Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 6


Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 6


Pria itu membuka lemari pakaiannya lalu mengambil


pakaian ganti. Ia hampir berjalan masuk ke kamar mandi lagi untuk memakai baju,


tapi Kinanti mengatakan kalau ia akan keluar dulu dan menunggunya di bawah.


Ken memakai pakaiannya dengan cepat setelah Kinanti


menutup pintu kamarnya. Pria itu memeriksa sesuatu dengan cepat, mencari apapun


yang mungkin ditinggalkan Kinanti di kamarnya. Ia menemukan sesuatu seperti


kancing baju menempel di pinggiran sofanya.


Tangan Ken mengepal, ia harus segera bicara dengan


Melisa atau ia akan gila memikirkan masalah ini sendirian. Nyatanya Melisa


sudah duduk bersama Endy di ruang kerja. Endy memuji pekerjaan Melisa yang


berhasil melatih Ken dengan cepat sesuai target. Wanita itu bisa kembali ke


tempat tinggalnya besok pagi. Tentu saja bonus yang sangat besar sudah menanti


Melisa.


Saat Ken sampai di lantai bawah, Kinanti


menunggunya di sofa besar. Ken ikut bergabung duduk disana. Mereka menunggu


Endy keluar dari ruang kerja bersama Melisa. Ken tahu kalau pelatihannya sudah


berhasil dan ia menunggu apa yang akan diberikan Endy padanya.


Saat Endy keluar bersama Melisa, pria itu tidak


mengatakan apa-apa pada Ken. Ia hanya memanggil Kinanti agar mereka bisa segera


berangkat ke bandara. Ken mengepalkan tangannya, menahan dirinya untuk tidak mengatakan


apa-apa ataupun bertanya apa-apa.


Ken ikut mengantar Endy dan Kinanti ke bandara


dengan menaiki mobil bersama Melisa. Tidak ada pembicaraan yang berarti antara


mereka di dalam mobil itu. Ken sesekali menyahut saat Kinanti menanyakan


tentang sekolahnya. Sebentar lagi Ken juga akan segera kuliah. Endy sudah


mengatur tentang kuliah Ken yang tentu saja akan sangat menyibukkan dirinya.


“Ken, papa harap kamu bisa mulai bergabung di


perusahaan kita. Kamu libur sekolah kan setelah ini, kamu harus bekerja di


perusahaan selama liburan. Mengerti?” tanya Endy.


“Iya, pah,” sahut Ken dingin.


“Ken, kamu bisa pulang sebentar kalau mau ketemu


Kenzo,” kata Kinanti sambil melirik Endy yang tidak berkomentar apa-apa.


“Latihanku belum selesai, mah. Lagian biasanya juga


ketemu lewat v-call,” sahut Ken sedikit tercekat.


Sejak kehadiran Kenzo dalam keluarga mereka, orang


tuanya sudah tidak seperti dulu lagi. Mereka memang tidak pernah kasar pada


Ken, tapi semakin hari, semakin banyak tuntutan yang harus dikerjakan Ken. Pria


itu tidak punya tempat untuk mengeluh. Bahkan untuk berteman baik dengan


seseorang pun tidak boleh.


Entah Endy tahu atau tidak tentang pertemanannya


dengan Kaori dan Renata, selebihnya, Ken tidak diijinkan bergaul kalau tidak


menguntungkan untuk dirinya dan perusahaan. Relasi, koneksi, rekanan, semua


hanya berputar diantara itu. Hanya satu yang belum bisa dilakukan Ken sampai


saat ini adalah bersikap kejam.


Pertemuannya dengan keluarga Alex menjadi awal


perubahan sikap kasar Ken dulu. Dan sekarang setelah adanya Alan dan Ginara


yang tinggal bersamanya, sikap Ken semakin baik. Kehadiran orang-orang inilah


yang membuatnya sanggup bertahan di bawah tekanan Endy.


Mereka akhirnya sampai di bandara. Tampak jet


pribadi milik Endy terparkir di tempatnya. Beberapa orang tampak menaikkan


barang ke dalam jet itu. Endy dan Kinanti keluar dari mobil dan mengucapkan


salam perpisahan pada Ken sebelum mereka berdua memasuki pesawat jet itu.


“Kalau tuan muda mau ikut sekarang, ada satu body


guard yang harus dilumpuhkan,” kata Melisa dengan cepat.


“Buat apa? Aku nggak akan dapat apa-apa dengan ikut


kesana,” kata Ken enggan.


“Tuan muda sudah lihat hasil tes DNA-nya?” tanya


Melisa heran.


“Udah. Negatif kan,” kata Ken ragu.


Melisa menepok jidatnya, posisi pesawat jet saat itu


sedang bersiap untuk pemindahan tangga dan deretan body guard Endy sedang


menunggu giliran masuk ke pesawat. Ada pemeriksaan tambahan untuk setiap body


guard sebelum bisa masuk.


Melisa menepok kepala Ken sampai pria itu


ternganga. Alan saja tidak pernah menepok kepalanya seberapa kesalnya Alan


padanya. Ini Melisa malah dengan gampangnya berlaku kurang ajar padanya.


“Hasilnya positif! Lo nggak liat kertas satunya?!”


teriak Melisa kesal.


“Kertas apa?! Lo mulai nggak sopan ya. Gue bos lo!”


teriak Ken kesal.


“Lo mau ikut sekarang atau gue masukin lo ke bagasi


pesawat!” teriak Melisa hampir memukul Ken.


Ken buru-buru keluar dari mobil, ia memakai


penyamarannya dengan cepat. Sangat cepat sampai ketika ia berdiri di barisan


body guard paling belakang, Ken masih merapikan pakaiannya. Seseorang memanggil


body guard yang berdiri di depan Ken, lalu memberikan sesuatu pada Ken. Itu ID


bodyguard dengan foto dan scan barcode.


Satu persatu bodyguard melewati pemeriksaan sampai


tertinggal Ken yang sedikit tegang. Ia masih belum bisa berpikir kenapa Melisa


menyuruhnya ikut di pesawat. Tapi daripada ia dipukuli wanita galak itu, lebih


baik Ken menurutinya dulu. Masalah ia kembali nanti, Ken akan memikirkannya


nanti saja.


Sesuatu terjadi saat Ken diperiksa, badai mendekat


dengan cepat. Mereka harus segera berangkat atau pesawat akan tertahan di


bandara sampai badai reda. Ken cepat-cepat masuk ke pesawat dan duduk bersama


deretan bodyguard lain di belakang pesawat. Untung saja mereka bisa segera take


Perjalanan dengan pesawat jet tidak memerlukan


waktu lama, tapi Ken tidak berani sedikitpun untuk tidur. Ken tetap waspada


karena ia sama sekali tidak tahu tentang bodyguard lainnya. Bisa gawat kalau sampai


Ken membongkar penyamarannya dengan bertindak gegabah.


Sampai di bandara, Ken melihat Endy dan Kinanti


belum keluar dari pesawat. Satu persatu para bodyguard keluar lebih dulu.


Protokolnya memang seperti itu. Semua bodyguard akan mengamankan sekitar


pesawat jet sebelum Endy dan Kinanti turun.


Ken melihat sekeliling, ia harus berpisah dengan


rombongan atau Ken tidak akan dapat kesempatan untuk keluar dari mansion Endy. Untung


saja kali ini, ada rombongan turis di dekat mereka. Bus besar tampak mendekati pesawat


komersial yang sudah berhenti lebih dulu sebelum pesawat jet mencapai hangar.


Ken bergerak cepat lalu melepaskan samarannya, ia


bergabung dengan rombongan turis domestik itu lalu naik ke bus. Ketika bus


berhenti di pintu keluar menuju terminal kedatangan, Ken memisahkan diri dari


rombongan lalu memesan taksi untuk membawanya ke rumah Alex. Tentu saja Ken


menukar mata uang asing dulu sebelum melakukan itu.


Taksi membawa Ken langsung menuju rumah Alex dan


ternyata hari hampir subuh. Lelah, lapar, stress dan mengantuk membuat Ken


akhirnya pingsan di depan rumah Alex setelah ia melihat Mia dan Alex.


**


Ken masih belum sadarkan diri. Alex dan Mia membawa


Ken masuk ke dalam rumah lalu membaringkan Ken di ruang kerja Alex. Dokter


keluarga segera datang untuk memeriksa keadaan Ken. Pria itu mengalami


dehidrasi dan sepertinya tertekan karena stress.


“Apa sebaiknya kita hubungi orang tuanya, Mia?”


tanya Alex yang kuatir melihat Mia meneteskan air matanya melihat keadaan Ken.


“Jangan dulu, mas. Tunggu dia sadar. Tapi kenapa


lama sekali?” tanya Mia.


“Sabar, sayang. Dokternya kan bilang tunggu


infusnya habis dulu. Kamu kenapa nangis terus sih?” tanya Alex kuatir.


Mia menggeleng, ia tidak tahu alasannya menangis


seperti itu. Hatinya terasa sakit melihat kondisi Ken yang tampak lemah dan tak


berdaya. Entah apa yang sudah dialami pria itu sampai datang ke rumah Alex pada


dini hari.


Siang itu, Alex terpaksa berangkat ke kantor karena


ada meeting. Mia meninggalkan Ken sebentar karena ia ingin melihat masakan


untuk makan siang nanti. Saat Mia masuk ke dapur, Kaori keluar dari kamarnya


dan berjalan perlahan menuju ruang kerja.


Gadis itu memang mulai memakai ruang kerja setelah


lulus sekolah menengah. Ia akan menghidupkan pemutar musik, lalu mengambil buku


dengan huruf braille dan mulai membaca sampai Mia memanggilnya untuk makan


siang.


“Hmm, tumben ada bau aneh,” gumam Kaori yang belum


menyadari kehadiran Ken diatas single bed di ruang kerja itu.


Kaori langsung duduk di kursi panjang dekat


jendela. Segala keperluan Kaori diletakkan Alex disana. Gadis itu tidak akan


kesulitan mencari barang-barang miliknya.


Alunan musik yang menenangkan mulai terdengar di


dalam ruang kerja Alex. Kaori mengambil bukunya lalu membuka bagian buku yang


diberi pembatas. Ia membaca ulang sekali lagi sebelum menemukan lanjutan buku


yang dibacanya kemarin.


Ken yang masih terbaring diatas tempat tidur,


seperti mengalami mimpi buruk. Ia terus menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke


kiri. Bibirnya ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa keluar juga.


“Ugh!” desah Ken dalam tidurnya.


Kaori menegakkan tubuhnya dengan cepat, ia memasang


telinganya dengan baik. Untuk mencari sumber suara yang didengarnya barusan.


“Tidak!” jerit Ken masih bermimpi buruk.


“Ken?” panggil Kaori mulai takut. Ia mengenali


suara Ken, tapi masih ragu, bagaimana bisa Ken berada di rumahnya sementara


seharusnya pria itu ada di negara A.


“Tidak! Jangan, pah! Kaori! Tidak!” Ken terbangun


dengan tubuh banjir keringat. Nafasnya tersengal dan jantungnya berdegup dengan


kencang. Ken menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar ketakutan


mengingat mimpinya barusan.


Dalam mimpinya, jelas terlihat saat Ken mengatakan


semuanya pada Endy, pria itu mengancam akan menyakiti Kaori. Ken mencoba


melawan tapi ia melihat Endy menembak Kaori dengan pistolnya. Saat itu ketakutan


terbesar Ken benar-benar membuatnya terpukul.


Ken jadi takut untuk membongkar rahasia yang


disembunyikan Endy selama bertahun-tahun. Ia takut kalau Kaori atau keluarga


Alex akan menerima akibatnya.


“Ken?” panggil Kaori yang masih bertahan di kamar


itu. Ia memegang tongkatnya dengan erat, siap memukul siapapun yang ada di


ruangan itu kalau berani mendekatinya.


“Kaori?” Ken menegakkan tubuhnya, samar terlihat


bidadari cantik dengan rambut panjangnya duduk di dekat jendela yang


memancarkan cahaya keemasan. Ken mengusap matanya yang buram karena air mata.


“Ken? Ini beneran kamu? Kok bisa disini?” tanya Kaori.


“Aku dimana?” tanya Ken lirih. Ia mencoba mengingat


sesuatu yang sangat penting, tapi kepalanya malah jadi pusing. Perutnya juga


terasa sangat lapar, dirinya belum sempat makan malam kemarin malam. Ken


harusnya menghubungi Melisa dulu untuk memastikan tentang hasil tes DNA itu


sekali lagi.