Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 24


 “Aku tidak setuju. Sejak awal aku mau pindah kesini karena aunty Renata mau tinggal disini bersamaku. Kalau pindah ke apartemen kak Rey lagi, aku akan sendirian saat Ken pergi ke kantor. Andika juga sibuk dengan sekolahnya. Membosankan,” keluh Kaori yang berubah pikiran dengan cepat.


Biar saja Reynold kelimpungan sendiri, tapi mereka belum boleh bersama. Apalagi setelah melihat kejadian di kamar Renata tadi, Kaori masih berusaha menahan keduanya agar tidak kebablasan. Kaori menahan tawanya melihat Renata menggeleng pada Reynold. Mereka berdua harus mengalah agar Kaori dan Ken bisa hidup dengan


bahagia bersama.


“Yah, nggak seru,” sahut Reynold ngambek seperti anak kecil.


“Kenapa nggak kakak saja yang pindah kesini? Ada kamar yang cukup luas di belakang. Kalian bisa bertemu setiap hari. Tapi kalau dilihat-lihat, kenapa aku merasa kalau kalian ini ada hubungan istimewa ya?” celetuk Kaori  membuat Renata tersedak liurnya sendiri.


UHUK! UHUK! UHUK!


“Kamu ngomong apa sih?!” pekik Renata panik sendiri.


“Aku kan hanya bertanya,” sahut Kaori masih menahan senyumnya.


Perhatian mereka semua teralihkan ketika Ken pulang ke mansion itu. Dia sudah mendengar kabar tentang kecelakaan yang dialami Tuan Anthony dan bergegas pulang untuk mengecek keadaan Kaori dan Andika. Melihat suami tercintanya sudah hadir di depan mata, Kaori segera menyambut dengan pelukan hangat. Udara di luar sedang sangat dingin akhir-akhir ini dan Ken sangat manja kalau tubuhnya kedinginan.


“Brrr ... dingin, sayang. Aku sudah dengar beritanya. Bagaimana dengan Andika?” tanya Ken.


Kaori pun mengajak suaminya itu untuk masuk ke kamar mereka dulu. Dia ingin membicarakan semuanya


tentang Andika dan juga hubungan Renata dan Reynold. Tapi sebelum masuk ke kamar, Kaori meminta pelayan untuk membuatkan teh hangat dan cemilan untuk Ken. Renata dan Reynold yang masih tertinggal di ruang tengah, hanya menatap keduanya sampai menghilang ke dalam kamar mereka.


“Trus nasibku gimana nih?” rengek Reynold sambil memeluk pinggang Renata dengan posesif.


“Kakak ini kenapa sih? Biasanya juga kita tinggal berjauhan, kakak biasa saja,” sahut Renata sambil merasakan kehangatan pelukan pria tampan seperti Reynold.


“Tapi sekarang beda, Ren. Aku sudah mengatakan isi hatiku sama kamu. Aku mencintaimu, Renata. Dan aku ingin bersamamu 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan 365 hari dalam setahun selamanya. Apa kamu ngerti perasaanku?” bisik Reynold sambil mendekatkan wajahnya pada Renata.


Wanita itu refleks mendorong tubuh Reynold agar tidak mencium bibirnya di ruang tengah itu. Bisa-bisa ketahuan Kaori dan Ken kalau hubungan mereka sudah seintim itu sekarang. Melihat Renata menghindarnya, Reynold menekuk wajah tampannya dengan kedua tangan bersedekap. Renata geli sendiri melihat keponakan tampannya itu ngambek lalu mencubit kedua pipi Reynold.


“Kak, kamu nggak kerja? Seharian nemenin aku terus. Nanti kalau kamu bangkrut, aku nggak


mau sama kamu,” ucap Renata mencoba bercanda dengan Reynold.  Dia tahu kalau Reynold mencintainya dan akan berusaha memenuhi semua kebutuhan Renata dengan bekerja keras.


“Enak aja bangkrut. Aku sedang membangun kerajaan bisnisku. Saat waktunya tepat nanti, aku akan membawamu pergi jauh. Saat itu, bahkan Ken, om Ello, papaku, dan opa Alex tidak akan bisa menemukan kita,” ucap Reynold membeberkan semua rencananya.


“Kamu nekat, kak Rey,” ucap Renata kaget.


Tiba-tiba pria itu bangkit berdiri lalu mengatakan akan kembali ke apartemennya sebentar. Dia lupa kalau Alfian memintanya datang ke kantor sebentar untuk membahas beberapa hal penting. Terlalu lama libur membuat pekerjaan Reynold sedikit menumpuk. Selama ini pekerjaan di kantor cukup diselesaikan Alfian saja. Tapi ada saja yang butuh perhatian Reynold. Kalau tidak, perusahaannya tidak akan berkembang sampai sekarang ini.


“Aku harus pergi sebentar. Nanti aku kembali lagi. Telpon aku kalau kamu butuh sesuatu ya, sayang,” ucap Reynold lalu menunduk mengecup pipi Renata.


“Aku mencintaimu,” sambungnya cepat.


Renata pun melepas kepergian Reynold sambil melambaikan tangannya. Sudah cukup jantungnya berdebar kencang gara-gara pria itu. Renata sendiri tidak pernah menyangka kalau dirinya akan jatuh cinta pada Reynold. Dengan semua perhatian pria itu, tidak mungkin rasanya tidak akan jatuh cinta padanya. Saat Renata akan kembali


ke kamarnya, pelayan yang membawakan teh hangat untuk Ken lewat di dekat wanita itu.


“Kak, buat Ken ya? Sini, biar aku yang membawanya,” pinta Renata.


Pelayan itu memberikan nampan berisi teh hangat itu kepada Renata yang langsung membawanya menuju kamar Ken dan Kaori. Dia tidak punya pekerjaan lain dan beristirahat di kamar sendirian, sangat membosankan. Pelan-pelan Renata memegang nampan itu dengan satu tangan ketika dia berusaha membuka pintu kamar Kaori. Dengan


tubuhnya, Renata mendorong pintu lebih lebar dan masuk ke dalam kamar.


“Kaori,” panggil Renata ketika tidak melihat seorang pun di dalam kamar itu.


Renata menajamkan pendengarannya dan mendengar sesuatu dari dalam kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Sebelum mendekati kamar mandi itu, Renata meletakkan nampan berisi teh diatas meja sofa. Dia lalu mendekati kamar mandi untuk mengatakan kalau tehnya sudah terhidang di meja. Ketika Renata mendekat, dia


mendengar Kaori dan Ken sedang bicara.


“Aku bilang nggak boleh. Gimana kalau mereka khilaf nanti? Mereka berdua belum menikah, Ken. Yang ada, nanti kita yang akan akan dimintai pertanggungjawaban sama opa Alex. Aku takut opa marah, Ken,” sahut Kaori seperti merengek pada Ken.


“Memangnya kenapa? Toh, mereka boleh saja melakukan itu. Mereka kan tidak punya hubungan keluarga,” ucap Ken lalu mengangkat tubuh Kaori ke atas meja wastafel.


Renata terhenyak mendengar ucapan Ken. Tidak punya hubungan keluarga, pikirnya bingung. Jelas-jelas kalau Reynold adalah anaknya kak Rara yang notabene adalah saudara sambung Renata. Bagaimana bisa Ken  mengatakan kalau diantara dirinya dan Reynold tidak memiliki hubungan saudara. Renata kembali menguping


pembicaraan antara Kaori dan Ken.


“Ken, lebih baik sudahi saja semua ini. Aunty Renata berhak tahu kalau sebenarnya dia bukan anak kandung opa Alex dan oma Mia. Kasihan--.”


“Apa?!” pekik Renata memotong ucapan Kaori.


Pintu kamar mandi terbuka lebar ketika Renata tidak sengaja mendorong pintu terbuka. Kedua mata indahnya berkaca-kaca dengan bibir menganga. Renata menatap Ken dan Kaori yang sama-sama terkejut melihat kehadiran Renata di dalam kamar mereka. Keduanya buru-buru mendekati Renata lalu menuntun wanita itu duduk di sofa.


Kaori langsung menyodorkan segelas air putih agar Renata bisa tenang.


“Apa maksudnya? Aku bukan anak kandung mereka?” ucap Renata syok.


Keringat dingin membasahi pelipis dan juga tangannya. Renata juga duduk dengan gelisah dan terlihat sangat bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.  Ken dan Kaori saling pandang lalu mengangguk satu sama lain. Sudah saatnya Renata tahu tentang Endy dan Kinanti. Sudah saatnya Kaori mengakui statusnya sebagai kakak kandung Renata.


“Renata, sebenarnya kita bersaudara kandung,” ucap Kaori membuat Renata semakin bingung.


“Itu artinya aku anak kak Rio dan kak Gadis?” tanya Renata spontan.


Kaori menoleh menatap Ken untuk minta bantuan. Menjelaskan hal sensitif seperti ini butuh kekuatan yang besar. Jangan sampai Renata jadi stress karena salah paham. Ken terpaksa menceritakan tentang hubungan antara Rio, Gadis, dan Kinanti. Kelahiran Kaori yang terlahir buta dan tidak diinginkan oleh Kinanti dan obsesi Kinanti untuk mendapatkan harta warisan ayah Endy, kakek Martin.


“Aku tidak tahu apa yang papa Endy pikirkan saat menukarku denganmu saat kita dilahirkan, Renata. Tapi yang jelas, aku mengetahuinya bertahun-tahun setelah kejadian itu. Aku adalah anak kandung papa Alex dan mama Mia yang sebenarnya. Dan kamu, Renata ...,” ucap Ken sambil menggenggam tangan Renata untuk menguatkannya.


“Kamu adalah anak kandung papa Endy dan mama Kinanti. Itu artinya Kaori adalah kakak kandungmu,” sambung Ken berusaha tegar melihat raut wajah Renata yang sudah berubah pucat.


Kepala Renata terus menggeleng mengetahui kalau dirinya adalah anak dari orang tua yang sangat jahat dan licik. Renata tidak menyangka kalau orang seperti Kinanti dan Endy, tega membuang darah dagingnya sendiri. Bahkan menukarnya dengan anak orang lain hanya karena warisan saja. Kenyataan pahit itu membuat Renata syok


sampai tidak bisa mengatakan apa-apa untuk sesaat.


“Aunty Renata, jangan sedih. Aku juga hancur saat tahu yang sebenarnya. Tapi setelah kupikir lagi, aku lebih baik menjadi anak papa Rio dan mama Gadis. Lebih baik menjadi cucu opa Alex dan oma Mia. Keluarga mereka tidak pernah membedakan kekuranganku. Mereka selalu memperlakukanku dengan baik sampai aku bisa hidup dengan


baik seperti ini,” ucap Kaori yang sudah meneteskan air matanya.


“Apa kamu bisa memaafkan mereka? Keluarga yang sudah membuangmu, Kaori. Kamu bisa?” tanya Renata sambil mencengkeram tangan Kaori.


Ken melihat istrinya meringis kesakitan, segera mengambil alih tangan Renata agar mengcengkeram tangannya saja. Pria itu meraih Renata ke dalam pelukannya agar bisa menangis melepaskan emosinya. Tapi Renata justru mendorong tubuh Ken hingga menyenggol nampan berisi cangkir teh.


PRANG!


Suara cangkir pecah menarik perhatian pelayan yang kebetulan lewat di depan kamar Kaori dan Ken. Pelayan itu buru-buru mengetuk pintu untuk mengecek apa yang terjadi. Kaori segera membuka pintu dan meminta pelayan membereskan cangkir teh yang pecah. Sementara Ken sudah menarik Renata ke dalam walk in closet sambil


membekap mulutnya.


“Jangan teriak,” bisik Ken agar Renata mau menurutinya.


“Mmmm! Mmmm!” Renata yang kesal, menginjak kaki Ken agar mau melepaskan bekapan tangannya. Ken pun meringis kesakitan lalu melepaskan tangannya dari Renata.


“Kenapa aku nggak boleh teriak?!” sambar Renata kesal.


“Jangan sampai Rey tahu kalau kamu bukan anaknya opa Alex. Aku belum puas ngerjain dia,” sahut Ken sambil mengatupkan kedua tangannya dihadapan Renata.


Renata pun terdiam mendengar permintaan Ken yang membuat kepalanya bertambah pusing. Mereka berdua lalu mengintip pelayan yang masih sibuk membersihkan pecahan kaca dan mengeringkan lantai. Tampak Kaori  tersenyum manis menatap keluar kamarnya. Sepertinya ada seseorang di depan pintu yang sedang dilihat Kaori.