Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 45


Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 45


“Aunty! Aunty kenapa sich?!” tanya Reynold bingung dengan sikap Renata yang tiba-tiba menjerit panik sendiri.


Renata tersadar kalau ia hanya membayangkan apa yang terjadi tadi. Reynold masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk di bahunya. Pria itu menatap heran ke arah Renata yang tiba-tiba histeris sendiri.


“Nggak ada apa-apa, aku... cepetan mandi sana. Ntar keburu mulai acaranya,” kata Renata mengalihkan pembicaraan.


Reynold menaikkan bahunya lalu masuk ke kamar mandi. Suara air mengucur dari shower mulai terdengar di dalam sana. Renata segera bangun dari tempat tidur sambil menyeret selimutnya, ia membuka koper besarnya yang tergeletak di lantai. Renata sedikit kesulitan membuka koper itu karena kembali terkunci sendiri.


Lelah berjongkok dengan selimut yang membungkus tubuhnya, Renata akhirnya duduk di lantai. Ia mencoba membuka kopernya yang macet kuncinya. Reynold sudah memperingatkan Renata agar memakai koper yang


baru sebelum mereka pulang kemarin. Tapi Renata malas memindahkan pakaiannya lagi. Akhirnya koper Renata malah tidak bisa dibuka.


Reynold yang sudah selesai mandi, keluar dari kamar mandi dengan tubuh hanya berbalut handuk. Ia mengerutkan keningnya melihat Renata duduk di lantai.


“Aunty kenapa? Kopernya bermasalah lagi?” tanya Reynold sambil mendekat dengan tangan menggosok rambutnya yang basah.


Renata memegang selimutnya erat-erat, ia juga tidak berani menatap Reynold yang terlihat sangat maskulin dengan tubuh dan rambut yang masih basah. Reynold ikut duduk di lantai, ia merapikan handuk yang


menutupi bawah pinggangnya sebelum meraih koper Renata.


Reynold mencoba membuka koper itu dengan cara biasa, tapi tetap tidak bisa. Akhirnya Reynold terpaksa merusak koper itu. Ia menjebol retsleting koper sampai ada celah untuk bisa menarik barang-barang di


dalam koper itu. Reynold memasukkan tangannya ke dalam koper itu, ia menarik sesuatu yang paling luar. Ternyata itu pakaian dalam Renata.


“Hii... kak Rey, itu dalemanku!” jerit Renata kaget.


Reynold cuma nyengir, ia menyodorkan pakaian dalam Renata pada gadis itu yang langsung mengambilnya lalu beranjak ke dalam kamar mandi.


“Aunty, jangan keluar dulu ya. Aku mau ganti baju disini,” kata Reynold sedikit keras.


“Iya!” sahut Renata ngegas.


Reynold mengusap wajahnya kasar, ia melirik ke bawah menatap jagoan dibawah sana. Jagoannya itu bahkan belum tidur sejak semalam. Padahal Reynold sudah berusaha mengusir pikiran-pikiran miring karena


berduaan dengan Renata. Belum lagi ciuman tidak sengaja mereka kemarin malam.


Saat pergi dari rumah Alex, Reynold mengebut sepanjang jalan menuju entah kemana. Ia berteriak-teriak kegirangan seperti artis yang baru saja memenangkan penghargaan tertinggi. Apalagi ketika ia kembali, Ken memberikan sedikit bantuan dengan berbohong pada Reynold. Ken mengatakan kalau Renata sudah tidur di kamar Kaori, padahal Renata belum tidur.


Lebih kaget lagi saat melihat Renata masuk ke kamarnya ketika Reynold sedang melepas pakaiannya. Dan Renata mengijinkan Reynold untuk tidur bersama dengannya di tempat tidur yang sama. Pagi ini Reynold kembali terkejut melihat tindakan Renata yang berani memberikan handuknya padahal gadis itu belum memakai pakaiannya.


“Renata, andai saja kau sudah jadi milikku...,” lirih Reynold.


Pria itu segera mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar Renata. Reynold takut kalau ia terlalu lama di dekat Renata, ia akan kehilangan kontrol dirinya terhadap gadis itu. Menjaga Renata adalah prioritasnya saat ini dan membuat Renata jatuh cinta padanya, hanya tinggal menunggu waktu. Reynold yakin kalau Renata akan jatuh cinta padanya cepat atau lambat.


Setelah merapikan penampilannya, Reynold segera keluar dari kamar Renata dan bergabung dengan keluarganya yang sudah siap.


Sementara Renata, setelah memakai pakaian dalamnya, ia membuka sedikit pintu kamar mandi dan tidak sengaja melihat Reynold yang sedang mengancingkan kemejanya.


“Sebenarnya kak Rey sangat tampan, badannya juga bagus. Tapi kenapa dia nggak mau cari pacar ya? Kak Rey nggak pernah cerita juga suka dengan wanita seperti apa,” gumam Renata.


Gadis itu mengintip lagi apa yang sedang dilakukan Reynold, tapi sedetik kemudian Renata menunduk. Reynold sedang memasukkan kemejanya ke dalam celana. Renata sempat melihat sesuatu menggelembung disana, ia jadi malu sendiri. Tidak sengaja Renata menatap cermin di depannya, ia melihat bayangannya di cermin itu.


“Apa mungkin kak Rey itu... gay?” gumam Renata lagi.


Ceklek! Renata mendengar suara pintu terbuka dan tertutup dengan cepat. Reynold sudah selesai berpakaian dan langsung keluar dari kamar itu. Renata membuka pintu kamar mandi, lalu bergegas memakai gaun


pengiring pengantin. Ia belum berdandan dan harus segera turun sebelum MUA pulang.


**


Pernikahan Ken dan Kaori digelar dengan suasana yang sangat kekeluargaan. Wartawan sama sekali tidak diijinkan masuk dan semua ritual yang dilakukan hanya ditayangkan live pada layar besar di luar pintu


gerbang. Ken sempat gugup sebelum menjabat tangan Rio, ia menarik nafas panjang beberapa kali. Menyadari calon suaminya gugup, Kaori berbisik pada Ken,


“Beneran ya. Aku jadi semangat nich,” sahut Ken dengan senyum penuh percaya diri.


Kaori menepuk lengan Ken ketika melihat senyuman lebar calon suaminya itu. Akad nikah berjalan dengan lancar dan Ken bisa mengucapkan ijab dengan tenang tanpa kesalahan sedikit pun.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Ken Wiranata bin Effendy Wiranata dengan putri saya, Kaori Putri Pratama binti Mario Putra Pratama dengan mas kawin uang tunai senilai satu milyar limaratus juta rupiah


dan emas batangan seberat seratus limapuluh gram dibayar tunai.” Rio mengucapkan kalimatnya sambil menatap mata Ken.


“Saya terima nikah dan kawinnya Kaori Putri Pratama binti Mario Putra Pratama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” sahut Ken tegas.


“Sah!!” teriak adik-adik Kaori lantang, padahal penghulu belum menanyakan kepada para saksi.


Ketika para sakti juga mengatakan hal yang sama, Ken dan Kaori tersenyum lega. Mereka berdoa bersama untuk keberkahan dan kebahagiaan pernikahan Kaori dan Ken. Saat semua orang berdoa untuk kebahagiaan


pernikahan Kaori dan Ken, Reynold menatap dalam sosok Renata yang terlihat sangat mempesona. Ia hanya bisa melakukan itu disaat semua orang sedang memejamkan mata mereka.


Di dalam bayangan Reynold, ia melihat Renata memakai gaun putih pernikahan dan berjalan kearahnya dengan senyuman manis malu-malu. Reynold akan menggenggam tangan Renata saat mereka sudah duduk di depan penghulu. Kemudian Alex akan mengulurkan tangannya pada Reynold, meminta pria itu untuk menjabat tangannya. Lalu Rara datang dan menjewer telinganya.


Reynold tersadar dari khayalannya, ia bergidik ngeri ketika melihat Rara duduk di sampingnya. Mama galaknya itu benar-benar menjewer telinganya karena mengabaikan Rara. Reynold terbungkuk-bungkuk


merasakan sakit di telinganya.


“Ma, jangan jewer aku lagi. Aku sudah dewasa, malu sama bocil-bocil disana tuch,” tunjuk Reynold ke arah cucu-cucu Alex yang lain.


“Nyadar kamu sudah dewasa, mana calon istrimu? Hah?! Mana? Bahkan pacar aja nggak pernah ditunjukin ke mama. Keira saja sudah punya calon suami. Mama pikir kalian pacaran, taunya cuma partner. Apa yang


kamu tunggu lagi, Rey? Tuch lihat Kaori sudah menikah. Harusnya kamu duluan,” omel Renata sambil menekan telunjuknya ke pipi Reynold.


Renata yang melihat Rara mengomeli Reynold, buru-buru mendekati keduanya. Ia memanggil Rara dan mengajaknya berfoto bersama. Rara yang selalu suka berfoto, menarik Arnold bersamanya menuju pelaminan. Kedua pengantin baru sudah berdiri disana untuk berfoto bersama.


Renata ikut bergabung dengan kakaknya untuk menunggu giliran foto. Ia merapikan penampilannya ketika satu persatu kakaknya berbaris rapi bersama pasangan masing-masing. Renata yang belum menikah, berdiri di tempat paling ujung. Reynold yang sudah berjalan mendekati pelaminan juga, segera berdiri di samping Renata. Ia tersenyum ke arah kamera sambil merangkul pinggang aunty-nya itu.


“Rey, ngapain kamu disitu. Belum giliranmu,” omel Rara ketika melihat Reynold berdiri di samping Renata.


“Loh, kirain udah giliranku. Habisnya lama, mah. Aku lapar nich,” elak Reynold.


Ketika anak dan menantu Alex berjalan meninggalkan pelaminan, Ken memanggil Renata dan Reynold untuk mendekat. Mereka berempat berpose sedikit gila di depan kamera. Ken dan Kaori berpose saling bertatapan,


lalu Renata dan Reynold memasang tampang sirik menatap ke arah mereka. Pose yang lain ketika Kaori menyerahkan buket bunganya pada Renata dengan Reynold dan Ken berjongkok di depan keduanya sambil bertopang dagu.


Terakhir pose menggendong para wanita. Reynold menggendong Renata, sementara Ken menggendong Kaori. Banyak ekspresi yang mereka perlihatkan mulai dari pura-pura keberatan, wajah bangga, sampai tatapan penuh cinta. Untuk yang terakhir, Renata tersenyum malu-malu dalam gendongan Reynold.


Keasyikan mereka berempat mulai terganggu ketika cucu-cucu Alex sudah siap berfoto bersama. Kalau di hitung, cukup banyak juga cucu opa Alex. Coba kita absen dulu ya. Reynold dan Regina (anak Rara dan


Arnold), Donatello dan Michaelangelo (anak Riri dan Elo), Kaori, Reymond, Reyna, Roy, Riana, Riani (anak Rio dan Gadis), Varrel (anak Rava dan Diva), ada juga anak Reva dan Flora tapi masih belum diceritakan ya. Semua cucu opa Alex berbaris rapi dan siap berpose di depan kamera.


Pesta terus berlanjut ke resepsi pernikahan. Tidak banyak tamu undangan luar yang hadir disana. Hanya beberapa teman dekat keluarga Alex dan keluarga Wiranata. Kakek Martin asyik berdansa dengan Kaori,


ia tidak menyia-nyiakan waktu untuk bisa mengobrol dengan cucu kandungnya itu.


Sementara Ken memilih berdansa dengan nenek Almira. Karena kedatangan nenek Almira juga, para wartawan tidak boleh masuk. Bahkan kamera tidak boleh menyorot ke arah nenek Almira. Memiliki kekuasaan di dunia hitam membuat nenek Almira punya banyak musuh. Ia menyembunyikan dirinya untuk


melindungi keluarganya dari musuh-musuh organisasi hitamnya.


“Nenek, terima kasih sudah datang ke pernikahanku,” ucap Ken.


“Sudah seharusnya, Ken. Nenek merasa sangat aneh disini. Kau adalah putra Alex, sedangkan Kaori adalah putri Endy. Bukankah seharusnya Endy yang menikahkan Kaori?” tanya nenek Almira.


Ken tersenyum, secara hukum, Kaori adalah anak Rio dan Gadis. Tidak ada hubungannya dengan Endy. Dan semua orang tahunya kalau Kaori memang anak Rio, cucu dari Alex. Sedangkan Ken adalah anak Endy. Kalau sampai terjadi saat ijab tadi, Endy yang menikahkan Kaori dengan Ken, rahasia besar keluarga Wiranata akan terbongkar. Dan itu akan mengganggu stabilitas perusahaan mereka.


“Hanya kita yang tahu rahasia ini, nek,” ucap Ken. Tanpa mereka berdua sadari, Renata mendengar pembicaraan mereka.~~~~