
Elo masih menatap Riri yang tampak ketakutan. Otaknya reload sejenak, ia menepuk keningnya.
Elo : "Maksudku, kamu buka baju di kamar mandi. Berikan padaku, biar bisa aku keringkan."
Riri : "Oh, iya kak."
Riri ngibrit masuk ke kamar mandi, wajah keduanya sudah memerah. Riri menenangkan jantungnya yang jumpalitan sebelum membuka pakaiannya yang basah.
Ceklek! Elo menoleh ketika pintu kamar mandi terbuka. Tangan Riri terulur keluar memegang pakaiannya yang basah.
Riri : "Kak..."
Mata Riri terbelalak saat ia merasakan tangannya di pegang Elo. Riri mengintip dari balik pintu kamar mandi. Ia tertegun melihat Elo sudah menatapnya.
Elo meneguk liurnya melihat wajah Riri tertutup sebagian rambutnya yang basah. Pundaknya yang putih bersih terlihat dari tempat Elo berdiri.
Riri : "Kak, lepas tanganku."
Riri memutar tangannya mencoba melepaskan pegangan Elo. Tapi Elo malah berjalan mendekat.
Riri : "Kak, jangan maju lagi...!!"
Elo terkejut mendengar suara Riri yang ketakutan. Ia mengambil baju Riri dan berjalan cepat keluar dari kamarnya. Riri dengan cepat menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
Setelah selesai mandi dan memakai baju Elo, Riri memakai hair dryer untuk mengeringkan baju dalamnya. Ia menggulung handuk membungkus rambutnya.
Sedang konsen dengan kegiatannya, ia membeku setelah mendengar ketukan di pintu kamar mandi.
Elo : "Ri? Bisa keluar bentar?"
Elo menunggu di depan kamar mandi, tampak gelisah. Ia takut, karena perbuatannya tadi, Riri akan berpikir dirinya pria brengsek.
Riri membuka pintu kamar mandi dan melihat Elo berdiri dengan kipas angin di tangannya.
Elo : "Ri, apa... apa baju dalammu sudah kering?"
Riri : "La... Lagi dikit, kak."
Elo : "Pakai ini ya, biar kena angin. Bo... Boleh aku masuk?"
Riri membuka pintu kamar mandi lebih lebar. Ia menyembunyikan baju dalamnya di belakang tubuhnya. Elo masuk dan meletakkan kipas angin di dekat wastafel. Ia menghidupkannya dan berbalik menghadap Riri.
Elo : "Itu ada hanger, bisa kamu pakai gantung... Hair dryernya aku bawa keluar ya. Kamu bisa keringin rambutmu di kamar. Ada teh juga."
Elo tidak berani menatap Riri, ia cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Sampai tangannya tak sengaja membentur kusen pintu dan sedikit terluka.
Riri melihat Elo mengibaskan tangannya sambil meringis.
Ia mencari sesuatu di laci nakas dan mengeluarkan kotak obat. Elo duduk disisi ranjangnya. Ia ingin memasang plester di tangan kanannya. Tapi ia tidak bisa melakukannya dengan baik.
Riri : "Kak, bersihin dulu lukanya."
Riri duduk disamping Elo, ia mengambil plester yang sudah tidak jelas bentuknya dari tangan Elo. Riri mengambil alkohol dan kapas.
Elo menatap Riri yang terlihat seksi dengan rambut basah. Riri membersihkan luka Elo dengan cepat dan memasang plester diatasnya.
Mereka bertatapan lagi dan sama-sama tersenyum malu.
Elo : "Makasih, Ri."
Riri : "Sama-sama, kak. Mana tehnya kak?"
Elo : "Itu di meja. Sudah kutambahkan gula, hati-hati masih panas."
Riri : "Iya, kak."
Riri beranjak dari samping ranjang dan mengambil teh yang terhidang di atas meja. Ia meniupnya sedikit dan mulai meminumnya.
Riri tidak menyadari kalau Elo sudah mendekatinya dan berdiri di belakang gadis itu.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Akhir pekan juga dimanfaatkan Rio untuk mengajak Kaori jalan-jalan. Mereka ingin nonton film di bioskop. Sampai di mall, mereka segera turun dan berjalan kearah bioskop.
Kaori melihat beberapa pasangan tampak bergandengan mesra di depan mereka. Tangan mereka saling bertautan dan sesekali tersenyum.
Ia melirik ke samping, Rio berjalan tanpa menggandeng tangannya. Kaori mulai cemberut, ia sengaja memperlambat jalannya membuat Rio menoleh padanya.
Rio : "Ayo, cepat. Kenapa kau lambat sekali?"
Tuch kan, pacarnya itu sama sekali gak peka. Kaori berjalan lebih cepat, sekarang melewati Rio yang berjalan cepat mengejarnya.
Rio : "Gak secepat ini juga. Kaori, kamu kenapa sich?"
Kaori tertegun menatap sepasang kekasih sedang berpelukan di sudut ruangan. Mata Rio mengikuti kemana arah tatapan mata Kaori.
Kali ini Kaori menatap sepasang kekasih lainnya yang sedang bergandengan tangan dan berjalan di depan mereka.
Kaori berhenti berjalan, ia tidak ingin nonton lagi.
Dengan cepat Kaori berjalan ke penjual es krim di dekat bioskop. Ia memesan porsi double, dan duduk di bangku yang kosong.
Rio berjalan mendekatinya, duduk di sampingnya,
Kaori : "Udah gak mood."
Rio : "Kenapa?"
Kaori : "Kenapa.. kenapa.. bisa gak kamu diem. Aku capek jawab pertanyaanmu."
Rio : "Kamu marah?"
Rio menggenggam tangan Kaori membuat gadis itu menatapnya. Bukan hanya itu, Rio juga menarik tangan Kaori dan mencium punggung tangannya.
Kaori melirik sekeliling, ia malu dengan perlakuan Rio. Wajah Kaori menegang saat tiba-tiba Rio mendekatkan wajahnya.
Rio : "Aku tahu kamu mau ini kan?"
Kaori : "Ini? Ini apa?"
Rio : "Kamu mau aku berbuat ini, kan."
Lagi, Rio menggenggam tangan Kaori dan mencium punggung tangannya. Kaori sampai gak fokus saat pelayan mengantarkan es krim pesanannya.
Kaori : "Rio, lepas tanganku."
Rio : "Aku gak mau."
Kaori : "Trus gimana aku makan es krimku?"
Rio : "Aku suapin..."
Wajah Kaori menghangat saat Rio menyendok es krim kesukaannya. Kaori menyesap rasa manis es krim yang meleleh di lidahnya.
Ia sampai memejamkan matanya karena sangat enak.
Rio : "Kalau kita berdua saja, bukan gini caraku menyuapimu."
Kaori : "Gimana caranya?"
Rio : "Kau yakin mau tahu?"
Rio menahan senyumnya melihat wajah polos Kaori. Ia mendekat membisikkan sesuatu,
Rio : "Aku akan menyuapimu pakai mulutku..."
Rio menjauh lagi, menatap wajah Kaori yang belum ngeh. 1 detik, 2 detik, 3 detik, 4 detik, 5 detik... Kaori mencoba membayangkan apa yang dikatakan Rio barusan. Wajah Kaori berubah keunguan. Ia memukul lengan Rio yang sudah tertawa ngakak.
Rio : "Hahahahahaha..."
Kaori : "Kamu...!"
Rio : "Aku apa?! Hehe..."
Kaori : "Kamu mesum!"
Rio : "Mananya yang mesum?"
Rio menarik tangan Kaori dan berbisik lagi,
Rio : "Kalau aku melakukannya sambil membuka bajumu, baru mesum namanya."
Wajah Kaori benar-benar merah sampai ke telinganya. Ia berhenti bicara, merasa sangat malu. Rio melepaskan tangan Kaori dan mulai memakan es krim di atas meja.
Rio : "Kamu masih mau makan es krimnya?"
Kaori : "Iy... Iya."
Suasana sedikit canggung sekarang. Rio juga merasa malu setelah menggoda Kaori barusan.
Sungguh ia selalu merasa grogi setiap berdekatan dengan Kaori. Itulah yang membuat Rio terlihat cuek pada Kaori.
Sesekali Rio melirik Kaori yang makan es krimnya tanpa bicara. Wajah manis Kaori masih merona sampai sekarang membuatnya terlihat lebih manis.
Rio : "Kaori, abis ini kita ke suatu tempat ya."
Kaori : "Kemana?"
Rio : "Deket kok. Kita cuma sebentar disana."
Kaori : "Ok..."
Rio kembali mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Jantungnya deg-degan memikirkan apa yang akan terjadi nanti.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²