
DM2 – Depresi
“Terima dia, Rio. Nikahi dia, demi anakmu,
demi aku.”ucap Gadis dengan berlinang air mata, tapi senyum mengembang di
bibirnya.
Rio mengepalkan tangannya, ia memegangi
dadanya yang terasa sesak sebelum akhirnya mengangguk. “Kamu atur semuanya. Aku
mau tidur dulu.”
“Rio!”panggil Alex keras. Tapi Rio tidak
mengabaikan panggilan papanya. Ia naik ke lantai 2, masuk ke kamarnya
meninggalkan kekacauan di ruang tamu.
“Gadis, sekarang gimana?”tanya Kinanti.
“Rio akan menikahimu, Kinanti. Kita atur
acaranya ya. Kamu bisa tinggal disini mulai sekarang. Pah, mah, boleh kan?”
Alex dan Mia sama-sama menarik nafas, Mia
mengangguk dan mengatakan kalau Kinanti bisa memakai kamar Riri untuk
sementara. Alex mengeluh kepalanya pusing, Mia membawanya masuk ke kamar mereka
untuk istirahat.
Mereka bahkan belum sempat makan malam
ketika Kinanti bertamu dan membeberkan bukti kehamilannya karena perbuatan Rio.
Alex memegangi kepalanya yang sakit, ia berbaring di atas ranjangnya. Sementara
Mia mengambilkan makanan dan juga obatnya. “Mas, makan dulu sedikit ya. Habis
itu minum obatnya.”
“Aku gak selera makan, Mia. Kenapa
masalahnya jadi rumit begini sich?”
“Aku juga gak tau, mas. Beberapa hari ini
memang aku liat Rio banyak melamun, sepertinya lagi banyak masalah. Mungkin
memang benar dia gak inget apa-apa, Rio bukan pembohong, mas. Mas kenal sifat
Rio, kan.”
Mia mulai menyuapi Alex makan, masalah yang
mereka hadapi sudah cukup berat, jangan sampai
Alex juga jatuh sakit. “Makan sedikit ya,
mas. Buka mulut, mas.”
Alex membuka mulutnya dengan bujukan Mia,
ia menghabiskan makanan di piring itu dan Mia menyodorkan obat untuk ia minum.
“Sekarang mas istirahat ya. Aku mau cek
anak-anak itu.”
“Jangan lama-lama ya.”pinta Alex. Mia
mengangguk, ia membawa piring kotor keluar. Diliatnya Gadis dan Kinanti ada di
meja makan. Gadis menemani Kinanti yang sepertinya belum sempat makan. Keduanya
tidak bicara sama sekali.
“Gadis, nanti bawa makanan buat Rio ya. Kinanti,
kamar Riri ada di lantai 2 samping kamar mandi.”
“Iya, mah.”jawab Gadis.
“Iya, tante.”jawab Kinanti.
Mia menarik nafas mendengar dirinya
dipanggil tante, ia sudah tidak mempermasalahkannya lagi setelah menyadari
dirinya sudah jadi nenek sekarang.
Gadis mencuci piring bekas makannya dan
Gadis, Mia melirik sisa makan malam yang masih banyak. Jelas sekali kedua
wanita ini tidak makan dengan porsi biasa. Setelah mengeringkan tangannya,
Gadis mengambil nasi dan lauk dalam satu piring, ia membawanya dan mengajak
Kinanti ke lantai atas. Giliran Mia duduk di meja makan, ia ingin makan sedikit
tapi urung mengambil nasi.
Mia mengusap sudut matanya, ia menangisi
apa yang terjadi pada Rio. Kebahagiaannya bersama Kaori harus berakhir dengan
perpisahan. Kedatangan Gadis yang diawali tragedi, mendatangkan kebahagiaan
lagi bagi Rio. Meskipun belum dikarunia seorang anak lagi, tapi bersama Gadis,
Mia bisa melihat Rio bahagia lagi.
Sekarang muncul lagi masalah Kinanti, mau
bilang Kinanti yang salah, Mia belum tahu sejauh mana hubungan mereka. Mia
hanya tahu sebatas Kinanti adalah sekretaris baru di kantor Rio. Kalau bilang
Rio yang salah, bahkan setelah 7 tahun menikah dan belum hadir seorang anak,
tidak pernah sekalipun Rio berpaling dari Gadis. Ia mencintai wanita itu dan
hanya fokus membahagiakannya saja.
Ditengah kebingungannya, Mia melihat sosok
Selvi muncul di hadapannya. “Mia, jangan bimbang.”
“Mbak Selvi? Mbak, aku bingung. Aku harus
apa?”
“Percayalah pada Rio dan Gadis. Terima
kasih kamu bersedia menjaga mas Alex dan anak-anakku, Mia.”
menghilang. Mia menegakkan tubuhnya, ia melihat sekeliling. Gadis ada
disampingnya, “Mah, mama ketiduran?”
“Hmm? Iya, kayaknya. Rio gak makan?”tanya
Mia melihat nasi yang dibawa Gadis masih utuh.
“Iya, mah. Gadis coba bangunin tapi gak mau
bangun. Bajunya juga gak diganti.”
“Kinanti sudah tidur?”
“Gak tau, mah. Tadi langsung masuk kamar
gitu aja. Gak bilang apa-apa.”
Mia merenggangkan tubuhnya sejenak, ia
meminta Gadis istirahat juga. Tapi Gadis memilih merapikan meja makan dulu
membantu Mia. Setelah meja makan bersih kembali, Mia duduk di ruang keluarga.
Gadis menyusulnya, dudu di samping Mia.
“Mah, apa aku salah ya? Minta Rio menikah
lagi. Dan sekarang aku dihukum seperti ini. Rasanya sakit, mah.”
Mia terpana melihat air mata Gadis sudah
menetes. “Iya, sayang. Biar bagaimanapun, Rio sangat mencintai kamu. Tapi kamu
malah minta hal seperti itu.”
Isak tangis Gadis semakin kencang setelah
mendengar kata-kata Mia yang terus terang. Mia memeluk Gadis erat, ia menahan
air matanya agar tidak jatuh.
“Mungkin ini hukuman untukmu, mungkin juga
sebuah berkah. Mungkin setelah anak itu lahir, keajaiban akan datang dan kamu
bisa hamil, Gadis. Kamu harus percaya itu.”
“Maafin aku, mah. Aku akan berusaha menebus
kesalahanku. Aku janji tidak akan berpisah dari Rio apapun yang terjadi, mah.”
Mia mengusap air mata di pipi Gadis, “Bagus,
sayang. Kamu harus tegar. Mama dan papa akan selalu ada di bersama kamu. Jangan
sembunyikan apapun dari kami ya. Kamu harus bahagia, Gadis. Kamu janji?”
Gadis mengangguk, ia memeluk Mia lagi. Ia
tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia sudah berjanji pada
Mia dan pada Rio juga. Bahkan wasiat terakhir nenek juga memintanya jangan
berpisah dari Rio. Apapun yang akan terjadi, Gadis akan berusaha menjaga Rio
dan juga anak yang dikandung Kinanti, termasuk Kinanti sendiri.
Keesokan paginya,
“Aaargghhhh!!! Rio!! Kamu kenapa??!”
Teriakan Kinanti terdengar penghuni rumah
yang lain. Gadis yang lebih dekat dengan tangga, duluan berlari menaiki tangga,
ia mendorong pintu kamarnya terbuka dan melihat Kinanti sedang mengguncang bahu
Rio kuat-kuat. Tapi Rio tidak bereaksi apa-apa. Pandangan matanya kosong, “Ada
apa, Kinanti? Rio kenapa?”tanya Gadis.
“Gak tau. Dari aku masuk udah kayak gini.
Aku kira dia nglamun. Tapi gak gerak sama sekali waktu aku panggil. Huh! Bau
apa ini?”Kinanti menutup hidungnya mencium bau tidak sedap. “Hummpphh...
hoeekk...!!”Kinanti langsung muntah di tempat. Mia dan Alex menyusul Gadis,
melihat Kinanti muntah-muntah.
“Mah, tolong bawa Kinanti keluar dulu.
Gadis mau bersihin ini.”
Mia menuntun Kinanti yang masih
muntah-muntah sambil memegangi perutnya, keluar dari kamar Gadis dan Rio.
“Bau apa ini, Gadis?”tanya Alex. “Rio
kenapa?”
“Gak tau pah, dia kayak gak sadar. Rio!
Rio, kamu dengar aku?” Gadis mengguncang bahu Rio. Keningnya mengkerut melihat
sesuatu dibawah tubuh Rio. “Pah, Rio gak respon. Sepertinya dia buang air di
celana.”
“Hah??!!”pekik Alex kaget.
Gadis membereskan kekacauan yang terjadi di
kamar itu dibantu Alex dan mb Minah. Kinanti masih muntah-muntah di kamar mandi
akibat mencium bau tidak sedap dan kehamilannya. Setelah kamar itu bersih
kembali, Rio tampak berbaring di atas ranjang.
Alex memanggil dokter yang langsung datang
memeriksa keadaan Rio.
“Sepertinya dia mengalami trauma yang
sangat dalam atau disebut juga depresi. Saya tidak yakin, tapi gejalanya memang
seperti itu.”kata dokter sedikit ragu.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.