
Kayaknya ada yang
masih nanggung ya?
Point check : Alex
Mia done, Rara Arnold done, Elo Riri done, Jodi Katty juga done. Kalau Rio sama
Kaori gak usah ditanya ya. Kalau ada kesempatan Rio pasti selalu nyosor duluan.
Oh, iya. Gimana
kabarnya Guntur dan Anisa ya?
Kita lanjut lagi
ceritanya...
*****
Guntur balik lagi
ke dalam kamar setelah memberikan pakaian Anisa dan kemejanya untuk di laundry
kepada petugas hotel. Ia minta dipercepat karena tidak ingin Anisa berlama-lama
tidak berpakaian.
Guntur melihat
Anisa masih tidak sadarkan diri. Wajahnya masih merah dan sepertinya ia masih
menggigil. Guntur mendekati Anisa, meraba keningnya dan merasakan tubuh Anisa
sedikit demam.
Guntur : “Anisa?
Bangun.”
Guntur mengguncang
tubuh Anisa agar bangun dan Anisa segera merespon panggilan Guntur. Perlahan
mata Anisa terbuka, ia kembali memejamkan matanya karena silau dengan lampu
kamar.
Guntur : “Anisa,
kamu bisa dengar aku?”
Anisa : “Guntur? Kenapa
panas sekali?”
Anisa hampir
menyingkap selimut yang menutup tubuhnya, tapi Guntur dengan cepat mengukungnya
agar tidak bisa bergerak.
Anisa : “Guntur,
lepasin! Panas!”
Guntur : “Sebaiknya
kamu lihat dulu keadaanmu sebelum membuka selimut ini.”
Anisa : “Apa?”
Anisa memicingkan matanya,
ia bisa melihat rambutnya terurai menutupi pundak kirinya. Dan ia baru sadar
kalau tidak berpakaian sama sekali di bawah selimut itu.
Anisa : “Aaarrggghhh!!
Mana bajuku? Hijabku?!”
Guntur melepaskan
tangan Anisa yang tadi ia tahan diatas kepala wanita itu. Anisa segera menarik
selimut menutupi kepalanya. Hanya tinggal matanya yang terlihat.
Anisa : “Guntur...
kenapa kamu gak pakai baju?”
Guntur beranjak
dari atas ranjang dan mengambil bathrobe di dalam kamar mandi. Setelah
memakainya, Guntur duduk di sisi ranjang, membelakangi Anisa.
Guntur : “Nisa,
kamu ingat kenapa kamu bisa ada disini?”
Anisa : “...
Nggak...Apa yang terjadi?”
Guntur : “Dimana
kamu sebelum ini?”
Anisa : “Aku pergi
makan dengan temanku di tempat kerja yang dulu. Lalu...”
Guntur menoleh saat
tidak mendengar suara Anisa lagi, ia melihat wajah pucat Anisa yang masih
berbalut selimut.
Guntur : “Lalu apa,
Nisa?”
Anisa : “Lalu...
aku gak ingat... maksudku aku makan dan minum biasa saja. Aku sempat mendengar
suara orang lain disana selain temanku. Sebelum aku tidak bisa bergerak dan
bicara dengan normal. Badanku rasanya lemas sekali.”
Guntur : “Kau tahu
apa yang kau minum?”
Anisa : “Hanya air
putih dan segelas softdrink... pria itu... Jhon, dia membawaku dengan mobilnya.
Hiks... hiks... apa yang sudah terjadi sama aku...?” Anisa mulai menangis
ketika mengingat sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya.
Guntur : “Tidak ada
yang terjadi, Nisa. Tadi aku melihatmu masuk ke dalam hotel ini bersama pria
itu. Ia mendudukkanmu di sofa dan membayar kamar. Saat itu aku mendekatimu dan
kamu bilang tolong.”
Anisa : “Kamu yang
bawa aku kesini?”
Guntur : “Maaf, aku
terpaksa melakukannya. Aku juga yang...”
Anisa : “Ka... kamu
yang lepas... bajuku?”
Anisa melihat
Guntur mengangguk. Pria itu terus membelakanginya dan hanya sekali menoleh
tadi.
Guntur : “Maafkan
aku, Nisa. Tapi aku bersumpah tidak menyentuhmu lebih dari yang sewajarnya. Aku
gak tau apa yang kau minum, tapi kamu sedikit menggila tadi dan berusaha
melepaskan pakaianmu sendiri. Aku...”
Guntur menoleh
lagi, kali ini dengan wajah bersemu merah. Anisa terpana melihat wajah Guntur
tampak memelas memohon maaf.
Guntur : “Aku
terpaksa merendammu di bathup dengan air dingin. Dan melepas bajumu setelah
kamu menggigil kedinginan.”
Deg! Anisa
merasakan dejavu saat dulu Guntur juga pernah melakukan hal yang sama padanya.
sekolah. Untuk menutup kegiatan ospek, mereka mengadakan perkemahan di alam
terbuka.
Anisa dan Guntur
berada pada tim yang sama yang bertugas mengawasi salah satu kelompok adik
kelas 1. Hujan turun dengan deras dan setelah memastikan adik kelas yang mereka
awasi kembali ke dalam kemah dengan baik, Guntur mengajak Anisa ke salah satu
saung yang ada di dekat sawah.
Dari sana mereka
bisa mengawasi perkemahan dengan baik. Anisa yang sudah menggigil kedinginan,
mulai tidak sadarkan diri. Dan Guntur melakukan hal yang sama persis dengan apa
yang dilakukannya sekarang. Ia membuka sebagian pakaian Anisa dan menjaganya
tetap hangat sampai Anisa sadar kembali.
Greb! Anisa memeluk
Guntur dari belakang.
Guntur : “Anisa...”
Anisa : “Apa kamu
malaikat yang dikirim Tuhan untuk selalu menjagaku?”
Guntur : “Aku
bukan... Tolong lepas, Nisa. Situasi kita...”
Anisa : “Aku mohon
sebentar saja.”
Guntur tersenyum
dengan canggung, jantungnya berdebar kencang, hasrat yang seharusnya ia tahan
mulai bangkit ketika kulit lengan mereka bersentuhan. Anisa bisa merasakan
debaran jantung Guntur bersautan dengan debaran jantungnya.
Sejak dulu memang
Anisa yang lebih agresif menyentuh Guntur. Entah hanya sekedar bergandengan
tangan, merangkul, bahkan memeluk sahabatnya itu. Tapi itu saat mereka masih
sebatas sahabat, sekarang perasaan itu sudah berubah jadi cinta yang mendalam.
Yang menuntut rasa ingin saling memiliki dan juga hasrat orang dewasa yang
berlainan gender.
Guntur mencoba
bertahan tapi pelukan Anisa membuat akal sehatnya melayang setengah centi dari
kepalanya. Perlahan Guntur meraih lengan Anisa dan berbalik menatap wanita itu.
Ia menatap mata Anisa, tangannya gemetar ketika ia ingin menyentuh ujung rambut
Anisa yang muncul dari balik selimut yang membungkus tubuhnya.
Keduanya sama-sama
maju, mendekatkan diri satu sama lain. Saat dirasakan hasrat semakin besar
mendorong Guntur ingin mencium Anisa. Ting, tong! Bel lift penthouse berbunyi.
Guntur tersenyum lega, ia beranjak dari depan Anisa yang kembali menarik
selimutnya.
Petugas hotel
membawakan pakaian Anisa dan Guntur yang sudah bersih kembali. Setelah
memberikan tips kepada petugas itu, Guntur membawa pakaian mereka masuk kembali
ke kamar.
Guntur : “Ini
bajumu. Aku tunggu di luar ya.”
Anisa : “Guntur...
tetaplah disini. Aku masih takut sendirian. Kamu bisa berbalik di pojok sana.”
Guntur : “Aku akan berdiri
di depan pintu, Nisa. Tolong jangan mengujiku lagi. Biar bagaimana pun aku juga
laki-laki normal.”
Guntur melihat mata
Anisa berkaca-kaca, kebiasaannya dari SMA tidak berubah juga. Selalu memasang
wajah begitu kalau sedang ketakutan.
Guntur : Iya, baik.
Aku berdiri di pojokan.”
Guntur berjalan ke
pojokan kamar dan berdiri disana, membelakangi Anisa. Guntur mencoba
berkonsentrasi dengan cara memperhatikan cat dinding di pojok kamar. Ia akan
mengganti cat kamarnya dengan warna cat yang sama. Tapi dimana dia bisa
menemukan cat dengan warna yang sama?
Gusrak! Guntur
bertahan tidak menoleh meskipun ada suara berisik di belakangnya. Selama Anisa
tidak berteriak meminta pertolongan, dia tidak akan menoleh apapun yang
didengarnya dibelakang sana.
Kenapa Anisa lama
banget sich? Segitu lamanya ya cuma pakai baju doang. Sret! Itu suara apalagi
sich? Tunggu, besok hari apa? Pak Jodi ada meeting gak ya?
Guntur terus
mengalihkan pikirannya, dua sisi dalam dirinya seperti sedang bermain tenis,
memukul hasratnya ke kiri ke kanan, ke sisi baik ke sisi nakal.
Anisa : “Guntur...”
Guntur : “Ya? Udah?”
Anisa : “Belum...”
Untung saja Guntur belum berbalik, Ia jadi penasaran kenapa dirinya dipanggil
sedangkan Anisa belum selesai pakai baju.
Guntur : “Kenapa,
Nisa?”
Anisa : “Maafin aku
ya.”
Guntur : “Kenapa
minta maaf? Ini belum Lebaran kan?”
Guntur berusaha
nglawak, ia mulai gelisah karena menunggu Anisa selesai ganti baju. Coba kalian
pikirkan kalau berada dalam situasi seperti Guntur.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲