Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 28


Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 28


Ken mencoba


menelpon Endy, ia masih sopan dengan tidak melacak keberadaan Endy dan Kinanti.


Padahal lebih tepat dan cepat kalau melakukannya. Tidak sampai mengulang


panggilan, Endy mengangkat telpon dari Ken.


"Halo,


pah. Papa sudah dapat laporannya?" tanya Ken to the point.


"Sudah.


Apa maumu?" tanya Endy malas basa-basi.


Pria paruh baya


itu bahkan tidak mengucapkan terima kasih atas kerja keras Ken. Dengan tegas


dan penuh penekanan, Ken minta pada Endy untuk segera kembali mengurus


perusahaannya sendiri.


"Pah, aku


juga butuh waktu untuk pacaran atau Kaori akan ngambek. Bukannya papa juga


sempat pacaran sama mama dulu. Terlalu banyak yang harus kuurus sampai nggak


sempat ketemu Kaori," cerocos Ken mengomeli Endy.


"Papa


belum bisa pulang. Mamamu masih ikut terapi untuk sakit kepalanya," ujar


Endy.


"Pah, mana


ada terapi dua tahun. Papa pulang sekarang atau aku hentikan transferan uang


bulanan papa dan mama," ancam Ken yang mulai kesal.


"Kau


berani?!" bentak Endy.


Aku akan bilang


kelakuan papa sama kakek!" ancam Ken lagi seperti anak kecil.


"Kenapa


kau selalu memakai papaku sebagai tamengmu? Anak nakal!" bentak Endy


kesal.


"Papa yang


mulai duluan!" bentak Ken juga.


Keduanya


sama-sama diam mengatur nafas yang mulai tidak beraturan karena emosi yang


memuncak. Sebenarnya Ken tidak ingin bertengkar dengan Endy tapi menurut Ken,


papanya itu sudah keterlaluan.


"Papa baru


bisa pulang bulan depan. Mamamu masih ada terapi disini, dua minggu lagi baru


selesai. Papa nggak mau mamamu sakit kepala lagi. Kalau kamu nggak mau


transfer, terserah!" bentak Endy hampir menutup telponnya.


"Pah,


jangan berani tutup telponku ya. Kita belum selesai bicara. Papa jangan seperti


anak kecil," ucap Ken yang tidak mau pembicaraan mereka berakhir begitu


saja.


Endy diam saja,


ia paling malas meladeni Ken kalau sudah bicara tentang kembali pulang. Ken


tidak tahu bagaimana Endy dan Kinanti hidup selama dua tahun ini.


Kinanti


tiba-tiba saja ingin merasakan hidup yang lebih sederhana. Mereka masih memakai


fasilitas keluarga Wiranata, tapi untuk tempat tinggal, Kinanti memilih


mengontrak rumah mungil di pinggir kota.


Mereka hidup


hanya berdua saja, tanpa pelayan atau sopir. Endy terkadang memakai fasilitas


mobil dan sopir kalau Kinanti harus menjalani pemeriksaan di kota. Sisanya,


mereka mengurus diri mereka satu sama lain.


Endy jadi


belajar memasak untuk memasak makanan untuk mereka. Atau mereka akan pergi ke


restaurant murah tapi cukup bersih di sekitar rumah kontrakan mereka.


Setidaknya


dengan melakukan itu, Kinanti bisa menikmati udara pinggir kota yang masih


segar dan tidak memikirkan hal yang terlalu berat. Endy juga terlepas dari


stress pekerjaannya, ia jarang sakit dan terlihat lebih bahagia hanya berdua


bersama Kinanti.


"Pah,


sudah saat papa kembali. Kalau tidak demi aku, setidaknya demi Kenzo. Aku juga


kekurangan waktu mengurus anak itu. Terakhir aku ketemu dia waktu ulang


tahunnya bulan lalu. Papa dan mama juga nggak datang," kata Ken masih


mengeluh.


Endy teringat


bulan lalu, Kinanti kembali kumat sakitnya. Bahkan lebih parah, wanita itu


sampai tidak bisa bangun selama tiga hari. Mereka menghabiskan waktu di rumah


sakit saat seharusnya menghadiri ulang tahun Kenzo.


"Mamamu


sakit, nggak bisa kemana-mana, Ken," alasan Endy.


"Pah,


sebenarnya mama sakit apa sich? Apa kata dokter? Mending papa sama mama balik


deh, kita ke dokter terbaik. Mama bisa general checkup sekalian papa


juga," usul Ken.


Endy tersenyum


miris, putra yang selama ini ia besarkan dengan kasih sayang palsu, begitu


perhatian padanya dan Kinanti. Tapi Endy tidak mau tergantung pada Ken,


terlebih penyakit Kinanti selalu kambuh saat ia mulai memikirkan untuk pulang.


Ada sesuatu di


psikis Kinanti yang membuat tubuhnya sakit setiap kali teringat dengan rumah.


Tidak seperti dulu, Kinanti sangat menyukai kemewahan dan kenyamanan hidup di


rumah besar kakek Martin.


"Mamamu


sakit di pikirannya. Dia tidak boleh banyak berpikir atau tubuhnya akan sakit.


Kamu pikir, papa belum menemui dokter terbaik. Mereka tidak bisa menemukan


apa-apa dan menyarankan mamamu menemui psikiater. Mamamu tidak gila, okey. Dia


hanya sedikit stress," jelas Endy malas mendengar omelan Ken.


"Trus,


kenapa mama bisa stress? Uang belanja kurang? Masih kurang berapa lagi? Aku


harus tranfer berapa biar mama nggak stress?" tanya Ken menyindir Endy.


"Bukan


masalah uang, Ken! Kamu jangan kurang ajar ya. Merasa sudah berkuasa sekarang,


kamu tidak bisa seenaknya bicara begitu!" bentak Endy lagi.


"Pah, aku


ngomong kenyataan. Dari dulu papa sama mama cuma peduli sama harta. Bahkan


aku...." Ken menghentikan kata-katanya tepat waktu. Belum saatnya


membongkar kebenaran kalau Ken sudah tahu tentang identitasnya yang sebenarnya.


Terlalu sulit bagi Ken untuk bertindak kalau Endy tahu yang sebenarnya.


"Apa, Ken?


Bahkan aku, apa? Apa yang sedang kamu coba katakan?" Endy mendesak Ken


mengatakan isi hatinya.


"Bukan


apa-apa, pah. Maaf, pah. Aku salah," kata Ken akhirnya hanya bisa meminta


maaf.


mendesaknya kalau Ken sudah meminta maaf. Ken menghela nafas berat yang bisa


didengar Endy.


"Kalau kau


tidak bisa mengelola semuanya, akuisisi saja perusahaan papa dan mama. Jadikan


salah satu cabang perusahaanmu. Kau akan lebih mudah mengawasinya," putus


Endy.


"Baik,


pah," sahut Ken cepat. "Aku akan mengurus semuanya. Papa dimana


sekarang?" tanya Ken lagi.


"Kau bisa


menemukan papa, Ken. Kirim saja dokumennya, nanti kami tanda tangan. Sudah


dulu, Ken. Sampai jumpa," kata Endy lalu menutup telponnya.


Endy meletakkan


ponselnya kembali ke atas meja. Ia sedang menemani Kinanti tidur siang saat Ken


menelpon tadi. Padahal suaranya cukup keras, tapi Kinanti sama sekali tidak


terbangun. Endy mengelus kepala Kinanti, lalu bergumam tentang apa yang


sebenarnya dialami istrinya itu. Seseorang yang tadi memeriksa Kinanti, kembali


masuk ke ruangan tempat Kinanti dan Endy berada.


“Jadi,


bagaimana hasilnya?” tanya Endy dingin.


Endy akhirnya


memanggil dokter psikiater terbaik untuk memeriksa Kinanti. Tidak butuh waktu


lama bagi dokter itu untuk tahu apa yang sedang dialami Kinanti.


“Nyonya Kinanti


menderita psikosomatis, tuan Endy. Penyakit ini adalah kondisi yang


menggambarkan saat munculnya penyakit fisik yang disebabkan oleh kondisi


mental. Gejalanya menunjukkan demikian, dari gejala awal gemetar dan pusing.


Kemudian lanjut ke tahap selanjutnya jantung berdebar-debar, lemas atau tidak


dapat menggerakkan anggota tubuh sama sekali, susah tidur, nyeri kepala, dan


nyeri seluruh tubuh. Saya sudah berikan suntikan obat penenang dosis kecil pada


Nyonya Kinanti. Nyonya bisa berisitirahat sekarang, tapi saya perlu bertanya


pada tuan Endy. Apa tuan bersedia menjawab beberapa pertanyaan saya?” tanya


psikiater bernama Debora itu.


Endy


mengangguk, mereka pindah dari sisi Kinanti, lalu duduk di sofa. Dokter Debora


membuka buku catatannya, ia ingin menanyakan sesuatu tentang beberapa hal yang


sempat ia dengar dari Kinanti saat melakukan hipnoterapi pada wanita cantik


itu.


“Saya mendengar


beberapa nama dari Nyonya Kinanti tadi. Yang pertama adalah Kaori. Siapa orang


yang dipanggil Kaori ini, tuan Endy?” tanya dokter Debora.


“Kaori...,


dia....” Endy ingin menjawab yang sebenarnya, tapi rahasia itu tidak boleh


diungkapkan sembarangan.


“Kalau tuan


Endy tidak jujur, saya tidak bisa membantu Nyonya Kinanti. Pengobatan yang saya


berikan tidak akan optimal. Kita tidak bisa memberikan obat penenang


terus-menerus pada Nyonya Kinanti untuk menekan rasa sakitnya,” jelas dokter


Debora.


“Bisakah dokter


menjaga rahasia ini? Dokter tahu apa yang bisa kulakukan kalau sampai ini


bocor,” ancam Endy.


“Saya tahu,


tuan Endy. Tapi ini semua terserah tuan. Saya dibayar cukup mahal adalah untuk


menjaga rahasia semua pasien saya,” kata dokter Debora tidak takut.


Endy menghela


nafas panjang, ia ingin Kinanti cepat sembuh. Kembali ke kondisi tubuhnya


sebelum ini. Endy tidak sanggup melihat cintanya hidup menderita seperti ini.


Baginya, Kinanti adalah segalanya. Sama seperti perasaan Ken saat ini pada


Kaori. Pria paruh baya itu sanggup melakukan apa saja untuk kebahagiaan


Kinanti.


“Kaori adalah putri


pertama kami. Tapi sejak lahir, dia tinggal bersama keluarga lain. Kaori sama


sekali tidak tahu kalau dirinya bukan anak kandung di keluarga itu. Kinanti


meninggalkan Kaori pada mereka karena anak itu buta,” ucap Endy sendu.


Dokter Debora


tidak menunjukkan emosi apapun, ia mencatat hubungan antara Kaori dengan


Kinanti. Selanjutnya, dokter Debora menanyakan tentang Renata, lagi-lagi Endy


terdiam sejenak sebelum menjawab.


“Dokter mungkin


tahu tentang Ken, putra pertamaku sebelum Kenzo. Sebenarnya Renata adalah putri


kedua kami. Aku menukar Renata dan Ken ketika mereka dilahirkan. Saat itu aku


terpaksa melakukannya untuk urusan pribadi. Renata dan Kaori tinggal dalam satu


keluarga yang sama,” jelas Endy.


“Kemudian Ken,


jadi bagaimana hubungan Tuan dan Nyonya dengan Ken?” tanya dokter Debora lagi.


“Ken bukan anak


kandungku. Dia dan Renata lahir di hari yang sama dan aku men


‘ukar keduanya


ketika mereka dilahirkan,” sahut Endy mulai kesal.


Dokter Debora


tidak bereaksi sama sekali. Ia sibuk mencatat lalu menyelesaikan pertanyaan


terakhir untuk Endy. “Apa tuan Endy ingin nyonya Kinanti benar-benar sembuh


total? Dengan segala pengobatan yang akan saya lakukan nanti?” tanya dokter


Debora lagi.


“Ya, dokter.


Aku ingin dia sembuh seperti semula. Pengobatan apapun itu, aku akan


mendukungnya,” sahut Endy cepat.


Dokter Debora


diam lagi, kali ini tangannya mencatat sesuatu setelah melihat jam tangannya.


Tanpa banyak bicara lagi, dokter Debora menoleh menatap Kinanti yang mulai


bergerak dalam tidurnya. Obat penenang yang diberikan dokter Debora sudah habis


efeknya dan perlahan Kinanti mulai terbangun.


“Tuan Endy,


silakan tunggu disini sebentar,” kata dokter Debora lagi.


Endy melihat


dokter Debora berjalan mendekati Kinanti. Dokter itu menanyakan sesuatu pada


Kinanti dengan sedikit berbisik sampai Endy tidak bisa mendengarnya. Kinanti


hanya mengangguk lemah sebagai jawabannya. Dokter Debora kembali duduk di depan


Endy dan menutup buku catatannya.


“Salah satu


cara untuk memastikan penyebab penyakit Nyonya Kinanti adalah dengan mempertemukan


Nyonya dengan Kaori dan Renata secepatnya. Bertemu dalam arti yang


sesungguhnya, berkomunikasi atau berbincang-bincang. Saya rasa tuan Endy bisa


melakukan hal itu, bukan?” tanya dokter Debora.


Saat itu Endy hanya bisa memikirkan untuk meminta Ken


mempertemukan Kinanti dengan Kaori dan Renata. Tapi...