapa lagi. Rekaman itu


hanya sampai disitu saja.


X melirik ponselnya yang sibuk bergetar. Nyonya


Bianca calling. X menarik nafas panjang sebelum mengangkat telpon dari bos-nya


itu.


nona Keira,” kata X.


“Apa yang


terjadi, X? Kenapa aku mendapat laporan kalau Bilar melakukan itu dengan Keira?


Dimana Silvia?” tanya Bianca cemas.


X menceritakan kronologis kejadian yang ia dapatkan


dari semua sumber terpercaya. Bianca mendengarkan dengan sabar meskipun hatinya


masih tidak tenang. X menjelaskan posisi keduanya saat ditemukan memang


sepertinya akan melakukan itu, tapi X belum bisa memastikannya karena Keira


sedang diperiksa dokter.


X melotot pada body guard yang tidak berpaling saat


dokter memeriksa Keira. Ia mengusir para body guard itu keluar dari kamar.


Bianca yang kepo dengan apa yang terjadi, memutuskan sambungan telpon dan


kembali menelpon menggunakan v-call. Bianca bisa melihat apa yang dilakukan


dokter terhadap Keira.


Setelah memastikan kondisi keduanya baik-baik saja,


dokter duduk di samping X yang masih terhubung dengan Bianca.


“Bagaimana,


dokter?” tanya Bianca.


“Ada beberapa luka di tubuh nona Keira. Di leher,


bibir, dan bagian pribadinya. Tapi selaput daranya masih terjaga utuh. Nona


Keira akan segera membaik setelah istirahat. Tapi tuan muda Bilar masih harus


melakukan itu untuk menghilangkan efek obatnya. Setidaknya dua kali,” jelas


dokter serius. X dan Bianca saling pandang sebelum menatap dokter lagi.


“Apa tidak ada cara lain, dokter?” tanya Bianca. Ia


terkejut saat mendengar dokter mengatakan kalau Keira masih perawan. Dokter itu


menggeleng. Bilar harus melakukannya sekarang juga atau saraf-nya akan rusak.


“Biar aku yang bantu Bilar, dokter.” Dokter, X, dan


Bianca menoleh menatap Keira yang sudah duduk di tempat tidur. Gadis itu


merapatkan selimutnya menutupi tubuhnya yang masih polos.


“Apa kau yakin, Kei?” tanya X sambil melirik Bianca


di layar ponsel.


“Atau tante Bianca maunya Bilar sama Silvia?


Terserah tante,” kata Keira sambil mengusap bibirnya yang bengkak.


Bianca menggeleng cepat, tampak gerakan-gerakan


dibawah selimut yang menutup tubuh Bilar. X menunggu perintah dari bos-nya. Setelah


Bianca mengijinkan Keira membantu Bilar, entah dengan cara apa, Keira meminta X


untuk mengikat tangan Bilar.


“Kenapa diikat segala?” tanya Bianca yang takut


putranya kenapa-napa.


“Tenaga Bilar terlalu kuat, tante. Aku bisa habis


duluan sebelum dia... puas. Ini aja, aku udah babak belur.” Keira berusaha


menutupi lehernya yang masih berdarah sedikit. Ia sangat malu menawarkan


dirinya seperti itu, tapi Keira tidak ingin Bilar kesakitan terus. Entah apa


yang akan dipikirkan Bianca nanti, Keira memutuskan membantu Bilar sebisanya.


Dokter dan X segera keluar dari kamar itu setelah X


mengikat tangan Bilar ke tempat tidur. Meninggalkan Keira dan Bilar hanya


berdua saja. Keira memejamkan matanya untuk menenangkan diri. Tak lama, ia


mulai mendekati Bilar.


**


Dua jam kemudian, Keira membuka pintu kamar dengan


tubuh berbalut bathrobe dan rambut yang basah. X dan dokter melangkah masuk ke


dalam kamar untuk memeriksa Bilar yang sudah tertidur pulas. Kedua tangannya


sudah terlepas dan tampak memeluk bantal.


X menoleh menatap Keira yang berjalan perlahan


mendekati sofa. Alis X terangkat ketika melihat Keira meringis memegangi


perutnya.


“Kei, kamu baik-baik aja?” tanya X. Entah apa yang


dilakukan kedua insan itu sampai Keira kesakitan seperti itu.


“Iya, om. Om, bisa minta tolong ambilin baju buatku


pakai?” pinta Keira. X mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang untuk


membawakan pakaian untuk Bilar dan Keira.


Dokter sudah selesai memeriksa Bilar, kondisi Bilar


sudah membaik, tinggal menunggu pria itu bangun sendiri. Dokter beralih memeriksa


Keira yang tampak lelah. X berbalik menghadap ke dinding saat dokter memeriksa


Keira. Ada tambahan luka lagi di dada Keira, dokter hanya bisa geleng-geleng


kepala melihat hasil perbuatan Bilar.


“Om, aku mau pulang,” pinta Keira tanpa menatap X.


Jelas sekali gadis itu terlihat sangat lemah dan malu sekali.


Orang yang diminta X untuk mengambil pakaian, segera


datang ke kamar hotel itu. Keira mengganti pakaiannya di kamar mandi. Selama


menunggu Keira, X mengumpulkan anak buahnya. Mereka mengatur agar saat Keira


keluar nanti, ia tidak bertemu dengan siapapun di lorong lantai enam. X


memerintahkan agar tidak ada seorangpun yang melihat kondisi Keira, terutama


menatap intens gadis itu.


Setelah Keira keluar dari kamar mandi, X menawarkan


untuk menggendong gadis itu. Tapi Keira menolaknya, ia sanggup berjalan


meskipun tidak cepat. Sebelum keluar dari rumah itu, Keira menatap Bilar yang


masih tidur.


“Om, tolong jangan bilang aku dimana ya. Aku perlu


waktu sendiri,” pinta Keira pada X.


Pria itu mengangguk sebelum mempersilakan Keira keluar


dari kamar. X sendiri yang akan mengantar Keira pulang ke rumah Jodi dan siap


menjelaskan apa yang terjadi pada gadis itu.