
Arnold : “Kenapa?”
Jodi : “Aku gak tau. Kayaknya anakku gak suka di
foto. Kalau ngbahas itu, pasti Katty ngamuk. Diem dech.”
Arnold : “Ok, skip. Catering uda diurus sama WO,
kan. Sama souvenir juga. Udah. Apalagi?”
Jodi : “Ssstt... Sebenarnya kalian kesini biar
Katty bisa nemenin Rara perawatan tubuh.”
Terlihat dua therapist datang mendekati Katty dan
Rara dan mulai merendam kaki mereka.
Arnold : “Tapi Katty lagi hamil, gak boleh.”
Jodi : “Aku udah konsultasi sama dokter. Boleh kok
tapi harus hati-hati.”
Arnold : “Mereka perawatan, trus kita ngapain?”
Jodi : “Jaga bayimu, lah. Ntar dia bangun, Rara gak
jadi perawatan lagi.”
Arnold : “Kamu aja yang jagain. Aku mau ikut
perawatan. Lumayan pijet gratis.”
Jodi : “Woiii...!” teriak Jodi di dekat boks baby
Reynold.
Arnold : “Jangan teriak! Dia bisa bangun. Anak itu
kalo uda kenyang, lama bangunnya. Tapi kalau kamu berisik, sama aja boong.”
Jodi menutup mulutnya, ia melihat baby Reynold yang
tertidur pulas.
Satu jam berlalu, Jodi terkantuk-kantuk menunggui
baby Reynold. Matanya terbuka lebar saat mendengar baby Reynold terbangun. Jodi
menoleh menatap baby Reynold yang membuka matanya. Ia celingukan mencari Rara
yang sedang pedicure.
Jodi : “Ra, bangun nich.”
Jodi mencoba memanggil Rara tapi sambil
bisik-bisik. Ia berdiri dan melambaikan tangannya ke arah Rara. Isi joget-joget
gak jelas untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar Rara.
Arnold : “Kamu ngapain sich? Anakku belum ngerti
topeng monyet.”
Jodi terkejoet karena tiba-tiba Arnold sudah ada di
samping baby Reynold dan sedang memeriksa popoknya. Baby Reynold buang air
besar.
Arnold : “Dia pup nich. Ambilin tasnya.”
Jodi melakukan yang disuruh Arnold. Papa muda nan
ganteng maksimal itu dengan sigap menggelar perlak di atas karpet dan menyiapkan
keperluan untuk membersihkan baby Reynold. Jodi terus memperhatikan cara Arnold
melepas popok dan membersihkan pantat baby Reynold. Bayi itu hanya diam
sesekali menguap.
Jodi : “Oh, jadi gitu caranya ganti pokok bayi.”
Arnold : “Iya, kamu harus belajar juga.”
Jodi : “Aku akan sewa baby sitter.”
Arnold menaikkan alisnya, ia juga bisa melakukannya
tapi Arnold lebih senang mengurus baby Reynold berdua dengan Rara untuk saat
ini.
Arnold : “Sebaiknya kau lakukan sendiri sampai dia
bisa merangkak. Bayi sekecil ini cuma bisa menangis kalau popoknya basah atau
haus.”
Jodi : “Oh, gitu. Sepertinya papaku belum pernah
mengganti pokokku. Kenapa aku harus melakukannya pada anakku nanti?”
Anton : “Siapa bilang?!”
Jodi menoleh mendengar suara papanya yang
menghardik dengan keras. Baby Reynold yang mendengar suara keras sontak
menangis karena kaget. Anton menyempatkan dirinya memukul kepala Jodi, sebelum
meraih baby Reynold dalam gendongannya.
Anton : “Jangan nangis, sayang. Nanti kakek kasi
cek kosong ya.”
Entah mengerti atau hanya kebetulan saja, baby
Reynold langsung berhenti menangis. Jodi dan Arnold saling pandang melihat
kesaktian Anton mengatasi bayi menangis.
Ya iya berhenti nangis, mau dikasi cek kosong.
Saya juga mau, om Anton.
Anton : “Waktu kamu sekecil ini, papa yang ganti
pokokmu kalo kamu pup. Mamamu gak mau ganti karena jijik.”
Jodi : “Jodi juga jijik, pah. Jadi sewa baby sitter
Anton : “Kamu sama aja sama mamamu. Papa juga ikut
begadang ngasi kamu susu. Nemenin kamu main.”
Anton merasakan hawa dingin di belakangnya. Ia
tidak tahu kalau istrinya mengikuti dirinya dari belakang dan berdiri di
belakang Anton sekarang.
Jodi : “Emangnya mama ngapain? Tidur aja?”
Anton : “Iya, mamamu tidur aja.”
Mama Jodi : “Jadi aku cuma tidur aja. Heh?!”
Wajah Anton langsung pucat. Arnold mengambil alih
baby Reynold sebelum Anton menghadapi istrinya.
Anton : “Sayang, pesananmu sudah kubelikan di dalam
kamar. Tolong jangan jewer aku didepan anak-anak.”
Jodi ngakak ngetawain papanya yang pucat pasi
berhadapan dengan mamanya yang galak. Sampai Katty berteriak padanya,
Katty : “Jodi!! Ambilin makanan!”
Jodi : “Iy.. Iya, sayang.”
Jodi melesat menuju dapur, melewati Pak Jang yang
mau tak mau mengikutinya masuk ke dapur. Giliran Anton yang ngakak ngetawain
Jodi yang sama saja seperti dirinya. Arnold geleng-geleng kepala melihat
keluarga somplak itu. Dilihatnya baby Reynold mencari-cari minumannya.
Rara yang sudah selesai perawatan, mendekati Arnold
dan meraih baby Reynold. Arnold mengeluarkan penutup ibu menyusui agar Rara
bisa menyusui dengan nyaman. Jodi kembali dari dapur membawa aneka makanan yang
bisa ia temukan di dalam sana. Ia menggelar makanan itu di atas meja di depan
Arnold dan membawa semangkuk salad buah mendekati Katty.
Jodi : “Sayang, makan nasi ya. Masa makan salad
buah trus.”
Katty : “Gak suka bau nasinya. Buatin susu, ya...”
Katty bertingkah imut untuk meluluhkan hati Jodi.
Arnold bisa melihat Jodi seperti anjing kecil yang sedang menjulurkan lidahnya
ketika Katty mengelus pipinya.
Arnold : “Dia sesenang itu sampai lupa dirinya
siapa.”
Rara : “Iya, mas. Kak Katty bisa membuat kak Jodi
berubah drastis ya.”
Pak Jang membawakan Katty semangkuk sup ayam dengan
nasi di dalamnya. Jodi hampir protes tapi memilih diam ketika melihat tatapan
tajam Katty.
Jodi : “Aku menyerah. Kamu enak, Ra. Ngidammu gak
ada yang aneh dan itu-itu aja.”
Rara tersenyum pada Jodi dan Arnold. Baby Reynold
memang sangat mengerti posisi mamanya saat ia masih berada di dalam kandungan.
Arnold mengelus punggung Rara, ia masih merasa bersalah pada Rara bahkan
setelah baby Reynold lahir. Keduanya tersenyum menatap kearah Jodi yang sibuk
menyuapi Katty makan sup.
*****
H-3 pernikahan Katty dan Jodi, papa Kaori keluar
dari rumah sakit. Kondisinya sudah stabil dan bisa dirawat di rumah saja. Jodi
dan Katty mengantar orang tua Katty pulang karena Rio dan Kaori masih kuliah.
Sampai di rumah Katty, suasana rumah tampak ramai dengan orang-orang Jodi yang
sedang menghias dan membersihkan rumah itu.
Acara akad akan dilakukan di rumah itu kemudian
lanjut resepsi di hotel milik papa Jodi. Papa dan mama Katty yang belum
mengetahui latar belakang calon menantu mereka hanya saling pandang melihat
kesibukan orang-orang itu.
Jodi : “Pa, ma, istirahat dulu ya. Pelayan sudah
menyiapkan teh.”
Papa Katty duduk di sofa baru yang dibeli Katty
dengan uangnya sendiri. Katty juga mengganti beberapa perabotan rumah papanya
yang sudah terlihat usang.
Papa Katty : “Nak Jodi, kamu beli sofa baru?”
*****
Bentar lagi Katty dan Jodi nikah.
Bagaimana dengan penyakit Kaori? Ditunggu upnya ya.
Jangan lupa vote, vote, vote.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).