Duren Manis

Duren Manis
Kucing dikarungin


Rio tidak mau lagi


mendengar pembicaraan tentang kawin-kawin, ia membuat ulang sirup untuk mereka


bertiga dan segera duduk bergabung dengan para gadis itu.


Kaori : “Makasih, Rio.”


Kata Kaori ketika Rio menyodorkan gelas sirup padanya.


Riri : “Loh, kamu


gak minum?”


Rio : “Aku uda


minum banyak tadi, perutku penuh air.”


Rio melihat album


yang dipegang Riri,


Rio : “Ini apaan?


Wow, cantik.”


Rio membalik album


itu dengan cepat dan melihat foto Riri dengan aneka macam gaun pengantin dan


gaun malam.


Rio : “Aku suka yang ini.”


Rio memilih salah


satu baju pengantin berwarna putih dari bahan kebaya dan kain sutra.


Rio : “Dan


resepsinya pakai yang ini aja.”


Kali ini Rio


memilih gaun malam berwarna merah maroon dengan payet dan kristal sebagai


hiasannya.


Kaori : “Wah, kalo


milihin yang lain, kamu bisa ya. Kalo untuk diri sendiri malah bingung.”


Rio : “Hehe, kan


ada kamu. Ngapain aku pusing.”


Riri : “Aku juga


mikir hal yang sama, ini aja kali ya. Ntar aku telpon mas Elo dulu.”


Riri mengambil ponselnya


dan menelpon Elo.


*****


Dering telpon


terdengar di samping ranjang Elo, ia sedang mandi dan tidak mendengar suara


telponnya. Saat itu ada seseorang yang menekan tombol hijau dan mulai bicara,


Elena : “Sayang,


ada telpon nich buat kamu... apa? Kamu mau aku masuk ke kamar mandi juga?”


Riri mengkerut


mendengar suara wanita yang bicara dari seberang sana.


Riri : “Halo, ini


siapa ya?”


Elena : “Riri, masa


kamu gak ngenalin aku sich. Bentar, sayang. Uda dulu ya, Angelo nunggu aku


mandi.”


Riri melotot melihat


ponselnya, ia mencoba menelpon sekali lagi, tapi tidak ada yang mengangkat.


Rio : “Kenapa?


Siapa yang ngangkat?”


Riri : “Kayaknya


suara Elena. Mas Elo kok tega sich...”


Kaori : “Pasti ada


yang salah, kamu punya nomor telpon mamanya pak Elo?”


Riri : “Ada.”


Kaori : “Cepat


telpon. Bilang tadi kamu denger Elena yang ngangkat telpon pak Elo. Cepat.”


Riri : “Iya,


bentar.”


Riri mencari kontak


mama Ratna dan menelponnya,


Mama Ratna : “Halo,


Riri sayang.”


Riri : “Halo, mah. Mama


dimana?”


Mama Ratna : “Mama


di rumah, sayang. Kenapa?”


Riri : “Mas Elo ada


disana, mah?”


Mama Ratna : “Ada,


kayaknya di kamarnya.”


Riri : “Mah, minta


tolong cek ke kamarnya. Barusan Riri telpon ke mas Elo, tapi yang ngangkat


Elena. Riri takut, mah.”


Mama Ratna : “Masa,


sih? Bentar mama cek ya.”


Hening. Tidak ada suara


yang terdengar. Riri menatap ponselnya dengan cemas.


Riri : “Gimana ini?


Masih di cek sama mama. Mas Elo...”


Riri hampir


menangis saat suara mama Ratna terdengar lagi,


Mama Ratna : “Ri?


Halo?”


Riri : “Iya...


hiks... mah.”


Mama Ratna : “Ya,


ampun kamu nangis, sayang? Jangan nangis dong. Kucingnya uda mama karungin.”


Karena menahan


tangisannya, Riri tidak sengaja menjatuhkan ponselnya yang ditangkap Rio dengan


sigap.


Rio : “Halo, tante


Ratna. Riri lagi nangis, apa Elena memang ada disana?”


Mama Ratna : “Ada,


udah tante tangkep kok. Rupanya masih belum kapok.”


Rio : “Cerita dikit


dong, tante.”


Mama Ratna : “Tunggu


Angelo selesai mandi ya. Sepertinya dia gak tahu kalau Elena masuk ke kamarnya.”


Rio : “Oh, gitu.


Ya, tante. Nanti Rio telpon lagi ya, tante.”


Mama Ratna : “Nanti


tante yang telpon Riri ya.”


Rio meletakkan


ponsel Riri di samping gadis yang sedang menangis itu. Kaori mengelus punggung


Riri, menenangkannya.


Kaori : “Tante


Ratna bilang apa?”


Rio : “Nanti mau nelpon


nangis gini.”


Rio dan Kaori


membawa Riri ke kamarnya dan mereka duduk disana sambil menunggu telpon dari


mama Ratna.


*****


Elo baru selesai


mandi, ia membuka pintu kamar mandi dan melihat mamanya duduk di atas sofa.


Elo : “Mama?


Ngapain disini? Elo belum pakai baju.” Elo menyilangkan tangannya di depan


dada. Persis anak perawan kelakuannya.


Mama Ratna : “Cepat


pakai baju sana. Mentang-mentang bentar lagi mau nikah, mama gak boleh lihat


badanmu, gitu? Padahal dari kecil kamu sendiri yang suka lari sambil telanjang


keliling rumah.”


Elo : “Mama! Malu


nich, aib gitu diumbar.”


Mama Ratna : “Hihi...


mama gak sabar mau gosip sama Riri.”


Elo : “Mah, jangan


bongkar aib Elo dong. Ntar Riri ilfeel sama Elo.”


Mama Ratna : “Biar


aja Riri ilfeel, jadi Riri bisa sama mama terus.”


Elo : “Mah...” Elo


mengambil pakaiannya dan masuk lagi ke kamar mandi.


Ia keluar setelah


berpakaian dan menyisir rambutnya. Elo keluar kamar mandi dan duduk diatas


ranjang.


Elo : “Kenapa, mah?”


Mama Ratna : “Kamu


beneran gak sadar?”


Elo : “Apa sich,


mah?” Elo kebingungan dengan kata-kata mamanya.


Mama Ratna : “Tadi


Elena masuk kesini dan mengangkat telpon dari Riri.”


Elo : “Apa?!”


Elo dengan cepat


mengambil ponselnya diatas nakas dan melihat ada panggilan tak terjawab dari


Riri.


Elo : “Gak ada


telpon masuk dari Riri. Cuma missed call, mah.”


Mama Ratna : “Rupanya


lebih licik dari yang mama kira.”


Elo : “Maksud mama?”


Mama Ratna : “Pasti


udah dihapus. Jahat banget sich. Cepat telpon Riri, mama ceritakan sekalian


biar Riri denger.”


Elo menekan tombol


hijau untuk menelpon Riri.


*****


Rio melihat ponsel


Riri berdering,


Rio : “Telpon dari


kak Elo nich. Aku angkat ya.”


Rio menerima


panggilan itu dan menekan tombol loudspeaker.


Elo : “Halo, Ri.”


Rio : “Ini Rio,


kak. Riri masih nangis, belum bisa diajak ngomong.”


Elo : “Ri, jangan


nangis dong, percaya sama aku, aku gak tahu Elena masuk ke kamarku.”


Mama Ratna : “Mana


sini, mama mau ngomong.”


Elo : “Loudspeaker


ya.”


Mama Ratna mulai


bercerita setelah Riri menelpon dan mengatakan kalau Elena masuk ke kamar Elo,


mama Ratna membuka CCTV dan melihat memang Elena masuk ke kamar Elo. Dengan cepat


Mama Ratna menelpon pengawal rahasia Elo yang segera masuk ke kamar dan menangkap


Elena. Wanita itu dimasukkan ke karung dan dibawa keluar dari kamar Elo menuju


suatu ruangan rahasia.


Elo : “Mama serius


masukin Elena ke karung? Kayak kucing aja.”


Mama Ratna : “Emang


dia kayak kucing. Gatel. Padahal mama sudah kasi peringatan, apa dia mau video


panasnya waktu itu kesebar ya?”


Elo : “Videonya


belum disebar?”


Mama Ratna : “Mama


masih jaga nama baik keluarga kita, Angelo. Kalau ketahuan publik, kelakuan


Elena seperti itu, kasian kakekmu harus terima cibiran orang.”


Elo : “Ach, iya.”


Riri : “Mas Elo,


gak pa-pa, kan?” Riri sudah lebih tenang saat mendengar Elena sudah dikarungin.


Elo : “Ri, aku gak


tahu dia masuk ke kamarku. Aku lagi mandi tadi. Beneran.”


Riri : “Iya, Riri


percaya mas Elo.”


Elo : “Eh, Riri ngapain


nelpon tadi? Kangen ya?”


Mama Ratna : “Neh,


mulai dech gombal. Mama pergi ya.”


Rio : “Kaori, ayo


ke bawah. Aku laper, mau makan mie.”


Semua orang


meninggalkan Elo dan Riri yang mulai mengobrol dengan mesra. Wajah keduanya


memerah mendengar kata-kata manis dan bisikan manja yang mereka lontarkan satu sama lain.


Trus gimana nasib


Elena nich??


🌻🌻🌻🌻🌻


Penasaran kan? Apa


perlu author panggil Heru lagi ya biar Elena dapet pelajaran agar berhenti


ganggu calon suami orang?


Tapi sepertinya


mama Ratna punya rencana lain. Author mulai spoiler nich.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).