Duren Manis

Duren Manis
Takut istri


Arnold : “Kenapa?”


Jodi : “Aku gak tau. Kayaknya anakku gak suka di


foto. Kalau ngbahas itu, pasti Katty ngamuk. Diem dech.”


Arnold : “Ok, skip. Catering uda diurus sama WO,


kan. Sama souvenir juga. Udah. Apalagi?”


Jodi : “Ssstt... Sebenarnya kalian kesini biar


Katty bisa nemenin Rara perawatan tubuh.”


Terlihat dua therapist datang mendekati Katty dan


Rara dan mulai merendam kaki mereka.


Arnold : “Tapi Katty lagi hamil, gak boleh.”


Jodi : “Aku udah konsultasi sama dokter. Boleh kok


tapi harus hati-hati.”


Arnold : “Mereka perawatan, trus kita ngapain?”


Jodi : “Jaga bayimu, lah. Ntar dia bangun, Rara gak


jadi perawatan lagi.”


Arnold : “Kamu aja yang jagain. Aku mau ikut


perawatan. Lumayan pijet gratis.”


Jodi : “Woiii...!” teriak Jodi di dekat boks baby


Reynold.


Arnold : “Jangan teriak! Dia bisa bangun. Anak itu


kalo uda kenyang, lama bangunnya. Tapi kalau kamu berisik, sama aja boong.”


Jodi menutup mulutnya, ia melihat baby Reynold yang


tertidur pulas.


Satu jam berlalu, Jodi terkantuk-kantuk menunggui


baby Reynold. Matanya terbuka lebar saat mendengar baby Reynold terbangun. Jodi


menoleh menatap baby Reynold yang membuka matanya. Ia celingukan mencari Rara


yang sedang pedicure.


Jodi : “Ra, bangun nich.”


Jodi mencoba memanggil Rara tapi sambil


bisik-bisik. Ia berdiri dan melambaikan tangannya ke arah Rara. Isi joget-joget


gak jelas untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar Rara.


Arnold : “Kamu ngapain sich? Anakku belum ngerti


topeng monyet.”


Jodi terkejoet karena tiba-tiba Arnold sudah ada di


samping baby Reynold dan sedang memeriksa popoknya. Baby Reynold buang air


besar.


Arnold : “Dia pup nich. Ambilin tasnya.”


Jodi melakukan yang disuruh Arnold. Papa muda nan


ganteng maksimal itu dengan sigap menggelar perlak di atas karpet dan menyiapkan


keperluan untuk membersihkan baby Reynold. Jodi terus memperhatikan cara Arnold


melepas popok dan membersihkan pantat baby Reynold. Bayi itu hanya diam


sesekali menguap.


Jodi : “Oh, jadi gitu caranya ganti pokok bayi.”


Arnold : “Iya, kamu harus belajar juga.”


Jodi : “Aku akan sewa baby sitter.”


Arnold menaikkan alisnya, ia juga bisa melakukannya


tapi Arnold lebih senang mengurus baby Reynold berdua dengan Rara untuk saat


ini.


Arnold : “Sebaiknya kau lakukan sendiri sampai dia


bisa merangkak. Bayi sekecil ini cuma bisa menangis kalau popoknya basah atau


haus.”


Jodi : “Oh, gitu. Sepertinya papaku belum pernah


mengganti pokokku. Kenapa aku harus melakukannya pada anakku nanti?”


Anton : “Siapa bilang?!”


Jodi menoleh mendengar suara papanya yang


menghardik dengan keras. Baby Reynold yang mendengar suara keras sontak


menangis karena kaget. Anton menyempatkan dirinya memukul kepala Jodi, sebelum


meraih baby Reynold dalam gendongannya.


Anton : “Jangan nangis, sayang. Nanti kakek kasi


cek kosong ya.”


Entah mengerti atau hanya kebetulan saja, baby


Reynold langsung berhenti menangis. Jodi dan Arnold saling pandang melihat


kesaktian Anton mengatasi bayi menangis.


Ya iya berhenti nangis, mau dikasi cek kosong.


Saya juga mau, om Anton.


Anton : “Waktu kamu sekecil ini, papa yang ganti


pokokmu kalo kamu pup. Mamamu gak mau ganti karena jijik.”


Jodi : “Jodi juga jijik, pah. Jadi sewa baby sitter


Anton : “Kamu sama aja sama mamamu. Papa juga ikut


begadang ngasi kamu susu. Nemenin kamu main.”


Anton merasakan hawa dingin di belakangnya. Ia


tidak tahu kalau istrinya mengikuti dirinya dari belakang dan berdiri di


belakang Anton sekarang.


Jodi : “Emangnya mama ngapain? Tidur aja?”


Anton : “Iya, mamamu tidur aja.”


Mama Jodi : “Jadi aku cuma tidur aja. Heh?!”


Wajah Anton langsung pucat. Arnold mengambil alih


baby Reynold sebelum Anton menghadapi istrinya.


Anton : “Sayang, pesananmu sudah kubelikan di dalam


kamar. Tolong jangan jewer aku didepan anak-anak.”


Jodi ngakak ngetawain papanya yang pucat pasi


berhadapan dengan mamanya yang galak. Sampai Katty berteriak padanya,


Katty : “Jodi!! Ambilin makanan!”


Jodi : “Iy.. Iya, sayang.”


Jodi melesat menuju dapur, melewati Pak Jang yang


mau tak mau mengikutinya masuk ke dapur. Giliran Anton yang ngakak ngetawain


Jodi yang sama saja seperti dirinya. Arnold geleng-geleng kepala melihat


keluarga somplak itu. Dilihatnya baby Reynold mencari-cari minumannya.


Rara yang sudah selesai perawatan, mendekati Arnold


dan meraih baby Reynold. Arnold mengeluarkan penutup ibu menyusui agar Rara


bisa menyusui dengan nyaman. Jodi kembali dari dapur membawa aneka makanan yang


bisa ia temukan di dalam sana. Ia menggelar makanan itu di atas meja di depan


Arnold dan membawa semangkuk salad buah mendekati Katty.


Jodi : “Sayang, makan nasi ya. Masa makan salad


buah trus.”


Katty : “Gak suka bau nasinya. Buatin susu, ya...”


Katty bertingkah imut untuk meluluhkan hati Jodi.


Arnold bisa melihat Jodi seperti anjing kecil yang sedang menjulurkan lidahnya


ketika Katty mengelus pipinya.


Arnold : “Dia sesenang itu sampai lupa dirinya


siapa.”


Rara : “Iya, mas. Kak Katty bisa membuat kak Jodi


berubah drastis ya.”


Pak Jang membawakan Katty semangkuk sup ayam dengan


nasi di dalamnya. Jodi hampir protes tapi memilih diam ketika melihat tatapan


tajam Katty.


Jodi : “Aku menyerah. Kamu enak, Ra. Ngidammu gak


ada yang aneh dan itu-itu aja.”


Rara tersenyum pada Jodi dan Arnold. Baby Reynold


memang sangat mengerti posisi mamanya saat ia masih berada di dalam kandungan.


Arnold mengelus punggung Rara, ia masih merasa bersalah pada Rara bahkan


setelah baby Reynold lahir. Keduanya tersenyum menatap kearah Jodi yang sibuk


menyuapi Katty makan sup.


*****


H-3 pernikahan Katty dan Jodi, papa Kaori keluar


dari rumah sakit. Kondisinya sudah stabil dan bisa dirawat di rumah saja. Jodi


dan Katty mengantar orang tua Katty pulang karena Rio dan Kaori masih kuliah.


Sampai di rumah Katty, suasana rumah tampak ramai dengan orang-orang Jodi yang


sedang menghias dan membersihkan rumah itu.


Acara akad akan dilakukan di rumah itu kemudian


lanjut resepsi di hotel milik papa Jodi. Papa dan mama Katty yang belum


mengetahui latar belakang calon menantu mereka hanya saling pandang melihat


kesibukan orang-orang itu.


Jodi : “Pa, ma, istirahat dulu ya. Pelayan sudah


menyiapkan teh.”


Papa Katty duduk di sofa baru yang dibeli Katty


dengan uangnya sendiri. Katty juga mengganti beberapa perabotan rumah papanya


yang sudah terlihat usang.


Papa Katty : “Nak Jodi, kamu beli sofa baru?”


*****


Bentar lagi Katty dan Jodi nikah.


Bagaimana dengan penyakit Kaori? Ditunggu upnya ya.


Jangan lupa vote, vote, vote.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).