
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 5
Jam di laptop menunjukkan pukul lima sore, tanda jam kerja sudah selesai. Terdengar suara alarm singkat yang membuat Renata menoleh ke arah suara. Dirinya masih bersama Reynold yang masih menyamar. Pria itu mengangkat kepalanya menatap Renata yang juga menatapnya.
“Itu suara alarm tanda jam kerja sudah selesai. Akan berbunyi setiap jam lima sore. Karyawan yang masih bekerja, akan mulai dihitung lembur setelah jam enam sore. Kamu mau pulang?” tanya Reynold.
“Pekerjaan saya belum selesai, pak direktur,” sahut Renata sambil melirik tumpukan dokumen di sebelah
kirinya.
Gadis itu tampak lelah, tapi masih berusaha tersenyum. Renata memijat pundaknya yang sudah pegal
sejak tadi. Reynold berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Renata. Tangannya terulur mengambil tumpukan dokumen paling atas yang sudah selesai dikerjakan Renata. Cukup banyak note yang ditinggalkan Renata pada dokumen itu. Setelah memastikan sekali lagi, Reynold mengembalikan dokumen itu ke tempat
asalnya.
“Kamu boleh pulang. Lusa, semua dokumen ini sudah harus selesai dan bawa ke meja Alfian,” putus
Reynold.
Renata melihat Reynold berjalan mendekati mejanya lagi dan berdiri membelakanginya. Renata sangat yakin kalau bentuk tubuh direkturnya sama persis dengan Reynold. Tapi Reynold masih tidur saat ia berangkat ke kantor tadi. Mana mungkin ada dua orang yang sama di tempat yang berbeda. Apalagi Renata sempat melihat di lobby tadi kalau pintu keluar hanya ada tiga. Di basement, lobby, dan di dekat kantin karyawan. Kalaupun Reynold melewati Renata, ia pasti melihatnya saat berangkat tadi.
“Kalau gitu, saya permisi pulang dulu, pak direktur. Selamat sore, pak direktur,” pamit Renata setelah mematikan laptop dan juga mengambil tasnya.
Gadis itu melihat Reynold mengangguk sebelum keluar dari kantor direktur. Ia berpapasan dengan Alfian yang juga keluar dari ruangannya. Renata menyapa Alfian dengan ramah, tapi pria itu hanya menatapnya dingin.
“Pak Alfian, saya ada salah ya?” tanya Renata merasa tidak enak.
“Nggak. Kamu mau pulang?” tanya Alfian dingin.
Renata mengangguk. Mereka berjalan menuju lift dan berdiri di depannya. Lift khusus untuk lantai kantor
direktur itu langsung terbuka. Renata mengagumi kecanggihan teknologi di kantor itu.
“Pak Alfian, di kantor ini banyak sensor ya?” tanya Renata kepo.
“Ya. Kamu sudah merekam suaramu di kantor direktur kan? Kalau kamu bilang ‘buka pintu’, pintu
ruangan direktur akan terbuka sendiri,” kata Alfian.
“Oh, itu gunanya,” gumam Renata.
Pintu lift tiba-tiba terbuka di lantai sepuluh. Seorang wanita muda yang sedikit tambun, berdiri di depan pintu itu dengan senyum ramah. Ia menyapa Alfian dan Renata sebelum ikut masuk ke dalam lift. Renata melirik wajah Alfian yang merona ketika wanita tambun itu berdiri di sampingnya.
“Ehem... Renata, perkenalkan ini Merry, manager keuangan disini. Merry, ini Renata, staf pemeriksa dokumen yang diminta pak direktur,” kata Alfian setelah berdehem sebentar.
“Halo, Renata. Aku Merry, mungkin ke depannya, kita lebih sering berkomunikasi ya,” kata Merry ramah.
“Selamat sore, bu Merry. Saya Renata. Mohon bantuannya,” sahut Renata dengan senyum manisnya.
“Kamu cantik sekali ya. Sudah punya pacar?” tanya Merry spontan. Wanita tambun itu memang cepat
akrab dengan siapapun.
Renata tersipu malu dibuatnya, ia menggeleng dengan cepat. “Saya belum punya pacar, bu. Masih fokus
kerja dulu,” sahut Renata.
“Yah, padahal pak Alfian juga jomblo loh. Siapa tahu jodoh,” sahut Merry sambil melirik Alfian yang diam saja sejak tadi.
“Jangan sembarangan bicara, Merry,” sahut Alfian dingin.
Krit! Lift tiba-tiba bergoyang pelan membuat Merry kehilangan keseimbangan dan jatuh ke arah Alfian.
Bruk! Punggung Alfian menabrak dinding lift dengan keras. Untung saja Alfian sigap menangkap tubuh Merry atau wanita itu akan jatuh membentur dinding lift. Keduanya saling pandang dan entah bagaimana, Renata bisa melihat ada filter bunga-bunga diantara mereka berdua.
Merry cepat-cepat menegakkan tubuhnya dan berterima kasih pada Alfian. Pintu lift terbuka di lobby kantor. Merry segera keluar disusul Alfian dan Renata. Gadis itu teringat kalau ia harus mengurus absensi masuk dulu. Langkahnya terhenti membuat Alfian dan Merry terus berjalan menuju pintu keluar. Renata melihat beberapa karyawan menempelkan name tag mereka ke meja di pintu keluar dan pintu otomatis terbuka.
Anehnya meskipun pintu sudah terbuka, mereka tidak buru-buru keluar tapi seperti menunggu sesuatu. Rupanya name tag mereka digunakan untuk absensi beserta sidik jari. Alfian yang menyadari kalau Renata tidak mengikutinya, menoleh ke belakang lalu memanggil gadis itu.
“Renata, sini,” panggil Alfian.
Karyawan yang sedang menunggu giliran absen, sontak menoleh menatap sosok Renata yang segera
berjalan mendekati Alfian. Sudah beredar gosip di kantor itu kalau kantor direktur menerima karyawan baru yang bernama Renata. Alfian mengulurkan name tagnya ke meja lalu membuka panel untuk menscan sidik jari. Ia meminta Renata meletakkan kedua tangannya di meja dan juga name tag gadis itu.
Beberapa karyawan yang melihat kartu VIP di belakang name tag Renata, mulai berbisik-bisik tentang seberapa penting kedudukan gadis itu di perusahaan. Bahkan Alfian saja tidak punya kartu VIP. Hanya Steven dan direktur mereka yang punya.
“Renata, besok gunakan name tag dan sidik jarimu untuk membuka pintu masuk ya. Atau kamu bisa pakai kartu VIP itu. Lebih praktis,” kata Alfian dingin.
Dirinya melirik beberapa karyawa yang langsung diam dan tersenyum kearah Alfian. Renata segera
menempelkan jempolnya ke meja dan pintu terbuka untuknya. Ia mengucapkan terima kasih pada Alfian sebelum melangkah keluar.
Reynold.
Ia sempat menoleh sekali lagi saat Alfian sudah keluar. Pria itu mendekati Merry yang masih berdiri di pinggir jalan. Untuk jajaran manajer dan asisten direktur, disediakan parkir valet untuk mereka. Masih kepo dengan hubungan antara Alfian dan Merry, Renata berdiri di balik pilar gedung memperhatikan keduanya. Tak lama,
dua mobil merapat mendekati mereka. Merry masuk duluan ke mobil di depannya, sementara Alfian masuk ke mobil di belakangnya.
“Sepertinya mereka punya hubungan khusus. Hehehe...,” gumam Renata lagi setelah mobil keduanya
berlalu dari sana.
**
Renata membuka pintu apartment dan mendapati apartment itu sepi. “Kak Rey? Aku pulang,” kata Renata
sambil menjatuhkan dirinya di sofa besar yang nyaman. Renata menggulingkan tubuhnya sambil menggeliat. Biasanya kalau dia pulang dari kampus, Reynold sedang menyiapkan makanan. Kali ini pria itu tidak nampak batang hidungnya.
“Kak Rey!” panggil Renata sekali lagi.
Terlintas di pikirannya sosok pak direktur yang mirip dengan Reynold. Kalau memang itu Reynold, wajar kalau Renata yang sampai duluan di apartment. Tengah sibuk melamun, Renata tidak menyadari kehadiran Reynold yang sudah duluan pulang. Pria itu sengaja keluar dari kamarnya hanya memakai handuk dengan rambut basah. Cipratan air mengenai wajah Renata, ia melirik ke atas memastikan air itu bukan karena plafondnya bocor.
“Kamu ngapain teriak-teriak,” sahut Reynold.
“Hii... Kakak! Ngagetin aja. Iih, kenapa kakak keluar nggak pake baju gitu!” protes Renata sambil memalingkan wajahnya.
“Aku lagi mandi, kamu manggil-manggil gitu. Aku kira ada apa,” sahut Reynold cuek.
Selembar handuk kecil dipakai Reynold untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Renata melirik
Reynold yang tampak lebih dingin dari biasanya. Seharusnya Reynold sudah bertanya tentang harinya hari ini. Tapi Reynold hanya diam saja seolah Renata tidak ada disana.
“Kak Rey, aku udah keterima kerja,” kata Renata memulai pembicaraan.
“Oh, selamat kalau gitu,” sahut Reynold dingin.
“Kak Rey lagi sariawan ya? Sakit?” tanya Renata sambil menyentuh kening Reynold, lalu menyentuh keningnya sendiri. Tubuh pria itu memang lebih hangat. “Kakak demam. Sudah minum obat?” tanya Renata kuatir.
Reynold diam saja tidak menjawab Renata. Gadis itu memeluk tubuh Reynold dari samping membuat
dadanya menekan lengan Reynold. Perbuatan Renata memancing perasaan terpendam pria itu sampai tubuhnya semakin panas. Hawa panas di tubuh Reynold mulai mengaburkan pandangannya. Ia melirik leher jenjang putih bersih yang sangat dekat dengan bibirnya.
Tadinya Reynold ingin bersikap cuek pada Renata. Ia ingin tahu reaksi Renata kalau dirinya berubah
sikap. Sejak Renata tinggal disana, Reynold membangun kebiasaan memberi perhatian pada Renata. Memperlakukannya seperti tuan putri yang bahkan untuk mencuci piring saja tidak perlu ia lakukan. Memberi perhatian sedikit berlebihan hingga Renata mulai ketergantungan pada Reynold.
Renata akan mulai merasa tidak berdaya saat Reynold jatuh sakit. Ia akan mencurahkan perhatiannya
pada Reynold kalau pria itu sampai sakit. Tentu saja Reynold mengambil kesempatan itu dengan baik. Menikmati semua perhatian yang diberikan Renata. Coba saja setelah ia sembuh, apapun yang dilakukan Reynold, Renata bahkan tidak mau memperhatikannya.
“Kak Rey, mau makan apa? Aku udah lapar nich. Kita pesan sup sehat aja ya. Kakak jangan sakit dong,”
pinta Renata masih menyuwel-uwel lengan Reynold.
“Mungkin aku masuk angin, Ren. Pesan makanan sana,” kata Reynold sambil bersandar di sofa.
Renata mengambil ponselnya dan kembali bersandar di pundak Reynold. Matanya tanpa sengaja melirik cacing besar Alaska di balik handuk Reynold. Renata memperhatikan bagian itu karena sepertinya tadi sempat bergerak-gerak. Memorinya memutar kejadian saat di pesawat, Renata menegakkan tubuhnya lalu memegangi pipinya yang terasa panas.
“Kak Rey, pake baju dulu sana. Aku pesenin makanan,” kata Renata sambil membuka ponselnya lalu
menekan aplikasi pengantar makanan.
Reynold tidak beranjak, ia mulai memejamkan matanya di sofa itu. Renata menelan salivanya, ia
memperhatikan wajah Reynold yang tampan.”Kalo merem, ganteng juga ya. Eh, aku mikir apa sich? Bisa-bisanya aku mikir kayak gitu. Hatiku tolong ingat satu hal, pria di sampingku ini adalah keponakanku. Tapi
kok bisa bikin aku deg-degan gini sich,” Renata menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Tingkahnya membuat sofa bergerak ringan. Tentu saja Reynold jadi terbangun karenanya. Melihat tingkah absurd Renata, Reynold menarik lengan gadis itu agar kembali ke sisinya.
“Mau pesen apa sich? Kenapa kayak bingung gitu?” tanya Reynold sambil melirik ponsel Renata. Karena
terlalu banyak melamun, Renata tidak sadar kalau dirinya menekan video dan kebetulan merekam tubuh Reynold. Renata melirik reaksi Reynold yang tersenyum geli melihat ulah gadis di sampingnya.
“Kak, ini aku bisa jelasin. Nggak seperti yang kakak pikirin,” kata Renata cepat.
“Emang apa yang aku pikirin?” tanya Reynold sambil menyentuh dagu Renata.
Keduanya saling menatap dalam, tubuh Renata mulai menegang saat Reynold menundukkan hampir menyatukan bibir mereka. Sebelum memejamkan matanya, Renata menatap mata Reynold sekali lagi. Reynold menatap bibir Renata lalu menatap matanya lagi. Kedua mata indah terpejam pasrah siap
menerima maksud hati pria yang melingkupinya saat itu.