
Bertanggung jawab
Gadis merasa mual, ia berdiri terlalu lama, banyak bicara, dan ingin duduk tapi pria di hadapannya ini tetap bersikeras dan ngotot tidak mau pergi dari kost-nya. Hummpp. Hummp. Gadis akhirnya berbalik menahan
rasa ingin muntahnya dan merebahkan tubuhnya di kursi.
Rio melangkah masuk ke kamar kost Gadis, ia merasa kasihan melihat Gadis terlihat pucat. Dia mungkin tidak bisa mencintai Gadis, tapi ia tidak mau jadi pria yang tidak bertanggung jawab. Rio duduk di pinggir
tempat tidur Gadis.
Setelah memeriksa CCTV di apartment waktu itu, Rio sangat terkejut melihat bagaimana dirinya memaksa Gadis untuk bercinta. Wanita di depannya itu bahkan meronta dan terlihat menangis saat Rio berhasil menjebol keperawanannya dan memuntahkan benih anak ke dalam rahim Gadis yang sekarang
tumbuh di rahimnya.
Rio merasa lega karena keputusannya memasang CCTV di kamarnya setelah kematian Kaori, memberinya jawaban atas prasangka buruknya pada Gadis. Wanita ini tidak bersalah, dia hanya berada di tempat dan waktu yang salah.
Dan Rio harus bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan pada Gadis. Ia ingin menunjukkan rasa tanggung jawabnya pada Gadis. Tapi susah sekali hanya mengajak bicara dengan wanita ini. Gadis merasa mual lagi. Ia memejamkan matanya sambil sesekali menggeleng.
Rio : “Apa kau perlu sesuatu?”
Gadis : “Diam dan pergi dari sini.”
Rio : “Kenapa sikapmu begini terus? Aku salah apa?”
Gadis : “Tolong pergilah. Aku gak kuat, bau parfummu gak enak.”
Rio : “Sebelumnya juga kamu begini. Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu.”
Gadis : “Aku yang salah, okey. Aku hanya ingin melupakan kamu.”
Rio : “Ijinkan aku bertanggung jawab. Demi anak itu.”
Gadis : “Sekarang setelah ada anak ini, aku semakin ingin melupakanmu. Aku ingin pergi dari sini, jauh dari kamu!!”
Rio menahan emosinya, balas berteriak pada Gadis hanya akan membuat wanita ini semakin tertekan. Ia menarik nafasnya dan kembali bersikap tenang.
Rio : “Gadis, bisa kita bicara baik-baik?”
Gadis : “Gak ada yang perlu dibicarakan. Keluar dari sini. Atau aku teriak.”
Rio : “Teriak. Silakan teriak. Kalau sampai aku dipukuli warga, aku juga tidak peduli!”
Gadis menahan dirinya. Rio sangat keras kepala. Ia benar-benar sedang tidak ingin berdebat sekarang. Mual muntahnya semakin sering seiring berkembangnya janin di rahimnya. Gadis mengambil minyak kayu putihnya lagi dan menghirup aromanya dalam-dalam.
Hummpp. Hummpp. Gadis bangkit dari kursi, menjatuhkan minyak kayu putih ke lantai dan berjalan cepat ke kamar mandi. Rio menyusul Gadis, mencoba memegangi wanita itu, tapi Gadis menepis tangannya.
Akhirnya Rio duduk kembali ke tempat semula. Gadis sudah merasa lebih baik, keluar dari kamar mandi sambil mengelap bibirnya. Gadis mengambil minyak kayu putih yang sudah diambil Rio dari lantai dan kembali membalur leher, kepala, dan menghirup aromanya dalam-dalam. Minyak kayu putih
di botol kecil itu sampai habis tak tersisa.
Rio : “Biarkan aku bertanggung jawab pada bayi itu.”
Gadis : “Aku nggak butuh!”
Gadis berkata dengan sikap tidak peduli. Padahal dalam hatinya masih sangat ketakutan bagaimana dia akan menjalani hidup sendirian bersama bayinya nanti.
Rio : “Jangan keras kepala! Atau akan kulakukan lagi disini dengan pintu kamar terbuka.”
Gadis : “Kau gak akan berani!”
Rio : “Kau bisa mengujiku!”
Gadis mulai ketakutan saat Rio seperti ingin mendekatinya, ia gak mau hal menyakitkan itu terjadi lagi. Tapi ia tidak bisa menghentikan Rio kalau sudah nekat. Dirinya masih trauma berdekatan dengan Rio,
apalagi berada di ruangan yang sama seperti saat ini.
*****
Mia sedang duduk di ruang keluarga bersama nenek
dan si kembar. Mb Roh tampak di dapur, sedang makan siang. Mia sibuk mengambil
foto putra kembarnya yang sedang berebut mainan lagi. Tepatnya Reva merebut
mainan Rava lagi.
Reva membalik tubuhnya tengkurap. Ia menahan
tubuhnya dengan lutut tertekuk dan bersiap menyeruduk Rava. Rava yang ditubruk
adiknya, tampak bertahan sambil memukul-mukul kepala Reva. Keduanya sibuk
bergulat satu sama lain.
Rava : “Yaaa..aaa...mmm...nanaaaa...uuu(Reva, jangan
rebut mainanku!!)!”
Nenek menatap Rava yang mengoceh sambil terus
memukul-mukul Reva. Mia tertawa cekikikan melihat Rava ngomel.
Reva : “Aauuu...(Mainanku!)!”
Akhirnya Rava terjatuh ke samping. Mia dengan sigap
menahan kepala Rava agar tidak terantuk karpet. Reva dengan agresif naik keatas
tubuh Rava dan menimpanya. Mereka sudah seperti pegulat profesional.
Rava : “Aaaa... aauuuu...(Reva, bangun!)!”
Reva mengusap-usap bibirnya yang penuh liur pada wajah
Reva kesamping dan ganti naik ke atas badan kembarannya. Ia mengelap wajahnya
yang basah ke baju Reva dan balas mengusap bibirnya pada wajah Reva.
Reva : “Huaaaaa.... aaaaaa....!!”
Reva menangis dengan kencang, kalau sudah kalah
dengan kakaknya, Reva pasti menangis. Kalau sudah begitu, Rava akan mengalah.
Rava menjatuhkan dirinya ke samping, ia membalik tubuhnya dan menungging ke
arah Reva yang menangis dengan mulut terbuka.
Dut! Suara kentut keluar dari pantat Rava. Reva
yang mendengar suara itu sontak terdiam. Ia memperhatikan pantat Rava yang
tepat berada di depan wajahnya. Dut! Rava kentut lagi dengan wajah puas.
Sementara Reva yang dikentutin malah balik ketawa ngakak.
Nenek dan Mia tertawa bersamaan. Ada-ada saja drama
yang terjadi diantara kedua bayi kembar itu. Setelah puas kentut, Rava
menegakkan tubuhnya dan menduduki kepala Reva. Melihat Reva mengamuk ditimpa
kakaknya, Mia menggendong Rava dan menciumi pipinya.
Mia : “Gitu ya kalo kakak kesal.”
Rava tertawa senang menerima ciuman dari Mia. Reva
yang melihat kakaknya dicium, segera merangkak mendekati Mia dengan cepat dan
memanjat tubuh mamanya. Mia mengangkat Reva juga dan kedua putranya memeluk Mia
bersamaan.
Nenek : “Semakin hari semakin pintar saja ya.”
Mia : “Iya, bu. Tambah aktif, gak bisa diem.
Ada-ada saja tingkahnya.”
Nenek : “Tinggal nunggu Reynold aja nich bisa kayak
gini. Tambah rame nich rumah.”
Mia : “Iya juga ya. Rara belum pulang ya.”
Nenek : “Mungkin masih antri. Imunisasi di rumah
sakit kan memang selalu lama.”
Mia : “Untung aja si kembar bisa langsung datang
gak pake antri. Eh, kenapa sayang. Mau maem ya.”
Si kembar mulai memasukkan jempolnya ke dalam
mulut. Mb Roh yang sudah selesai makan siang, membawakan bubur dari buah pisang
untuk si kembar. Reva yang melihat mb Roh membawa mangkuk, langsung turun dari
gendongan Mia dan mengejar mb Roh.
Mb Roh : “Tunggu dulu. Pasang celemek dulu ya.”
Mb Roh mulai menyuapi Reva yang sangat tidak
sabaran. Rava yang menunggu gilirannya cukup puas menghisap jempolnya sampai
berbunyi nyaring. Setengah isi mangkuk bubur sudah habis setengahnya, Mb Roh
meletakkan Reva di sebelah Mia dan mengambil Rava.
Ketika mb Roh mulai menyuapi Rava, Reva memanjat
lengan mb Roh dan untuk pertama kalinya ia mencoba berdiri. Mia langsung
merekam kejadian langka itu. Reva berpegangan dengan erat agar bisa mengambil
mangkuk di tangan mb Roh yang sekarang sudah kosong.
Nenek bergeser ke dekat Reva agar bisa menangkapnya
jika tiba-tiba ia terjatuh. Benar saja, saat mangkuk itu pindah ke tangan Reva,
ia melepas pegangannya dan mendekap mangkuk itu erat-erat. Nenek memegangi
tubuh Reva yang belum mau duduk lagi. Ia menjilati sisa-sisa bubur dalam
mangkuk itu hingga wajahnya belepotan.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).